
"Aku tak bisa mengantar kalian ke tempat itu. Raja memintaku segera kembali." Glenn merasa menyesal.
"Tidak... Klan Elf sudah membantu kami sampai sejauh ini. Membuat kami merasa tak enak hati." Ucap okter Chandra tulus.
"Baik, kami berangkat dulu. Tolong jaga dan kasihi Angel." Pinta Robert.
Glenn menyambut jabatan tangan Robert. "Tentu," jawabnya.
"Sampaikan terima kasih kami pada ayah ibumu dan yang mulia raja Elf." Dokter Chandra berpamitan.
Semua anggota tim berpamitan pada Glenn dan rombongan klan Elf yang dibawanya. Lalu berpamitan pada raja klan kurcaci biru.
2 buah kereta kuda beserta beberapa pengawal sudah disiapkan oleh sang raja. Perjalanan diperkirakan akan sampai esok hari karena perjalanan dimulai saat matahari sudah naik tinggi.
"Kami berangkat." Laras, Niken dan Silvia sambil melambaikan tangan. Wajah mereka dipenuhi senyum cerah.
"Ahh, andai saja ada yang bisa kembali setelah melewati cahaya di laut itu. Mereka pasti bisa menceritakan keadaan di sana." Raja klan kurcaci biru berkata sendiri.
"Mungkin lebih baik begini. Saya tak bisa bayangkan bahayanya jika bangsa jahat bolak-balik datang ke dunia kita. Bukankah itu berbahaya yang mulia? Bantah Glenn.
"Hemm, pendapatmu ada benarnya." Jawab raja kurcaci biru.
"Mari kita masuk dan menikmati hidangan." Raja kurcaci biru berbalik dan hendak beranjak ke dalam istana.
"Maaf yang mulia, saya menyesal tak bisa menerima keramahan anda. Masih ada tugas dari raja elf. Jadi saya harus segera kembali." Glenn menolak halus.
"Apa rajamu tidak memberimu waktu untuk bulan madu? Kau terus dibuatnya sibuk." gerutu raja klan kurcaci biru.
Glenn tersenyum sumbang mendengarnya. Dia tak bisa menjawab apa-apa.
"Kami mohon pamit yang mulia." Kata Glenn sopan.
"Baiklah. Sampaikan salamku pada ayahmu. Dia kan sudah sembuh. Jadi sudah waktunya menunaikan janji untuk kemari dan melanjutkan pertandingan kami. Aku harus membalas kekalahan yang lalu."
Raja kurcaci biru menepuk pundak Glenn ramah. Lalu memanggil seorang petugas.
"Dia akan mengantarmu ke ruang teleportasi." Ujarnya lembut.
"Terima kasih yang mulia."
Glenn membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat. Diikuti Randal dan pengawal yang mereka bawa.
*****
Hingga petang, Sunil masih belum juga sadar. Itu membuat Alan dan yang lainnya makin cemas.
Apa yang salah? Tubuhnya sudah pulih tanpa ada bekas luka bakar apapun. Yoshi juga sudah mengalirkan kekuatan penyembuhannya pada Sunil. Lalu kenapa dia masih belum sadar?
"Ahh, andai saja ada dokter Chandra di sini." Widuri benar-benar khawatir.
Marianne setia menunggui Sunil. Michael berlatih pedang untuk membunuh kebosanan.
"Alan, bukankah kau punya energi petir. Bisakah petirmu digunakan untuk mengecas baterei hape?" Nastiti bertanya asal-asalan.
"Di sini tak ada sinyal. Untuk apa ponsel?" Tanya Alan heran.
__ADS_1
"Biar bisa main game. Atau selfie selfie di berbagai tempat." Jawab Nastiti santai.
"Apa kau pikir hape bisa dicas dengan tenaga petir?" tanya Alan bodoh.
"Tidakkah energi listrik dan petir itu sama? Sama-sama bikin kesetrum?" Nastiti menatap Alan dengan wajah polos.
"Hah, kau cuma ingin mengangguku. Bawa sini hapemu biar ku coba. Tapi kalau itu terbakar atau meledak, jangan salahkan aku." jawab Alan sewot.
"Sudahlah, tidak usah." Nastiti berbalik pergi dan mengabaikan Alan sepenuhnya.
"Huftt.. dia akan terus mengangguku sampai Sunil sadar," keluh Alan.
"Alan, besok kita coba sisir area pulau sebelah sana. Mungkin kita bisa mendapatkan sedikit petunjuk." Kata Dean tiba-tiba.
"Kau mau mencari petunjuk apa? Makhluk yang seperti ketua kota itu? Bukankah kubah itu ada di bagian sini?" tanya Alan heran.
"Bukan itu. Aku hanya ingin mendapatkan gambaran tentang pulau ini. Rasanya pulau ini sangat besar. Kalau bisa membuat peta kasarnya, mungkin akan lebih memudahkan mencari area baru yang potensial." Jawab Dean.
"Potensial? Apa maksudmu?" Alan tak mengerti kata-kata Dean.
"Mungkin dengan memeriksa semua area, kita bisa lebih mudah menemukan jln ke dunia lain." Michael nimbrung. Dia mengambil minum dan duduk di meja.
"Ah, kau benar. Tapi kenapa menunggu besok? Kita bisa memeriksa sedikit hari ini. Aku bete diomelin terus oleh Nastiti." Sungut Alan.
"Dia hanya ingin membuatmu jengkel. Karena dia sedang khawatir pada Sunil. Abaikan saja." Saran Michael.
"Dean, bagaimana? Ayo pergi." Ajak Alan.
"Aku mau melakukan hal lain. Kau bawa saja Michael untuk menemanimu memeriksa." Jawab Dean.
"Kau peluk saja dia. Bawa terbang. Apa kau takut pergi jika tak ku temani?" Ledek Dean.
"Terbang?" Wajah Michael memucat. Dia punya pengalaman buruk dengan terbang.
"Hahh.. ayolah. Kubawa kau jalan-jalan melihat pemandangan." Alan berdiri dari duduknya.
"Tidak. Aku phobia terbang sekarang. Bagaimana jika kita jalan kaki saja? Ya...?" Bujuk Michael.
"Apa kau gila? Bahkan sebulanpun belum tentu selesai memeriksa pulau kalau jalan kaki." Alan melotot. Michael hanya bisa meringis.
"Ayo. Kau akan terbiasa. Masa kau kalah sama Widuri dan Nastiti?" Ejek Alan.
Disambarnya tubuh Michael laku naik perlahan keatas ketinggian. Michael berteriak-teriak ketakutan.
"Tenang. Kalau kau bergerak terus, aku tak bisa memegangmu. Jika jatuh, bukan tanggung jawabku yaa.." Ancam Alan.
Michael diam ketakutan, perutnya bergejolak ingin muntah. Tubuhnya kaku saking tegangnya. Matanya ditutup rapat. Tapi setelah sekian lama, Michael merasakan ketegangannya berkurang. gejolak perutnya mereda. Dan tidak merasakan terpaan angin kencang. Hanya ada angin sepoi-sepoi.
"Kau sudah bisa membuka matamu. Coba lihat sekelilingmu. Bukankah ini luar biasa?" Kata Alan.
Michael mencoba mengintip situasi dengan membuka sebelah matanya. Mereka tak bergerak. Alan hanya membawanya ke atas. Setelah yakin aman, akhirnya kedua matanya dibuka perlahan. Silau pantulan matahari dari permukaan laut membuatnya segera mengalihkan pandang ke arah lain. Yang terlihat semata-mata puncak hijau pepohonan. Seperti karpet tebal dengan nuansa hijau.
"Indah sekali." Gumamnya tanpa sadar.
"Benarkan kataku. Jadi kau akan rugi jika tak pernah melihat keindahan asli seperti ini. Ahh, aku benar-benar baik hati padamu." Alan memuji dirinya sendiri tanpa canggung.
__ADS_1
"Tak tau malu, memuji diri sendiri."
Michael menatap Alan dengan pandangan rumit. Dia merasa sikap Alan sekarang sangat berbeda dengan Alan yang dulu dikenalnya. Apakah itu dipengaruhi kebiasaan dari makhluk bernama Z?
"Ayo kita memeriksa arah yang dikatakan Dean." Alan tak peduli dengan pandangan aneh Michael. Dia membawa Michael terbang perlahan agar tidak panik lagi.
Keduanya memeriksa area sekitarnya dengan teliti. Terus mengarah ke sisi pulau lainnya hingga sore hari.
"Di sana ada garis putih. Ku rasa itu adalah garis pantai." Alan menunjuk nun jauh ke depan mereka.
Dengan memicingkan mata, Michael juga bisa melihat garis putih samar-samar. Mungkin benar itu garis pantai yang disapu ombak.
"Itu sangat jauh. Tapi kau langsung bisa melihatnya dengan jelas? Atau kau hanya menebaknya saja?" tanya Michael tak percaya.
"Tentu saja aku melihatnya dengan jelas. Mataku masih terang. Ayo kita ke sana untuk membuktikannya." Jawab Alan sewot.
"Tapi ini sudah sore. Bukankah kita sudah harus kembali?" Cegah Michael.
Alan melihat ke belakang. Ini memang sudah sangat jauh. Belum lagi jika pulang nanti.
"Ah, ini semua gara-gara kau takut terbang. Aku jadi bergerak sangat lambat seperti siput. Jika dengan kecepatan standar, harusnya kita sudah mencapai pantai itu." Ujar Alan kesal.
"Kau yang mengajakku, kenapa itu jadi salahku?" Bantah Michael.
"Ahh, salah kau, salah Dean, salah Sunil yang gak mau sadarkan diri. Semua orang jadi menghukumku. Aku jadi merasa seperti anak tiri yang tak dikehendaki lagi."
"Bukankah Sunil begitu karena salahmu? kenapa jadi menyalahkan orang lain." Balas Michael.
"Itu salahnya. Harusnya biarkan saja aku. Kenapa dia ikut-ikutan ingin disambar petir?" Bantah Alan tak mau kalah.
Alan terus saja menggerutu di sepanjang perjalanan mereka kembali. Itu momen buruk bagi Michael. Kupingnya capek mendengar semua keluhan Alan yang terasa mengada-ada.
"Ku rasa aku akan butuh dokter tht saat kita kembali ke indonesia." gumam Michael sambil mengelus telinganya.
Alan mendelik mendengar ocehan Michael. Lalu dia melesat cepat dan membuat Michael menjerit histeris.
"Aaaaaaaaa..."
"Rasakan. Kau berani meledekku hah? Hahahaa.." Alan tertawa jahil.
Tapi tiba-tiba Alan menghentikan terbangnya. Tak ayal itu membuat Michael memuntahkan semua isi perutnya.
"Kau jorok sekali. Sekarang kita jadi harus mandi kan." Omel Alan.
"Kau sendiri yang berhenti tiba-tiba. Membuat perutku tak tahan lagi." Michael balik menyalahkan Alan.
"Aku melihat sesuatu di arah sana." Tunjuk Alan ke arah lain hutan itu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Michael ingin tau.
Alan menggeleng. "Aku harus memeriksanya lagi nanti. Sekarang kita harus mandi. Muntahmu bau asem. Bikin kepalaku pusing saja."
Alan membawa Michael ke tebing pantai. Mereka membersihkan tubuh dulu sebelum kembali ke pondok.
*****
__ADS_1