PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 226. Vivian


__ADS_3

Di luar kubah transparan kota mati.


"Kami langsung kembali saja. Sudah 2 hari ternak-ternak diabaikan di sana," kata Robert berpamitan.


"Baiklah kalau begitu." Dean mengangguk.


Kang langsung berubah jadi naga. Robert naik ke punggungnya. Keempatnya naik melewati puncak-puncak pohon.


"Jika sudah menentukan waktu pernikahan Indra, kabari kami," kata Robert sebelum Kang mengepakkan sayap besarnya.


"Yaa!" teriak Dean.


"Ayo kita kembali," kata Dean.


Dean dan Sunil berbalik menuju arah kediaman mereka. Tapi ternyata ada Yabie dan Yoshi yang terus melihat ke arah Kang dan Robert pergi. Mata keduanya menatap tak berkedip.


"Kalian di sini? Kenapa tak menyapa? Kami bisa perkenalkanmu pada Robert. Salah satu teman yang hilang saat kapal karam," tegur Sunil.


"Mereka teman paman dari masa depan?" tanya Yoshi tak percaya.


"Robert, yang duduk di punggung naga itu," jelas Dean.


"Naga?" tanya Yabie dengan mata membesar.


"Ya, naga itu bernama Kang. Yang menolong Robert saat terjebak di dunia yang kita selidiki waktu itu." Dean menjelaskan lebih rinci.


"Oh iya, aku hampir lupa. Di dunia itu juga ada wanita yang sejenis dengan ayah kalian," tambah Dean.


"Apa?!" Yoshi sangat terkejut mendengarnya. Yang dia tau, hanya ayahnya Fallen Angel yang tersisa.


"Yah, setidaknya, seperti itulah tampilannya saat ku lihat. Bersayap putih seperti yang ditunjukkan ketua kota saat itu. Tapi sama sekali tak membiaskan sinar keemasan seperti ayahmu," ujar Dean lagi.


"Paman, aku ingin melihatnya," ujar Yoshi.


"Tidak mungkin hari ini. Mereka sudah mengabaikan ternak peliharaan selama 2 hari, untuk mencoba mengobati Laras di sini...."


"Mereka bisa mengobati bibi Laras?"


Yabie benar-benar tak percaya. Ibunya bahkan harus melewati masa yang teramat menyedihkan saat itu. Tapi ternyata ada orang yang bisa mengobati penyakit itu?


"Bukankah semua cara pengobatan harus dicoba? Tidak boleh menyerah begitu saja jika memang ada kesempatan untuk mencobanya," Sunil menenangkan Yabie.


"Kenapa aku tidak memeriksa dunia itu sejak dulu? Jadi ibu bisa diselamatkan...." bisik Yabie lirih.


Dean merangkul bahunya.


"Itu namanya takdir. Kita tak bisa merubahnya lagi. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri," hibur Dean.


"Bagaimana jika kalian ke tempat paman dulu?" ajak Dean yang melihat Yabie masih terdiam dan belum mencerna kata-katanya.


Yabie dan Yoshi mengikuti Dean dan Sunil dengan patuh. Mereka terbang menuju pondok di hutan larangan.


*


******


Robert dan Kang langsung sibuk mengurus semua ternak sesampainya di rumah. Hingga sore menjelang baru mereka beristirahat.


Kang menunjuk ke satu arah. Robert mengikuti arah yang ditunjuk Kang dengan penasaran.


"Itu domba yang waktu itu!" seru Robert berseri-seri.


Keduanya pelan-pelan menghampiri domba yang asik makan rumput segar tak jauh dari kebun sayur. Entah domba itu memang jinak, atau tidak sadar didekati. Tapi Robert akhirnya berhasil mendapatkannya. Dia memeluk dan mengelus bulu domba yang terlihat kotor itu. Domba itu berdiri kaku, hampir gemetar melihat Kang.


"Kang, sebaiknya domba ini kita masukkan kandang. Bagaimana jika tiba-tiba turun hujan yang mengundang kabut merah? Tidakkah dia akan sakit?" tanya Robert.


"Hemmm...," jawab Kang.


Dia lalu berbalik meninggalkan Robert.

__ADS_1


"Embeeekkkk...."


"Hahahaa... kau tak perlu takut pada Kang. Kami tak kan memakanmu jika kau patuh," goda Robert.


Domba itu tak bersedia dibawa. Kakinya kuat bertahan di tanah dari helaan tangan Robert. Dia tak ingin jadi santapan siapapun.


"Ah, kau ini. Jangan menyusahkan. Di sini berbeda dengan duniamu. Kau bahkan bisa mati oleh tetesan hujan atau kabut merah. Jadi lebih baik patuh," omel Robert.


Dengan tak sabar, digendongnya domba itu ke arah rumah. Ditempatkan di kandang terpisah dari lainnya, lalu diberi makan.


*


Langit sudah memerah dan Robert sudah selesai bersih-bersih. Kang juga sudah hampir selesai masak.


"Masak apa kau hari ini?" tanya Robert sambil mencomot makanan di kuali.


Puk!


Kang menepis tangannya. Matanya menunjukkan kegusaran. Robert kerap kali mencolek makanan dengan tangan. Kang menunjukkan sumpit pada Robert.


"Hahahaa... ya... ya... harus pakai sumpit. Kenapa aku selalu lupa yaa...." ujar Robert sambil tersenyum.


Dibantunya Kang mengangkat semua hidangan ke meja makan.


"Saatnya makaann...," ujar Robert gembira.


Robert berusaha membuat suasana rumah itu lebih ramai. Meskipun harus berceloteh sendiri. Tapi suara deheman khas Kang atau gerak matanya yang kerap terbeliak lebar jika tak menyetujui sesuatu, sudah merupakan respon yang bagus.


Kang sudah mengalami kemajuan. Yang dulunya kaku dan minim ekspresi, kini mulai dapat merespon cerita-cerita yang disampaikan Robert. Dia tak lagi Kang yang sekaku gunung batu.


Gelak tawanya yang sampai membakar beberapa pohon waktu itu, sudah memecahkan ketabuannya akan ekspresi dan respon. Kang sudah lebih friendly sekarang.


Tok... tok... tok...


Rumah itu hening seketika. Kang dan Robert menghentikan makan. Mereka saling pandang. Tidak ada tetangga lain di sini, kecuali kelompok Vivian.


"Ada apa dia datang malam hari begini?" gumam Robert.


"Kau tak mau membuka pintu?" tanya Robert heran.


Kang menggeleng.


Tok... tok.. tok...


"Ada apa denganmu? Mungkin dia butuh bantuan!" omel Robert kesal.


Robert bangkit dan menuju pintu. Tapi Robert terkejut melihat yang berdiri di depan pintu bukan Vivian. Di situ ada Maya dan seorang lagi yang dulu pernah datang.


"Ada apa malam-malam ke sini?" Robert mengernyitkan dahinya.


"Vivian... tolong Vivian," ujar Maya dengan ekspresi ketakutan.


"Kenapa dengan Vivian?" tanya Robert heran.


Seingat Robert, saat Vivian pergi, dia sudah sehat dan mampu terbang. Jadi ada apa lagi ini?


"Dia... Dia...."


Maya tak tau bagaimana menjelaskan keadaan Vivian.


Kang datang ke depan pintu. Disentuhnya kening Maya untuk mencari tau.


"Ahhh...!" ujar Maya terkejut.


Kang kemudian mentransfer ingatan itu pada Robert. Robert terkejut.


"Kita harus ke sana Kang. Bawa ke dokter Chandra, di rumah Dean," bisik Robert ke telinga Kang.


Kang terdiam. Tampak sekali dia enggan membantu kelompok itu lagi. Dia terlanjur sakit hati dengan sikap Vivian waktu itu. Teman-teman Robert jauh lebih baik dan bisa menerima dia apa adanya.

__ADS_1


"Kang, kita hidup bertetangga itu harus saling bantu, jika kita memang bisa membantu," bujuk Robert.


"Tolong... tolonglah...." Mata Maya mengiba meminta bantuan Kang.


"Kenapa kalian tidak membawanya langsung ke sini?" tanya Robert heran.


"Kemarin kami sudah ke sini bersama Vivian. Tapi kalian tak ada. Kami sudah mengetuk pintu berulang kali dan menunggu lama," jelas Maya.


"Dia sakit dari kemarin?!" Robert terperanjat.


"Ayo Kang!" Robert menarik tangan Kang untuk membantu.


"Kami akan bawa kalian terbang," kata Maya.


*


*


Robert memeriksa Vivian yang meringkuk memegang perutnya. Wajahnya pucat menahan sakit. Keringat dingin mengucur tapi tubuhnya demam.


"Dia makan apa? Apakah keracunan makanan?" tanya Robert.


"Tidak. Dia makan apa yang kami makan," jawab Maya khawatir. Dia terlihat seperti seorang ibu sekarang.


"Baiklah. Kami akan membawa dan mengobatinya. Kalian tunggu di rumah saja. Nanti kami kabari," ujar Robert.


"Ayo Kang. Kita harus membawanya segera!" kata Robert.


Kang merubah bentuk tubuhnya.


"Aaahhhhh!"


Maya dan teman-temannya menjerit terkejut. Mereka ketakutan. Tanpa sadar, Maya melindungi Vivian dan menepis tangan Robert.


Robert kesal diperlakukan begitu.


"Kalian mau membiarkan dia mati di sini, atau diobati?!" tanya Robert jengkel.


Kemarin Vivian sudah menyakiti perasaan Kang. Sekarang seluruh kelompoknya bersikap sama. Feeling Kang benar, bahwa mereka ini bukan yang perlu dibantu sama sekali.


Maya bergeming. Dia tetap melindungi Vivian yang sedang kesakitan di belakang.


"Ya sudah kalau tak mau dibantu. Kalian tinggal siapkan pemakaman untuknya. Mulai sejak kami pergi ini, kita tak kan saling berhubungan lagi. Jangan lagi mengganggu atau minta bantuan apapun!" Robert memperingatkan dengan keras.


"Ayo kita kembali Kang!" Robert melompat naik ke punggung Kang. Mereka bersiap terbang.


"Tunggu!" teriak salah seorang dari mereka.


Dia menggeser tubuh Maya yang menutupi Vivian.


"Tolong... selamatkan dia...." katanya memohon.


Kening Robert melengkung mengamati.


"Kau yakin? Kau tidak takut pada Kang?" tanya Robert ingin memastikan.


"Kami.... Aku... lebih takut dia mati...." katanya lirih.


"Baiklah. Kami akan membawanya," ujar Robert.


Dua orang dari kelompok itu membantu mengangkat Vivian dan mendudukkannya di punggung Kang. Robert menjaganya dari belakang.


"Kami pergi!" teriak Robert. Kang langsung melesat terbang .


"Kita harus segera membawanya ke Dokter Chandra, Kang!" teriak Robert.


"Hemmm...." Kang mengangguk.


******

__ADS_1


.


__ADS_2