
Pagi itu bersama Yabie, Dean kembali mendatangi hutan yang kemarin malam telah ditandai. Mereka memeriksa seluruh area, dimulai dari 3 pohon yang telah ditebang.
Dean meminta Yabie tetap di dekat pohon itu. Sementara Dean ingin memastikan luasan area tersebut. Dean terbang menjauh dan memperkirakan jarak dengan membandingkan luasan area gunung batu.
Saat Yabie bahkan sudah terlihat mengecil, Dean mencoba menyentuh satu pucuk pohon yang terlihat. Itu masih belum tersentuh.
Dean menambah jarak dan mencoba beberapa kali lagi. Di percobaan ke enam Dean bisa menyentuh pucuk pohon. Pucuk pohon itu langsung ditebangnya sebagai penanda.
Dean terus melakukan percobaan di pohon lain dalam jarak tertentu. Dia sudah membuat beberapa tanda.
Yabie yang mengikuti langkah Dean. Dian mencoba menyentuh pucuk pohon yang dilihatnya, tapi tak tersentuh. Tangannya seakan terhalang sesuatu. Akhirnya Yabie memutuskan memeriksa dari bawah. Tepat disamping pohon yang telah ditandai kemaren.
Disentuhnya pembatas dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya mematahkan ranting pohon di sebelahnya sebagai penanda. Dia telah membuat beberapa tanda, saat tiba-tiba tangannya yang menyentuh pembatas, terasa disentuh orang dari bagian dalam pembatas.
Spontan Yabie menarik tangannya dengan cepat. Dia sangat terkejut mendapatkan respon itu.
'Apa tadi itu binatang buas?' pikirnya.
Setelah mematahkan ranting sebagai penanda lokasi, Yabie terbang menyusul Dean.
"Paman... paman!" teriaknya berkali-kali.
"Ada apa?" tanya Dean dari kejauhan.
Yabie terbang mendekati Dean dan menceritakan apa yang terjadi. Tak ayal Dean pun ikut terkejut.
"Ayo kita lihat ke sana," ajak Dean.
Yabie mengangguk dan memimpin jalan. Dean mengikuti dari belakang. Mereka berhenti dan melayang di dekat pohon penanda. Dean mencoba melihat ke balik pembatas itu. Tapi dia tak bisa melihat apapun, selain pepohonan yang tinggi.
'Apa di dalam sana benar-benar hutan lebat?' pikirnya.
"Paman, sebaiknya kita tidak usah periksa saja. Menurutku, mungkin di dalam sana ada makhluk buas," cegah Yabie sambil menahan tangan Dean.
"Harus kita pastikan dulu. Lagi pula kita hanya memeriksa areanya. Bukan mau masuk ke tempat yang tidak jelas," bantah Dean.
"Baiklah. Tapi hati-hati. Aku tak mau paman terjebak di dunia yang tak ada jalan kembalinya." Dengan berat hati, Yabie melepaskan pegangannya.
"Baiklah," sahut Dean sambil tersenyum.
Keduanya lalu melayang turun. Yabie menunjukkan tempat dia terakhir kali.
"Di sini paman." Yabie menunjuk tanda pada ranting terakhir yang telah dia patahkan.
Dean mengamati, mencoba melihat ada apa dibalik itu. Dia pikir, tak ada salahnya berspekulasi. Entah apakah yang di dalam adalah makhluk buas atau tidak. Dia harus mencoba sesuatu untuk mencari tau kebenarannya.
Dean menyentuh dinding penghalang transparan di depannya. Lalu menggoreskan jari menulis huruf-huruf membentuk kata..
__ADS_1
H. A L. L. O
?
???
Dean dan Yabie menunggu respon dari arah seberang cukup lama. Tapi tak juga mendapat jawaban atau pertanda apapun.
"Mungkinkah tadi itu cuma tak sengaja tersentuh hewan liar?" tanya Yabie.
"Yaa... mungkin saja. Tapi setidaknya sekarang kita tau ada makhluk hidup di dalam sana," ujar Dean.
"Ya, mungkin juga sebagian hewan liar di hutan ini lari masuk ke sini," tebak Yabie.
"Oh ya, tentang itu. Memangnya ada berapa tempat yang mungkin dimasuki hewan liar tanpa bisa kembali?" tanya Dean penasaran.
Ada 4 atau 5 tempat yang pernah ku lihat mereka menghilang. Nanti akan ku tunjukkan pada paman tempat-tempat itu," janji Yabie.
'4 atau 5 tempat? Ditambah tempat ini, jadi ada 6. Padahal mereka belum memeriksa seluruh pulau. Fenomena apa ini?' batin Dean heran.
"Ayo kita lanjutkan menandai area ini," ajak Dean.
Mereka kembali menyentuh penghalang dan menandai pohon. Kali ini Dean menebang juga beberapa pohon yang dilewatkan Yabie.
Hingga tengah hari, mereka telah menandai keliling dunia asing itu. Itu area yang cukup luas. Jauh lebih luas dari kota mati. Tapi lebih kecil dari dunia kecil di gunung batu.
"Benar-benar pulau dan dunia yang misterius' batin Dean.
"Paman, apakah kita akan memeriksa tempat itu sekarang?" tanya Yabie.
"Baiklah. Mari kita turun. Kita harus mencari celah untuk masuk dan keluar," ujar Dean.
Keduanya turun ke dekat pohon yang telah mereka tandai. Memeriksa celah pada penghalang dengan menggunakan ranting pohon. Itu untuk menghindari disambar binatang buas dari arah dalam.
Dalam satu jam, keduanya tiba di tempat tadi Dean menuliskan kata. Dean menyentuh penghalang itu dengan ranting. Ranting itu tak bisa menenbusnya dan tak ada respon juga. Jadi mereka melewatkannya.
Keduanya melanjutkan prmeriksaan berikutnya. Sampai satu jam kemudian, ranting yang dipegang Dean menembus penghalang.
"Ini pintu masuknya!" seru Yabie senang.
Mereka berhenti. Dean menyentuh dan mengulurkan tangannya hati-hati ke arah dalam. Dan itu memang menembusnya. Dean menarik tangannya dengan cepat.
Dean mencoba mengingat apa yang dirasakan tangannya saat di dalam. Dia tak bisa mendeskripsikannya.
'Hanya seperti terasa lembab, atau basah? Dingin? Kabut atau hujan?' pikirnya.
"Tandai saja dulu. Jangan masuk sampai kita menemukan pintu lainnya untuk keluar," putus Dean.
__ADS_1
Maka Dean dan Yabie menumpuk beberapa kayu kering untuk menutupi celah itu. Dean juga membuat ukiran tanda panah -> pada batang pohon terdekat.
"Sepertinya sudah cukup. Ayo kita lanjutkan memeriksa bagian lainnya lagi," ujar Dean bersemangat.
Yabie juga ikut bersemangat. Bibirnya melebar mengulas sebuah senyuman. Setidaknya mereka sudah menemukan satu pintu masuk. Ini sebuah keberhasilan. Tidak sia-sia melajukan pemeriksaan sejauh ini.
*
Kali ini, setelah 2 jam lebih, mereka akhirnya kembali menemukan celah lainnya. Yabie dan Dean berhenti dan mencoba memeriksa.
Yabie mencoba memasukkan tangannya ke celah itu. Lalu ditarik secepatnya, khawatir disambar binatang buas.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Dean ingin tau.
"Tidak jelas. Seperti ada hembusan udara dingin, basah. Mungkin embun atau sehabis hujan?" ujar Yabie mengingat-ingat.
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama." Dean membenarkan perkiraan Yabie.
"Tapi hujan.... Dunia ini beruntung sekali. Di kota mati tak pernah ada hujan sejak aku dilahirkan." Yabie menggeleng.
"Tapi area ladang gandum, padang rumput dan hutan mapel tetap mengalami hujan kan?" tanya Dean ingin tau.
"Ya. Jika bukan karena ada tempat itu, aku dan ibu tak mungkin bisa bertahan hidup," ungkap Yabie sedih.
Dean menepuk-nepuk pundak Yabie.
"Ibumu sudah menjagamu sekuat tenaganya. Menjaga penduduk kota juga. Dan mengorbankan nyawanya demi mereka. Dia pahlawan kota ini, pahlawan keluarganya."
"Ya paman. Aku akan selalu mengingat itu. Mengingat kasih sayang ibu padaku." Yabie menganggukkan kepalanya.
"Baik, mari kita lanjutkan pekerjaan di sini," ajak Dean.
Dean dan Yabie kembali menandai lokasi itu dengan menumpuk kayu-kayu kering. Juga mengukir tanda di batang pohon terdekat.
Mereka lanjut memeriksa bidang yang lainnya. Hingga mencapai tempat pertama kali mereka memeriksa. Mereka tak menemukan apapun lagi.
Keduanya duduk di akar pohon dan mengambil waktu untuk istirahat.
"Ada 2 celah di sini. Yang mana pintu masuk? Mana pintu keluar?" guman Yabie sambil berfikir.
Dean juga belum bisa memutuskan. Mungkin harus dilakukan sebuah tes jika ingin mengetahui kebenarannya. Memasuki tempat itu secara sembrono akan merugikan diri sendiri.
"Kita pikirkan nanti saja. Lebih baik kembali dulu dan bahas hal ini dengan yang lainnya," saran Dean.
"Baiklah. Aku juga ingin istirahat," sambut Yabie dengan wajah berseri-seri.
Mereka melesat kembali ke rumah di hutan.
__ADS_1
*******