PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 204. Penyakit Laras


__ADS_3

Selama 1 minggu itu, Dean dan timnya menyelesaikan pembangunan rumah mereka di hutan, lalu di siang hari membantu kelompok anak-anak di kota mati.


Kota mati itu mulai berubah. Pemandangan yang dulu kusam menyedihkan, berangsur berwarna.


Hal pertama yang mereka lakukan adalah menebang semua batang pohon yang paling dekat dengan kubah cahaya. Semua batang pohon ditumpuk di tengah kota.


Lalu Dean, dibantu Alan dan Sunil menggali parit besar di sekeliling tembok kota. Tanahnya ditumpuk di area kosong. Air dari rumah tua Yabie dialirkan keluar mengisi seluruh parit. Dan itu butuh waktu untuk membuatnya cukup basah dan bisa melembutkan tanah galian.


Setelah rumah di hutan selesai dibangun seluruhnya. Para pria di sana fokus membantu mencetak batu bata. Yang akan digunakan untuk membangun tembok kota yang baru. Tanah galian parit mulai melembut karena Mattew dan Kenny rajin menyirami.


Kemudian semua batu yang telah kering disusun dan dibakar seharian. Berikutnya mereka mulai menyusun tembok batu persis di tepi kubah cahaya. Itu pekerjaan besar. Butuh waktu 2 minggu juga untuk menyelesaikan keseluruhannya. Sementara Dean, Alan, Sunil dan Yabie membangun tembok, Michael, Indra, Liam dan Mattew terus mencetak dan mengeringkan batu-batu bata.


*


*


"Ah... akhirnya selesai juga. Kota ini aman sekarang," ujar Alan lega.


Mereka memandang hasil kerja keras itu dengan puas.


"Ya. tapi aku masih harus membuat pintu gerbang di tempat kita keluar masuk," kata Dean.


"Kau benar." Sunil setuju.


"Lalu selanjutnya apa?" tanya Liam.


"Selanjutnya adalah membereskan batang-batang kayu itu. Kita kan butuh kayu dan papan untuk membangun rumah," jawab Dean.


"Urusan memotong kayu, kami serahkan padamu, paman," kata Yabie tertawa kecil.


"Bukankah akan sangat berat jika Dean melakukannya sendirian?" Liam tak tega.


"Tidak."


Alan menggoyang-goyangkan tangannya.


"Justru akan lebih cepat jika urusan itu ditanganinya sendiri. Kita bisa melakukan hal lainnya," bantah Alan.


"Benarkah? Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Liam ingin tau.


"Mencetak genteng! Bukankah rumah butuh genteng?" timpal Sunil.


"Kalau begitu, mari kita berlomba. Pekerjaan siapa yang lebih cepat selesai. Dean, atau kita?" tantang Liam bersemangat.


Alan dan Sunil saling pandang mendengar ide itu. Tapi kemudian mereka jadi bersemangat..


^^^●{readers masih pada ingatkan kalau O dan Z suka saling bertanding? 😅}^^^


"Baik. Kami menantangmu Dean. Apa kau berani?" tanya Alan dengan pandangan licik.


"Heh... Apa yang sedang kau rencanakan Z?" Dean menyentil dahi Alan.


"Aduhh...." Alan bersungut sambil mengusap dahinya.


"Kau hanya tidak berani," ejek Alan.


"Huh. Aku tak mau terjebak rencana licikmu. Jadi selesaikan saja tugas masing-masing. Lebih cepat selesai, lebih baik." Dean mendengus.


"Ayo kembali bekerja. Mumpung belum sore." Dean melangkah ke arah gunungan batang pohon di tengah kota. Dia mulai memisahkan ranting dan cabang dari batang utama.


Saat sore turun, semua pekerjaan itu selesai. Semua batang pohon sudah gundul. Dan semua dahan dan ranting juga sudah dipindahkan ke bawah pohon di pinggir tembok yang baru.


"Kau sudah selesai membersihkan semuanya?" Liam tak percaya.


"Belum. Kita lanjutkan besok lagi," jawab Dean kalem.


"Aku kembali dulu." Dean melesat pergi.


"Ah, dia cepat sekali. Lihatlah pekerjaan kita. Bukankah kalian akan kalah jika paman menerima tantangan kalian?" Yabie tersenyum mengejek.


"Sudahlah. Ayo kita pulang," ajak Alan lesu.


Liam menggeleng melihat tingkah teman-temannya yang kadang kekanakan.a Diapun kembali ke rumah tua Yabie. Tinggal bersama Mattew, Kenny dan anak-anak.


*

__ADS_1


*


Sudah hampir sebulan Laras dirawat di kediaman tabib. Luka operasinya sudah pulih. Bengkaknya sudah tak ada. Tapi bekas hitam di punggungnya tak mau hilang. Itu menjadi pertanyaan besar bagi tabib dan dokter Chandra.


Yang memprihatinkan adalah, Laras selalu kesakitan jika berdiri atau berjalan terlalu lama. Punggungnya selalu terasa nyeri. Dia jadi lebih sering berbaring dan berjalan sedikit di kamar.


"Aku harus mengatakan ini pada Yabie atau Yoshi. Aku akan pergi ke kediaman tuan kota besok pagi," kata dokter Chandra pada tabib.


"Aku setuju. Menurutku, sakit karena jatuh itu sudah sembuh. Tapi warna hitam di punggungnya itu takutnya tak biasa. Lebih baik bicarakan dengan ketua kota." Tabib tua itu mengangguk setuju.


"Semoga itu bukan sesuatu yang berbahaya dan bisa merenggut nyawanya," harap dokter Chandra khawatir.


*


*


Pagi hari.


Para pria di rumah di tengah hutan itu memulai aktifitas seperti biasa. Mengisi air di 2 kamar mandi hingga penuh. Menyapu halaman, menyiram kebun lalu mengantar Widuri, Nastiti dan Niken mencuci pakaian di bawah tebing pantai.


Selesai semua itu, mereka meluncur ke kota mati. Membantu Yabie menata ulang kota kecilnya. Agar bisa segera ditempati oleh penghuni baru.


*


Saat istirahat siang.


"Yabie, apa kau mengenal hutan ini dengan baik?" tanya Dean.


"Hemm, ya." Yabie mengangguk.


Semua orang tertarik untuk mendengarkan cerita Yabie.


"Kau sudah memeriksa seluruh hutan hingga ujung ke ujung?" tanya Dean lagi.


Yabie kembali menggangguk. Alis Dean terangkat.


"Apa kau tau kalau di tengah hutan ini kita tak bisa mengirim pesan transmisi?" tanya Dean lagi.


"Tidak tau. Tidak ada yang harus ku kirimi pesan," jawabnya polos.


"Apa kau ada melihat sesuatu yang aneh di dalam hutan sana?" Dean mengubah pertanyaannya.


"Hemm, ya paman. Hutan ini aneh. Binatang-binatang liar itu saja ketakutan dan bersembunyi kemana-mana. Termasuk ke sini. Tapi aku tidak takut," ujar Yabie bangga.


"Apa kau tau apa yang mereka takuti?" tanya Sunil.


"Tidak tau." Yabie menggeleng.


"Apa maksudmu binatang-binatang liar sembunyi kemana-mana?" tanya Indra heran.


"Yah, mereka suka memasuki suatu tempat yang tidak terlihat. Lalu tak bisa keluar lagi," jawab Yabie sungguh-sungguh.


Yang lain saling berpandangan. Apakah itu seperti yang mereka kira?


"Ayahmu bilang banyak penduduk kota yang hilang saat berburu ke hutan. Apa kau tau kenapa?" Dean memancing apa yang diketahui Yabie.


"Paman, seperti yang ku katakan tadi. Di hutan ini bahkan kau pun bisa tersesat dan memasuki tempat yang salah. Sama seperti binatang-binatang itu. Masuk ke tempat yang tak ada jalan keluarnya," ujar Yabie serius.


"Benarkah?" sahut Dean manggut-manggut.


Jika ini adalah apa yang dia kira. Lalu kenapa binatang hutan lebih memilih masuk ke sana ketimbang bertahan di hutan? Ini belum terpecahkan.


"Jika paman ingin memeriksa hutan ini, harus bersamaku. Jangan pernah pergi sendiri, ya." Yabie memperingatkan.


Dean mengangguk sambil tersenyum.


"Baiklah. Jika aku ingin memeriksa, aku pasti mengajakmu, keponakanku." Dean merangkul bahu Yabie hangat.


"Hei, ayo kerja lagi. Jangan ngobrol terus," Kata Alan.


Mereka melanjutkan pekerjaan hari itu hingga petang hari. Pekerjaan Dean telah selesai seluruhnya. Balok-balok kayu besar untuk tiang rumah, papan-papan untuk dinding dan kayu-kayu penyangga atap telah disusun dengan rapi.


"Besok kita akan mulai meruntuhkan tembok kota yang rapuh itu. Jangan sampai rubuh dan merusak rumah yang baru dibangun," ujar Dean.


"Itu bagus paman. Mari kita lakukan itu besok." Yabie mengacungkan jempolnya memuji Dean.

__ADS_1


"Mattew, Kenny, kami pulang dulu ya," Alan berpamitan.


"Oke." Kenny melambaikan tangannya.


Satu hari berlalu lagi dengan lancar. Tapi tidak untuk Yabie. Saat dia sampai di rumah, dokter Chandra sudah menunggu di depan kediamannya dengan cemas.


Saat melihatnya melewati gerbang, dokter Chandra segera menghampiri.


"Kenapa kau baru kembali?" omelnya.


"Aku membereskan kota mati. Aku sedang bekerja. Ada apa?" tanya Yabie.


"Masuklah. Apakah kak Yoshi dan ayah tidak mengijinkan anda masuk?" tanya Yabie heran.


"Bukan. Aku sudah sejak tadi mengganggu mereka. Jadi ku putuskan untuk menunggu di depan kediamanmu," jelas dokter Chandra.


"Baiklah. Anda duduk sebentar, aku mau mandi dulu." Yabie meminta pelayan menyiapkan makanan dan minuman.


"Oh, ya. Baiklah."


Dokter Chandra bisa melihat bagaimana kotornya Yabie. Jadi dia harus menahan diri dan memberinya waktu.


A few moments later


"Kita bicara sambil makan saja. Aku sangat lapar. Silahkan dokter."


Yabie mempersilahkan dokter Chandra untuk makan.


Sambil makan mereka berbincang tentang apa yang dialami Laras. Yabie mengangguk dan terus mengangguk setiap kali dokter Chandra bercerita.


'Anak ini mengangguk terus. Dia mengerti atau tidak yang ku katakan?' pikin dokter Chandra putus asa.


"Besok aku ingin melihat tanda hitam di punggungnya sebelum bisa menjawab pertanyaan anda," kata Yabie.


"Apa itu berbahaya?" Dokter Chandra tak bisa menyembunyikan kecemasannya.


"Jika itu tanda hitam yang ku kenal, maka itu bahaya. Tapi jika bukan, maka aku tak bisa menjawabnya," Yabie menekankan nada suaranya.


"Se- seberapa ba-haya?" tanya dokter Chandra gugup.


"Kematian yang perlahan dan sangat menyakitkan...." sahut Yabie hampir tak terdengar.


"Apa???"


Dokter Chandra duduk dengan tegak di kursinya. Matanya menatap Yabie dengan serius, mencari kejujuran dari sikapnya.


"Bagaimana kau tau?" dokter Chandra tak mudah percaya.


"Ibuku. Dia menerima pukulan hitam makhluk itu demi menyelamatkanku. Tapi anda jelas tau ibuku berbeda dengan Laras. Ibu masih bisa bertahan hingga 100 thn sebelum kematiannya yang sunyi." Yabie menunduk sedih.


"Tapi meski sekarat, ibu tetap melawan makhluk itu hingga akhir. Sebulan setelah memenangkan pertarungan dan memusnahkan makhluk itu selamanya, ibu tak dapat melawan takdirnya." Yabie melanjutkan cerita.


"Kotak itu adalah benda yang tertinggal dari makhluk buas itu. Ibu tidak bisa membukanya dengan paksa. Kotak itu akan memberikan perlawanan. Itu sebabnya ibu memintaku untuk menguburkan kotak hitam itu bersamanya," jelas Yabie.


"Agar tak ada siapapun yang celaka karenanya." Dokter Chandra menyambung ucapan Yabie.


Yabie mengangguk.


"Tapi sayangnya, sebelum itu dikubur, Laras sudah lebih dulu kena." Dokter Chandra menunduk sedih.


"Aku bisa secara teratur membantu Laras untuk menahan rasa nyerinya. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Itu juga yang ku lakukan pada ibu. Hanya mampu mengurangi rasa sakitnya." Air mata Yabie mengalir deras.


"Apa ayah dan kakakmu tau tentang ini?" tanya dokter Chandra hati-hati.


Yabie mengangguk.


"Dokter menginap di sini saja malam ini. Besok saya antar ke tempat tabib sekalian memeriksa tanda itu," kata Yabie.


Dokter Chandra mengangguk lesu. "Hemm, baiklah."


*******


Note:


~~Ayo, kira-kira ada apa sih di hutan itu? Yang membuat semua binatang takut. Dan lebih memilih memasuki tempat-tempat yang tak ada jalan kembali?

__ADS_1


Yang bisa menebak, silahkan komen yaa.. 🤔👣🔍


__ADS_2