
Dalam 2 hari berikutnya, persiapan pemurnian diri untuk Angel telah selesai.
Hari ini semua teman setimnya mengantarkannya ke istana untuk melakukan prosesi tersebut.
Tetua klan Elf dan pembantu wanitanya mendahului sang raja, berjalan di depan. Dibelakang raja dan beberapa pelayannya, Angel mengikuti. Dia diapit 2 orang pelayan wanita elf. Lalu anggota timnya mengiringi di belakangnya. Mereka beriringan menuju ke belakang istana. Menaiki undakan tangga bukit kecil berpemandangan indah. Ada kolam kecil dengan air terjun yang jernih di situ. Tampaknya itu adalah taman istana. Aneka bunga unik dan berwana-warni, melengkapi keindahan bukit kecil itu.
Mereka terus naik, hingga menemukan sebuah pintu yang dijaga 4 pengawal bersenjata. Pengawal membuka pintu dan ketua klan serta pembantunya segera memasuki pintu itu. Raja berbalik menatap Angel dengan senyum di wajahnya.
"Masuklah. Ritualnya berlangsung di dalam. Pelayan wanita akan menemani dan membimbingmu di sana." Sang Raja berkata lembut.
Angel mengangguk dan melangkah masuk. Tangannya dibimbing oleh seorang pelayan wanita. Mereka segera menghilang. Pengawal dengan segera menutup kembali pintu itu.
"Yang mulia, bolehkan seorang dari kami menemaninya?" Robert memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak ada yang bisa masuk ke dalam selain tetua, Raja ini, para pelayan utama serta orang yang akan melakukan ritual."
Raja mengarahkan langkahnya ke arah gajebo yang tak jauh dari situ. Tampaknya memang sengaja dibuat sebagai tempat untuk menunggu.
"Silahkan duduk. Ritual itu tak kan lama. Jangan khawatir. Sementara menunghu, bisakah kalian menceritakan tentang negeri kalian padaku?" titah raja.
Robert dan rombongannya segera ikut duduk di bangku-bangku yang ada. Para pelayan dengan cekatan segera melayani dengan minuman dan makanan kecil. Angin yang berhembus lembut, membuat tempat itu terasa sangat nyaman.
"Yang Mulia ingin tau tentang apa?" Robert menanggapi keinginan raja.
"Ceritakanlah tentang negerimu. Seberapa besar? Bagaimana keadaan masyarakatnya?" tanya raja.
Robert menceritakan dan menjawab semua keingintahuan sang Raja. Dokter Chandra juga sesekali menjawab pertanyaan dari sang raja. Sementara Niken terus menggambar hal-hal unik yang diinginkan sang raja.
"Hah.. ternyata dunia kalian sangat besar ya? Ratusan negara besar dan kecil. Dipisahkan lautan luas. Aku sungguh penasaran bagaimana rasanya duduk di kendaraan yang biasa kalian gunakan kemana-mana itu. Apa namanya tadi?" tanya raja.
"Mobil yang mulia. Ada banyak kendaraan yang bisa digunakan untuk mobilisasi. Bahkan ada yang dikayuh dengan kaki. Namanya sepeda." Robert tersenyum menjelaskannya pada raja.
"Dikayuh? Bagaimana itu bentuknya? Apa namanya?" Raja sangat heran.
Niken segera menggambarkan sebuah sepeda di kertas yang disodorkan pelayan raja. Lengkap dengan orang duduk yang sedang mengayuh pedal sepeda plus pemandangan jalanan perkotaan.
Raja sampai membuka mulutnya melihat gambar yang dibuat Niken.
__ADS_1
"Seperti inikah pemandangan tempat tinggalmu?" tanya raja takjub.
"Ya yang mulia. Ini jalan raya, tempat kendaraan melintas. Ini gedung- gedung bertingkat. Tempat orang-orang bekerja, ada juga yang merupakan tempat tinggal. Ada tempat perbelanjaan, ada juga tempat menginap sementara yang kami sebut hotel." Niken menjelaskan gambar yang ada di kertasnya.
"Waahh.. hebat sekali. Tempat tinggal kalian tinggi-tinggi. Lalu bagaimana kalian naik sampai ke atas jika di sana tak ada teleportasi?" Sang raja tak mengerti.
Robert kembali menjelaskan dengan sabar semua keingintahuan sang raja. Perbincangan itu terhenti tatkala seorang pengawal menghampiri.
"Ritual sudah selesai, yang mulia."
Wajah raja langsung berubah sangat cerah. Wajahnya penuh senyum dan kebahagiaan. Dia segera berdiri.
"Mereka sudah selesai. Mari kita ke sana." ujarnya sambil melangkah.
Robert dan timnya segera mengikuti. Tampak Angel diapit 2 pelayan wanita berdiri tak jauh dari ketua klan Elf. Tubuhnya ditutupi selimut.
"Semua berjalan lancar yang mulia," Ketua klan segera melaporkan perihal ritual tersebut.
"Bagus.. bagus sekali. Haha.. Kalau begitu mari kita segera kembali." Kali ini sang raja berjalan mendahului. Mereka berjalan beriringan menuruni undakan tangga batu menuju istana.
"Kalian akan diantarkan ke kamar sementara oleh pelayan." Sang raja memberi instruksi setelah mereka tiba di dalam istana dari halaman belakang.
"Mari ikuti saya."
Pelayan wanita yang tadi bersama Angel mengarahkan jalan untuk mereka semua. Melewati beberapa lorong dengan ceiling tinggi dan lampu-lampu dinding yang indah. Sesekali tampak candelier digantung tinggi. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu.
Pelayan memberitahukan kamar-kamar untuk anggota tim Robert. Namun kamar Angel tetap terpisah. Laras masih penasaran. Sejak tadi Angel tak bersuara sedikitpun. Wajahnya selalu menunduk. Jadi dia tak tau apa yang sudah terjadi saat ritual.
"Apa kau baik-baik saja Angel? Apa kau mau aku menemanimu?" tanya Laras sambil menyentuh pundak Angel.
"Nona muda baik-baik saja. Anda jangan khawatir. Kami akan segera melayaninya. Jadi beristirahatlah dulu."
Pelayan wanita itu menjawab dengan tegas, lalu pergi membawa Angel menuju ruang lainnya.
Wajah Laras menampakkan kekhawatiran, tapi dia tak bisa berbuat apapun di istana ini. Akhirnya mereka memilih masuk kamar dan beristirahat.
*****
__ADS_1
Sementara itu di tim Dean.
Setelah 2 hari tertidur, akhirnya Marianne bangun. Perlahan dibukanya mata. Tempat itu tampak berbeda dengan tempat penyekapan budak. Dikerjapkannya mata beberapa kali sambil memutar kembali ingatan terakhirnya.
"Michael, dimana Michael? Apa dia mati menggantikan hukuman matiku? Oh tidak! Michael, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu.. Kenapa kau mengorbankan diri demi wanita tua ini.. Biarkan saja aku mati agar penderitaanku berakhir.. Sekarang kau pergi dan aku harus menjalani siksaan ini lagi.." Marianne terus berguman dan menangis terisak-isak.
Terdengar langkah kaki mendekat. Marianne segera menekuk kakinya menutupi perut dan menundukkan kepala hingga menyentuh lutut. Kedua tangannya melindungi kepalanya. Dia jadi tampak bergulung seperti bola.
"Marianne, kau sudah sadar?" Pekik Widuri melihat itu. Diletakkannya piring dan cangkir yang dibawanya di meja kayu.
Marianne merasa kenal dengan suara itu, tapi dia tak ingat siapa. Rasanya tak ada budak lain yang akan begitu perhatian padanya seperti ini.
'Apa ini hanya jebakan nona muda tuan Duke?' pikirnya cemas. Jadi dia tetap menunduk.
"Marianne, ini aku.. Widuri," bisik Widuri lembut.
"Kau bersama kami sekarang. Michael juga ada bersama Dean. Kalian aman sekarang." Bisik Widuri sambil memeluk dan mengusap-usap punggung Marianne.
"Widuri? Dean?" Marianne mengangkat kepalanya dan matanya menangkap wajah Widuri. Wajah ayu yang memang dikenalnya. Tanpa disadari isakan tangisnya meledak.
"Widuri.. Widuri.. Apakah kalian dijadikan budak juga? Bagaimana kalian jadi berakhir seperti ini" Marianne menangis tersedu-sedu. Terdengar begitu sedih dan penuh penyesalan.
Widuri tercengang mendengar ucapan Marianne. Dipeluknya Marianne dengan hangat untuk memberinya tambahan kekuatan.
"Kau bukan budak, aku bukan budak. Kita orang bebas. Kau dan Michael sudah diselamatkan oleh Dean dan Sunil. Jadi jangan khawatir lagi." Widuri terus menenangkannya.
Suara-suara di kamar itu terdengar oleh Nastiti. Dia bergegas menghampiri.
"Widuri, apakah..." Ucapan Nastiti terputus.
"Marianne.. kau sudah sadar. Syukurlah.. syukurlah. Ya Tuhan, keadaanmu membuat kami sangat cemas." Nastiti memeluk Marianne dan ikut menangis.
Dean, Alan, Sunil dan Michael mengintip dari pintu dan jendela. Wajah mereka bahagia. Asalkan Marianne sudah sadar, maka itu adalah hal baik.
"Hei, sudah 2 hari Marianne pingsan. Sebaiknya diberi makan dulu agar dia ada tenaga. Setelah itu kalian bisa lanjut menangis bersama," canda Alan dari depan pintu.
Mendengar itu, serentak ketiga wanita merenggangkan pelukan. Nastiti melotot ke arah Alan.
__ADS_1
"Apa kau ingin dipeluk perempuan tua ini juga?" Marianne tersenyum bahagia. Dia akhirnya bertemu lagi dengan teman-teman seperjalanan yang lama terpisah.
Widuri dan Nastiti melayani Marianne di kamar. Mereka menyuapi sambil bertanya ini itu. Sementara Dean mendengarkan cerita Marianne di depan pintu. Tekadnya sudah bulat untuk membalas dendam pada tuan Duke.