
Setelah semua orang beristirahat di kamar, Dean yg berjaga dengan Michael melanjutkan membuat meja makan dan bangku. Meski sudah mengetahui kemampuan Dean, Michael tetap saja takjub melihatnya bekerja. Michael hanya membantu sedikit.
"Kita kekurangan paku. Dan disini tak ada bijih besi yang bisa dilebur jadi paku," keluh Dean.
"Bagaimana kalau menyambungnya dengan pasak kayu?" Michael memberi saran.
"Kau benar. Kenapa aku jadi melupakan hal itu ya?" Dean tertawa sumbang.
Dean kemudian membuat beberapa pasak untuk menyambungkan potongan-potongan kayu itu. Di hutan sunyi itu sesekali terdengar suara palu beradu dengan kayu.
Lewat tengah malam, sebuah meja bulat besar dan 7 bangku kayu sudah berada di tengah-tengah pelataran batu. Dean merasa sangat kelelahan dan mengantuk.
"Bangunkan Sunil dan Alan untuk berjaga," kata Dean.
Michael masuk ke kamar untuk membangunkan kedua temannya. Dean memeriksa sekitar.
"Pagar sudah, pintu pagar sudah, pintu kamar sudah, meja dan bangku sudah. Tak ada yang terlupa lagi kan.." Dean bergumam sendiri.
Sunil dan Alan keluar kamar dengan mata masih mengantuk.
"Buka mata. Perhatikan sekitar, jangan sampai orang yang mengintai tadi pagi datang, lalu lolos lagi dari pandangan." Dean mengingatkan.
"Ya, baiklah. Aku cuci muka dulu," jawab Alan.
Dean melesat terbang ke tebing, mengawasi sekitar, lalu turun ke dekat permukaan air. Sebelum tidur dia harus memastikan ada cukup air untuk kamar mandi.
"Kau mau teh jahe sebelum tidur?" tanya Sunil.
Dean mengambil secangkir teh jahe hangat dari teko dan meminumnya.
"Ku tinggal ya. Jika ada apa-apa, bangunkan aku." Tanpa menunggu jawaban Sunil, Dean masuk ke kamar dan menutup pintu.
*
"Aku sudah lama tak berolah raga. Bagaimana jika kita bertanding untuk mengenang masa lalu?" Usul Sunil.
"Oke, siapa takut. Terakhir kali kau yang kalah," ejek Alan tertawa.
"Sekarang belum tentu. Tapi jangan sampai tempat ini berantakan." Sunil mengingatkan.
Keduanya lalu turun ke halaman saling beradu tangan, lalu mundur untuk menjaga jarak. Mata mereka mengeluarkan bias sinar merah dan biru saat mengambil ancang-ancang. Lalu mereka mulai beradu kekuatan dengan bertarung. Awalnya gerakannya ringan tapi lama kelamaan keduanya makin serius. Tubuh masing-masing seperti diselubungi oleh cahaya kekuatan jiwa masing-masing. Sesekali kilatan cahaya yang sangat dahsyat tercipta saat tubuh mereka beradu. Kekuatannya setara kilatan petir di langit yang mendung. Bunyi menggelegar dan sambarannya memancar ke sana kemari.
Semua teman mereka jadi terkejut dan terbangun dari tidur. Saat Widuri membuka pintu kamar, selarik cahaya merah nyaris menyambarnya. Widuri jatuh terduduk dengan wajah pias. Dia bahkan tak sempat berteriak karena shock.
Nastiti menjadi sangat khawatir. Mengira teman-teman pria mereka sedang bertarung dengan orang yang mengintai tadi pagi.
__ADS_1
"Apakah ada yang menyerang kita di luar?" tanya Nastiti pada Widuri.
Widuri hanya menggeleng dengan wajah kebingungan. Bola matanya membesar, membayangkan kengerian setelah mendengar pertanyaan Nastiti.
Dean yang baru saja tidur, bangun dengan terkejut karena kamarnya mulai terasa berguncang.
"Ada apa di luar?" gumamnya dengan kening berkerut.
"Apakah kita diserang Dean? Mungkin pihak Duke sudah menemukan lokasi kita?" Michael terlihat sangat khawatir.
"Biar ku lihat. Kau diam saja di dalam." Perintah Dean.
Dean mengintip dari jendela, untuk mengetahui situasi. Kilatan petir berwarna-warni menyambar ke arah log kayu tempat kamar itu berada. Mata Dean melotot melihat pertarungan di depan sana.
'Ini tidak benar,' pikirnya kesal.
Dean melangkah cepat dan membuka pintu dengan kasar.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Dean emosi.
Tapi O dan Z yang sedang bertarung, tak mendengar teriakan itu. Suara Dean tenggelam dalam gelegar petir yang mereka ciptakan.
Dean benar-benar marah melihat halaman itu porak-poranda seperti sedang dihantam topan badai. Dia terbang dan melesat cepat menuju tebing.
Tak lama Dean kembali sambil membawa sangat banyak air di atas kepalanya. Dengan kemarahan menyala, kumpulan air yang setara 100meter kubik dan sedang ditahan diudara itu dilepaskan begitu saja di atas kedua orang yang sedang asik bertarung itu.
Terdengar suara teriakan kaget dari Alan dan Sunil yang tiba-tiba diterjang sekumpulan besar air dari langit. Begitu derasnya air itu jatuh menimpa, membuat tubuh keduanya tergeletak basah kuyup di tanah. Tak hanya halaman yang basah, tapi juga pelataran, dapur, kamar dan kamar mandi ikut terciprat basah. Tempat itu benar-benar basah seperti habis turun hujan deras berjam-jam.
Sunil dan Alan yang melindungi wajah dengan menyilangkan tangan, akhirnya menyadari dari mana asal air itu. Dean melayang-layang di atas keduanya dengan mata berkilat keemasan. Keduanya segera menyadari situasi.
"Ku kira, kita pasti sudah mengacau. A terlihat sangat marah," bisik O pada Z.
Keduanya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Pondok mereka sudah seperti kapal pecah. Sungguh pertarungan yang dahsyat.
Setelah saling berpandangan, dibawah tatapan semua orang, O dan Z berlutut.
"Kami minta maaf. Tidak menyadari keadaan saat bertanding. Kami bersedia dihukum," kata Sunil. Alan hanya menunduk tak membantah kata-kata Sunil.
Widuri, Nastiti, Marianne dan Michael mengarahkan pandangan ke langit. Mereka minta persetujuan Dean untuk menghukum Sunil dan Alan.
Dean melayang turun perlahan.
"Kami akan mendiskusikan hukuman kalian besok. Sekarang kami akan kembali tidur. Dan saat bangun besok, tempat ini harus kembali rapi seperti semula."
Dean meninggalkan semua orang tanpa menoleh lagi. Dia terlalu ngantuk untuk membahas itu sekarang. Yang penting tak ada yang celaka akibat ulah keduanya. Itu cukup. Michael juga lanjut tidur lagi
__ADS_1
Tapi Widuri, Nastiti dan Marianne yang sudah terlanjur bangun dari tidur, malah kesulitan untuk tidur lagi. Akhirnya mereka mengobrol saja di kamar.
Sunil dan Alan bangkit dari jongkok. Wajah keduanya lesu. Gara-gara keasikan bertarung, malah dapat hukuman.
"Ayo cepat kita bereskan semua ini."
Sunil mulai membersihkan pelataran batu yang terciprat air berlumpur. Alan akhirnya bergerak juga. Dia bekerja dengan semangat.
"Dengan begini, kita gak bete lagi saat berjaga kan," kata Alan senang.
"Hahahaa." Sunil menyenandungkan irama lagu untuk mengusir kesunyian malam itu.
Keduanya bekerja dengan gembira. Tak ada yang menyadari bahwa pertarungan keduanya berdampak luas.
***
Di kota pelabuhan.
Saat semua orang terlelap dalam mimpi, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar bersahut-sahutan disertai getaran di permukaan tanah.
Penduduk kota itu lari keluar dari rumah mereka sambil berteriak..
"Gempa.. gempa..."
Warga berkumpul di jalananan kota, dan saling berspekulasi mengenai fenomena gempa malam itu.
"Ini bukan gempa biasa."
"Ya, jika gempa biasa, tidak mungkin disertai gelegar suara petir."
"Apa kalian melihat petirnya?"
Kepala mereka mengarah ke langit, mencari keberadaan petir. Tapi langit itu lumayan terang. Meski tak ada bulan, tapi beberapa bintang masih terlihat.
"Langit cerah. Lalu di mana petirnya?"
"Mungkin di atas laut."
"Mungkin di hutan terlarang."
"Atau di atas pegunungan sana?"
Mereka tak menemukan jawabannya. Akhirnya mereka kembali masuk rumah dan melanjutkan mimpi setelah getaran di tanah benar-benar berhenti.
Tapi tidak di balai kota. Tuan kota justru segera memanggil beberapa orang kepercayaannya untuk rapat dan membahas kejadian ini. Menurutnya ada beberapa hal aneh yang terjadi di wilayah kekuasaannya dalam beberapa waktu belakangan.
__ADS_1
*****