
Selesai sarapan.
Dean, Sunil dan Alan menyelubungi tubuh mereka dengan cahaya. Dean menggeser batu-batu besar yang menutupi gua. Udara panas menerobos masuk bersama asap, membuat Widuri, Nastiti dan Dewi terbatuk-batuk. Ketiganya mundur sampai ke pintu lorong. Udara dingin dari ruang batu itu mengurangi efek panas dari luar.
Alan, Sunil dan Dean segera melesat cepat dan menghilang di dalam kabut asap panas yang tampak berwarna kelabu jingga ditimpa cahaya matahari. Jarak pandang hanya satu meter dari mulut gua. Selebihnya hanya asap tebal.
Tiga cahaya itu naik dan melayang tinggi untuk melihat seberapa luas dampak serangan O tadi malam. Mereka terbang hingga menemukan puing-puing pondok yang dulu mereka bangun. Tak ada apapun yang bertahan hidup di tempat itu.
Ketiganya kembali melesat ke arah yang lebih jauh. Lalu mereka menemukan batas kabut hitam dan kabut jingga kemerahan akibat terbakar. Mereka berhenti dan mengamati. Kabut itu tidak lagi bergerak maju dengan liar. Tapi tampak seperti dinding kabut yang tebal.
Dean mencoba menyentuhnya.
"Bagaimana mungkin fisik kabut ini bisa disentuh?" katanya heran.
"Kau serius?"
O ikut menyentuh dinding kabut hitam yang menebal itu.
"Benar-benar aneh. Sebelumnya kabut ini terus bergerak merangsek masuk ke arah kita, sekarang dia menebal dan berkulit begini. Ckckck.."
"Mungkinkah kabut hitam ini hidup? Sebelumnya dia mencari mangsa, lalu melindungi diri, atau memulihkan diri akibat seranganmu O," tebak Alan.
"Entahlah. Tapi menurutku kabut ini sudah mundur dari saat terakhir kita memeriksanya. Lihatlah. Bukankah puing pondok itu terlihat sangat jauh?" Dean melayang naik untuk memastikan perkiraannya.
O ikut naik diikuti Alan.
"Kau benar. Kabut ini mundur. Dunia kecil ini kembali terlihat luas."
"Tapi sudah tak bisa didiami lagi." Timpal Alan.
"Apakah gurun di seberang gua itu juga akibat ulah kalian dulu?" Selidik Dean.
"Aku dimana? Aku siapa?"
Alan melesat pergi menyusuri batas kabut hitam diikuti Sunil yang tertawa.
"Jadi itu kalian ya? Entah sudah lewat berapa ratus tahun, tapi tempat itu masih jadi gurun gersang." Dean mengejar kedua rekannya sambil mengomel.
"Kalian harus membuat tempat itu kembali layak untuk dihuni." tuntutnya.
Mereka bertiga terus menyusuri dinding kabut hitam dan berhenti di tempat air mengucur. Air itu keluar dari dinding kabut. Letaknya lebih tinggi sekarang. Itu adalah air yang mereka alirkan ke kamar mandi.
"Dulu, air ini berasal dari bukit kecil di dalam dunia kecil ini. Mengairi seluruh tanah pertanian kita. Sekarang bukit itu sudah dikuasai kabut hitam. Tapi airnya masih setia memenuhi tugas untuk menghidupi dunia kecil ini." Dean menatap kucuran air bening itu dengan sendu.
"Apa perlu kita buat aliran ke berbagai arah? Mungkin bisa membuat tanah ini lebih cepat pulih?" usul Alan.
"Nanti saja. Kita harus periksa semua batas tempat ini." Dean kembali bergerak.
__ADS_1
Mereka kini menyusuri area yang dulunya adalah ladang gandum. Ladang itu kembali terlihat luas. Berhampiran dengan itu, adalah ladang jagung yang dulu hanya menyisakan puluhan batang saja. Tapi kini terlihat lebih luas dari sebelumnya.
Mereka terus bergerak hingga akhirnya tiba di dinding gunung batu. Dean melayang lebih tingi untuk melihat batas kabut hitam yang biasanya menutupi bagian atas gunung batu itu. Dan Dean berhenti di ketinggian lebih dari 200meter. Disentuhnya kabut hitam pekat yang menebal di dinding gunung batu. Dean lalu turun menemui dua rekannya.
"Kabut di atas gunung juga menebal. Dulu hanya sekitar 10 sampai 20 meter dari pintu gua, kita sudah bisa melihat kabut itu. Sekarang kabut itu dipukul mundur sampai 200 meter ke atas. Kau hebat O," puji Dean.
Sunil mengangguk-angguk dan tersenyum bangga.
Mereka meneruskan pemeriksaan. Melewati pintu gua, melihat cucuran air dari kolam di dalam gua yang dulu mereka gunakan sebagai tempat mandi saat tinggal di gua. Kini tempat itu tampak lebih luas dan ternyata tidak securam kelihatannya. Mungkin karena dulu sebagian besarnya tertutup kabut hitam, hingga tak terlihat dasarnya. Ketiganya terus turun memeriksa batas kabut hitam.
"Dulu di area ini adalah hutan mapel sejauh 1km ke depan. Selebihnya adalah hutan yang belum ku jelajahi. Ke kanan adalah padang domba, hingga bukit kecil yang mengalirkan air ke kebun." A mengingat jelas area tugasnya.
"Area balik gunung adalah padang rumput tempat sapi-sapi tumbuh bebas dan nyaman. Ada aliran air dari gunung batu yang membagi area padang rumput dengan kebun anggur, pir, apel, lalu plum berbatasan dengan ladang jagung." Dean terlihat sangat sedih.
"Sudahlah, jangan sedih lagi. Ketika kau tewas dalam tugas, maka tugasmu itu telah selesai. Kita dan dunia itu sudah lenyap. Yang penting sekarang adalah kehidupan orang-orang yang tubuhnya kita tempati. Kita adalah bagian dari mereka. Jadi saatnya kita berjuang untuk bertahan hidup dan mengantar mereka pulang," ujar O.
"Aku sungguh ingin tau, seperti apa dunia mereka. Apakah dunia mereka adalah dunia baru yang muncul menggantikan dunia kita yang hancur? Berapa ribu tahun cahaya berlalu baru mereka muncul?"
"Jangan dipikirkan. Ayo kembali menemui ketiga wanita itu dan membahas rencana selanjutnya," ajak Sunil sembari terbang menuju pintu gua, diikuti Dean dan Alan.
***
Ting.. ting.. ting..
Bel tanda sarapan pagi menggema di rumah besar itu. Terdengar hingga lantai atas, tempat tim Robert tinggal. Mereka beriringan turun sambil ngobrol ceria.
"Siapa?" balas Silvia.
"Tuan Glenn. Tuan rumah. Kita kan belum bicara banyak dengannya," jawab Angel cepat.
"Harusnya begitu." sahut Silvia acuh.
"Kalau dia ada, kau harus bicarakan rencana perjalanan kita, Robert."
Laras mengingatkan.
"Ya, aku tau. Tunggu saja." Robert menganggukkan kepala.
Ruang makan itu sepi, tak ada pelayan seorangpun. Mereka mengambil duduk dan menunggu. Lalu Randal muncul.
"Selamat pagi. Tuan mengundang kalian untuk sarapan di teras samping. Saya tunjukkan jalannya," sapanya dengan hormat.
Randal berbalik dan berjalan keluar diikuti anggota tim Robert. Mereka melewati lorong panjang tanpa dinding. Tiang-tiangnya dipenuhi tanaman rambat dengan bunga warna-warni yang cantik.
Kemudian mereka sampai di sayap lain bangunan itu yang sebelumnya terlarang untuk mereka masuki. Tampaknya ini adalah kediaman pribadi tuan rumah. Setelah melewati ruang duduk yang terlihat nyaman, Randal akhirnya membuka pintu besar menuju teras. Di sana tuan rumah sudah menunggu dengan hidangan yang sudah disajikan di meja. Beberapa pelayan setia berdiri di belakangnya, bersiap menunggu perintah.
"Ah, mari.. silahkan duduk." Tuan Glenn menyapa ramah sambil berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Robert menyambut uluran tangannya sembari tersenyuman.
"Terima kasih."
Robert memberi kesempatan dokter Chandra dan yang lainnya untuk menyapa dan menyalami tuan rumah. Lalu mereka duduk.
Glenn memperhatikan sikap Robert tersebut.
'Tampaknya dia bukan ketua kelompok ini. Mereka hanya berteman. Mungkinkah yang dia katakan tadi malam adalah yang sebenarnya?' pikir Glenn.
Pelayan mulai sibuk menuang minuman hangat dan wangi dari teko ke cangkir semua orang. Lalu Glenn mempersilahkan untuk mulai makan. Dia menyuap makanannya lebih dulu.
"Jadi bagaimana kalian bertemu?" Glenn memulai perbincangan ringan pagi itu.
Robert menceritakan semua yang ditanyakan Glenn. Kadang dokter Chandra juga ikut menjawab pertanyaan. Laras ikut menjawab beberapa pertanyaan. Yang lainnya diam mendengarkan sambil asik makan.
"Menakjubkan. Saya sungguh tidak tau ada dunia lain selain dunia yang saya ketahui ini. Apalagi kendaraan pesawat yang bisa mengangkut ratusan orang dengan terbang melewati awan." Glenn menggelengkan kepalanya.
"Apakah itu seperti burung?" tanyanya lagi.
"Yahh, seperti burung besar dengan 2 sayap. Tapi dibuat dari besi, dengan banyak jendela kaca, hingga bisa melihat awan. Di dalam di sediakan kursi-kursi untuk duduk," jawab Laras.
Niken meminta kertas pada Randal, lalu menggambarkan bentuk pesawat yang mereka ceritakan. Gambar itu diterima Glenn dari Randal. Dia melihat itu dengan terkejut. Kini dia bisa membayangkan betapa besarnya pesawat itu berkat gambar Niken.
"Jika isinya bisa ratusan orang, lalu hanya tinggal kalian yang selamat. Sungguh sangat banyak korban yang tewas." Glenn menampakkan mimik sedih.
"Benar-benar beruntung kalian tidak terluka saat jatuh dari ketinggian," puji Glenn.
"Kami terluka sedikit. Tapi untung ada dokter Chandra yang merawat kami. Seiring waktu, tubuh jadi kuat dan makin tahan penyakit ringan," Robert tersenyum lebar.
"Dokter Chandra, apakah anda seorang tabib yang menyembuhkan orang?" tanya Glenn tertarik.
"Yah, semacam itu. Di dunia kami, dokter adalah profesi pengobatan yang didapat dengan pendidikan yang lama di sekolah formal. Sementara tabib adalah profesi pengobatan dengan tradisional dan terbukti turun temurun. Yah, kira-kira seperti itu perbedaannya. Beberapa penyakit bisa ditangani tabib, beberapa yang lain ditangani dokter. Mereka punya keahlian masing-masing."
Glenn mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan panjang dari dokter Chandra.
"Lalu kalian ingin melanjutkan perjalanan kemana?" tanyanya.
Menjawab pertanyaan seperti itu bukanlah hal mudah, karena mereka benar-benar tak tau mau berjalan ke arah mana.
"Kami ingin pulang, tapi tak tau jalan mana yang mesti dilalui untuk bisa pulang." Mata Niken berkaca-kaca.
"Kami hanya perlu terus berjalan. Mungkin suatu saat kami akan menemukan pintu yang tepat yang membawa kami kembali ke rumah." Silvia menjawab dengan tegar. Laras mengangguk setuju.
Glenn memperhatikan Angel yang terus diam dan menunduk. Dia seperti tidak berada di ruangan ini. Terus asik menikmati makanan, sambil sesekali menghela nafas panjang. Pipinya bersemu merah terkena cahaya matahari pagi.
'Benar-benar mirip Aymee, tapi kulitnya lebih coklat' pikirnya dengan sedih.
__ADS_1
******