PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 310. Lakukan Yang Kita Bisa


__ADS_3

Belum lagi mencapai pulau, dari kejauhan, pemandangan mengenaskan terlihat di sepanjang dermaga dan tepi pantai. Sementara dari arah pulau, kebakaran hebat terjadi. Tempat itu berubah warna menjadi orange kemerahan. Lidah api menjilat liar. Sementara asapnya membumbung tinggi.


"Tak ada yang bisa dilakukan lagi," ujar Robert.


Seluruh pulau yang tak mereka kenal itu telah habis ditelan api. Malam gelap berubah jadi terang benderang.


"Ayo mendekat. mungkin masih ada manusia yang hidup di air," ujar Dean.


Meski pesimis, Robert dan Sunil tetap terbang mendekat. Hawa panas itu sudah terasa meski jarak mereka ke pantai sejauh100 meter lagi. Ketiganya mengitari pulau dari ketinggian. Mencari orang-orang yang mungkin masih bisa menyelamatkan diri di dalam air laut.


"Lihat! Perahu itu mengapung terpisah dan tidak terbakar. Mungkin ada orang di sana!" teriak Sunil.


"Hati-hati. Kita tak ingin mengejutkan mereka." Dean mengingatkan.


Sunil turun perlahan, namun masih dari jarak cukup jauh. Dengan matanya yang biru, dia menelisik ke perahu dayung yang bergoyang-goyang dimainkan ombak.


"Tak ada yang bergerak di sana!" kata Sunil lewat transmisi suara.


Ketiganya mendekati perahu itu. Tiangnya gosong menghitam dan masih berasap. Dean segera menarik sedikit air dan menyiram perahu itu. Seketika keluar asap putih dari tiang layar yang tersiram air.


Di sekitar perahu juga tak ada orang.


"Coba tarik perahunya. Kita lihat, apakah ada yang bersembunyi di bawahnya," usul Robert.


Dean menggeser perahu dua meter dari tempatnya. Sunil dan Robert mencari-cari ke arah air laut yang gelap.


"Tak ada siapapun di sini!" lapor Robert.


"Tak ada yang selamat di sini. Mengerikan sekali. Dan menurut pendapatku, mereka juga mustahil selamat di dalam air. Karena suhu air pasti juga meningkat. Kecuali mereka menyelam hingga kedalaman tertentu. Tapi mau berapa lama bertahan?" kata Dean.


"Sekarang bagaimana?" tanya Sunil.


"Kita kembali saja! Prioritas pertama menjaga pulau yang kita diami. Besok kita coba cari ke pulau lain," putus Dean.


"Baiklah. Ayo!" ajak Sunil.


"Tunggu dulu!" cegah Robert.


"Apa perahu itu tak bisa kita bawa ke pulau? Mungkin bisa dimanfaatkan oleh Sulaiman atau Leon," ujar Robert.


"Yah, bawa saja," putus Dean.


Robert turun dan mendarat di perahu kecil yang hanya muat untuk dua orang. Dia merasa, perahunya di negri kurcaci biru, jauh lebih besar dari itu.


Robert menemukan pengayuh. Lalu menarik jangkar yang menahan perahu agar tak hanyut ke mana-mana.


"Ayo!" ujar Robert.


Dean dan Sunil menggelengkan kepala.


"Kau kau mau mendayung, kapan akan sampai?" ejek Sunil.


"Pegangan yang baik. Biar kutarik saja," ujar Alan.

__ADS_1


Ketiganya kembali ke pulau. Robert tak dapat menambatkan perahu di dermaga. Karena dermaga tua itu juga sudah hampir habis dimakan api. Masih ada rangka yang berdiri di situ. Sudah tepat langkah antisipasi yang dibuat Dean. Dengan segera menyiram hampir seluruh pulau, kemungkinan kebakaran hebat, bisa dihindarkan.


Perahu itu dinaikkan ke pasir pantai. Tali jangkar dikeluarkan untuk menahan perahu saat air meninggi nanti. Mereka lalu kembali ke tempat Leon.


"Di sana kebakaran, Dean!" seru Sunil.


Dean melesat cepat menuju laut dan menarik air untuk menyiram area semak yang terbakar. Dean melakukan hal itu berulang kali hingga semua tempat di sana basah kuyup.


"Ayo kembali! Semua sudah disirami," ajak Sunil.


*


*


Semua beristirahat karena lelah malam itu. Alan masih belum bangun. Sulaiman yang sebelumnya sudah bangun, kembali tidur setelah dibujuk dokter Chandra.


Udara malam itu terasa pengap. Tidak sebersih biasanya. Pintu dan jendela dibuka lebar agar udara mengalir lancar, menyejukkan rumah.


*


Pagi hari yang sunyi. Hanya desau angin yang membelai. Tak ada satupun nyanyian burung yang mencandai matahari. Mereka bangun kesiangan, kecuali Sulaiman. Dia berdiri di pinggir tebing ke arah laut. Diam termenung.


Robert keluar untuk mendapatinya.


"Kau bangun pagi sekali, atau kami semua yang kesiangan?" sapa Robert ramah.


"Apakah yang terjadi kemarin, benar-benar parah?" Sulaiman bertanya tanpa mempedulikan sapaan Robert.


"Yah ... sangat parah. Pulau ini pun, akan terbakar habis, jika kami tidak bolak-balik menyiraminya."


Sulaiman berjalan ke arah tangga turun. Dia diam saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Apa kau mau kembali sekarang? Lebih baik sarapan dulu dengan kami, di sini," tawar Robert.


"Aku harus melihat kebunku," tolak Sulaiman.


"Ah, tentang kebun itu ... sebenarnya Sunil terpaksa memanennya kemarin. Dia melakukan sebisanya, agar kau tak terlalu rugi. Semua hasil panennya ada di dalam rumah," jelas Robert.


"Benarkah?" Sulaiman membalikkan badan dan melihat ke arah Robert dengan ekspresi tak percaya.


"Kau bisa lihat sendiri. Tapi, yahh ... mungkin tidak sebanyak yang seharusnya. Karena udara panas telah lebih dulu membakar yang lainnya," kata Robert.


"Temanmu sudah membantuku. Aku berterima kasih. Jika tak ada kalian di sini, aku mungkin sudah tak bernyawa seperti burung-burung yang mati itu!" tukas Sulaiman.


"Apa? Di mana burung mati?" tanya Robert heran.


"Kau bisa menemukan bangkai burung di mana-mana."


Sulaiman menuruni undakan tangga.


"Sampaikan pada temanmu, aku pamit pulang dulu. Dan terima kasih untuk bantuan kalian."


Sulaiman berjalan pergi tanpa bisa dicegah lagi.

__ADS_1


Robert dengan penasaran, terbang berkeliling kediaman. Benar saja, banyak sekali bangkai tikus di seluruh pulau. Robert kembali ke kediaman Leon.


Di sana, para wanita sudah sibuk di dapur. Alan sudah bangun. Wajahnya kembali segar dan sudah bisa mengganggu Niken juga Cloudy.


Robert melaporkan yang dilihatnya tadi.


"Selesai sarapan kita kuburkan semuanya. Atau itu akan jadi penyebab penyakit," kata Dean.


"Itu benar. Bangkai dalam jumlah besar jika tak dikubur atau dibakar habis, akan menimbulkan penyakit." Dokter Chandra mendukung keputusan Dean.


"Kalau mau dikubur, cari tempat yang jauh dari sini, Dean. Atau kita bakar saja hingga jadi debu," saran Alan.


"Kita lihat nanti, seberapa banyak yang kita temukan," ujar Dean.


*


*


Sepagian itu, selesai sarapan, Indra, Dokter Chandra dan Leon, pergi membuat kandang tertutup untuk ternak mereka.


Sementara Dean, Alan, Sunil dan Robert, keluar untuk menyisir seluruh area pulau. Mereka harus mengumpulkan semua bangkai binatang.


Di bagian lain pulau. Sekitar 200 meter dari lokasi empang, Dean sudah membuat lubang besar untuk menampung semua bangkai binatang liar yang ditemukan. Alan, Robert dan Sunil sudah bolak balik melemparkan hasil temuan mereka.


Hingga menjelang siang hari, Dean terkejut melihat apa yang dilemparkan Alan ke dalam lubang.


"Kenapa ada bangkai ikan?" tanya Dean heran.


"Di pantai, penuh dengan bangkai ikan. Dan kau tau sendiri. Ikan itu mati karena suhu air yang naik, merebus mereka. Dan baunya ... ya ampun. Aku sungguh tidak tahan," adu Alan dengan muka sebal.


"Kalau begitu, cepat sisir seluruh tepian pantai! Jangan mengeluh lagi," ujar Dean.


"Ya ... ya, aku pergi."


Dean masih bisa mendengar gerutuan Alan. Dia juga segera memeriksa pantai yang ditumbuhi pohon bakau di dekat empang. Benar saja, ada begitu banyak bangkai ikan tersangkut diantara akar dan batang pohon. Dean bekerja membersihkan seluruh tempat itu.


Lewat tengah hari, pekerjaan yang melelahkan itu selesai juga. Lubang itu ditutup kembali dengan timbunan tanah.


Syukurlah hari itu tak ada lagi gelombang serangan panas. Jadi mereka bisa merasa lega. Semoga tak ada lagi yang kedua kalinya.


"Dean, bagaimana dengan pulau yang kita lihat kemarin?" tanya Sunil.


"Sangat beresiko untuk melihatnya saat siang hari. Nanti malam kita coba lihat, apa yang bisa kita lakukan," jawab Dean.


"Semoga pemerintah sudah mengirim petugas untuk memeriksa," harap Alan.


"Aku tak yakin. Karena serangan gelombang panas ini pasti melanda banyak negara sekitar. Maka, perhatian utama pemerintah yang di depan mata dulu. Ibukota, kota-kota besar, pulau-pulau besar, baru daerah terpencil," ujar Robert sedih.


"Tak perlu berspekulasi. Kita lihat nanti malam, dan lakukan yang kita bisa saja. Pihak lain bagaimana, itu terserah mereka. Jangan pedulikan!" Dean menasehati.


"Baiklah. Sekarang kita mau mengerjakan apa lagi?" tanya Alan.


"Kita bantu Sulaiman. Ayo!"

__ADS_1


*********


__ADS_2