
Malam itu mereka lalui dengan begitu banyak gangguan. Mulai dari munculnya binatang malam silih berganti, hingga turunnya hujan gerimis malam itu.
Meski mereka bertiga sepakat tidur dan berjaga bergantian, tapi pada dasarnya tak seorangpun yang dapat tidur dengan lelap.
Suara dedaunan yang bergoyang dan saling bersentuhan ditiup angin, memberi nuasa horor yang menakutkan. Terlebih lagi jika melihat hutan angker hitam di depan sana. Pohonnya tak bergerak sedikitpun meski angin kencang menerpa pohon lain tempat ketiganya berteduh.
Ketiganya akhirnya bisa membuktikan keangkeran hutan itu. Padahal mereka bahkan belum memasuki batasnya.
Ada tanah kering kehitaman selebar satu meter sebelum barisan pohon hitam itu berada. Tampaknya itu batasan antara hutan biasa dan hutan angker.
"Siapa namamu?" Tanya Liam memecah keheningan.
"Aku Ken. Kenny," Jawabnya.
"Aku Liam, dia Laras." Ujar Liam.
Kenny mengangguk.
"Sepertinya nama kami sudah dikenal di kediaman itu." Liam tersenyum.
"Ya. Cerita perjalanan kalian sangat menarik. Banyak yang tidak mempercayai itu. Terdengar seperti dongeng ibu menjelang tidur." Ujar Ken jujur.
"Kamipun takkan mempercayai itu jika tidak menjalaninya sendiri. Siapa yang menduga bisa bertemu bangsa peri? Kurcaci, Elf bahkan Orc? Di dunia kami, karakter itu hanya muncul dalam filem-filem fantasi." Jelas Liam.
"Apa itu filem?" tanya Kenny.
"Filem itu... Hemm, apa yaa?" Liam berpikir bagaimana menjelaskannya. Kenny menunggu dengan sabar.
"Filem itu seperti deretan gambar yang bergerak. Atau setidaknya, begitulah prinsip awal pembuatannya. Dalam filem, karakter imajinasi semacam peri atau manusia bertubuh raksasa bisa ditampilkan. Atau bahkan ide manusia laba-laba bisa menjadi cerita menghibur untuk tua dan muda ketika disajikan dalam bentuk filem. Dengan kemajuan teknologi, pembuatan filem tidak lagi menggunakan kumpulan gambar goresan tangan, tapi rol rekaman adegan per adegan hingga membentuk cerita utuh." Liam menjelaskan sekenanya.
"Aku tak mengerti. Bagaimana bentuk manusia laba-laba. Apakah dia punya kaki delapan? Bukankah itu akan terlihat mengerikan?" Ken bingung.
"Lupakan saja. Aku juga susah menjelaskannya." Kata Liam.
"Bagaimana keadaan dunia masa depan? Apakah sudah tak ada perang?" tanya Ken.
"Masih.. masih ada juga negara yang berperang. Tapi kebanyakan wilayah telah aman dan damai." Kata Liam.
Ken terlihat senang.
"Baguslah kalau begitu."
"Kau tau Ken.. Mungkin kau tak percaya bahwa manusia bumi masa depan telah menginjakkan kakinya di bulan." Tunjuk Liam pada bulan sabit di langit.
"Benarkah?"
Ken terlompat kaget.
"Ya. Bahkan bisa hidup di angkasa sana di dalam sebuah pesawat besar. Mereka pergi dengan pesawat khusus, dan kembali dengan pesawat pula."
Liam menengadah memandang langit yang dihiasi bulan sabit dan bintang-bintang.
"Menakjubkan."
Ken ikut melihat jauh ke langit seperti sedang membayangkan orang-orang masa depan.
"Nanti mereka akan memberi nama semua bintang yang kau lihat sekarang ini." Liam terus saja bicara.
"Sungguh? Bintang itu apa namanya?" Ken menunjuk satu bintang terang di langit.
Liam memperhatikan dengan seksama. Selain Bintang yang paling terang itu, ada 4 rangkaian bintang lain yang menonjol di dekatnya.
"Hemm, aku bukanlah ahli tata surya. Tapi biar ku tebak." Liam makin serius memperhatikannya.
"Bintang yang paling terang itu kemungkinan besar adalah Polaris." jawab Liam.
__ADS_1
"Kau hanya menebaknya.. hahahaa.." Ken tertawa tak percaya.
"Coba kau amati bintang terang itu ke arah atas, melewati 3 bintang, lalu dengan 3 bintang lagi, membentuk persegi seperti ini," Liam mengambarkan rangkaian bintang itu dengan jarinya di udara.
"Rangkaian bintang itu namanya beruang kecil. Dan bintang paling terang di ujung ekor itu adalah Polaris.
Ken Diam mengamati. Dia mulai mempercayai cerita yang dibawa Liam dan Laras. Ken masih menunjuk-nunjuk ke udara.
"Jangan tanya aku nama bintang lagi. Nilai sainsku saat sekolah, jelek." Kata Liam.
"Andai tau akan terjebak dalam berbagai dunia asing, aku mungkin akan belajar sains lebih giat." Liam tertawa getir.
"Apa itu sains? Dimana kau mempelajarinya?" Tanya Ken lagi.
???
Liam menatapnya tak percaya. Pria muda penunjuk jalan ini punya rasa ingin tau yang besar. Andai saja dia bisa mengenyam pendidikan.
"Haahh.. Baiklah. Aku akan mengajarimu sedikit pengetahuan dasar sains. Perhatikan penjelasanku baik-baik." Kata Liam.
Nyaris sepanjang malam yang gerimis itu Liam menerangkan tentang banyak hal. Tentang tata surya, tentang sejarah dan apapun yang ditanyakan Ken.
Sementara itu, Laras tidur dengan nyaman, seakan suara kedua orang itu adalah nyanyian pengantar tidur.
*
*
Pagi yang sangat dingin dan melinukan tulang. Laras bangun dan mendapati kedua pria itu tidur nyenyak di depan perapian.
Laras merapatkan pakaiannya untuk menghalau dingin. Dia bangkit sedikit menjauh dari tempat kedua temannya. Ini adalah panggilan alam pagi hari yang dingin.
Sambil berjongkok di balik pohon, Laras memperhatikan sekelilingnya. Tiba-tiba matanya terpaku ke satu arah. Matanya membulat tak percaya. Dia ingin beranjak pergi, tapi kakinya tak mampu digerakkan. Bibirnya bergetar tapi tak mengeluarkan satupun suara.
Laras mengawasi bukit dimana desa berada. Tak terlihat pertanda apapun dari sana. Tampaknya desa itu aman. Lalu dia menambah kayu agar api kembali membesar. Laras duduk memperhatikan hutan hitam angker di depan sana. Tak terasa, tubuhnya bergidik ngeri membayangkan makhluk yang dilihatnya tadi.
"Liam, hari sudah tinggi. Bangun." Laras menggoyang tubuh Liam.
"Hemmm.. 5 menit lagi," sahut Liam tanpa sadar.
"Tapi aku takut." Ujar Laras. Suaranya jelas bergetar menahan takut. Liam tak menjawab.
"Ken.. Kenny.. Bangun. Sudah hampir siang." Kenny juga tak menjawab.
"Apakah disini juga ada sihir seperti hutan sihir?" gumam Laras cemas.
Laras lalu meraih sebatang kayu lalu memukul-mukul dahan yang menaungi tempat kedua temannya tidur. Titik-titik air sisa hujan semalam berjatuhan membasahi keduanya.
"Aaaaarhhh!"
Keduanya berteriak kaget lalu bangun. Mereka melihat ke kanan dan kiri. Tak ada bahaya apapun di sekitar.
"Aku yang memukul dahan agar menjatuhkan air sisa hujan. Kalian tidurnya kebluk seperti kebo."
Laras melemparkan batang kayu yang dipegangnya dengan gemas. Dua pria itu hanya bisa mengusap dada karena bangun dengan kaget seperti itu.
"Hari sudah siang. Aku harus kembali ke desa," ujar Kenny sambil berdiri.
"Tunggu! Aku ikut kembali ke desa," Kata Laras.
"Apa maksudmu?" Liam kebingungan. Kenny juga sama bingungnya.
"Tidak jadi ke sana?" Tunjuk Kenny ke hutan angker.
"Tidak! Aku takut. Aku tadi merinding melihat makhluk aneh yang muncul di situ." Laras menunjuk tempat tadi dia buang air.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sana?" Liam heran.
"Panggilan alam!" jawab Laras ketus.
"Oke. Lalu makhluk apa yang kau lihat di sana?" Liam bertanya dengan sabar.
"Seperti kelinci, besar, hitam, telinganya panjang, matanya merah. Dia menatapku saat jongkok. Membuatku tak bisa bergerak juga tak bisa berteriak memanggil kalian." Jelas Laras.
Kedua pria itu saling pandang dengan mata membesar.
"Lalu bagaimana kau bisa kembali ke sini? Dimana binatang itu?" tanya Liam.
"Setelah dia pergi masuk hutan itu lagi, barulah aku bisa bangun. Tubuhku gemetar ditatapnya begitu. Aku langsung ke sini, tapi kalian masih tidur." Laras menggerutu.
"Itu mungkin spesies hewan di hutan itu." Kata Liam menenangkan.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan tubuhku yg tak bisa bergerak dan bersuara dibawah tatapannya?" Laras mendebat Liam.
"Mungkin karena kita sudah dibuat takut oleh hutan ini sejak pertama kita melihatnya." sahut Liam berargumen.
"Tapi makhluk itu membuatku merinding!" tangkis Laras.
"Aku mau kembali ke desa saja. Atau kita pergi ke arah lain." Laras bersikeras.
Liam garu-garuk kepala menghadapi hal begini. Laras tak kan bisa dibujuk masuk ke sana. Dan sejujurnya, Liampun merasa gentar melihat penampakan hutan itu. Jadi hanya ada dua pilihan. Mencari jalan lain, atau kembali ke desa.
"Apa menurutmu kembali ke desa adalah pilihan yang lebih baik?" tanya Liam akhirnya.
"Menurutku seperti itu. Kita bisa bertanya pada Steve, jalan mana lagi yang mungkin selain melewati hutan ini." Sahut Laras.
Liam menggeleng pelan. Dia tak terlalu senang melakukan perjalanan sia-sia. Mundur bukanlah kebiasaannya. Jadi Liam menatap Ken.
"Apakah kau tau di sana itu arah ke mana?" tunjuk Liam ke sisi kanan hutan tempat mereka menginap.
"Jika kalian menyusuri sungai yang kemarin kita lewati, kalian akan menemukan desa lain dalam sehari semalan perjalanan." Jawab Kenny.
"Itu pilihan bagus!" Seru Laras.
"Tapi.."
"Tapi apa?" Laras bertanya tak sabar.
"Perjalanan ke sana berat. Pun banyak binatang buasnya." Jawab Kenny cepat.
"Bagaimana?" Tanya Liam.
"Apakah di sana juga perang?" Tanya Liam pada Kenny.
"Setauku tidak." Kata Kenny yakin.
"Aku harus segera kembali. Kalian putuskan saja sendiri. Jika ingin menyusuri sungai, kalian harus keluar dari hutan ini lebih dulu. Lalu mengikuti aliran sungai."
"Jika ingin kembali ke desa, setelah lewat sungai, kalian harus melewati lagi hutan mapel. Setelah itu kalian bisa menyusuri jalan desa."
"Aku pamit. Terima kasih telah mengajariku banyak hal. Semoga kalian bisa pulang kembali." Ujar Kenny tulus. Dia membungkuk sedikit, lalu berbalik dan pergi dengan cepat.
"Tung.."
Liam menahan Laras yang ingin mencegah Kenny pergi.
"Kita sudah menghambatnya terlalu lama. Tenaganya mungkin dibutuhkan di sana. Ayo kita pikirkan sendiri. Bukankah kita sudah bebas sekarang?" Kata Liam.
"Baiklah." Laras mengangguk pelan.
*****
__ADS_1