
Pagi ini Yabie tak bisa menemani Dean memeriksa. Dia harus mengobati Laras. Jadi Sunil pergi bersama Dean. Mereka membawa serta seekor kelinci untuk pengetesan.
Dean turun di tempat yang kemarin telah dicobanya.
"2 hari yang lalu aku dan Yabie mencoba di celah ini. Tapi dombanya tak kembali," jelas Dean.
"Sekarang mau mencoba di mana?" tanya Sunil.
"Sebelah sana. Ayo!"
Dean melayang naik dan terbang ke sisi lain area itu. Dia melayang sejenak di ketinggian, lalu terbang rendah menuju celah lain yang telah ditandai.
"Di sini," kata Dean.
Sunil mencoba memasukkan tangannya ke arah seberang. Tangannya memang menembus penghalang. Dicoba Sunil juga menyentuh sisi di sebelah, tapi tangannya tak bisa menembus dinding penghalang itu.
Dean sudah selesai mengalungkan tali di leher kelinci. Keduanya bersiap untuk melepaskan kelinci percobaan tersebut.
"Semoga kali ini berhasil," harap Dean.
Kelinci itu dimasukkan ke dalam celah dinding penghalang. Tampaknya percobaan kali ini berbeda hasilnya. Kelinci itu lebih lincah berlari masuk. Hal itu ditandai dengan tali yang terus bergerak masuk ke dalam celah.
"Mungkin tempat di depan celah itu menarik perhatian kelinci dan jauh dari bahaya," tebak Sunil.
"Bisa jadi itu penyebab dia bergerak lincah." Dean mengangguk setuju dengan pendapat Sunil.
Tali sudah hampir habis di tangan Dean.
"Tarik!" Sunil memberi aba-aba.
Dean menarik tali yang tadi mengikat kelinci.
Ssssstttt!
Seutas tali lepas dari celah dinding. Dan itu pendek sekali. Hanya sekitar satu setengah meter saja.
Sunil dan Dean terdiam melihat kenyataan itu. Tak ada kelinci, bahkan tali yang beberapa meter panjangnya itu tinggal satu setengah meter saja lagi.
"Ini tampaknya juga cuma celah satu arah. Dan lebih parah, bahkan tali pun ikut tertelan." Sunil melihat tali di tangan Dean dengan heran.
"Kalau 2 celah dinding yang ada hanya bisa masuk, artinya penghuni dunia ini tak pernah keluar sama sekali," gumam Dean.
"Lalu bagaimana? Apa masih mau memeriksa bagian lainnya? Mungkin saja ada celah di bagian atas?" tanya Sunil.
"Bagian atas? Kenapa tak terfikir olehku kemungkinan itu?" Dean tersenyum cerah. Masih ada harapan.
"Ayo kita periksa," ajak Dean penuh semangat.
Keduanya memeriksa bersama-sama. Menyentuh bagian penghalang itu sedikit demi sedikit. Penuh harapan. Berdasarkan pengalaman mereka melewati banyak dunia asing, harusnya ada juga satu celah keluar dari tempat ini.
"Aku menemukannya!" seru Sunil gembira.
Dean menghampirinya.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Dean tak percaya.
"Ini. Kau ciba saja." Sunil menunjukkan bidang penghalang transparan di depannya itu.
Dean melayang lebih dekat lagi. Posisi itu bukan bagian atas penghalang. Tapi bagian sisi lengkungnya. mungkin setinggi 9 atau 10 meter dari permukaan tanah.
Dean mencoba menyentuhnya. Tangannya menembus masuk. Dicobanya merasakan dengan tangannya keadaan di dalam.
"Terasa hangat dan lembab." Dean termangu.
Ini berbeda dengan saat pertama dia dan Yabie memeriksa. Dean menarik tangannya.
"Sunil bisakah kau kembali ke rumah dan mengambil seekor ayam betina untuk percobaan ini?" tanya Dean.
"Kenapa bukan kelinci lagi?" tanya Sunil.
"Karena ayam bisa terbang untuk menyelamatkan diri, jika ini hanya celah satu arah," jelas Dean.
"Oh iya, aku lupa kalau posisinya tinggi dari tanah. Baik, akan ku ambilkan." Sunil berbalik.
"Ambil yang betina, dan tali juga. Jangan lupa!" pesan Dean. Sunil mengangguk, lalu melesat cepat meninggalkan Dean.
Dean tak dapat meninggalkan posisinya, karena penghalang itu berada di atas, hingga tak mungkin ditandai dengan menumpuk ranting-ranting.
Dean mengamati hutan di sekitar tempat itu. Pulau dan hutan yang misterius. Tapi terlalu banyak hal yang harus dibereskan, hingga dia tak bisa fokus memeriksanya. Padahal, jika ingin segera menemukan jalan kembali, maka semua kemungkinan di sini harus diperiksa lebih dulu.
A few moments later.
"Kau bahkan sudah mengikat kakinya," ujar Dean. Diacungkannya jempol ke arah Sunil.
"Biar praktis," jawab Sunil.
"Baiklah, ini percobaan ketiga. Mari kita masukkan. Semoga berhasil," ujar Dean.
"Semoga berhasil," kata Sunil mengikuti.
Ayam yang telah diikat kakinya itu dimasukkan ke dalam celah dinding penghalang.
Awalnya tali di tangan Dean terasa menegang, tanda ayam itu terjatuh dan kakinya tersangkut. Lalu sedikut mengendur. Mungkin si ayam berusaha mengepakkan sayap. Lalu tali itu kembali menegang. Sepertinya dia gagal terbang dengan kaki terikat tali.
Dean menarik kembali tali yang menggantung itu. Ayam itu tergantung terbalik. Dia bergerak tak berhenti. Berusaha terbang tapi kakinya terikat, membuatnya kembali jatuh. Dan si ayam betina berusaha bangkit lagi dengan rusuhnya.
Dean dan Sunil tertawa bahagia melihatnya. Bukan karena ayam itu melakukan hal yang lucu. Tapi karena ayam itu kembali dengan utuh. Jadi ada kemungkinan celah ini merupakan jalur 2 arah. Bisa masuk dan keluar.
"Kau ingin mencobanya?" tantang Sunil.
"Hemmm, sejujurnya aku tak pernah yakin jika harus melangkah sendiri. Tapi jika dengan seluruh tim, aku tak takut," jawab Dean jujur.
"Kau pasti takut berpisah dengan Widuri," tebak Sunil.
Dean mengangguk.
"Aku sudah punya istri yang harus ku jaga sekarang."
__ADS_1
"Jangan khawatir. Jika kau terjebak di sini, maka Widuri akan ku cemplungkan juga ke sini untuk menemanimu," jawab Sunil santai.
"Teman macam apa kau?" Dean melemparkan tali ke arah Sunil dengan kesal. Sunil mengelak sambil tertawa.
"Aku hanya berbaik hati dan pengertian. Mengirim Widuri agar kau tak kesepian!" bantah Sunil dengan bibir manyun.
"Hah, sudah. Biar aku saja yang melihat dulu."
Sunil menyentuh permukaan penghalang transparan itu. Menumpu dua tangannya dan memasukkan kepala ke dalam celah.
Dean deg-degan melihatnya sesembrono itu. Jika ada makhluk buas yang tiba-tiba menyambar kepala Sunil, betapa bahayanya.
"Apa yang kau lihat? Angkat kepalamu. Bahaya!" seru Dean cemas.
"Aahhh!"
Sunil memekik tertahan. Dean yang dalam kondisi waspada tinggi, segera menarik tubuh Sunil keluar dari celah.
"Apa yang kau lakukan?" Sunil protes.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dean heran.
"Tentu saja! Apa kau berharap aku tidak baik-baik saja?" Sunil bertanya balik.
"Lalu kenapa kau berteriak tadi?" tanya Dean sebal.
"Itu karena.... Ah, coba kau lihat sendiri lah. Kau pasti terkejut melihatnya." Sunil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sikapmu itu berlebihan. Sok misterius!" cela Dean yang masih merasa kesal.
"Hahahaaa...." Sunil tertawa keras.
"Terima kasih pujiannya. Aku merasa sangat bangga," ucap Sunil pede.
Dean hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia mendekati celah itu. Menumpu dua tangan di dinding celah transparan. Lalu memasukkan kepalanya ke dalam celah.
Dilihatnya pemandangan luar biasa indah di bawah sana. Ladang gandum di batasi kali kecil. Lalu padang rumput kecil. Dan hutan mapel....
Hutan mapel?? Dean melihat lagi dengan seksama tempat itu. Seperti Deja Vu.
"Kenapa bisa mirip sekali dengan dunia kecil gunung batu?" gumam Dean tak habis pikir.
Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya.
"Aaaaaaaahhhhh!"
Tumpuan tangan Dean tergelincir karena kaget. Dan tubuhnya segera meluncur ke bawah dengan derasnya.
"Deaaannnn!"
Teriakan panik Sunil mengiringi kejatuhan Dean. Tapi sebelum mencapai tanah, Dean berhasil menguasai diri dan melayang, menghindari permukaan rumput.
******
__ADS_1