PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 178. Leon dan Kaleela


__ADS_3

Selama beberapa waktu Leon membantu Jane mengolah ikan hasil tangkapan dan juga menyimpan garam-garam yang kering.


"Jane, persediaan kita sudah menumpuk. Kita harus menjualnya ke kota. Dan membeli beberapa bersediaan makanan lain. Kita tak bisa cuma makan ikan." Ujar Leon saat mengemas garam.


Jane menunduk dan terlihat bingung.


"Apa kau tak tau kota terdekat?" tanya Leon.


Jane menggeleng.


"Apakah biasanya suamimu yang pergi membawa hasil laut?" tanya Leon lagi.


Jane kembali mengangguk.


"Huf" Leon menghembuskan nafas sambil menegapkan tubuhnya.


"Baiklah. Biasanya ke arah mana suamimu pergi jika ingin ke kota?" tanya Liam.


Jane menunjuk ke satu arah.


"Oke. Kita bisa coba berangkat ke sana. Bagaimana?"


Leon memandang ke arah yang ditunjuk Jane. Sebuah bukit batu.


"Harusnya kota itu tidak terlalu jauh bukan? Mungkin hanya dibalik bukit itu." gumam Leon.


"Dengan apa suamimu membawa barang ke kota?" Leon kembali membuka percakapan.


Jane menunjuk ke arah belakang rumah.


"Apakah kalian punya kuda? Tapi aku tak pernah melihatmu memberi makan kuda?" Leon berlari khawatir.


Saat mengetahui apa yang dimaksud Jane, Leon hanya bisa menatap tak berkedip.


Di bagian belakang pondok itu ada sebuah gerobak kayu. Gerobak usang yang terlihat sangat menderita. Leon membayangkan pria besar itu menarik gerobak penuh barang ke kota, melintasi bukit.


"Tckk. Benar-benar sulit." gerutu Leon.


Tapi mereka tak punya pilihan. Dan karena tubuh Leon tak sebesar tubuh mantan suami Jane, maka dia harus membawa Jane untuk membantu mendorong gerobak.


"Jane, besok pagi sekali kita harus ke kota." Ujar Leon tak tegas.


Jane menggeleng.


"Tidak. Kau harus ikut. Kau harus membantuku mendorong gerobak. Lagi pula, jika kau tinggal sendiri dan aku tersasar tak kembali, maka kau akan tinggal di sini selamanya."


"Kau akan sendirian di sini. Tak ada yang mengetahui keberadaanmu di sini. Apa kau tidak ingin bertemu dengan keluargamu?" Bujuk Leon.


Jane hanya diam dan menunduk.


"Kenapa? Apa kau tidak ingat dimana keluargamu?" Tanya Leon heran.


Jane menggeleng.


"Memangnya sudah berapa lama kau di sini sampai lupa pada keluargamu?" Leon makin keheranan.


Jane mengembangkan telapak tangannya. Lalu menutupnya lagi. Dilakukannya hal itu tiga kali.

__ADS_1


Leon melotot tak percaya.


"Maksudmu, kau sudah di sini 15 tahun?"


"Kau masih begitu muda! Coba ku tebak usiamu... Hemm.. sekitar 20 atau 22 tahun." Leon mengamati Jane dengan seksama.


Jane hidup sangat sederhana. Tubuhnya kurus tak terawat. Kulitnya kusam dan legam karena setiap hari disiram cahaya matahari. Leon menggeleng ragu. Jane kemungkinan lebih muda dari yang terlihat. Jika Jane dibawah 20 tahun dan dia sudah di sini selama 15 tahun, bukankah itu artinya dia masih balita saat itu? Leon tersadar sesuatu. Jangan-jangan...


"Apakah kau sudah di sini sejak kecil?" tanya Leon cemas.


Jane mengangguk.


"Apa pria itu menculikmu?" Leon bertanya hati-hati. Dia tak bisa membayangkan apa saja yang telah dialami Jane selama 15 tahun ini.


Jane mengangguk ragu.


"Apa kau sudah melayani pria itu sejak kecil?" Leon mempunyai beberapa spekulasi setelah melihat keraguan Jane.


Jane menggeleng.


"Maria," katanya dengan pandangan menerawang.


"Maria? Ada wanita lain yang diculik bersamamu?" Leon sungguh tak menduga.


Jane mengangguk.


"Dimana Maria sekarang?" tanya Leon ingin tau.


Jane melangkah lebih jauh dari pondok. Dia menunjuk satu tempat yang ada sebuah batu besar di situ.


"Dia sudah mati." gumam Leon.


"Kau dipaksa melayani pria itu setelah Maria tewas." Leon menyimpulkan semuanya.


"Apakah Maria kakakmu?"


Jane menggeleng.


"Pelayanmu?"


Jane menatap Leon bingung.


"Apa Maria yang selalu menjagamu?" Leon mencari kata lain yang bisa dimengerti Jane.


Jane mengangguk.


"Apa kau masih ingat namamu?" tanya Leon.


"Kaleela. Maria memanggilku Kaleela." jawab Jane.


"Baik. Aku sudah mengerti. Kita tetap ke kota besok. Menjual ikan dan garam. Lalu mencari tau tentang keluargamu. Dan sementara namamu tetap Jane." Leon memutuskan.


*


*


Hari belum terang benar. Tapi dua orang terlihat membawa gerobak penuh barang menuju bukit batu.

__ADS_1


Mereka adalah Leon dan Jane. Dari depan Leon menarik dan mengarahkan gerobak kayu. Dan Jane membantu mendorong dari belakang. Mereka berjalan lambat dan terseok-seok.


Leon bisa menemukan bekas-bekas jalan yang kerap digunakan oleh pria itu. Dia hanya perlu mengikutinya. Hanya saja memang mendaki bukit batu gersang dengan gerobak penuh beban, tentu tidak mudah.


Hari sudah benderang saat mereka sampai di puncak bukit. Leon dan Jane memandang jauh ke bawah. Nun jauh di sana, tampak sebuah kota kecil yang berada di tengah gurun.


"Antara kota itu dan kaki bukit, mungkin sama jaraknya dengan jalan yang baru kami tempuh." gumam Leon.


Dilihatnya Jane duduk di batu sambil melihat ke bawah sana.


"Baiklah, kita istirahat dulu. Aku sangat lelah," kata Leon.


"Mana bekal sarapan kita? Apa kau tak lapar?" tanya Leon.


Jane mengambil bungkusan dari gerobak. Mereka makan dalam diam. Tapi nyatanya Leon terus berfikir. Jika keluarga Jane dari kota itu, harusnya mereka bisa menemukan dia di tepi pantai, yang letaknya tak terlalu jauh.


'Apa yang terjadi sebenarnya?' batinnya.


'Keluarga yang memiliki pengasuh untuk putrinya, jelas bukan orang tak berpunya. Setidaknya mereka pasti punya kuda untuk mencari ke sekitar saat dia hilang bukan? Dan pantai itu tak begitu jauh dari kota.'


Leon berpikir keras. Dia bermaksud melanjutkan perjalanan untuk mencari teman-temannya. Tapi dia juga tak tega meninggalkan Jane sendirian di pantai itu. Jadi Leon ingin mencari keluarga Jane dan mengembalikannya.


Mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini kesulitannya berbeda. Leon harus menahan laju gerobak di jalan menurun dan berbatu ini. Jika tidak, maka gerobak bisa meluncur tak terkendali dan terhempas.


Tengah hari, mereka akhirnya sampai di kaki bukit. Mereka beristirahat sejenak untuk mengisi tenaga. Seekor ikan bakar kembali lenyap dalam perut Leon.


Leon menatap kota di tengah gurun itu.


'Masih lumayan jauh. Mungkin akan tiba menjelang sore. Sepertinya kami harus menginap di kota satu malam' pikirnya.


"Mari kita lanjutkan." Leon berdiri.


"Kita harus sampai sana sebelum malam tiba." tambahnya.


Keduanya kembali berjalan sambil membawa gerobak. Teriknya matahari tak terlalu mereka hiraukan. Leon dan Jane telah menutupi kepala dan tubuh mereka dengan kain dan pakaian tertutup agar tak menderita akibat sunburn.


Mereka mencapai gerbang kota sebelum petang. Leon mengikuti beberapa gerobak barang lain. Dugaan Leon benar. Mereka memutuskan beristirahat di sepanjang tembok kota. Bagaimanapun pasar sudah berakhir sore hari.


Leon mendorong gerobak ke tempat kosing di samping gerobak lain. Seorang pria tua memperhatikannya.


"Apa kau orang baru?" tanyanya.


Leon mengangguk dan tersenyum.


"Aku Leon, sapanya. Ini istriku Jane." Leon memperkenalkan diri.


Pria tua itu melihat Jane sekilas.


"Sembunyikan istrimu. Tak semua orang di kota ini berhati baik. Dia terlihat cantik meskipun sangat kurus."


"Terima kasih nasehatnya paman,"


Leon mengangguk dan segera meminta Jane beristirahat di balik gerobak di samping tembok. Kini kehadiran Jane tak lagi menarik perhatian siapapun. Dia tersembunyi dengan baik di situ.


Malam tiba, mereka kembali menikmati ikan bakar yang masih ada. Lalu Jane pergi beristirahat. Leon duduk di sampingnya. Antara tidur dan berjaga. Di tempat itu tidak terdapat banyak penerangan. Itu bisa berbahaya. Barang dagangan bisa saja hilang tanpa sadar.


*****

__ADS_1


__ADS_2