
Tanpa disadari, Robert tertidur sendiri. Dia bangun karena perutnya merasa lapar. Jadi Robert keluar kamar. Kang tidak terlihat. Pintu lorong juga tertutup. Tapi ada sepiring makanan di meja dan segelas air.
"Apa aku melewatkan makan malam bersama?" gumam Robert.
"Ya sudahlah. Makan saja. Mungkin Kang sudah tidur." Robert duduk menghadap meja batu dan mulai menikmati makan malamnya yang sudah dingin.
Selesai makan, Robert tak tau mesti melakukan apa. Kantuknya sudah hilang. Tapi hari masih gelap di luar. Kang juga tak ada. Robert jelas tak bisa memanjat naik untuk melihat suasana makam di malam hari.
Akhirnya Robert kembali ke kamar. Berolahraga sebentar lalu mandi dan kembali tidur.
*
*
Suara ketukan di pintu membangunkan Robert.
"Ya."
Robert baru mau bangun saat Kang sudah menerobos masuk dengan wajah berseri-seri. Dia menarik tangan Robert dengan tak sabar.
"Ada apa?" tanya Robert bingung.
Kang tak menjawab, tapi dia langsung membawa Robert naik ke pintu di bawah atap. Mereka akhirnya berada di luar. Di samping kuil tua yang tak terpakai lagi.
Robert tak melihat ada perubahan apapun yang mungkin bisa membuat Kang terlihat begitu gembira. Itu membuatnya makin bingung.
"Ada apa sih?" Robert tak bisa lagi menahan tanya.
Kang berjalan menuju batas dinding cahaya yang melindungi kompleks makam. Robert mengikuti. Saat itulah dia menyadari bahwa ada perubahan cuaca di hutan di luar sana.
Kabut tipis magenta memenuhi udara di luar. Hijaunya dedaunan kadang menyembul memberi nuansa warna yang kontras.
"Baru kali ini aku melihat kabut berwana seperti ini. Apakah itu berbahaya?" tanya Robert. Kang mengangguk.
"Kalau itu berbahaya, kenapa kau justru terlihat gembira? Aneh."
Robert tak bisa mengerti jalan pikiran Kang.
"Jadi itu sebabnya kau mengajakku kembali ke sini? Biar aman? Lalu bagaimana dengan ternak-ternakmu? Apa bisa aman hanya dengan menutup pintu kandang?" Robert benar-benar tak paham.
Kang melihat-lihat ke langit di atas kuil. Robert turut memperhatikan apa yang menarik perhatian Kang. Tiba-tiba sebuah cahaya putih yang sangat terang menyilaukan muncul dari puncak atap kuil. Cahaya itu seperti ditembakkan jauh ke langit.
Robert terkejut dan refleks berbalik untuk menghindari efek buruk cahaya intensitas tinggi pada matanya. Tapi dia bisa melihat bagaimana Kang tak berpaling sedikitpun. Bola matanya yang legam kini terlihat sangat terang, seterang cahaya putih yang berlangsung selama 3 detik.
Tak lama setelah itu turun hujan cukup deras. Menghalau pergi semua kabut magenta.
Dengan antusias, Kang menunjuk-nunjuk ke sebuah tempat. Matanya berbinar-binar. Robert melihat ke sana. Robert menaikkan sebelah alisnya tak percaya.
"Itu hanya pelangi Kang. Hanya bias warna yang muncul setelah hujan." Robert menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hah, ku kira apa yang bisa membuatmu begitu bahagia. Mainmu kurang jauh. Jadi warna pelangipun bisa membuatmu begitu bahagia." Robert tertawa.
Tapi Kang tak membalas. Dia menarik tangan Robert.
"Mau ke mana lagi? Apa kau ingin melihat pelangi dari dekat?" Goda Robert.
Kang meletakkan jarinya di dahi Robert.
"Hahahaa.. Kau yang setua ini masih percaya dongeng putri yang turun bersama pelangi?" Robert merasa itu hal paling tak masuk akal.
__ADS_1
Kang menarik tangan Robert, membawanya turun ke bawah tanah.
"Aduh.. aduh.. tunggu. Gak sabaran banget sih," gerutu Robert yang meluncur turun dengan cepat sebab ditarik Kang.
Kang segera membuka pintu batu di dinding. Berlari di sepanjang lorong. Robert ikut berlari mengikuti Kang.
"Aduh, tunggu!"
Teriak Robert saat melihat Kang sudah mencapai pintu bawah pondok. Kang terlihat tak sabaran menunggu Robert yang dinilainya terlalu lamban.
Kang langsung menggeser tangga begitu Robert keluar pintu. Dia segera melesat naik meninggalkan Robert yang terengah-engah mengatur nafas.
"Gila deh tenaganya. Manusia apa dia sebenarnya?" gumam Robert saat menaiki tangga.
Di pondok tak ada siapa-siapa. Tapi pintu sudah dibuka. Di depan pintu ada seekor kuda. Kang tak ada. Robert akhirnya menaiki kuda yang disediakan.
"Apa sih yang dikejarnya sampai tak sabaran banget?" Robert mengomel sendiri.
"Hei, kuda. Kalau kau terus berjalan santai begini, bagaimana bisa menyusul Kang?" Kuda itu jadi sasaran omelan Robert.
Seakan mengerti maksud Robert, kuda itu segera mempercepat larinya. Kakinya berderap-derap di tanah.
"Waduh.. kau mengerti perkataanku ya?" Robert berpegangan erat pada tali kekang.
Tak lama mereka sampai di dekat tebing dimana mereka turun ke lembah. Robert bisa lihat warna pelangi yang indah dari arah lembah. Keningnya berkerut mendapati Kang sedang berjongkok di balik sebatang pohon. Pandangannya lurus ke arah lembah.
Robert mendekati.
"Kang, tingkahmu ini seperti orang yang sedang mengintip perempuan mandi. Hilang ke mana sikap berwibawamu selama ini?"
Kang menutup mulut Robert dan menariknya untuk ikut jongkok.
"Ssstttt!"
Mata Kang terlihat khawatir. Robert mengangguk. Kang lalu melepaskan bekapannya di mulut Robert. Dia menunjuk ke satu arah. Mata Robert mengikuti arah yang dimaksud oleh Kang.
Robert terduduk dengan mata membulat. Itu benar-benar tak bisa dipercaya.
"Itu.. itu.." Robert tak bisa menyelesaikan ucapannya. Tapi Kang mengangguk bersemangat. Wajahnya sangat gembira.
Setelah menenangkan debaran jantungnya, Robert menepuk pundak Kang.
"Hei, kau begitu bodoh. Ku rasa selama ini mereka tinggal di tebing sana. Ribuan tahun, kau sendirian di sini. Mereka di sana. Benar-benar menyia-nyiakan waktu dan masa mudamu."
"Hah! Harusnya kau dekati mereka sejak lama dan lahirkan anak yang banyak. Tck! Bagaimana bisa aku punya teman berusia ribuan tahun tapi masih selugu bocah 10 tahun?"
Robert tak berhenti mengomel.
"Ayo kita turun dan berkenalan," ajak Robert. Ditariknya tangan Kang. Tapi Kang menolak.
"Hei, kita ini pria. Tidak boleh jadi pengecut. Selama ini kau harus menantikan pelangi agar bisa melihat mereka dari jauh. Jadi jangan sia-siakan." Robert mencoba menumbuhkan semangat Kang.
"Ayo. Kita turun dulu. Jangan menyerah sebelum mencoba." Robert menarik jari Kang dan meletakkannya di dahinya, agar Kang mengerti maksud perkataannya.
"Ayo."
Robert menarik Kang untuk berdiri. Kang mengikuti meski keraguan jelas terlihat di matanya.
"Bawa aku turun." Robert berusaha turun dan menyibak dedaunan. Kang melihatnya dengan khawatir.
__ADS_1
"Ahh." Kaki Robert tergelincir.
Kang menyambar tangan Robert. Menyelamatkannya sebelum tubuh itu meluncur jatuh tak terkendali.
Posisi Robert yang tak nyaman membuatnya terus bergerak-gerak. Menghancurkan konsentrasi dan kesimbangan Kang saat menjejak ranting dan melompat. Akhirnya keduanya bergulingan di kaki tebing.
Teriakan Robert mengejutkan para gadis yang sedang mandi di sungai yang jernih. Mereka bisa melihat dua orang jatuh bergulingan di tebing sana, lalu terhenti di ladang yang sedang berbunga.
Salah seorang bergerak ingin membantu. Tapi ditahan oleh yang lainnya. Mereka segera berkemas dan meninggalkan tempat itu.
Tapi salah seorang bisa mendengar rintihan kesakitan sebelum mereka menjauh. Dia tak dapat menahan hatinya untuk menolong. Gadis itu terbang rendah dan mencari-cari dimana kedua orang itu berakhir.
"Aduh, kakiku terkilir. Kang. Apa kau baik-baik saja? Kang?"
Robert bangun dengan susah payah. Dengan merangkak dan menahan nyeri, dia mencari-cari. Dia tau Kang takkan menjawabnya. Atau ladang bunga ini bisa habis terbakar.
"Aduh! Sshhh.." Robert mendesis menahan nyeri. Beberapa batang tanaman rambat telah menjerat kakinya yang cedera.
"Kang, jika kau mendengar suaraku, tetaplah di tempatmu. Aku akan mencarimu. Sebentar ya." Teriak Robert.
Robert duduk di tanah, memeriksa kakinya.
"Ah, sial! Sakit sekali." Robert memejamkan matanya dan berbaring sejenak. Mulutnya terus saja mendesis kesakitan.
"Harus dibebat dan cari kayu untuk tongkat." gumamnya sendiri.
Robert membuka mata. Seketika dia tak mampu bergerak. Matanya berkedip-kedip.
"Apa aku sudah mati dan bertemu bidadari?" tanyanya pada diri sendiri.
Robert kemudian menutup mata.
Halusinasi. Itu hanya halusinasi," ucapnya meyakinkan diri sendiri. Lalu dia bangun dari posisi berbaringnya.
"Aduh. apa-apaan...?"
Robert mengusap-usap dahinya yang membentur sesuatu. Di depannya gadis yang dilihatnya tadi juga mengusap dahinya.
"Kau bukan halusinasi? Kau nyata?" tanya Robert.
"Sini aku bantu. Katakan bagian mana yang sakit?" Sebuah suara terdengar di telinga Robert.
"Siapa itu? Jangan bicara di dekat telingaku," ujarnya kesal sambil mencari ke arah belakang. Tapi tak ada siapapun.
Gadis di depannya menjentikkan jari dengan kesal. Dia menunjuk dirinya sendiri.
"Aku yang bicara padamu!" matanya melotot kesal.
"Hah? Kau yang bicara ke telingaku? Ah, ya. Hampir lupa. Bantu aku mencari Kang." Ujar Robert tak peduli.
"Kang.. Kang. Bagaimana keadaanmu? Tenang, aku pasti akan menemukanmu."
Robert kembali merangkak untuk mencari keberadaan Kang.
"Ckk! Tak berguna." umpat gadis asing itu di telinga Robert.
"Hei, jangan pergi dulu. Bantu aku mencari temanku. Kau kan bisa terbang." Teriak Robert.
'Terbang? Apa aku bertemu bangsa peri lagi di sini?' batin Robert.
__ADS_1
*****