
Dean sedang memindahkan kayu-kayu yang ditebangnya. Sunil dan Yabie membantu membawa masuk semua kayu yang sudah disiapkan. Kang, Robert dan Kang Tua datang berkunjung.
"Ini kakekku, Kakek Kang!," Kang memperkenalkan kakeknya pada Yabie, Liam, Laras dan yang lainnya.
"Tunggu dulu! Kau bisa bicara sekarang?" tanya Sunil terkejut. Tak ada lagi api yang menyambar saat Kang buka mulut.
Kang terkekeh. "Kakek mengajariku cara menahan semburan api, saat berbicara!" sahutnya geli.
"Itu kemajuan!" Sunil senang mendengarnya.
"Kakek ingin melihat tempat ini," ujar Kang.
"Silahkan masuk!" sahut Yabie sebagai Tuan Tanah di situ.
"Dia putra Ketua Kota, pemilik tempat ini sekarang!" Kang memperkenalkan Yabie pada kakeknya.
Kakek Kang mengangguk sopan pada Yabie.
"Kakek, ibunya juga yang tewas di sini karena bertarung dengan monster musuh kakek itu!" bisik Kang.
Kakek Kang mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Yabie. "Maafkan keteledoranku, hingga membuatmu menderita," sesal Kakek Kang.
"Tak apa. Itu sudah berlalu. Seperti kata paman Dean, ibu berjuang hingga akhir untuk melindungi kota karena panggilan jiwa prajuritnya. Ibu pergi dengan kebanggaannya. Kami sekeluarga juga bangga padanya!" ujar Yabie.
Mereka berjalan masuk. "Tempat ini hijau dan tanaman tumbuh subur," katanya takjub.
"Paman Dean dan semua orang, bekerja keras agar Kota Mati ini berubah menjadi kota yang hidup!" kata Yabie.
Sambil berjalan masuk, Yabie menceritakan bagaimana lusuhnya tempat itu dulu. Rumah-rumah yang berdiri bisa ambruk hanya dengan sedikit dorongan jari, saking tuanya. Bagaimana tak ada satupun tanaman yang hidup di tengah kota. Hanya ada sebaris pepohonan di pinggir kubah. Dan bagaimana kota itu tak pernah diguyur hujan dan berganti udara sejak ratusan tahun.
"Aku bisa membuka kubah ini!" Kakek Kang memberi solusi.
"Itu akan membahayakan. Hutan larangan ini masih memiliki misteri yang tak terpecahkan!" tolak Yabie.
"Tak bisakah Anda membuat kubah ini seperti kubah yang melindungi dunia Kang? Di sana tetap ada hujan dan udaranya tak berbeda dengan di luar. Sementara kubah ini, lebih seperti rumah kaca!" ujar Dean.
Kakek Kang mengangguk. "Tentu. Apakah Kau mau dibuat seperti itu saja?" tanya Kakek Kang.
"Boleh. Gantikan dengan itu saja!" sahutnya senang.
Kakek Kang merubah tubuhnya menjadi naga hitam. Dia terbang mengelilingi tempat itu. Semua mata menuju padanya.
"Ada naga Hitam!" seru seorang anak takjub.
Tapi mereka tak lagi takut pada naga. Karena Kang sesekali juga menampilkan bentuk naganya untuk membawa anak-anak itu bermain di luar. Mereka senang duduk di punggungnya dan melihat pemandangan.
__ADS_1
Kubah yang menutup kota mati hilang tiba-tiba.
"Waaa ... kubahnya hilang. Kita bisa lihat hutan mengelilingi kota kita!" komentar anak-anak itu.
"Aku bisa merasakan angin berhembus. Baunya segar. Bau daun-daunan!" tambah yang lain lagi.
Kakek Kang masih memutari kota itu beberapa kali. Kemudian perlahan-lahan muncul selubung transparan menutupi kota itu lagi.
"Aku tak merasakan perbedaannya!" celetuk Yabi.
Tiba-tiba hujan turun mengguyur seluruh tempat. Tak sampai lama, sinar matahari kembali menerobos masuk ke dalam kota.
Semua terdiam. Kakek Kang sudah membuktikan bahwa sekarang kota itu akan lebih ramah pada para penghuninya.
"Ini sangat bagus!" kata Dean cepat. "Apakah pintu masuk dan keluar masih di tempat yang sama? Mereka tak bisa terbang, jika pintu itu ada di atas!" tambahnya.
Kakek Kang terbang ke arah pintu gerbang. Dia memastikan bahwa pintu itu bisa digunakan. Liam ikut mencobanya.
"Pintunya masih di sini.
"Tapi kami masuk ke sini dari satu celah dimensi lain. Apakah celah itu sudah tertutup rapat?" Liam harus memastikan Kota Mati aman dari makhluk lain.
Kakek Kang kembali mengelilingi semua dinding kubah yang dipasangnya. "Sudah tak ada celah. Itu mungkin terjadi seiring berjalannya waktu. Kubah yang kubuat semakin melemah dan menimbulkan celah," ujarnya.
"Kurasa itu penjelasan yang logis," Dean mengangguk.
"Ya. Terima kasih, Kakek Kang." Yabie menganggukkan kepalanya dengan hormat.
Kakek Kang merasa puas dengan penerimaan Yabie. Dia mengelilingi lagi tempat itu.
"Kalian mau membangun apa di sini?" tanyanya.
"Kami mau membangun ulang rumah ibu. Aku lahir di sini. Ibu juga tewas di sini. Aku ingin tetap ada rumah untukku kembali ke sini!" jelas Yabie.
Apakah perlu bantuanku?" Kakek Kang menawarkan bantuan lagi.
"Dean akan membangunnya. Dia sudah menebang pohon-pohon di hutan, untuk itu. Dia yang mengerti bentuk rumah ini sesungguhnya. Kami hanya membantu sedikit," jawaban Sunil diikuti anggukan Yabie.
Kakek Kang menyentuh kening Dean. Dia menyerap rencana rumah yang dipikirkan Dean.
"Ambilkan kayu-kayu itu ke sini!" perintahnya. Dean, Sunil dan Robert terkejut.
"Ayo!" ajak Kang keluar.
Dia ingin lihat, selihai apa kakeknya membangun rumah yang diinginkan Dean. Kakeknya mampu membangun kuil megah dan indah serta kompleks pemakaman kaisar. Apakah dia juga bisa mengerjakan rumah yang diinginkan Dean? Kang sudah lihat kompleks rumah di pinggir tebing yang dibangun Dean. Itu sangat unik.
__ADS_1
Kakek Kang mulai membuat fondasi di tanah. Dia tak melakukan pekerjaan menggali sama sekali. Tangannya bergerak ke sana-kemari, lalu muncul lubang-lubang pondasi di tanah. Dan itu persis seperti rencana pondasi yang ingin dibuat Dean.
Dean tak bisa untuk tidak tercengang. Kakek Kang ternyata lebih ahli darinya. Dean akhirnya menyusul teman-temannya untuk menambah kayu-kayu yang dibutuhkan. Dia sudah sepenuhnya percaya pada kemampuan Kakek Kang.
Sore hari, rumah mungil itu sudah selesai. Sepenuhnya dibuat dari kayu-kayu berkualitas, termasuk lantainya. Rumah itu lebih besar dan tinggi sedikit dari rumah Laras dan Liam yang berada di depannya.
"Indah sekali!" guman Yabie.
"Paman, apakah seperti ini rumah yang kau inginkan?" tanya Yabie taj percaya. Dean menangguk.
"Kakek Kang sangat hebat. Bisa mengetahui isi pikiran paman!" puji Yabie.
"Apakah tadi, saat aku menggambar di tanah, kau tak mengerti?" tanya Dean heran.
"Gambarmu payah! Bagaimana aku tahu!" olok Yabie.
Dean terkesiap. Wajahnya panas. "Lalu, saat kau mengiyakan, itu kau belum mengerti?" tanya Dean serius.
Yabie menggeleng jujur. "Tapi aku percaya bahwa Paman sudah memiliki gambarannya. Lagi pula, yang membangun nanti kan Paman. Aku hanya membantu. Jadi tak perlu terlalu mengerti juga!" jawabnya polos.
"Hah! Tak kusangka kau semenjengkelkan ini!" Dean mendesah tak berdaya. Yang lain tertawa kecil mendengar perdebatan keduanya.
"Jika sudah dicat, pasti akan lebih bagus!" cetus Liam.
"Kau benar! Dean, kita bisa membeli cat dari kota, tempat Aslan. Rumah-rumah di sini bisa dicat warna-warni biar makin semarak!" Sunil mendukung ide Liam.
"Oke! Nanti kita pikirkan lagi!" Dean menganggukkan kepalanya.
"Rumah ini sudah selesai. Rasanya ganjalan hatiku sudah hilang. Sekarang mari kita bahas lokasi penempatan pintu itu!" kata Dean serius.
"Bagaimana kalau kita bicarakan di rumah tepi tebing? Aku merindukan tempat itu!" ujar Robert.
"Baiklah. Aku juga belum ke sana." Dean setuju.
"Yabie, apakah kau sudah menrmpati rumah itu dengan istrimu?" Dean harus memastikannya. Jangan sampai kehadiran mereka mengganggu pengantin baru itu.
"Belum. Dia masih di rumah ayah. Aku juga tidak tahu dia akan setuju tinggal di sana, atau tidak. Mungkin terlalu jauh baginya untuk berjalan keluar hutan saat membantu pengobatan di desa. Tapi memang aku selama ini tinggal di sana!" jawab Yabie.
"Mari kita diskusi di sana!" ajak Dean.
"Kami pergi dulu ya ... nanti setelah pintu teleportasi bisa dipasang, kita akan lebih sering bertemu. Sampai jumpa!" pamit Dean.
"Sampai jumpa lagi, Dean!" timpal Liam, melambaikan tangannya.
Kakek Kang, Dean, Robert, Sunil Kang dan Yabie terbang keluar dari kubah itu, melintasi hutan lebat misterius di pulau itu. Langit senja hampir tenggelam.
__ADS_1
"Aku ingin mandi di laut!" seru Sunil. Dia tertawa senang sepanjang jalan.
*******