
Pagi hari yang cerah.
Suara burung-burung membangunkan tidur lelap anggota tim itu.
Widuri membuka mata dengan malas. Pelukan Dean yang hangat, sedikit menambah rasa malasnya. Sepanjang petualangan mereka, Widuri merasa bahwa inilah tidur malam paling lelap yang dia rasakan. Entah kenapa.
Mungkinkah karena dia merasa sudah pulang ke rumah? Meski belum sampai di rumahnya, tapi ini tetap Indonesia. Negara yang dikenalnya seumur hidupnya. Yang bau tanah serta udaranya terasa sangat familiar dan menenteramkan. Dia memejamkan matanya sambil tersenyum bahagia. Berharap kedua orang tuanya masih ada untuk dipeluk dan disungkemi.
Tiba-tiba lengan Dean mendekapnya lebih erat. Widuri membuka matanya. Dean sedang melihatnya dengan kasih sayang.
"Kita akan pulang. Bersabarlah ...."
Widuri membalas pelukan Dean. Hatinya bahagia. Pria yang dipilihnya ini, mampu memahami dirinya tanpa perlu dia mengatakan apapun.
"Ya, aku tau ... kau akan membawaku pulang."
"Permisiiiii ...."
Terdengar suara panggilan dari luar. Itu suara Sulaiman.
"Ya ...."
Dokter Chandra bangun dari tidurnya dan beringsut keluar pondok.di dekat perapian, Alan dan Indra tertidur pulas.
"Ya, ada apa?" tanya Dokter Chandra pada Sulaiman yang masih berdiri di tepi jalan.
"Ah, bukan apa-apa. Tapi aku barusan memanen ubi. Mungkin kalian suka? Ini enak untuk sarapan," ujarnya ramah.
"Tentu saja. Ubi itu sangat sehat. Kami menyukainya. Dan sudah lama tidak punya ubi untuk dimasak."
Dokter Chandra menerima keranjang rotan penuh ubi yang disodorkan Sulaiman. Kemudian semua ubi ditumpahkan di dekat perapian.
"Ubi bakar paling enak," kata Dokter Chandra tanpa ditanya.
"Hahahaha ... selera kita sama!" Sulaiman tertawa senang.
Mendengar keributan di luar, Sunil dan Robert ikut keluar. Mereka mengucapkan terima kasih untuk bahan makanan yang diantar Sulaiman.
__ADS_1
"Ku lihat, sawah ini sudah waktunya dipanen. Kenapa tidak anda panen? Apa tak khawatir habis disantap burung? Lihatlah ...."
Sunil menunjuk ke arah rombongan burung yang bahagia mematuk- matuk bulir padi di sawah.
Sulaiman hanya tertawa kecil. "Yah ... aku berbagi dengan mereka. Persediaan berasku masih ada. Jika kurang, tinggal ambil seperlunya saja. Tidak ada cukup tenaga untuk mengerjakan semua ini sendiri," ujarnya jujur.
"Jika butuh bantuan untuk memanen, katakan saja. Kami mahir mengerjakan pekerjaan seperti ini." Dean menawarkan bantuan.
"Benarkah?" Sulaiman tak percaya.
"Selama perjalanan mencari jalan pulang, kami juga dipaksa keadaan untuk bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Jadi kami juga berkebun dan bertani sesuai tempat yang dilewati," urai Dean singkat.
"Itulah kenapa kami punya sedikit persediaan bahan makanan," tambah Sunil.
"Baiklah. Jika kalian bisa membantu memanen sawah ini, sepertinga hasilnya milik kalian," kata Sulaiman senang.
"Sepakat!" sahut Dean cepat.
Keduanya berjabat tangan. Sulaiman senang ada yang membantunya panen. Dean juga senang, karena ini pekerjaan yang ringan untuknya. Dalam 10 menit, pekerjaan itu bisa selesai.
Marianne dan para wanita lain sudah bangun. Melihat ada ubi dekat perapian, mereka mengambil wadah berisi air untuk mencuci ubi yang penuh dengan tanah. Kemudian ubi-ubi itu disusun berlapis diatas bara api.
"Cloudy, jangan nakal!" panggil Widuri.
Sulaiman heran melihat binatang buas itu menuruti perintah Widuri. Mereka memelihara macan? Itu sangat luar biasa bagi Sulaiman. Seumur hidupnya, dia baru sekali melihat macan tutul dan harimau. Itupun, di kebun binatang, saat dia pergi ke kota besar bersama istri dan putranya.
Tapi kembali suara lain membuatnya penasaran. Setelah tak ada Cloudy yang menghalangi, dia bisa melanjutkan rencana untuk melihat. Dan matanya langsung terbuka lebar.
Di samping pondok rumput sederhana itu, tertambat seekor kuda, dua ekor kambing, dua ekor sapi dan beberapa ekor ayam dalam kurungan.
"Ini ... ternak kalian?" tunjuknya.
"Ya, tentu saja. Kami membawanya dari negri yang jauh," jawab Dean.
Sulaiman ingin tak percaya. Tapi, memang sudah lama tak ada seekorpun binatang ternak di pulau itu. Sejak beberapa tahun lalu badai membuat air laut naik tinggi dan menghanyutkan segala yang tersisa di pulau.
Dia terdampar di pulau Karimata. Lalu kembali bersama beberapa petugas penyelamat untuk menyisir pulau kecil ini, mencari penduduk yang selamat. Dia menemukan istri dan beberapa orang lain masih hidup. Tersangkut diantara cabang pohon bakau yang berada di dekat hamparan kolam ikan dan udang.
__ADS_1
Pulau ini porak poranda. Tapi dia bersyukur istrinya masih hidup. Meskipun setelah itu kesehatannya menurun, namun Sulaiman bersyukur bisa merawat istrinya hingga akhir.
"Ada apa?"
Suara Dean membuyarkan lamunan Sulaiman.
"Tidak ada apa-apa. Aku-aku sudah lama tidak melihat hewan ternak," katanya dengan suara tercekat
Dean mengangguk mengerti. Sejak mereka tiba dan berjalan hingga ke tengah pulau, dia memang tidak melihat seekor pun binatang ternak. Bahkan ayam saja tak ada. Tapi Dean tak ingin menanyakan tentang itu. Melihat reaksi Sulaiman, pasti telah terjadi sesuatu di pulau ini yang membuat ternak-ternak lenyap. Yang paling mungkin adalah badai dan gelombang pasang ekstrim yang menyapu seluruh pulau.
Dean tertegun sebentar. Sekarang dia mengerti kenapa semua rumah di sini dibiarkan runtuh dimakan usia. Dan berdasarkan cerita Sunil tadi malam, Sulaiman juga bukalah dalam keadaan baik-baik saja. Matanya rabun. Dan jika senja tiba, dia tak bisa melihat apa pun lagi. Itu sebabnya tak masalah baginya rumah yang gelap tanpa listrik.
"Ubi sudah matang! Ayo, sarapan!" panggilan Marianne segera mendapatkan perhatian.
Semua berkumpul dan dibagi potongan ubi dengan adil. Bahkan Sulaiman juga mendapatkan jatah sarapannya. Mereka makan bersama sambil mengobrol.
Rencana Dean hari ini adalah, bersama Dokter Chandra membantu Sulaiman memanen tanaman padi. Lalu, Sunil dan Alan memperbaiki pintu rumah yang rusak. Indra, Leon dan Robert membantu Sulaiman merapikan kebun.
"Sulaiman, bolehkah kami membantumu membersihkan rumah?" tanya Widuri perlahan. Dia cemas Sulaiman akan tersinggung.
"Hehehe ... asal tidak merepotkan, silahkan saja. Sejak istri saya tak ada, memang jarang saya bersihkan," akunya.
"Tidak merepotkan sama sekali," balas Widuri lega.
"Lalu bagaimana dengan rencana kalian pergi ke pulau besar? Biasanya akan datang kapal tengkulak ke mari setiap bulan. Tapi bulan ini mereka tidak datang. Mungkin air laut sedang pasang tinggi. Jika mereka datang nanti, mungkin kalian bisa menumpang kapal itu." Sulaiman menjelaskan.
"Itu kabar yang bagus," kata Dean sambil tersenyum. Robert jg ikut mengangguk. Berarti pulau ini bukannya sama sekali tak didatangi manusia. Hanya tidak sesering pulau besar.
"Apa kau jarang ke kota?" tanya Sunil.
"Aku tak perlu ke kota. Aku sudah menanam kebutuhan harianku. Jika ingin ikan, aku akan memancing di dermaga. Jika ingin garam untuk masak, tinggal mengambil air laut dan mengeringkannya di kolam kecil di belakang."
"Sesekali tengkulak itu membawakan aku sabun, teh, kopi dan gula, atau pakaian yang murah dari pasar. Ditukar dengan lebih banyak sayuran, itu sudah cukup. Aku tak butuh uang di sini."
Anggota tim itu bisa memaklumi pemahaman sederhana Sulaiman. Kebutuhan pribadinya sudah cukup. Yang paling utama memang urusan perut. Dan dia memiliki semuanya. Jadi tak ada hal di kota, yang bisa menarik perhatiannya. Dia mungkin akan menjadi orang terakhir di pulau Buwan.
"Baik, sarapan sudah selesai. Mari kita mulai bekerja. Hal lainnya kita diskusikan nanti saja," kata Dean.
__ADS_1
Semua bangkit dan mulai membereskan segala sesuatu, sebelum bergotong royong membantu Sulaiman.
******