PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 324. Juni, 2018


__ADS_3

Dean berjalan menuruni bukit mengikuti jalur pendakian yang disebutkan oleh Robert. Jalan itu hanya berupa jalan setapak. Sedikit lebih sulit dari pada jalur kendaraan. Tapi trek ini meminta langsung ke lokasi penjaga hutan. Dari sana, selalu ada kendaraan yang bisa ditumpangi menuju ke Oakridge.


Dean menyandang tas ransel, lengkap dengan peralatan kemping. Agar tak ada yang mencurigainya saat turun melalui trek pendakian.


Dean mempersingkat waktu tempuhnya dengan sedikit trik. Dia terlihat berjalan, padahal sebenarnya sedang melayang setinggi tiga sentimeter dari permukaan tanah. Kadang dia melompati jalan yang terjal dipadu dengan kemampuan terbangnya.


Dalam waktu sekitar satu jam, Dean bisa melihat pondok penjaga hutan. Dia mempercepat jalannya saat melihat beberapa orang naik ke atas pickup terbuka.


"Hei, apakah kalian akan ke Oakridge?" tanya Dean ramah.


"Ya. Kalau mau menumpang, naiklah," jawab seorang pria dengan jambang lebat.


"Ah, terima kasih." Dean melompat naik ke bak belakang pick up itu.


Dia duduk di sebelah pria agak tua, karena tempat itu yang terlihat masih kosong. Namun ternyata itu pilihan buruk. Pria itu tak henti mengebulkan asap rokok. Dean dengan terpaksa sedikit menjauh dan melihat ke arah lain. Orang-orang di situ tersenyum melihatnya kebingungan.


Meski sedikit terganggu tapi Dean menikmati pemandangan alam yang tersaji. Benar-benar sangat indah. Matanya tak henti melihat pepohonan yang seakan berlari ke arah belakang mobil. Diseling aliran air sungai yang jernih di bawah tebing sana.


Setelah melewati beberapa kali ayunan dan guncangan serta tikungan, akhirnya Dean bisa melihat rumah di kejauhan.


"Apakah sudah mencapai desa?" pikirnya.


Mobil pick up itu memasuki jalan utama desa. Ada plang nama Oakridge di tepi jalan. Namun mobil itu masih terus melaju. Dan baru berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat seperti basecamp para pendaki.


Semua penumpang turun dan berterima kasih pada pemilik mobil. Lalu mereka membubarkan diri. Kebanyakan dari mereka mencari restoran dan penginapan.


Seseorang mendekati Dean dan bertanya. "Apa kau mau langsung mencari bis? Ke mana tujuanmu? Kita mungkin bisa berangkat bersama," ajaknya.

__ADS_1


"Oh, aku mau mencari alamat temanku lebih dulu," tolak Dean ramah.


"Oh, kau punya teman di sini?" tanyanya tak percaya.


"Yah, dulu dia tinggal di sini. Aku masih menyimpan alamatnya. Kupikir akan menyapanya dulu, jika dia masih di sini."


Maka mereka berpisah di sana. Orang yang menyapanya tadi pergi dan bergabung dengan temannya yang lain.


Dean mengeluarkan kertas catatannya dan bertanya pada beberapa orang yang lewat. Mereka menunjukkan arah yang dimaksud. Dean berjalan dengan semangat ke arah yang ditunjukkan. Mereka bilang, itu tak terlalu jauh. Sebuah Toko Craft dengan nama Mary. Pasti tak sulit untuk ditemukan.


Butuh waktu setengah jam juga bagi Dean untuk menemukan toko itu. Pantas saja tidak ketemu. Rasanya Dean sudah melewati tempat ini, tadi. Namun bentuknya tidak seperti toko kebanyakan. Tapi benar-benar rumah mungil dua lantai khas Amerika, yang cantik.


Jika tak melihat plang kayu putih di tepi jalan, maka Dean pasti akan melewatkannya sekali lagi. Tanpa plang itu, tak sesiapapun akan tau bahwa di dalam sana menjual aneka craft.


Rumah yang apik itu diberi cat hijau zaitun dengan aksen warna krem dan putih pada bingkai jendela, tiang penyangga, serta pagar kayunya.


"Jadi benar Jack melihat Robert kemarin?" pikirnya bingung.


Tapi Dean terus melangkah dan menaiki tangga menuju teras. Dia melihat sekelilingnya. Benar-benar rapi dan seperti sedang ada penghuninya. Dengan membulatkan tekad, Dean membuka pintu kaca dengan hiasan bunga selamat datang.


Terdengar bunyi lonceng kecil ketika pintu itu terbuka. Dean menutup pintu lagi dan berpura-pura melihat berbagai benda pajangan yang ada di situ. Tampaknya mereka menjual hasil kerajinan apapun di situ. Sangat menarik memang.


"Selamat datang ...."


Sebuah suara lembut dan merdu terayun, menyapa telinga Dean.


Dean langsung menoleh dan segera terkejut melihat kecantikannya. "Apakah dia Mary?" batin Dean.

__ADS_1


"Anda ingin mencari apa? Bisa saya bantu?" tanya wanita itu lagi.


Dean tersenyum kikuk, karena ketahuan terpesona tadi. "Saya ingin melihat-lihat dulu," tolak Dean halus.


"Baiklah. Silakan ...."


Wanita itu tersenyum ramah.


Dean telah sengaja memperlama waktunya di toko itu dengan pura-pura meneliti sesuatu dengan serius. Itu dilakukannya karena tak menemukan satupun penghubung antara dia dan Robert. Mungkin saja rumah ini sudah milik orang lain.


Tiba-tiba matanya tertumbuk pada kalender lipat di meja. Kalender dengan foto-foto pemandangan alam dan air terjun yang kemarin dilihatnya. Tanpa sadar Dean meraih kalender itu dengan ekspresi rumit dan tak bisa dijelaskan.


"Apa kau menyukai kalender itu? Itu bukan kalender baru. Lihat, ini sudah sampai bulan Juni"


Wanita itu menunjuk ke nama bulan June. Dan Dean membeku melihat angka tahun yang tercetak di situ. 2018!


"Apa kau sangat menyukainya?" tanya wanita itu ragu. Kau boleh mengambilnya jika mau. Tak perlu membayar," ujarnya dengan senyum tak berdaya.


"Aku sangat menyukai gambarnya. Dan tulisannya sangat unik. Terima kasih karena kau bersedia memberikannya," ujar Dean dengan mimik bodoh.


"Ambillah," katanya. "Dan ini, ada permen gratis untukmu." Wanita itu meraup setumpuk permen coklat dari toples dan meletakkannya di atas meja pajangan.


"Terima kasih," ujar Dean dengan wajah berseri-seri. Diambilnya semua permen itu dan disimpan dalam saku tas. "Aku permisi."


Dean keluar dengan gerakan kikuk dan gugup. Dia masih terkejut melihat kalender itu. Dia harus segera kembali ke kabin dan mengatakan hal ini.


*******

__ADS_1


__ADS_2