
Dean dan timnya membereskan rumput-rumput tinggi yang berada di lahan kosong. Letaknya persis di sebelah sawah, di seberang rumah Sulaiman.
Kuda dan ternak dikeluarkan untuk menikmati udara segar sambil merumput. Semuanya diikat dengan tali, agar tak lari ke kebun Sulaiman. Cloudy berlarian bolak-balik dengan senang di jalan raya yang aspalnya sudah retak di sana-sini.
Widuri, Marianne, Niken dan Jane sudah sibuk menyiapkan makan malam. Mereka menyiapkan roti dengan irisan daging sapi pemberian Yabie yang terakhir.
"Dean, Sepertinya besok kita harus memotong salah satu dari dua ekor domba itu. Kita tak punya stok daging lagi," lapor Widuri.
"Baiklah ... besok pagi kita lakukan." Dean mengangguk setuju.
"Alan, tolong nyalakan api!" pinta Marianne.
"Oke!"
Alan segera menyiapkan tungku masak sekadarnya. Dibuat dari batu besar yang ditumpuk. Lalu mencari kayu-kayu bekas rumah yang hampir rubuh, di belakang mereka.
Sementara itu, Dean dibantu Sunil dan Robert membereskan sebagian besar pekerjaan dengan kemampuan ketiganya. Tempat berteduh itu sederhana saja. Pada Tiang-tiang, diikatkan rerumputan dan daun keladi untuk dijadikan dinding darurat penahan angin. Atapnya terbuka karena tak ada cukup kayu penopang untuk mengikatkan dedaunan lainnya. Dean lali menghamparkan lempengan batu hitam dari gunung batu sebagai alas mereka duduk dan tidur nanti.
"Melihat pondok kita ini, aku merasakan sedikit aura romantis," ujar Dokter Chandra sambil mengikat segenggam dedaunan.
"Maksud Dokter?" tanya Leon tak mengerti.
Bersama Indra, ketiganya sibuk mengikat daun dan rumput tinggi untuk dijadikan dinding pondok itu.
"Tidakkah kalian lihat? Pondok dari rumput di tengah huma, biasanya ada di film-film romantis di televisi atau bioskop? Mengisah perjuangan pasangan kekasih yang cintanya tak luntur oleh kerasnya kehidupan."
Dokter Chandra sedikit bernostalgia dan tersenyum tipis.
"Betul Dok. Kalau tak salah, ada juga lagu-lagu manis yang mengambil tema itu. Tapi aku juga syairnya," timpal Indra.
"Yah ... sudah lama berlalu sejak terakhir kali aku mendengar nyanyian," celetuk Dokter Chandra.
Leon menggelengkan kepalanya.
"No. Tak ada lagi nyanyian. Terakhir menyanyi, kapal kita karam di lautan dihantam badai ...."
Indra dan Dokter Chandra terkekeh mendengar penolakan Leon. Tentu saja mereka masih ingat pelayaran dari pantai bangsa kurcaci biru.
"Tapi segala sesuatu yang terjadi pasti memang sudah ditakdirkan," ujar Dokter Chandra bijak.
__ADS_1
Leon dan Indra mengangguk menyetujui.
"Dengan cara itu, kita bisa bertemu lagi dengan Dean. Silvia dan kau, Leon ... bisa bertemu jodoh masing-masing. Laras akhirnya bersama Liam. Nastiti bersama Kang. Dan kalian satu persatu menikah di depanku."
Dokter Chandra menerawang perjalanan mereka yang berliku hingga sekarang.
"Dan sekarang, kita tiba kembali di Indonesia. Tapi lompat hingga enam tahun kemudian. Mungkinkah ini resiko perjalanan kita yang menembus ruang dan waktu?" Alan nimbrung obrolan ketiganya.
"Mungkin saja. Tapi itu bukan masalah besar. Lebih masuk akal kita hilang sekian tahun, baru kembali. Ketimbang muncul sebelum tahun kejadian. Iya kan?" kata Indra.
Leon mengangguk. "Kau benar. Lebih mudah menjelaskan yang seperti itu."
"Apa sudah selesai semua?" tanya Dean dari kejauhan.
"Sudah!" jawab Indra.
"Bawa dan pasang di seluruh dinding!" perintah Dean.
Alan membawa semua ikatan daun dan rumput ke tempat Dean, Sunil dan Robert membuat kerangka rumah. Alan membantu menambah rumput di dinding, agar lebih tebal. Sehingga mereka bisa merasa lebih hangat di dalam.
"Bukankah itu gubuk yang cantik?" komentar Niken.
"Sayangnya tak ada atapnya. Semoga hujan tidak turun malam ini," harap Widuri.
"Yah, karena tak ada cukup kayu. Dan Dean pasti tak menemukan pohon yang bisa ditebang untuk dijadikan tiang penyangga atap," ujar Marianne.
Langit mulai gelap. Di dalam pondok, kristal cahaya ungu jadi penerangan. Sementara di luar, Alan menambah titik perapian untuk penerangan sekitar dan menahan udara dingin yang mungkin datang saat malam.
Mereka berkumpul mengelilingi api untuk menikmati makan malam. Rasa bahagia sudah kembali ke Indonesia menceriakan suasana malam itu. Mereka banyak tertawa dan bercanda.
Marianne menyisihkan satu keping roti lengkap dengan isian tumis sayur dan irisan daging berbumbu pedas. Roti itu diletakkan di selembar daun.
"Ini roti untuk Tuan Sulaiman. Pergilah antarkan," pintanya.
"Biar aku yang antar," ujar Sunil.
Dia langsung berdiri dari duduknya dan mengambil roti yang disiapkan Marianne. Sunil berjalan menembus gelap malam dengan satu obor kayu di tangan kiri dan bungkusan roti di tangan kanan.
Halaman rumah Sulaiman gelap sepenuhnya. Tapi itu tak menghalangi pandangan Sunil. Dia bisa melihat dalam gelap dengan mata spesialnya. Namun tadi Akan menyerahkan obor kayu, agar Sulaiman tak terkejut melihat sinar mata Sunil.
__ADS_1
Setelah mengetuk pintu dua kali, Sulaiman muncul dan mengangkat daun pintu yang rusak karena didobrak.
Sambil tersenyum ramah, Sunil menyodorkan bungkusan daun ke arah Sulaiman.
"Kami membuat roti untuk makan malam. Mungkin kau bersedia untuk mencicipinya."
"Oh, terima kasih." Sulaiman menyambut bungkusan yang disodorkan Sunil.
Mengapa rumahmu gelap? Apa kau tak punya kayu bakar lagi? Apa perlu bantuan kami mencari sedikit kayu?" Sunil menawarkan diri.
"Ah, sebenarnya ada tumpukan kayu di belakang rumah. Tapi jika senja tiba, mataku lamur. Tak dapat melihat lagi. Jadi tak masalahkan juga jika gelap. Aku sudah terbiasa," jawab Sulaiman.
Sunil terkejut mendengarnya. Pantas saja rumah ini tak butuh lampu.
"Tapi ... tanpa ada sedikit perapian, rumahmu akan terasa sangat dingin jika malam. Biar aku ambilkan kayu bakar di belakang."
Sunil pergi dengan cepat. Dia lupa membawa obor yang tadi ditancapkan di tanah. Kemudian kembali dengan setumpuk kayu bakar. Dibantunya menyalakan api di perapian batu di bagian belakang rumah itu.
Sunil sekalian memasakkan sedikit air agar Sulaiman dapat minum air hangat. Tampaknya pemilik rumah sudah sakit berhari-hari. Karena tak terlihat ada persediaan bahan makanan di dapurnya. Bagus tadi Marianne menyisihkan sepotong roti untuk pria itu. Atau dia akan kelaparan malam ini.
"Dean, aku agak lama di sini. Pria ini butuh sedikit bantuan," kata Sunil lewat transmisi suara.
"Oke," balas Dean.
"Ini air minum yang hangat sudah siap. Kau bisa makan malam dan berisitirahat. Aku permisi dulu," pamit Sunil.
Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu. Kemudian berhenti.
"Tentang pintu ini, maaf ... kami mendobraknya hingga rusak tadi siang. Besok akan kami bantu memperbaikinya," janji Sunil.
"Terima kasih banyak," sahut Sulaiman.
"Oke, aku permisi. Jika butuh apa-apa, kami ada di sana. Silahkan datang saja," tawarnya ramah.
Setelah Sulaiman mengangguk, Sunil kembali menyusuri jalan setapak dengan diterangi obor di tangan. Dari kejauhan, terdengar suara-suara ceria teman-temannya.
Mereka menikmati malam yang langitnya sangat bersih. Sambil berbaring telentang di gubuk, mereka bisa melihat bintang di langit. Itu sama saja seperti tidur di alam terbuka. Hanya saja sedikit hangat karena ada dinding penahan angin dan perapian di depan pintu.
******
__ADS_1