PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 62. Mendapat Harta Karun


__ADS_3

Cukup lama keduanya berjongkok di lantai gua meski bunyi mekanis sudah tak terdengar.


"Apakah sudah aman Dean?" bisik Widuri.


Dean mengangkat kepala melihat ke sekitarnya. Tak ada lantai yang terbuka ataupun panah yang melesat untuk membunuh mereka. Dean segera menegakkan tubuh untuk melihat apa yang terjadi di atas. Widuri ikut bangkit dari tiarapnya dan melihat ke arah bak batu.


"Dean, itu.." tunjuk Widuri ke arah dinding.


Dean bangkit berdiri dan melihat ada ceruk di dinding kanan dan kiri kolam itu. Dean melangkah mendekat sambil mengarahkan kristal cahaya agar lebih jelas.


"Waahh.. ini senjata!" Seru Dean senang sambil mengulurkan tangan.


"Stop! Hati-hati jebakan. Benda itu tadi tak ada di sana. Jika itu boleh diambil siapa saja, maka orang ini tidak perlu menyembunyikannya dengan sistem mekanis." Widuri memperingatkan sambil menahan tangan Dean yang terulur.


Dean mengangguk dan menarik tangannya lagi. Lalu mengamati benda di ceruk itu dengan seksama.


"Kau tau senjata apa itu?" tanya Widuri.


"Disini ada beberapa. Yang pertama kupastikan adalah pedang panjang. Hemmm, sepertinya ada pedang pendek juga. Juga ada senjata yang bilahnya melengkung setengah lingkaran. Sementara, itu yang terlihat jelas. Lainnya ditumpuk begitu saja," jawab Dean.


"Bagaimana dia punya senjata sebanyak itu? Apa dia pandai besi?" Widuri berfikir keras.


"Eh, di lubang yang sana itu sepertinya ada sesuatu juga. Mari kita lihat." Widuri berjalan ke dinding gua satunya lagi diikuti Dean.


"Menurutmu apa itu?" tunjuk Widuri pada beberapa benda yang ada di situ.


Dean menggeleng tak tau. Dia mengamati ruang kecil itu sekilas.


"Kalau kita tak memeriksanya, bagaimana bisa tau?" Dean menatap Widuri serius.


"Ada apa?" tanya Widuri bingung.


"Kau menjauh dulu. Pergi ke sana," perintah Dean.


"Kau mau apa? jangan nekat." Widuri tak mau beranjak.


Dean menyeretnya sejauh 20 langkah dari situ. Melepaskan tangan Widuri dan menatapnya tajam.


"Kau tunggu di sini. Aku harus mengambil senjata-senjata itu. Bersiap mengambil apa yang ku lemparkan. Jika bahaya, maka larilah kembali ke gua." Dean bicara dengan tegas lalu berbalik.


Widuri mengikuti dari belakang.


"Dean!"


Seketika Dean berbalik dengan wajah marah.


"Ikuti perintahku! Jika kau membandel, itu hanya akan membahayakanku. Pergi sana!" kata Dean kasar sembari mendorong Widuri menjauh.

__ADS_1


Widuri tak percaya dia dibentak dan didorong dengan kasar yang membuatnya hampir jatuh. Amarahnya meledak.


"Fine. Jika kau mati pun, apa peduliku!" Widuri berbalik berlari pergi dan menghilang dalam sekejap.


Dean menggeleng pelan dan bersiap untuk mengambil senjata yang ada di situ. Dean memperkirakan, jika ada jebakan untuk orang yang mengambil harta makam itu, maka jebakan itu mungkin ada di bawah kakinya atau bisa jadi di dinding sekitar bak batu. Dean memperkirakan posisi yang menurutnya cukup aman dari berbagai jebakan yang sekiranya dipasang.


Tangan kanan Dean bertumpu pada tepian bak batu berisi air dengan asumsi, jka lubang jebakan di bawah kakinya terbuka, dia bisa bergantungan pada bak batu. Dean berusaha tak menyentuh permukaan air lagi. Lalu tangan kirinya terulur ke arah ceruk yang menyimpan berbagai senjata itu. Dengan cepat diraihnya gagang pedang yang terlihat dan menariknya keluar dari ceruk. Beberapa senjata lain ikut tertarik keluar. Dean menunduk sambil memegang erat tepian bak air.


Dean menunggu lantai di bawah kakinya terbuka, tapi tak terjadi apapun. Yang terdengar hanya suara beberapa benda yang jatuh berdenting di lantai. Dean bisa melihat jelas bentuk senjata setengah lingkaran itu sekarang. Terdapat pegangan kayu di bagian tengahnya.


Dean mengangkat kepala dan menyadari bahwa tak ada jebakan di tempat itu. 'Mungkin itu hanya sekedar tempat penyimpanan biasa' pikir Dean lega.


Dikeluarkannya semua benda yang ada di ceruk itu. Diamatinya semua jenis senjata yang ada. Beberapa terlihat tak biasa bagi Dean. Bagaimanapun, Dean bukan ahli beladiri, apalagi ahli senjata. Tapi Dean cukup senang mendapatkan harta karun ini.


"Widuriii, kemariii..!" Teriakan Dean menggema memanggil Widuri.


Dean lalu melangkah ke ceruk satunya lagi. Diambilnya satu benda yang terbuat dari kayu. Dean membuka tali pengikatnya dan mata Dean membesar.


"Aahh, ini gulungan kayu. Tapi aku tak mengerti tulisan yang ada di sini," gumam Dean.


Diamatinya tulisan yang tak dimengertinya itu. 'Bahasa planet mana ini?' pikirnya bingung.


"Dean, dean, ada apa?" Suara Widuri dan suara langkahnya yang berlari terdengar lebih dulu ketimbang orangnya.


Dean menoleh ke arah suara. Tak lama wajah Widuri yang panik muncul di sana. Widuri terpaku melihat Dean yang memegang sesuatu.


"Aku menemukan ini. Mungkin catatan atau buku. Tapi aku tak mengerti bahasanya." Dean menyodorkan gulungan kayu di tangannya pada Widuri.


Widuri menerima dan keringnya langsung mengerut. "Bahasa apa ini?"


Dean mengangkat bahu, lalu memeriksa benda lain di ceruk itu. Ada beberapa gulungan kayu lagi tersusun rapi di tempatnya. Dean tak mengambilnya, karena tak mengerti bahasanya.


Dean mengambil satu dari beberapa botol gerabah kecil yang ada di situ. Membuka tutupnya dengan hati-hati. Tercium harum herbal keluar dari botol itu. Dean segera menutupnya lagi.


"Bau apa itu?" tanya Widuri.


"Mungkin persediaan obatnya," jawab Dean asal.


"Obat apa?" Widuri penasaran.


"Ya gak tau. Aku kan bukan tabib atau apoteker. Tulisan-tulisan di sini juga tak bisa dibaca, bagaimana aku bisa tau siapa orang itu atau obat apa." Jawaban Dean yang santai begitu membuat kejengkelan Widuri muncul lagi.


"Kau ini. Kenapa sih selalu bicara ketus padaku?" Widuri sangat kesal.


"Siapa yang ketus? Aku jawab apa adanya kan." Dean bingung melihat temperamen Widuri yang gampang emosi.


"Apa kau punya masalah? Emosimu tidak stabil." Dean bertanya sambil lalu.

__ADS_1


Tapi itu justru membuat Widuri makin murka.


"Apa urusanmu dengan emosi dan masalahku. Kau lah masalahnya, kasar dan ketus. Tak berperasaan!" Widuri pergi meninggalkan Dean yang masih terkejut.


Dean termangu, 'apa iya aku tak berperasaan? Kasar dan ketus?'. Dean membuang pemikirannya dan kembali memeriksa benda lainnya. Hanya ada sebuah kendi dan botol-botol lain dengan penanda yang tak dimengerti Dean. Dean membiarkan semua itu di tempatnya, kecuali satu gulungan kayu yang akan ditunjukkan pada anggota tim lain.


Dean mengangkut beberapa senjata yang bisa dibawanya. Yang lain dibiarkannya tergeletak di lantai. Mestinya Widuri membantu membawanya, tapi dia terlanjur pergi dengan marah.


*


"Ada apa? Dimana Dean?" tanya Alan yang melihat Widuri muncul sendirian sambil menangis.


"Apa peduliku, biarkan saja dia mati." Widuri berkata dengan kasar dan berlari keluar gua.


"Apa?!" Alan dan Sunil terkejut.


"Sunil, biar ku lihat ke dalam, kau tunggu di sini." Alan berlari masuk lorong dengan cemas.


"Dean, Dean.. dimana kau?" teriak Alan sesampainya di persimpangan lorong.


"Aku di sini." Terdengar suara Dean dari kanan. Alan berbelok mengikuti.


"Aduhh, sial," suara Dean disertai bunyi klontang di lantai gua, membuat Alan berlari agar segera sampai.


"Dean! Apa yang terjadi?" Alan akhirnya menemukan Dean yang sedang membungkuk memungut sesuatu di lantai.


Dean mengambil senjata yang jatuh itu, tapi tangannya terlalu penuh, jadi benda itu kembali terjatuh.


"Hei, bantu aku membawanya. Aku menemukan harta karun," Dean tersenyum lebar.


Alan tak percaya, tapi segera membantunya.


"Dimana kau menemukannya?" tanya Alan sambil membantu membawakan beberapa benda.


"Di dalam situ. Masih ada yang lain, tapi aku tak bisa mengangkat semuanya. Widuri malah pergi setelah marah-marah," gerutu Dean tak senang.


"Biar ku lihat dulu ke sana. Tunggu sebentar Dean."


Alan berlari masuk. Tak lama terdengar suara tawa gembiranya.


"Akhirnya kita punya senjata. Hahaha.. Ini harta karun yang sangat berharga."


Alan tertawa senang. Diangkatnya sisa senjata yang ada lalu kembali menyusul Dean. Mereka berbincang dengan gembira sambil jalan. Sampai di persimpangan, Dean termangu, 'apakah akan memeriksa ke arah itu sekarang, atau besok saja?' pikirnya.


"Alan, kau bawa semua ini ke gua. Aku mau periksa lorong sebelah sana," kata Dean sambil meletakkan bawaannya di lantai.


Alan ingin membantah, tapi mata Dean menunjukkan keseriusan. Akhirnya Alan mengangguk dan pergi.

__ADS_1


"Setelah memindahkan semua ini, aku akan menyusulmu." Alan berlalu.


__ADS_2