PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 113. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Kediaman Glenn disibukkan dengan persiapan pernikahan. Meski untuk sementara Glenn kembali ke rumah orang tuanya, tapi para pelayan tetap mematuhi perintahnya untuk melayani keperluan Angel dan teman-temannya sebaik mungkin.


Angel ibarat telah menjadi nyonya di kediaman besar itu. Semua detail gaun pengantin yang diinginkannya dikabulkan. Semua orang terlihat sangat sibuk. Beberapa bangsa peri ikut datang untuk membantu menyiapkan dekorasi. Kediaman itu terlihat semakin semarak.


Anggota tim Robert tak dapat membantu banyak, karena semua hal sudah ada yang menanganinya. Para pria itu hanya mengawasi orang-orang yang hilir mudik. Kecuali Laras, yang diminta Angel untuk membuatkan bunga tangan. Maka Laras mengajak Silvia dan Niken berburu bunga di kota, sehari sebelum pernikahan. Mereka sangat bersemangat untuk membuatkan buket cantik buat Angel.


Ditemani seorang pelayan wanita yang ditugaskan Randal, mereka berteleportasi ke kota. Ketiga gadis itu sangat gembira. Mereka berkeliling dan memasuki setiap toko bunga. Pelayan wanita itu mengikuti dengan patuh sambil membawa keranjang bunga di tangannya.


"Aduhh.." Suara si pelayan diikuti suara berdebum.


Laras, Niken dan Silvia berbalik dan terkejut. Pelayan itu jatuh tersungkur dan keranjang bunga itu tergeletak di tanah. Isinya berserakan. Namun yang lebih mengejutkan adalah, kaki besar yang menginjak-injak bunga itu dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan? Kami baru membeli bunga itu!" teriak Silvia marah sambil mendorong tubuh besar di depannya.


Sementara Angel dan Niken membantu pelayan untuk berdiri.


"Apa kau terluka?" tanya Laras lembut.


Pelayan itu menggeleng dengan wajah takut.


"Jangan khawatirkan bunga itu, kita bisa membelinya lagi," Niken menenangkannya.


Kini ketiga gadis itu menatap biak kerok kejadian itu.


"Bagaimana kau bisa jatuh?" tanya Laras pada pelayan.


"Dia menjegal kakiku saat melangkah," jawabnya lalu segera menunduk saat orang yang ditunjuknya mendelikkan mata padanya.


"Heh. Apa buktinya aku menjegalmu?" tanyanya kasar.


"Dia berasal dari klan apa?" Niken berbisik pada pelayan.


"Dia wanita dari klan Orc," jawab pelayan dengan suara rendah.


"Apa yang kalian bisikkan? Fokuslah pada masalahnya. Pelayan itu telah menfitnahku tanpa bukti. Aku akan melaporkan ini ke court!" Serunya dengan suara keras, hingga menarik perhatian orang-orang yang melintas di jalan itu.


"Apa kau tau cara menghubungi Randal? Biar dia membereskan hal ini." Laras bertanya pada pelayan.


Pelayan itu mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah lempengan batu hijau zambrut dari balik pakaiannya dan melaporkan kesulitan mereka.


Wanita klan Orc itu terkejut karena mulai menyadari bahwa dia telah mencari masalah dengan pihak yang salah. Tapi dia tak bisa kabur dengan mudah, karena orang-orang sudah mengelilingi tempat itu. Mereka bahkan sudah memanggil petugas berwenang untuk datang.


Seorang petugas bertubuh tambun datang. Dia tidak terlihat seperti orang-orang klan Elf. Dia memeriksa Pelayan, Laras, Niken dan Silvia, tapi wanita Orc itu dibiarkan saja.


"Dilarang membuat keributan di tempat umum, kalian tau hukumannya bukan? Kalian juga membuat tempat ini kotor dengan sampah. Itu hukuman yang lain lagi. Kalian bisa memilih dihukum dera atau membayar denda!"


Petugas itu sudah membuat keputusan begitu saja. Jelas saja Laras tak terima.

__ADS_1


"Kau bahkan tidak menanyai dia. Dia yang mulai membuat masalah dan menghancurkan bunga-bunga yang kami beli!" teriak Laras geram.


"Membentak dan menghina petugas juga ada hukuman tersendiri," petugas itu berkata sinis.


"Hukum macam apa ini?" Silvia sudah tak dapat menahan amarah.


Para penonton juga mulai gaduh dan merasa petugas itu telah bertindak tidak adil.


"Aku hukum di sini. Kalian bisa pilih hukuman dera atau bayar denda!" Suara petugas mulai keras.


"Hei, kalian, seret keempat orang yang bersalah ini ke court," teriaknya pada 2 orang petugas lain yang berdiri mengawasi.


2 petugas itu menarik tangan keempat gadis itu.


Plakk. Krakk.. krakk..


"Aduhh, tanganku.. tanganku.." teriak dua petugas yang memegang tangannya yang tiba-tiba patah.


"Siapa yang berani menyentuh orang-orangnya pangeran Glenn?" Suara yang dalam dan berat terdengar.


"Randal, syukurlah kau datang tepat waktu. Petugas itu menuduh kami membuat keributan, membuang sampah sembarangan dan membentak petugas. Dia mau menghukum dera atau membayar uang denda." Laras menunjuk petugas tambun yang sudah tampak pucat pasi.


'Matilah aku, kenapa wanita ini mencari masalah dengan orang dari kediaman pangeran?' rutuk petugas itu dalam hati.


Randal menjentikkan jarinya, ketiga petugas itu lenyap seketika. Semua orang langsung ternganga. Mereka sudah bisa membayangkan nasib buruk ketiga petugas tak becus itu sekarang.


"Wanita itu yang memulai masalah ini, tapi petugas justru menghukum kami. Dia menginjak bunga-bunga yang kami beli untuk memenuhi permintaan putri Rembulan!" Silvia merasa mendapat kesempatan untuk membalas kesewenangan wanita orc itu.


Orang-orang yang berkerumun akhirnya membubarkan diri sendiri sebelum diminta. Masalah sudah diselesaikan dengan cepat.


"Petugas court itu memang sudah bertindak arogan."


"Mereka pantas mendapatkannya."


Masih terdengar suara mereka membahas kejadian tadi, sebelum tempat itu kembali lengang.


"Aku akan menemani kalian membeli bunga lagi," kata Randal.


Mereka akhirnya berkeliling toko bunga lagi. Hingga tak terasa hari sudah tinggi.


"Apa kalian pernah makan di kota?" tanya Randal.


"Belum," jawab Niken.


"Jika bersedia, saya akan tunjukkan satu tempat makan yang indah dan makanannya sangat enak," kata Randal berpromosi.


"Baiklah.. lagi pula perutku sudah keroncongan," jawab Silvia cepat.

__ADS_1


Temannya yang lain mengangguk. Mereka memang sudah lapar. Akhirnya Randal membawa mereka berteleportasi ke tempat yang dia maksud.


Mereka tiba di sebuah bukit kecil. Pemandangan di tempat itu sangat indah. Mereka bisa melihat ngarai di depan serta sungai berliku di bawahnya.


"Waahhh tempat ini indah sekali," Niken berseri-seri. Matanya berbinar ceria. Dia berputar-putar sambil membentangkan kedua tangannya. Senyumnya lepas dan bahagia.


Ada sebuah gazebo putih pualam tak jauh dari situ. Mereka duduk dan menikmati semilir angin sejuk yang berhembus. Bunga-bunga berwarna oranye membelit tiang-tiang gazebo putih itu. Kontras warna yang sangat indah.


"Baiklah, kau benar tentang satu hal, tempat ini memang sangat indah. Tapi dimana tempat makan enaknya?" tanya Silvia tak sabar.


Ssyyuuhhh.. tiba-tiba angin berputar di depan gazebo. Laras merasa was-was tentang angin ****** beliung, tapi dilihatnya Randal justru tersenyum dan menunggu.


Seorang wanita cantik muncul setelah putaran angin reda. Randal berlari kecil ke arahnya. Wanita itu tersenyum sangat lembut, matanya terlihat penuh kasih. Diulurkannya kedua tangannya menyambut pelukan hangat Randal.


"Kau sudah begini besar, tapi masih saja memeluk seerat ini." Suaranya terdengar merdu di telinga Randal.


"Aku merindukanmu, ibu.. Aku selalu merindukanmu," kata Randal dengan rasa sayang.


Randal membimbing tangan ibunya menuju gazebo.


"Ibu, mereka ini teman-teman pangeran Glenn. Aku ingin mereka mencicipi masakan ibu. Bisakah?"


Ekspresi Randal terlihat sangat menggemaskan saat itu. Seperti kucing kecil yang sedang minta dipeluk dan diperhatikan.


"Ibu?"


Laras, Silvia dan Niken tak menyangka bahwa mereka dibawa Randal ke tempat ibunya.


"Hei, jangan menyusahkan ibumu. Tunjukkan saja dimana dapurnya, kami akan memasak sendiri." Laras malah mengomeli Randal.


"Tidak.. tidak apa-apa. Sebuah kehormatan jika bisa menyajikan hidangan untuk teman-teman sang pangeran." jawab ibu Randal.


"Bagaimana jika anda mengijinkan kami untuk membantu?" tawar Silvia.


Mereka sungguh tak enak hati meminta seorang ibu memasakkan makanan. Randal benar-benar keterlaluan.


"Baiklah, jika kalian ingin membantu," wanita itu tersenyum sangat manis. Begitu manis, hingga Silvia jadi terpukau.


Ibu Randal menggerakkan tangannya. Tiba-tiba meja dapur, tungku dan bahan makanan muncul di sisi kiri gazebo.


"Wahh, anda bisa sihir," Niken terpukau. Ibu Randal hanya tertawa kecil. Bahkan tawanya juga terdengar merdu.


Pada akhirnya, Laras, Niken dan Silvia tak bisa banyak membantu, karena nama-nama bahan makanan yang disebut ibu Randal, tak mereka ketahui. Hanya pelayan wanita Glenn yang menjadi asistennya. Dia bekerja dengan cekatan. Ibu Randal tersenyum senang melihatnya.


Hidangan sudah tersaji di meja. Mereka semua duduk di gazebo, mengelilingi meja batu. Suasana akrab dan ceria. Mereka berbincang-bincang seperti teman. Bahkan pelayan wanita itu juga ikut duduk bersama. Semua bahagia menikmati masakan yang sangat lezat di tempat yang begitu indah dengan suasana kekeluargaan.


"Ini sempurna!"

__ADS_1


Laras menyimpulkan.


*****


__ADS_2