
Lebih satu jam mereka meluncur di dalam worm hole. Makin lama, gaya tarik ya makin kencang.
"Lihat cahaya itu!" teriak Alan kencang. Deru angin sedikit menganggu pendengaran mereka.
"Kita hampir tiba. Bersiap-siaplah."
Dean dan yang lainnya mempererat pegangan tangan mereka. Berbeda dengan worm hole sebelumnya, dimana ada halangan penolakan saat mendekati pintu keluar. Di tempat ini justru sebaliknya. Kelima orang itu seperti disedot dengan kuatnya ke arah cahaya tersebut.
"Aaaaaaaaaaaa ...."
Byuuurrr!
Satu persatu tubuh lima sekawan itu jatuh ke dalam air.
"Akh ... aduh ...."
"Ugh ... apa-apaan nih?"
"Tolong! Aku tenggelam!" teriak Alan gelagapan. Tangannya terus memukul-mukul air dengan kacau.
Sunil menatapnya jengkel.
"Jangan lebayy! Airnya cuma setinggi dada! Apanya yang tenggelam!"
Tapi Alan masih saja gelagapan dan berkali-kali hilang di dalam air. Dean membantu memegangi tangannya.
"Berdiri dengan kakimu biar gak tenggelam!" katanya sabar.
"Ah ... ah ... terima kasih Dean," ucap Alan dengan sudah payah. Dia terlanjur meminum cukup banyak air saat tenggelam.
"Dan kau, bukannya langsung membantuku!" Alan menuding Sunil.
"Sudah ... sudah!" lerai dokter Chandra. "Lihat tempat ini. Tidakkah ini sedikit familier?"
Kelima orang itu mulai memperhatikan sekeliling tempat itu. Mereka berada di tengah-tengah kolam yang luas.
"Kolam apa ini?" tanya Alan.
"Yang jelas, bukan kolam renang," sahut Sunil.
"Itu aku juga tau!" Alan masih sewot pada Sunil.
"Jika bukan kolam renang, artinya yaa cuma kolam ikan. Empang!" jawab dokter Chandra.
"Uekk ... cuih ... cuihh!"
Alan berusaha meludahkan air kotor yang tadi sempat ditelannya.
"Aduhh perutku yang malang. Semoga tidak ada cacing yang ikut tertelan," ujarnya jijik.
Semua tersenyum melihat Alan masih saja mencoba memuntahkan isi perutnya yang kosong.
Mereka berjalan ke tepi kolam. Tampaknya ada cukup banyak kolam di sini. Tapi tak ada satupun penjaga. Juga tak terlihat ada ikan di dalam kolam-kolam tersebut.
__ADS_1
"Mungkinkah tempat ini terbengkalai?" tebak Dokter Chandra.
"Mungkin saja. Nanti saja kita bahas tentang itu. Sekarang sebaiknya kita cari sumber air bersih. Kita harus mandi!" kata Robert.
Dean setuju. "Ayo kita cari."
"Sebaiknya kita ke tempat yang sedikit lebih tinggi dan ada pepohonan di sana." Sunil menunjuk ke satu arah.
Yang lain mengangguk dan melangkah ke tempat itu. Lumayan jauh juga jaraknya.
"Empang seluas ini, kira-kira kenapa tidak dijalankan lagi? Bukankah sangat disayangkan," ujar dokter Chandra.
"Mungkin kurang modal, atau tidak terlalu menguntungkan." jawab Sunil asal.
"Menurut kalian, ini di mana?" pancing dokter Chandra.
Dia merasa pemandangan ini familier. Pemandangan empang sangatlah lumrah ditemukan di Indonesia. Tapi dokter Chandra tak ingin menduga-duga sendirian.
"Ini seperti keadaan di Indonesia," sahut Alan cepat.
Dean, Sunil dan Robert membeku. Mereka melihat ke sekitar. Lalu memperhatikan dokter Chandra yang tersenyum. Berbeda dengan Alan, dia seperti tak menyadari ucapannya barusan. Langkahnya cepat menuju ke tempat lebih tinggi.
"Apa kita sudah kembali?" ekspresi Sunil sulit dijelaskan.
"Jangan lupa. Kondisi Indonesia tak jauh beda dengan Malaysia, Thailand dan negara sekitarnya." Dean mencoba memberi gambaran.
"Ah, tak apa. Di negara manapun kita ada sekarang, asalkan berada di bumi yang sama, maka itu sudah cukup," bantah Robert.
"Ya. Kita bisa melaporkan keadaan kita pada pemerintah setempat," sambung Sunil optimis.
Dean, Sunil, Robert dan Dokter Chandra bergegas ke arah Alan. Dia berdiri di depan sebuah rumah panggung usang. Rumah yang lumayan besar. Beberapa dinding asbesnya copot di sana-sini. Penyangga atapnya mulai doyong. Tiang-tiang rumah panggung itu juga sudah terlihat lapuk.
"Tua sekali. Sudah berapa tahun tempat ini ditinggalkan?" gumam Robert.
"Di sini ada sumur!" kata dokter Chandra. Dia mencari-cari ember untuk menimba air.
Alan mendekat. Dengan kemampuannya, dia menarik sedikit air sumur itu ke atas. Lalu dibuang ke tanah.
"Kenapa malah dibuang?" protes dokter Chandra.
"Sumur ini sudah lama tak digunakan. Air paling atas biasanya akan kotor," jelas Alan.
Merekapun membersihkan tubuh yang kotor dan berlumpur. Namun kondisi rumah panggung yang buruk dan berbahaya, membuat kelima orang itu memutuskan untuk beristirahat di bawah pohon saja.
Semua teman dikeluarkan. Dean mengeluarkan lempengan batu-batu gunung untuk jadi alas mereka beristirahat.
Para wanita segera menyiapkan makanan. Namun Marianne merasa ada yang kurang.
"Michael mana?" tanyanya tiba-tiba.
Hal itu mengejutkan Indra, Leon, Niken dan Widuri. Mereka memang tak melihat Michael sejak tadi.
Robert menoleh pada Dean. Dean mengangguk. Robert mengeluarkan tubuh Michael yang hampir tak dikenali lagi.
__ADS_1
"A-apa yang ter-jadi?" Marianne mendekati tubuh Michael. Dia mengenali pakaiannya.
Akhirnya Sunil menceritakan apa yang terjadi dalam perjalanan mereka melewati worm hole. Semua menangis mengingat kebaikan Michael selama ini. Terutama Marianne yang selalu dibela dan dijaga oleh Michael saat keduanya diculik.
Alan tak mengatakan apapun. Tapi tangannya sibuk menyirami tubuh Michael dengan air abadi. Dia berharap, setidaknya dapat memakamkan Michael dengan tubuh yang utuh.
"Apa kita akan memakamkannya di sini?" tanya Niken.
"Nanti, kita cari tempat yang lebih baik," jawab Dean. Semua mengangguk setuju.
*
*
"Apa kita akan melanjutkan perjalanan Dean?" tanya dokter Chandra.
"Tak lama lagi langit akan memerah. Ku pikir lebih baik beristirahat dulu. Perjalanan kita ditunda hingga besok pagi saja. Bagaimana?" Dean balas bertanya.
"Baiklah kalau begitu," dokter Chandra setuju.
"Oke. Sekarang Alan, Sunil, Robert, kita harus membuat tempat berteduh untuk malam ini. Jadi ayo bekerja!" ajak Dean.
Keempat orang itu pergi menuju rumah panggung yang hampir ambruk itu. Mereka melepas semua atap dan dinding bangunan itu. Dean menggunakan kayu-kayu bekas yang masih bagus sebagai tiang penyangga.
Dan sebelum malam jatuh, tempat berteduh sederhana itu sudah berdiri. Lantainya adalah lempengan-lempengan batu gunung. Dinding dan atapnya dari bahan bekas rumah panggung yang dikumpulkan.
"Makan malam sudah siap."
Suara Niken memanggil semua orang untuk berkumpul di depan tungku masak yang berada di tempat terbuka. Tim itu makan dengan lahap. Mereka sangat lelah dan lapar.
"Dean, jika dunia ini adalah tempat asal kita, maka tak lama lagi kita akan berpisah," kata Indra.
"Kita harus saling mengunjungi satu sama lain ya," tambah Niken.
Dean menganggukkan kepala dan tersenyum. Begitu pula Widuri dan anggota tim lain.
"Bagaimana kalau kita bertiga mengadakan pesta pernikahan bersama?" Niken mengutarakan ide yang mengejutkan.
"Hahahaha itu bisa kita bicarakan nanti saja, setelah kita sampai di rumah," elak Widuri halus.
"Leon, jika Widuri tak bersedia, bagaimana kalau kita berdua saja? Kau dengan Jane, lalu aku dan Indra. Pasti seru jika mengadakan pesta bersama. Dan aku akan kembali menyapa penonton vlog-ku. Kita bisa mengadakan pesta siaran langsung."
Leon tersenyum sambil melirik Jane yang tak mengerti apa yang dikatakan Niken.
Mereka mengobrol dengan hati bahagia malam itu. Lalu beristirahat.
"Dean, nanti kau harus mengantarku ke rumah dan menjelaskan tentang pernikahan kita," kata Widuri sambil memeluk Dean. Dia sangat bahagia membayangkan wajah orang tuanya yang lega melihatnya telah kembali.
"Aku kangen pelukan mama," gumamnya.
Dean memeluk Widuri setelah mendengar gumaman itu. Dia juga merindukan keluarganya di Kanada. Setelah semua urusan di Indonesia selesai, dia akan membawa Widuri pulang menemui orang tuanya.
Sunil tak sabar menunggu pagi. Dia ingin kembali ke India secepatnya. Entah bagaimana nasib kedua anaknya kini.
__ADS_1
Mereka semua memikirkan tentang kuarga dan kepulangan. Tak sabar menunggu matahari menggantikan gelapnya malam.
******