
Pagi ini Leon dan Jane membuka penutup gerobak. Para pembeli sudah mengantri untuk membeli garam dan aneka hasil laut. Antrian terjadi karena Leon datang hanya 3 minggu sekali. Para pembelinya adalah pemilik kios di kota ini.
"Apa kau tak bisa datang sebulan 2 kali?"
"Benar. Garam kami nyaris habis jika kau datang 3 minggu sekali."
"Iya. Tokoku bahkan sudah kehabisan stok ikan kering."
Suara-suara protes itu meningkahi proses tawar menawar. Leon hanya tersenyum dan menjelaskan lagi dengan sabar.
"Istriku kelelahan jika terlalu sering ke sini," ujar Leon berkelit.
"Hahahaa... kau ternyata sangat menyayangi istrimu ya? Kenapa tidak mengambil istri baru yang lebih kuat, agar yang kau cintai ini bisa beristirahat?" goda pembeli lain.
"Hahahaa...."
Gelak tawa terdengar meriah, menghidupkan suasana pasar. Leon hanya tersenyum sabar. Dia sudah semakin terbiasa dengan candaan para pembeli di sini. Mereka sudah akrab dan saling mengenal satu sama lain.
Menjelang siang, pembeli berkurang banyak. Dagangannya juga sudah hampir habis.
"Minggir! Minggir! Nyonya muda mau lewat!"
Beberapa pengawal menyibak kerumunan. Orang-orang membuka jalan. Tampaknya ada orang penting yang akan melewati pasar.
Rombongan itu berhenti di toko perhiasan di seberang gerobak Leon.
""Ayo dibeli... dibeli... Lobster segar dan enak. Hanya ada 3 ekor saja. Cocok untuk makan malam romantis untuk memikat suami!" teriak Leon berpromosi.
"Ayo... ayo... jangan ketinggalan. Hanya ada 3 ekor saja. Siapa cepat dia dapat." Teriakan Leon menarik perhatian rombongan orang penting yang ada di toko perhiasan.
"Apakah masih ada kerang seperti yang tempo hari?" tanya seorang wanita.
"Kerang sudah habis. Yang ada ini, Lobster. Saya simpan untuk pembeli yang berjodoh dengannya," jawab Leon.
"Coba lihat, seperti apa Lobster itu?" seorang wanita maju ke dekat gerobak Leon.
Leon memasukkan tangannya ke dalan wadah berisi air. Mengambil seekor lobster yang ada dan menunjukkan pada mereka.
"Ini!" ujar Leon sambil mengangkat tinggi-tinggi lobster yang dipegangnya.
"Woaas... besar sekali?"
"Apa itu enak?
"Kakinya panjang-panjang,"
Begitu reaksi orang-orang yang melihat. Wanita yang bertanya tadi melihat ke arah kumpulan rombongannya.
__ADS_1
Salah seorang yang paling anggun, berjalan menuju gerobak.
"Bagaimana memasaknya?" tanyanya ingin tau.
"Ini sangat mudah nyonya. Lobster ini paling enak dipanggang. Disiram saus jeruk asam pedas."
Leon lalu mengajari cara memasak yang menurutnya sangat lezat itu. Wanita itu tertarik. Sebelumnya, pelayannya pernah menyajikan hidangan kerang yang juga dibeli dari Leon. Dan itu benar-benar lezat.
"Apakah segitu cukup untuk semua lobstermu?"
Wanita itu melemparkan kantong uangnya. Leon menangkap dan memeriksa isinya. Wajahnya berseri-seri.
"Cukup nyonya. Sangat cukup. Saya akan berikan bubuk agar-agar terakhir untuk anda sebagai bonus," ujar Leon.
Dengan sigap dibungkusnya 3 ekor lobster. Lalu mengambil satu centong terakhir bubuk agar-agar.
"Ini bagaimana cara masaknya?" tanya wanita itu melihat bubuk agar-agar.
"Jane!" panggil Leon.
Jane mendekat. Diambilnya sebuah mangkuk bertutup, lalu membukanya. Ditunjukkannya apa yang ada di dalam wadah.
"Anda coba cicipi dulu, beginilah hasil jadi bubuk agar-agar setelah dimasak. Cocok untuk hilangan penutup atau selingan saat siang hari. Mengandung banyak serat dan menyehatkan," ujar Leon lagi-lagi berpromosi.
Salah seorang diantara mereka mencobai agar-agar yang diberi pemanis madu.
Leon mengajari juga cara memasak bubuk agar-agar.
Para wanita itu membawa barang belanjaan mereka dengan puas dan berlalu dari sana.
"Ahh.. Habis juga," ujar Leon lega.
Baru setengah hari, dagangannya ludes tak tersisa. Keduanya menutup gerobak dan menikmati waktu istirahat makan siang.
Setelah itu Leon membawa Jane untuk membeli semua kebutuhan mereka untuk 3 minggu.
Begitulah rutinitas Leon dan Jane setiap kali berangkat ke kota untuk menjual hasil laut. Mereka akan kembali dengan gerobak penuh kebutuhan sehari-hari.
Leon pesimis untuk bisa kembali ke dunia moderen. Karena selama beberapa bulan ini, dia hanya berkutat di laut atau pasar saja. Tak ada informasi apapun tentang dunia lain di kota ini. Pedagang-pedagang di kota serta para kafilah dagang, tak ada yang mengetahui tentang hal itu.
Ketika Leon mulai bertanya ini itu pada para pedangang, ada mata yang terus mengikutinya ke sana kemari.
Belum juga sore, Leon dan Jane telah selesai membeli keperluan. Keduanya kembali ke gerobak yang kosong melompong itu.
Pak tua di sebelahnya, menatap Leon yang baru kembali.
"Kalian sudah kembali. Syukurlah!" ujarnya lega.
__ADS_1
"Ada apa kek?" tanya Leon ramah.
"Bukan apa-apa. Hanya ada seorang calon pembeli datang barusan. Dia bertanya tentang ikan dan udang segar,".jawab pak tua.
"Lalu?" tanya Leon lagi.
"Lalu, ku katakan bahwa semua daganganmu telah terjual habis."
"Baiklah." jawab Leon pula.
""Terima kasih bantuannya, paman.
Mereka melewati sehari lagi di dalam kota. Setelah itu pulang ke rumah masing-masing.
*
******
Kuda-kuda digebah dan berlari kencang di padang pasir. Rombongan itu terdiri dari 30 orang pria gagah. Setiap kuda tunggangan tidak hanya membawa penumpang manusia, tapi juga barang-barang dagangan yang diikat erat ke tubuh para kuda. Cara itu digunakan untuk meringkas bawaan tanpa harus membawa gerobak barang yang nyata-nyata memperlambat gerakan.
Mereka itu adalah rombongan Mustafa. Mereka menuju kota lain yang lebih jauh. Untuk jangka waktu tertentu, Mustafa akan pergi mengunjungi negri jauh untuk berbisnis.
"Kita istirahat di sini saja!" teriak Mustafa.
Rombongan itu berhenti. Semburat cahaya merah langit senja menemani mereka memasang tenda. Mereka harus bermalam di sini, ditengah gurun.
Mereka menyiapkan makan malam untuk semuanya. Mustafa mendengarka candaan para pekerjanya. Canda khas para pria dewasa.
Sesekali Mustafa tersenyum jika seseorang bercerita tentang keluhan istrinya yang sering merasa kesepian karena ditinggal pergi. Lalu menggila seharian untuk melampiaskan kerinduannya.
Lalu suasana menjadi riuh dengan tawa. Mereka akan saling menggoda satu sama lain sambil tertawa gembira.
Mustafa teringat Silvia. Dia merindukannya. Bibir mungil manisnya yang semerah delima. Kulitnya yang terang dan bersih. Serta mata minimalisnya yang menggemaskan.
Dia baru mendapatkannya semalam. Sekarang sudah ditinggalkan.
'Akankah dia merasa kesepian dan menggila ketika aku kembali nanti?' batin Mustafa. penuh harap. Senyum tipis terlukis di wajah tampan yang biasanya selalu kaku itu.
'Semoga Silvia baik-baik saja.' harapnya dalam hati.
Ada rasa khawatir yang begitu besar saat ini. Semakin dia dekat dengan Silvia, semakin dia takut Silvia akan meninggalkannya kelak.
Bagaimanapun, Mustafa bersyukur karena hingga saat ini, belum ada satupun kabar tentang dunia masa depan atau pintu bercahaya seperti yang dikatakan Silvia. Jadi dia tak perlu takut ditinggalkan untuk saat ini.
"Aku harus memberinya anak, agar dia melupakan impiannya untuk pulang ke tempat asalnya."
Mustafa merasa puas dengan ide cemerlangnya. Dia sangat bersedia bekerja keras untuk impian itu. Mustafa tersenyum sendiri, membayangkan tubuh Silvia berubah montok dan menggemaskan. Dia sangat menantikannya.
__ADS_1
******