
Hingga 2 hari berikutnya, Robert dan Kang masih berkutat membuka lahan untuk kebun dan kandang untuk ternak. Mereka juga membawakan ayam dan bibit ikan untuk dipelihara.
Para wanita itu antusias belajar menanam bibit sayur. Mereka juga senang bermain air saat waktunya menyiram tanaman. Apalagi ketika memindahkan bibit ikan di kolam kecil yang dibuat Kang.
"Sudah, jangan diaduk-aduk terus airnya. Nanti ikannya pusing. Kalau mereka mati, kalian yang rugi," tegur Robert.
Mendengar itu mereka segera berhenti mengaduk air kolam. Dan memperhatikan ikan-ikan kecil itu dengan khawatir.
Robert menggeleng dan tersenyum samar.
"Pekerjaan di sini sudah selesai dan hari masih siang. Jadi aku dan Kang akan memeriksa sedikit area hutan tempat kalian biasa berburu," ujar Robert.
Para wanita itu menunjukkan wajah tidak suka. Kang menyadari sesuatu Dia menatap Vivian dengan tajam.
"Vivian, bukankah sudah ku jelaskan bahwa bantuan kami bersyarat? Bukannya kau bilang Maya setuju? Lalu kenapa pandangan mereka seperti ini?" tanya Robert tajam. Wajahnya tak bersahabat.
Vivian tak bisa membantah. Di kelompok itu, meskipun dia dan ibunya menyetujui persyaratan, 3 orang lainnya menolak bekerjasama. Dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Kang, tinggalkan apapun yang kau kerjakan. Cepat ke sini!" panggil Robert.
"Kami orang yang baik dan jujur. Orang minta bantuan, tentu ditolong jika bisa. Tapi jika kalian bersikap licik, kami juga bisa. Kalian tak menepati janji setelah lepas dari maut, itu juga terserah. Mulai sekarang kita hidup masing-masing dan tidak saling ganggu!"
"Jangan pernah minta tolong lagi pada kami. Kalian matipun kami tak peduli!" kata Robert tegas.
Kang mendekat dengan bingung. Robert menaruh jari Kang di dahinya. Wajah Kang memerah dan menatap 5 wanita itu dengan tatapan mematikan.
Kelimanya merasa lebih takut pada pria pendiam itu. Apa lagi yang saat itu pernah dijatuhkan dan diikat Kang. Dia belum lupa bagaimana gesitnya gerakan Kang. Itu membuatnya mundur lebih jauh.
"Kang, mereka tak menyesal sudah ingkar janji. Yahh, kita buang-buang waktu percuma di sini. Mari kita hancurkan kebun-kebun itu," ajak Robert. Dia berjalan menuju kandang ayam dan mengambil semua ayam yang dibawa sebelumnya.
Sementara Kang sudah mendapatkan batang kayu besar yang bisa dipakai untuk menghancurkan kolam ikan. Kang bersiap dan mengayunkan tangannya yang memegang batang kayu.
Para wanita itu terkejut melihat bahwa bahan makanan mereka telah diambil kembali oleh Robert dan kolam akan dihancurkan.
"Jangan! Tolong jangan. Kami akan mengijinkan kalian memeriksa area hutan perburuan. Jangan ambil makanan kami," kata Maya memohon.
"Heh, setelah sikap kalian tadi, kalian pikir kami akan percaya? Orang yang berusaha ingkar janji, tidak layak untuk dipercaya lagi," kata Robert sinis.
"Kau boleh ajukan syarat lain, asal jangan menghancurkan semua ini," tawar Maya.
"Kalian sangat miskin. Apa yang bisa kalian tawarkan?" Robert bertanya balik.
Maya juga kebingungan. Dia juga tak tau mesti menawarkan apa.
"Vivian, sini!" panggilnya.
Vivian mendekat. Robert berusaha menebak rencana Maya.
"Kalian boleh bawa Vivian sebagai jaminan. Kalian boleh suruh dia mengerjakan apapun. Biarkan dia belajar pengetahuan kalian. Setelah kalian selesai memeriksa, kalian bisa mengembalikannya ke sini." Maya berkata tegas.
Vivian juga tak membantah. Dia tidak keberatan jika harus membantu Kang dan Robert, asal kelompoknya tetap punya makanan.
"Heh... Kau ingin mengirim mata-mata ke tempat kami?" Robert mengangkat sebelah alisnya, mengejek rencana Maya.
"Tidak. Bukan seperti itu. Maksudku, dia jaminan untuk kalian. Atau kalian bisa mengurungnya jika khawatir." bantah Maya.
"Ibu!" Vivian tercengang mendengar kata-kata ibunya sendiri.
Robert tertawa.
"Hahahaa.."
__ADS_1
"Kau ibu yang sadis. Putrimu sendiri kau suruh kurung demi makanan yang belum tentu tumbuh itu?" tanya Robert tak percaya.
"Kau dengar itu? Kasihan sekali kau," kata Robert pada Vivian.
Vivian menangis tanpa sadar. Dia pun tak menyangka ibunya setega itu.
"Kang, letakkan kayu itu," kata Robert. Kang menurutinya.
"Kami terima tawaranmu. Putrimu jadi tahanan kami selama kami memeriksa."
"Ini. Kalian urus sendiri ayam-ayam ini." Robert melepaskan ayam-ayam yang dipegangnya.
Keempat wanita itu sibuk menangkapi ayam-ayam yang kabur kemana-mana.
"Kau ikut kami memeriksa. Tunjukkan jalan yang kau tau!" perintah Robert pada Vivian. Gadis itu tak punya pilihan selain menuruti.
Ketiganya meninggalkan kediaman Maya menuju hutan. Membawa Vivian memang menguntungkan. Mereka bisa cepat mencapai batas akhir hutan. Mereka berhenti. Robert menjangkau satu ranting yang berada tak jauh dari kakinya.
Dengan menggunakan ranting itu Robert menyentuh area kosong dibalik rimbunan perdu. Lalu terlihat cahaya samar di belakang sana. Robert dan Kang saling pandang.
Robert tersenyum.
'Ini batas dindingnya. Kayu tak bisa menerobos, jadi harusnya tak ada celah pintu di sini' batin Robert.
Robert memetik buah merah di semak-semak itu. Rasanya manis asam segar.
"Vivian, kau bisa petik buah ini. Cari yang sudah merah seperti ini. Kumpulkan yang banyak untuk dimakan nanti," kata Robert.
"Ini bisa dimakan?" tanya Vivian heran.
"Tentu saja. Itu buah raspberry. Kaya vitamin C," jelas Robert.
"Kang, pilih bagian yang bisa kita tanam di kediaman kita," kata Robert.
Kang mengangguk. Dia langsung berjongkok di dekat Vivian yang sedang asik memetik dan memasukkan raspberry ke mulutnya. Matanya sampai terpejam menikmati sensasi segar buah itu. Ekspresi Vivian seperti itu, membuat wajah Kang merona.
Robert tak memperhatikan hal itu. Dia asik memeriksa dinding cahaya. Sampai suasana terasa begitu sunyi. Saat itu Robert baru sadar, telah jalan terlalu jauh dari Kang dan Vivian. Dia berjalan kembali untuk memanggil kedua orang itu.
"Baru saja Robert ingin berteriak tapi dibatalkannya ketika melihat dua orang berbeda jenis itu sedang saling pandang.
"Ahhh.. mereka adalah manusia-manusia berumur ribuan tahun. Masih terhitung kakek nenek buyutku. Anak kecil sepertiku tak sopan mengganggu kesenangan orang tua," gumam Robert sambil berlalu.
*
******
Yabie telah menceritakan apa yang dialami Laras dan dia sudah mengkonfirmasi tanda hitam itu serupa dengan yang dialami ibunya.
Laras ditawarkan ingin tinggal dengan siapa. Dia tak mengenal Yabie dengan baik, jadi menolak tinggal di kediaman ketua kota.
Laras juga menolak tinggal dengan tim Dean. Dia menyadari bahwa dia tak bisa kembali melanjutkan perjalanan pulang. Jadi dia memutuskan tinggal bersama kelompok Mattew dan Kenny.
Mengetahui keputusan Laras, Liam akhirnya memutuskan untuk menetap dan merawat Laras di kota mati.
Tak ada seorangpun yang bisa memaksa mereka membatalkan keputusan itu. Jadi semua menghormati dan membantu sebisanya.
Seminggu penuh Dean dan teman-temannya membangun 2 rumah kayu.
Satu rumah berada di sisi kanan rumah tua Yabie. Yang akan ditempati Liam dan Laras. Rumah itu cukup besar dan dibuat 2 lantai. Lantai 2 jelas untuk Liam. Lantai pertama untuk kamar Laras serta ruangan lainnya.
Rumah kedua untuk kelompok Mattew dan Kenny. Dean berencana membuat 2 blok rumah untuk mereka. Yang ditempatkan di bagian kiri gerbang kota.
__ADS_1
Tapi sementara ini mereka membuat satu rumah yang cukup besar untuk bisa menampung semua anak. Selanjutkan mereka bisa membangun rumah lain secara bertahap.
"Sekarang rumah ini sudah selesai. Kalian bisa mulai memempatinya. Sumber air juga ada. Tiap rumah punya sumur sendiri. Dan ada sedikit lahan di tiap halaman yang bisa ditanami. Itu bisa menghidupkan suasana kota ini lagi," kata Dean.
"Apakah Laras sudah bisa dijemput besok?" tanya Liam.
"Aku bisa menjemputnya dari tempat tabib." Yabie menawarkan diri.
"Kursi rodaku bisa dibawa ke sini. Itu akan memudahkanmu membawanya melihat-lihat kota," kata Sunil.
"Terima kasih," ujar Liam haru.
"Baiklah. Karena hari masih siang, bagaimana kalau kita siapkan tempat tidur untuk Laras?" ajak Alan.
"Dia butuh kasur yang empuk," kata Liam.
"Pakai saja yang ada di rumah tua Yabie. Toh tidak ada yang pakai juga," usul Michael.
"Ya, kau benar. Biar aku keluarkan."
Yabie melesat cepat ke dalam rumah dan mengeluarkan kasur bulu dombanya. Kasur itu dijemur di bawah cahaya matahari siang. Beberapa anak menepuk kasur itu bergantian untuk mengeluarkan debu yang terjebak di antara bulu-bulu domba.
Dean bekerja membuat dipan sederhana, membuat rak pakaian. Meja makan dan 2 kursi. Sementara Alan dan Sunil menyelesaikan kamar mandi dan tungku masak yang menghadap halaman belakang.
"Ku kira kita sudah selesai di sini," kata Indra.
"Ya. Laras sudah bisa kembali. Semua sudah selesai," timpal Michael.
"Oke. Kita sudah bisa istirahat," sahut Dean.
Semua bubar dan melakukan kegiatan masing-masing. Mattew dan Kenny mengajak anak-anak itu mengambil kulit-kulit binatang yang jadi alas tidur mereka. Mereka sudah bisa pindah ke rumah yang baru. Rumah yang jauh lebih kuat dan aman.
"Yabie, ku kira gandum di ladangmu itu sudah siap untuk dipanen. Bagaimana kalau kita panen sekarang? Sebentar lagi stok ubi anak-anak itu akan habis. Dan kami di hutan juga kekurangan bahan pokok."
"Ayo kita panen," jawab Yabie senang. Keduanya pergi ke halaman tersembunyi di belakang tembok rumah tua Yabie.
"Apa kau yang menanam ini? tanya Dean sambil jalan.
"Ya. Ibu mengajariku menanam, memerah susu, memotong dan menguliti binatang," jawab Yabie dengan mata menerawang.
"Ibu suka bercerita, bahwa ada seseorang yang dikenalnya, yang sangat mahir mengurus tanaman. Untuk memanen gandum orang itu tak perlu memotong dengan sabit seperti ini." Yabie menunjukkan caranya memotong batang gandum.
Dean tertawa. Dia tau Bi sedang menceritakan tentangnya.
"Orang itu hanya perlu mengangkat tangan, mengayun ke kanan kiri, lalu semua gandum yang terpotong melayang ke udara," sambung Dean penuh perasaan. Matanya bersinar keemasan. Sangat cemerlang.
Yabie ternganga melihat itu. Bagaimana itu bisa persis seperti yang diceritakan ibunya?
"Paman!" teriaknya menghampiri.
"Ternyata ibu bercerita tentangmu. Ku kira dia menceritakan ayahku."
Wajah Yabie yang terkejut menyadarkan Dean. Dia menghela nafas. Membuang kenangan yang melintas.
"Aku saudara ibumu. Kami tumbuh bersama dari kecil. Tentu saja dia tau tentangku," jelas Dean.
"Kau benar. Kenapa aku lupa hal itu." Yabie menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo kita panen. Nanti keburu sore." perintah Dean. Yabie menyusul Dean bekerja bersama.
******
__ADS_1