PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 179. Kafilah dagang


__ADS_3

Pagi hari.


Leon dan Jane mulai membuka isi gerobak mereka untuk berjualan. Leon memperhatikan harga-harga pedagang lain di tempat itu. Dia tak ingin menyulut permusuhan jika memberi harga terlalu rendah.


Jane ikut membantu melayani dari belakang gerobak. Tapi kali ini tubuh dan wajahnya ditutupi oleh Leon. Bagaimanapun, Leon tak ingin terjadi hal buruk pada Jane.


Menjelang sore, dagangan mereka habis. Dan mereka mendapatkan cukup persediaan gandum, kentang dan sedikit buah kering, susu dan keju. Dengan sedikit kelebihan uang mereka, Leon membeli sepatu baru untuk Jane dan dirinya. Leon bertekad untuk membelikan baju baru jika mereka berjualan ke kota lagi.


"Apakah kalian ingin pulang sekarang?" tanya pria tua yang berjualan di sebelah Leon.


"Ada apa paman?" tanya Leon sambil membenahi barang-barang belanjaan mereka.


"Malam di luar tembok kota bisa sangat berbahaya. Banyak perampok yang beroperasi di gurun. Dan mereka terkenal kejam tanpa ampun." Pria tua itu menjelaskan.


"Baiklah paman. Terima kasih untuk peringatan anda. Mungkin kami akan menginap semalam lagi di sini." Balas Leon.


*


Malam itu mereka kembali menginap di kota. Leon merasa pria tua di sebelah mereka orang yang cukup baik. Dia ingin mencari tau tentang keluarga Jane.


"Paman, apakah pedagang-pedagang di sini pernah ada yang dirampok di gurun?" Leon memulai pembicaraan.


"Sudah beberapa yang kena. Jarak antar kota yang terlalu jauh, membuat kita tak bisa membawa dagangan ke kota lain. Bermalam di jalan terlalu berbahaya." Jawab pak tua.


"Berbahaya sekali." Leon mengangguk setuju.


"Perampokan paling mengerikan adalah yang terjadi beberapa belas tahun yang lalu." Pak tua menyambung cerita.


Leon merasa tertarik. Jadi dia mendengarkan dengan antusias.


"Apa yang terjadi?" tanya Leon.


"Ada kafilah dagang kota lain datang ke sini. Barang dagangan mereka laku keras. Dia juga membawa sangat banyak barang dari sini saat kembali ke kotanya." Pak tua menggelengkan kepala.


Leon menunggu kelanjutan cerita dengan sabar.


"Beberapa pedagang di sini merasa tertarik untuk ikut dalam kafilah mereka. Akupun tertarik untuk bergabung. Saat itu aku masih muda. Selain ingin mengadu nasib, juga karena kafilah itu menyewa tenaga pengamanan yang cukup banyak. Buktinya, ketika mereka datang, semuanya aman. Tapi aku ingat istriku yang sudah dekat untuk melahirkan. Jadi aku batal bergabung." sambung pria tua itu.


"Lalu?" tanya Leon tak sabar.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, mereka harus bermalam. Tapi malam itu tidak berakhir damai. Sekelompok perampok sadis menyerang mereka. Kelompok pengamanan tak bisa melindungi jumlah kafilah yang bertambah banyak. Mereka bertarung mempertahankan nyawa. Tapi banyak yang tewas di sana. Beberapa yang terluka masih mampu berlari kembali ke arah kota ini. Pedagang lain menemukan mereka pagi hari. Dari orang-orang itulah berita perampokan itu diketahui. Pemimpin kota bersama pasukannya mengejar ke tempat itu. Dan hanya menemukan kekacauan serta mayat bergelimpangan. Mereka diangkut dan dimakamkan di luar tembok kota." Pria tua itu memandang ke langit gelap.


"Jika hari itu aku ikut pergi, maka kita tak kan bisa berbincang seperti ini. Juga tak bisa melihat putraku lahir."


"Peristiwa yang mengerikan," komentar Leon.


"Yah. Sejak saat itu aku putuskan untuk bersabar dan berdagang di kota ini saja. Meskipun hanya kota kecil, tapi pemimpin kota ini sangat memperhatikan keselamatan para pedagang. Kita bisa bebas bermalam di dalam tembok kota jika tiba di gerbang senja hari. Tidak dianjurkan bermalam di luar tembok." Pria tua itu tersenyum tipis.


"Pemimpin kota yang baik." Puji Leon. Pria tua itu mengangguk setuju.


"Beruntung mereka tak membawa keluarga atau anak-anak kecil. Itu pasti akan lebih mengenaskan." Leon memancing cerita lain dari pak tua itu.


"Aku pernah dengar tentang perjalanan satu keluarga bangsawan yang dirampok di gurun." Seorang pedagang lain ikut bergabung dalam pembicaraan.


"Ah, bagaimana bisnismu hari ini?" Sapa pak tua itu dengan ramah. Tampaknya dia mengenal hampir semua pedagang di tempat itu.


"Seperti biasa. Asalkan bisa mencukupi permintaan istri dan anak, maka itu sudah bagus." Pria itu tersenyum lebar.


Sekarang mereka ngobrol bertiga. Bicara basa-basi yang Leon tak pahami.


"Paman, jadi bagaimana cerita keluarga bangsawan yang dirampok itu?" Leon mengembalikan topik bahasan mereka.


"Kabarnya, saat itu mereka bermaksud mengantar pengantin wanita ke kota ini. Mereka juga punya pengawal. Pak tua, apa kau ingat tentang istri kedua pemimpin kota?" Pria itu mengalihkan pandangan pada pak tua.


"Apa yang terjadi? Apakah istri kedua pemimpin kota dirampok?" Leon kembali memancing.


"Bukan. Keluarga bangsawan itu berhasil mengantar putri mereka dengan aman ke sini. Pesta diadakan selama 2 hari. Rombongan itu dirampok saat kembali. Tak ada seorangpun yang selamat. Bahkan adik pengantin itu ikut hilang tanpa jejak." Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mengerikan. Apakah mereka menculiknya?" gumam Leon.


"Mungkin saja. Ku dengar adiknya itu seorang gadis kecil. Tak bisa ku bayangkan apa yang terjadi padanya setelah itu." Pria itu bergidik ngeri.


"Tapi setelah kejadian itu, pemimpin kota membuat kebijakan baru. Dia mengijinkan setiap pedagang untuk berlindung di dalam tembok kota jika malam tiba."


Leon tercenung. Mungkinkah Jane adalah gadis kecil yang hilang itu? Jika saja benar, maka istri kedua pemimpin kota adalah kakaknya.


'Aku harus menyelidiki ini dengan hati-hati' batin Leon.


*

__ADS_1


*


Pagi hari, rombongan pedangang itu beranjak keluar gerbang kota. Leon dan Jane juga kembali mendorong gerobak mereka.


"Sampai berjumpa lagi."


Teriak mereka satu sama lain, lalu berpisah menuju arah masing-masing.


Leon dan Jane melangkah dalam diam. Mereka harus secepatnya melewati bukit agar bisa sampai rumah petang hari. Leon mulai menyadari bahaya yang mengancam di tempat itu. Bukan binatang buas, tapi manusia-manusia keji yang merampok hasil jerih payah orang lain.


Hal ini juga menambah beban pikiran Leon. Dia hanya punya 3 pilihan sekarang. Menemukan keluarga Jane agar wanita itu aman, atau menemaninya tinggal di tepi pantai selamanya. Atau pilihan lain yang sungguh musykil, membawanya serta berpetualang mencari jalan pulang. Mungkinkah itu?


Hari telah tinggi saat mereka mencapai puncak bukit berbatu. Mereka beristirahat sejenak dan mengisi perut dengan sekeping roti dan susu yang mereka beli di kota. Jane terlihat lahap saat memakannya. Matanya bahkan berair ketika meneguk susu yang diberikan Leon.


Leon merasa iba di hatinya.


'Belasan tahun wanita ini mendapat perlakuan buruk. Mungkin sudah lama dia tak makan roti dan minum susu' pikir Leon.


"Jane, apa kau pernah membuat roti seperti ini?" tanya Leon.


Jane menggeleng.


"Kita sekarang punya persediaan gandum. Kita juga bisa membuat roti sendiri."


Leon melihat Jane yang tak bereaksi, melanjutkan ucapannya.


"Aku akan mengajarimu membuat roti. Tenang saja." ujar Leon sungguh-sungguh.


Jane mengangguk.


"Selanjutnya kita hanya harus menangkap ikan lebih banyak. Membuat garam lebih banyak. Agar bisa terus membeli tepung dan susu. Kau akan lebih sehat setelah itu." Ucap Leon optimis.


Kali ini Jane berani menatap mata Leon. Matanya yang hitam legam terlihat cemerlang. Seperti menunjukkan kepercayaan pada Leon.


"Ya!" Jawab Jane penuh tekad.


"Jika sudah selesai makan, baiklah kita kembali berjalan. Harus tiba sebelum senja." Leon berdiri dari duduknya. Jane ikut berdiri.


Keduanya kembali membawa gerobak itu menuruni bukit berbatu.

__ADS_1


Hari itu beberapa harapan tumbuh di hati mereka. Membuat langkah jadi terasa lebih ringan.


*****


__ADS_2