PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 123. Perjalanan Ke Negeri Para Penyihir


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah pernikahan Angel dan Glenn. Seorang utusan datang untuk menjemput dokter Chandra dan Silvia. Sudah tiba waktunya untuk melakukan perjalanan menuju negeri para penyihir, untuk menemui tetua klan penyihir.


"Kami pergi dulu. Semoga tantangan ini bisa kami atasi." Dokter Chandra berpamitan pada Robert dan anggota tim lainnya.


"Pergilah. Jika itu terlalu sulit, jangan paksakan. Kita bisa cari cara lain. Kami menunggu kalian kembali."


Robert menepuk halus lengan dokter Chandra.


Dokter Chandra dan Silvia sudah bersiap. Randall menemani mereka berteleportasi. Mereka tiba di kediaman tuan Felix dalam sekejap. Mereka melangkah masuk menuju ruang tamu.


Tampak tuan Felix, istrinya dan pria klan penyihir yang merupakan sepupu ipar tuan Felix. Di sana juga sudah ada tabib Michfur. Mereka duduk di kursi yang melingkari sebuah meja oval di tengah ruangan.


"Ahhh dokter. Saya senang akhirnya anda bersedia datang." Nyonya Felix menyapa dengan ramah


"Terima kasih nyonya. Memeriksa pasien sakit adalah tugas seorang dokter." Dokter Chandra menjawab dengan sopan.


"Silahkan duduk dokter. Dia ini ipar istri saya. Pangeran Edric Linford dari klan penyihir. Dan tetua yang sakit adalah leluhur keluarga Linford. Beliau sudah sangat tua. Kami percaya bahwa usianya sudah lebih 200 tahun. Bukankah seperti itu?" Tuan Felix menanyakan kepastian informasi itu pada pangeran Edric.


"Yah, benar. Setidak sudah lebih 200 tahun." Pangeran Edric membenarkan.


"Menakjubkan. Betapa panjangnya usia klan penyihir. Lalu berapa panjangkah usia klan Elf jika bukan karena perang?" tanya dokter Chandra antusias.


"Usia rata-rata orang klan Elf bisa 100 tahun lebih, jika bukan tewas karena hal yang tidak alami," jelas tuan Felix.


"Wow. Benar-benar berumur panjang. Mungkin itu terjadi karena dunia ini memiliki lingkungan yang sangat baik bagi kehidupan." Puji dokter Chandra.


"Ya, anda benar dok. Dunia ini masih murni. Berbeda dengan dunia kita yang penuh polusi. Bahkan udara yang kita hiruppun masih mengandung partikel racun dan debu dalam ukuran mikron atau mungkin nano? Tak heran banyak ragam penyakit yang menghampiri dan mengurangi kesempatan umur panjang." Silvia benar-benar iri.


"Benarkah dunia kalian seburuk itu? Lalu kenapa kalian ingin kembali ke sana? Kalian bisa menetap di sini bukan?" Pangeran Edric bertanya heran.


"Bagaimanapun, itu dunia kami. Keluarga kami ada di sana. Meski lingkungan hidupnya tak sebaik di sini, itu tetaplah rumah tempat kami pulang." Jawab dokter Chandra bijak.


"Anda benar dokter. Seperti saat saya pergi berpetualang. Meskipun di sana sangat menyenangkan untuk belajar hal baru, tapi dunia ini selalu memanggil pulang." tuan Felix mendukung pendapat dokter Chandra.


"Yah baiklah. Kita bisa segera berangkat, karena hari sudah makin tinggi." Pangeran Edric menoleh pada tuan Felix untuk meminta ijin.


Tuan Felix bangkit dari duduk, pangeran Edric juga segera bangkit. Keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


"Pastikan mereka kembali dengan selamat. Atau Glenn akan membencimu," bisik tuan Felix.


"Hahahaa... tentu saja."


Pangeran Edric melepas pelukannya lalu menghampiri nyonya Felix.


"Apa kau tak ingin menjenguk tetua kakak sepupu?" tanyanya sambil tersenyum.


"Tentu saja aku ikut. Tapi aku tak bisa meninggalkan Felix terlalu lama. Dia bisa mati kelaparan jika aku tak ada." Nyonya Felix menggoda suaminya.


"Hah.. Cinta kalian benar-benar membuatku iri," keluh pangeran Edric yang disambut derai tawa tuan Felix.


Dokter Chandra, Silvia, tabib Michfur dan asistennya sabar menunggu ketiganya mengucapkan perpisahan. Mereka lalu mengikuti tuan Felix, nyonya serta pangeran Edric menuju ke sebuah pintu di bawah tangga utama.


Terdapat anak tangga setelah pintu dibuka oleh pengawal. Mereka menuruni setidaknya 10 anak tangga. Lalu berhenti di tengah ruangan berdinding putih. Lantai ruangan itu sudah diberi berbagai tanda, seperti halnya tempat teleportasi yang biasa digunakan di kediaman Glenn.


Nyonya Felix melukai jarinya dan meneteskan sedikit darah ke dalam sebuah cangkir. Diaduknya cangkir lalu menuangkan isinya pada sebuah tanda di meja kecil yang menempel di dinding.


Segera beberapa tanda dan garis lain tercipta memenuhi lantai dengan pola bintang. Semua orang diminta masuk ke dalam tanda itu. Lalu sebuah cahaya putih menyelubungi.


Tabic Michfur menyadari bahwa Silvia merasa takut.


"Tidak apa-apa. Ini biasa terjadi jika kita menempuh jarak yang sangat jauh," bisiknya pada dokter Chandra.


Dokter Chandra mengangguk atas penjelasan itu.


"Terima kasih."


Dokter Chandra lalu menenangkan Silvia. Tak lama selubung cahaya putih itu menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Mereka berada di sebuah ruangan tertutup yang menurut dokter Chandra bukanlah rumah tuan Felix lagi. Karena warna dindingnya berbeda. Ruangan ini berwarna biru atau abu-abu tua.


Pangeran Edric memimpin jalan di depan. Ada 2 penjaga juga di dekat pintu. Mereka segera membukakan daun pintu setelah menyadari kehadiran pangeran Edric.


"Selamat datang Yang Mulia Pangeran." Kedua penjaga berseru serempak sambil menundukkan kepala.


Setelah keluar dari pintu, tampak 2 penjaga lain telah menunggu.


"Kami mau menjenguk tetua. Tolong sampaikan bahwa kakak sepupu putri Leonora juga ikut bersama kami." perintahnya pada penjaga.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia." Seorang penjaga membungkuk hormat lalu segera berlari masuk.


Pangeran Edric dan rombongannya diarahkan untuk menunggu di ruangan tamu. Mereka menunggu dengan sabar. Hingga pelayan yang pergi tadi, kembali lagi.


"Silahkan Yang Mulia," katanya memberi jalan.


Mereka semua menapaki lantai batu pualam melewati beberapa ruangan. Lalu menaiki anak tangga batu dengan pegangan kayu berwarna merah tua mengkilap tanda sering disentuh. Tangga itu melingkar merapat ke dinding yang berbentuk lingkaran. Sepertinya tangga ini juga tangga menuju menara. Tapi mereka hanya naik sampai lantai dua kediaman.


Lalu penjaga berhenti setelah sampai di depan sebuah pintu dengan 2 penjaga lagi di luar.


"Yang Mulia Pangeran Edric dan Putri Leonora tibaa."


Penjaga mengabarkan kedatangan rombongan itu. Pintu dibuka dari dalam. Pangeran dan putri itu melangkah masuk. Dokter Chandra ingin ikut masuk, tapi dihalangi penjaga.


"Kalian tunggu di sini dulu. Saya kabarkan dengan tetua lebih dulu." Pangeran Felix menengahi.


Dokter Chandra mengangguk setuju. Mereka disediakan tempat duduk di dekat jendela besar yang mengarah ke taman di luar kediaman.


"Waaaahhh indah sekali tamannya." Silvia terkagum-kagum.


Dia berdiri menghadap jendela besar itu agar bisa melihat pemandangan luar dengan lebih jelas. Dokter Chandra juga setuju dengan pendapat Silvia. Di luar sana ada tanaman taman yang dirawat dengan sangat baik dan teliti. Taman labirin yang dibuat dari bunga berwarna warni. Terlihat sangat indah dari atas. Di tengah labirin tampak sebuah gazebo dikelilingi kolam dengan bunga teratai biru dan putih.


Pintu terbuka. Seorang pelayan keluar dan menghampiri dokter Chandra dan yang lainnya.


"Anda sekalian dipersilahkan masuk."


Dokter Chandra, tabib Michfur, Silvia dan asisten tabib segera berdiri dari duduknya. Mereka mengikuti pelayan itu masuk ke ruangan.


"Salam pada Tetua." Dokter Chandra memberi salam dengan menundukkan kepalanya sedikit.


Silvia dan yang lain mengikutinya.


"Salam pada tetua."


Kata mereka serempak sambil sedikit menundukkan kepala.


*****

__ADS_1


__ADS_2