PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 405. Aku Percaya


__ADS_3

Gadis itu menangis berurai air mata. "Papa jangan pergi lagi ... jangan mati.... Huhuhuuu...."


Dokter Chandra terkekeh. Dipeluknya tubuh putrinya. Keduanya pelan-pelan melayang, hingga puncak kepala mencapai plafon ruang tamu. Dyah terkejut dan memegang erat Dokter Chandra.


"Ayo Nduk, kau bisa coba terbang sendiri. Ini lebih mudah ketimbang saat kamu belajar naik sepeda." Dokter Chandra meregangkan pelukan putrinya. Tapi kedua tangan mereka masih saling berpegangan.


Ketakutan Dyah terpampang nyata di wajahnya. Pegangan tangannya semakin erat. Dia menggeleng dan memohon. "Jangan lepasin Dyah...."


"Papa tidak akan pernah mencelakaimu. Kau harus percaya bahwa kau bisa. Katakan pada dirimu sendiri, 'Aku bisa terbang' ...."


"Ayoo ... katanya ingin bukti nyata! Begitu saja tak berani!" Robert mendorong Dyah dengan ejekannya.


Dokter Chandra menyelubungi putrinya dengan cahaya putih. Kemudian genggaman tangan mereka terlepas. Gadis itu awalnya terkejut dan panik. Dia terjatuh. Tapi selubung itu membuat dia tetap melayang. Akhirnya Dyah menyadari bahwa selubung cahaya itu melindunginya. Dia kembali berdiri dan kecemasannya sirna.


"Papa akan melepaskan selubung cahaya itu. Jadi kamu harus bisa melayang sendiri!" kata Dokter Chandra.


Dyah kembali panik. "Tidak ... tidak! Sudah cukup! Aku mempercayai cerita itu. Tidak perlu dibuktikan dengan terbang. Aku bukan bur— Aaaahh!"


Dyah memekik kaget ketika selubung itu perlahan lenyap. "Papa...." Tatapannya memohon.


"Rentang dua tanganmu, dan bilang, terbang!" ujar Sunil, mendorong keberaniannya.


Dyah mengikuti instruksi itu. "Ter- terbang!" ujarnya ketakutan, karena selubung cahaya putih di kakinya sudah hilang sama sekali. Gadis itu memicingkan matanya erat.


Tiga pria itu melihat Dyah merentangkan tangan di bawah plafon ruang tamu sambil tersenyum. Di detik ke dua, gadis itu masih belum menyadari bahwa dia tak jatuh ke lantai.


Beberapa detik kemudian barulah matanya terbuka, dengan ekspresi tak percaya. Menyadari kepalanya masih menempel pada plafon, diliriknya arah bawah. Dokter Chandra, Robert dan Sunil sedang tersenyum ke arahnya.


"Kau berhasil!" Sunil mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar.


"A-aku ber-hasil. Aku bisa terbang! Hahahaha...." Tawa Dyah memenuhi rumah.


"Tapi, bagaimana caranya terbang ataupun turun?" tanyanya bingung.


"Arahkan tubuhmu ke sini!" bimbing Dokter Chandra.


Dyah melakukan seperti yang dikatakan papanya. Dan itu berhasil. Dia masih mencoba terbang ke dapur dan ke seluruh ruang lantai bawah.


"Aku percaya. Aku percaya yang kalian katakan." Gadis itu kembali duduk di sofa. Wahahnya berseri-seri.


"Bagus. Sekarang kau tak butuh bukti lagi. Jadi sebaiknya kembalikan kepingan jiwa yang dipinjamkan itu pada Penguasa!" ujar Robert.


"Penguasa? Penguasa apa maksudmu?" Dyah kembali kebingungan.


Akhirnya Sunil dan Robert bercerita bergantian, bagaimana mereka akhirnya bisa terbang. Gadis itu sekejap kembali tidak percaya. Tapi tersadar, bahwa dia bahkan sudah merasakan keajaiban Bangsa Cahaya.

__ADS_1


"Baik, jika itu bisa menjaga papa, maka ambillah lagi. Aku tak harus terbang di dunia ini!" katanya dengan senyum kecut.


Dyah dapat melihat bahwa papanya mulai terlihat lelah. Terutama karena tadi kepingan jiwa itu dibawanya ke sana-kemari.


Dokter Chandra meletakkan tangannya di dahi Dyah. Tak lama, seberkas sinar putih kemilau, melesat masuk ke tubuh Dokter Chandra. Kedua orang itu sekarang sedang memulihkan diri.


*


*


Satu jam kemudian, ponsel Dyah berdering. "Mama!" katanya.


Dokter Chandra yang sedang bersandar di sofa, langsung duduk dengan tegak. "Gunakan speaker," ujarnya.


Dyah mengangguk. Dia menerima panggilan telepon dan memasang pengeras suara. "Iya Ma," sahutnya.


"Kamu di mana? Kata Dimas pergi sejak pagi!" tanya mamanya.


"Aku ada keperluan sebentar, Ma. Ada apa?" tanya gadis itu balik.


"Kalau urusannya sudah selesai, segera kembali!" perintah mamanya.


"Iya ... iya," ujar gadis itu.


Panggilan telepon terputus. Dokter Chandra memejamkan mata. Hatinya bahagia bisa mendengar suara istrinya lagi.


Hari ini jangan ke mana-mana dulu. Tetaplah di sini. Dyah akan datang lagi besok. Sebentar lagi Dyah pulang. Papa ingin apa?" tanyanya.


"Bisakah belikan alat cukur, gunting rambut dan sisir?" tanya Sunil.


"Shampoo dan sabun mandi juga.!" timpal Robert.


"Makanan. Papa kepingin nasi Padang!" celetuk Dokter Chandra.


"Ah, ya. Makanan yang paling penting!" Sunil dan Robert menganggukkan kepala.


Dyah tergelak mendengarnya. "Oke. Dyah pergi ke minimarket dulu. Dan beli makanan!" ujarnya.


"Ya. Hati-hati," Dokter Chandra mengingatkan.


"Akhirnya, bisa beristirahat dengan tenang hari ini. Sudah dua hari, tidur hanya sekedarnya!" kata Robert.


"Di lantai atas ada dua kamar. Kalian bisa pakai itu. Tapi bersihkan dulu debu-debu yang ada!" kata Dokter Chandra.


"Oke!" Sunil dan Robert langsung pergi ke lantai dua rumah itu.

__ADS_1


Sementara Dokter Chandra membuka pintu kamar yang ada di bawah. Tempat itu sama berdebunya. Dari jendela kamar, bisa dilihatnya halaman depan yang sangat berantakan. Dia menghela nafas.


Rumah itu memang dibeli dari orang lain. Dokter Chandra sendiri belum berniat memperbaikinya. Dibelinya rumah itu memang untuk putrinya nanti menikah. Dan karena Dyah masih kuliah, jadi rencana renovasi masih lama. Itulah sebabnya rumah ini seperti rumah tua yang terabaikan.


Siang itu tiga orang pria sedang sibuk membersihkan rumah. Semua jendela dibuka, agar udara kotor berganti dengan uadara segar.


Pukul tiga, mobil Dyah masuk halaman. Dia belanja cukup banyak. Sehingga bagasi mobilnya jadi penuh dengan tas belanja.


"Apa kau mau membuka toko di sini?" kelakar Suni.


"Andai saja kalian punya uang. Panti akan kubuat toko serba ada di sini," cibirnya.


"Tapi kau mungkin saja membuat toko. Jadi Para wanita hamil itu bisa membeli kebutuhan mereka padamu," ujar Robert.


"Tapi kau akan dibayar dengan gandum, ataupun daging domba!" kata Sunil.


Tawa meledak di ruangan itu. Gadis itu tersenyum mendengar candaan dua teman papanya.


"Sudah lama aku tak makan senikmat ini!" jujur Dokter Chandra.


"Jangan sebut itu di depan Marianne, Widuri dan Niken. Atau kita tak kan dapat makan berhari-hari!" Robert mengingatkan.


Tawa kembali meledak dan meramaikan suasana makan. Bolehkah aku ikut ke sana suatu hari?" tanya Dyah.


"Tentu. Asalkan keadaan sudah tenang, dan mamamu tidak mencari-cari. Nanti kau bisa ikut melihat tempat indah itu!" sahut Dokter Chandra.


Kau bisa berkenalan dengan Kang, si naga yang tampan. Atau Yoshi, hasil persilangan The Fallen Angel dengan Bangsa Cahaya. Tapi jangan jatuh cinta pada mereka, meskipun sangat tamoan!" Robert menggoyangkan jari telunjuknya memperingatkan.


"Kutebak! Mereka pasti sudah menikah!" kekeh Dyah.


"Yahh ... kau sedikit terlambat. Pernikahan Yabie belum lama berlangsung!" Sunil menambahkan.


"Lalu, kenapa kau tidak mencari jodoh juga di sana?" tanya Dyah pada Robert.


"Robert diam saja. Dia tak menjawab sedikitpun. Sunil melirik, ingin mencari tahu isi hati Robert. Dokter Chandra juga menunggu dia menjawab pertanyaan tersebut. Tapi hingga makanan habis, Robert tetap tak merespon hal itu.


"Sudah kenyang. Sudah lelah. Sudah ngantuk. Sudah waktunya untuk istirahat." ujar Robert santai.


*******


Note:


Readers tersayang, jika menyukai novel ini, silahkan rekomendasikan pada yang lainnya.. Biar yang baca juga makin banyak.


Jgn lupa like, komen, vote dan beri gift utk author yaa . Kalau ada iklan, jgn di skip yaa. Terima kasih 🙏

__ADS_1


~Happy reading~


__ADS_2