PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 190. Perasaan Mustafa


__ADS_3

Pagi hari saat sarapan.


Mustafa mengatakan bahwa anak buahnya tidak dapat menemukan orang bernama Leon di kota itu. Mereka bahkan sudah bertanya keliling toko.


"Mungkinkah aku yang salah lihat?" Silvia menunduk kecewa.


"Bagaimana jika dia hanya pengunjung? Apakah mungkin untuk dicari?" Silvia mengajukan sebuah kemungkinan.


"Jangan khawatir. Aku telah berpesan pada beberapa orang di sini. Jika mereka menemukannya, kita akan dikabari." Mustafa menghiburnya.


"Terima kasih." Silvia melanjutkan makannya.


"Kita harus berangkat selepas ini, agar tiba di kota berikutnya saat petang." Jelas Mustafa.


"Hemm." Silvia mengangguk.


Seorang pelayan masuk ruangan dan menyerahkan bungkusan kain. Lalu pergi setelah Mustafa mengucapkan terima kasih.


"Setelah ini, ganti pakaianmu dengan ini." tunjuk Mustafa pada bungkusan itu.


"Kenapa aku harus berganti pakaian?" tanya Silvia heran.


""Perjalanan berikutnya lebih berbahaya. Kita harus berkuda. Dan kau sebaiknya tak dikenali sebagai wanita." Mustafa menjelaskan dengan tenang.


"Oh? Baiklah. Aku akan berganti baju sekarang." Silvia berdiri.


"Bawa obat-obatmu sendiri. Lainnya berikan pada pelayan untuk dikemas." Saran Mustafa.


"Ya." Silvia pergi diikuti pelayan wanita.


*


*


Mustafa membantu Silvia menaiki seekor kuda hitam. Pakaian Silvia tak beda dengan para pengawalnya. Tapi untuk melindungi kulitnya dari terik matahari, Silvia dipakaikan kain lebar yang bisa menutup kepala hingga wajahnya.


"Kita berangkat." Mustafa memberi aba-aba.


Rombongan berkuda itu berjalan menuju gerbang kota. Silvia menunggang kudanya sendiri. Beruntung saat tinggal di ladang bunga, dia dan yang lainnya diajari Robert menunggangi kuda liar. Sekarang dia tak canggung lagi mengendarai kuda.


Begitu keluar gerbang, kuda-kuda itu digebah. Dan rombongan itu berlalu dengan cepat. Mereka harus berpacu dan hanya berhenti saat siang untuk mengistirahatkan kuda-kuda. Area antara kota ini dan kota berikutnya terkenal berbahaya. Tak bisa dilalui kafilah dagang yang bergerak lambat.


*


*


Gelap sudah turun saat pintu gerbang kota terlihat. Rombongan berkuda itu memacu kudanya lebih cepat.


Pintu gerbang itu sudah tertutup rapat. Seorang pengawal turun dan menggedor pintu gerbang.


"Kami rombongan tuan Mustafa. Buka pintunya."


"Sebentar." terdengar teriakan dari dalam.


Pintu gerbang dibuka sedikit agar rombongan itu bisa masuk kota. Lalu segera menutupnya lagi dengan cepat.


Mustafa membawa kuda menuju satu bangunan terpisah. Lalu membantu Silvia untuk turun. Kuda-kuda segera dibawa para pelayan pria.


Kini mereka melewati pintu besar. Terlihat para pelayan menunduk.


"Selamat datang tuan." Sapa mereka hormat.


"Siapkan makanan, lalu siapkan juga kamar untuknya." Mustafa melepas kain penutup wajah dan kepala Silvia.


Para pelayan itu terkejut saat menyadari bahwa itu adalah seorang wanita.

__ADS_1


"Ya tuan, akan kami siapkan." Mereka lalu bubar untuk melakukan tugas masing-masing.


Mustafa membawa Silvia ke sebuah ruangan terbuka. Di situ terhampar karpet luas nuasa marun, krem dan hitam. Motif dan paduan warnanya sangat pas. Mustafa duduk di situ.


'Ah, duduk di karpet begini khas org indonesia banget.' batin Silvia. Dia ikut duduk tak jauh dari Mustafa.


Seorang pelayan masuk. Meletakkan nampan berisi penganan. Aneka jenis kue, kacang, kurma, kismis dan teh hangat di teko. Dengan hati-hati pelayan tadi menuangkan teh ke dalam cangkir perak.


"Makanan sedang disiapkan tuan."


"Hemm." Mustafa mengibaskan tangannya. Pelayan tadi keluar.


"Minum dulu teh ini sambil menunggu makanan datang."


Mustafa menyodorkan cangkir teh ke depan Silvia. Lalu dia menyesap minumannya lebih dulu.


Silvia mengikuti. Menyesap teh hangat dan wangi itu. Lalu mencicipi semua jenis cemilan yang ada. Meski tak mengenyangkan, setidaknya perutnya sudah lebih nyaman sekarang.


Silvia ingin sekali berbaring di karpet untuk meluruskan punggungnya yang lelah. Tapi demi kesopanan dia tetap bertahan duduk dengan manis layaknya gadis penurut.


'Andai saja elo ga ada, gue ude gogoleran di karpet ini. Nasiib.. nasib' batin Silvia tersiksa.


Setengah jam kemudian, beberapa pelayan masuk membawa beberapa piring. Ada roti, sepiring daging panggang, semangkuk saus, dan tumis buncis.


Mata Silvia berbinar.


'Akhirnya ketemu sayuran lagi. Ini baru namanya makan.' pikirnya bahagia.


"Kau suka ini? Makanlah. Aku akan meminta mereka memasaknya lagi besok."


Silvia kaget. Tak menyangka bahwa Mustafa memperhatikan tingkahnya.


"Terima kasih. Aku memang suka sayuran." Silvia menunduk malu.


Makan malam itu dilalui dengan hening. Lalu Silvia diantar ke kamar yang sudah disiapkan untuknya.


*


*


"Kita akan melanjutkan perjalanan besok. Kuda-kuda butuh istirahat yang cukup." Mustafa memberitahukan rencana perjalanan mereka.


Silvia mengangguk sambil makan.


"Kita bisa jalan-jalan juga di kota ini. Waktu itu kau belum sempat membeli apapun." tawar Mustafa ramah.


"Hemm, oke." Silvia menjawab singkat sebelum mulai menikmati yogurtnya.


Sarapan pagi ini bukanlah makanan berat. Hanya ada roti berisi manisan buah seperti selai. Ada semangkuk buah anggur segar. Segelas susu dengan harum rempah dan semangkuk yogurt dengan toping madu.


Tampaknya Mustafa benar-benar jeli dengan kesukaan Silvia. Tadi malam dia telah mengatakan yang diinginkannya untuk sarapan. Dan sajian para pelayan tidak mengecewakannya. Dia bisa menikmati wajah cantik itu tersenyum bahagia dalam tiap suapan makannya. Para pelayan dapur pantas mendapat hadiah karenanya.


"Kita bisa keliling kota dengan kereta jika kau mau." tawar Mustafa.


"Tidak. Kita jalan saja. Aku makan banyak pagi ini. Harus diimbangi dengan jogging agar sehat." tolak Silvia.


"Baiklah. Kenakan cadarmu dulu sebelum keluar." Mustafa mengingatkan.


"Ah, aku lupa. Biar ku ambil dulu."


"Tidak."


Mustafa mencegah Silvia pergi. Dia memanggil pelayan wanita yang mengurus Silvia.


"Mustafa. Tempat ini tidak seperti penginapan. Tak ada tamu lain di sini." Silvia mengutarakan hal yang ingin ditanyakannya sejak semalam.

__ADS_1


"Tentu saja tidak ada tamu lain. Karena ini rumahku."


Mustafa tersenyum lebar. Gigi-giginya yang putih dan rapi sampai terlihat. Dia makin mirip Ethan. Itu membuat Silvia merasa sesak dan terengah-engah.?


"Kau kenapa?" Mustafa terkejut melihat kondisi Silvia yang mendadak berubah.


"Tidak apa.. apa.." jawab Silvia terputus-putus. Dia berusaha keras membuang bayangan senyum Ethan dari kepalanya.


"Tidak. Kita batalkan jalan-jalannya. Kau kelelahan dan harus istirahat."


Mustafa langsung mengangkat tubuh Silvia, membawanya ke kamar. Pelayan wanita yang datang dengan cadar di tangan dibuat bingung. Dia tak tau apakah perlu mengikuti tuannya atau meninggalkan keduanya


"Bantu siapan tempat berbaringnya!" teriak Mustafa pada pelayan wanita itu.


"Ii..iya tuan." Pelayan itu segera berlari mendahului Mustafa. Dia menepuk-nepuk bantal dan menumpuknya dua agar lebih empuj dan nyaman.


"Apakah nona sakit?" tanyanya khawatir.


"Tidak. Aku hanya masih merasa lelah." Jawab Silvia.


Wajahnya masih memerah, karena tak menduga digendong oleh Mustafa. Jantungnya berdegup kencang. Dan Mustafa menyadari itu saat menggendongnya tadi


"Panggil tabib sekarang." perintah Mustafa.


"Tidak. tidak perlu." Tolak Silvia.


"Kau baru sembuh. Harusnya aku tidak langsung membawamu saat keadaanmu belum benar-benar pulih." Mustafa merasa menyesal.


"Tidak. Sebentar lagi aku akan baikan kembali. Hanya butuh istirahat saja." Silvia menenangkan Mustafa.


Mustafa memandang dengan ragu. Tapi dia tak ingin memaksa Silvia.


"Bisakah kau berjanji satu hal?" tanya Mustafa.


"Apa itu?" Silvia membetulkan posisi duduknya.


"Jika kau merasa tak nyaman, langsung katakan saja padanya." Mustafa menunjuk pelayan wanita itu.


"Baiklah. Jadi biarkan aku istirahat sekarang. Kita bisa jalan-jalan di sore hari." bujuk Silvia.


"Hemm.. Baiklah. Aku keluar sekarang."


Mustafa berdiri. Memberi beberapa instruksi sebelum keluar dari kamar.


"Nona, anda yakin baik-baik saja?" pelayan itu menghampiri.


"Hemm.. Bantu aku berganti pakaian longgar. Aku merasa sesak memakainya." Ujar Silvia beralasan.


"Baik nona."


Pelayan itu terampil melayani nonanya. Dia segera tau tuannya menyukai nona muda ini. Para pelayan dapur dan juga dirinya telah mendapatkan instruksi khusus untuk melayani dan membuat senang nona baru mereka.


"Bisakah kau mengambilkan air yang sejuk dingin untukku?" Tanya Silvia.


Dia tak mungkin mengharapkan air es saat ini. Tapi air dingin kemungkinan mereka tau cara penyimpanan agar air tetap dingin dan sejuk.


"Akan segera saya siapkan nona." Pelayan itu keluar kamar. Silvia membaringkan tubuhnya. Ditariknya nafas dan dihembuskan perlahan.


"Silvia, Mustafa bukan Ethan. Dia orang yang sepenuhnya berbeda." gumamnya halus.


"Tahan dirimu. Jangan jadi gila karena merindukan seseorang." Silvia meyakinkan dirinya sendiri.


"Cintaku untuk Ethan, bukan Mustafa," Kembali Silvia bergumam sendiri.


"Jangan berhalusinasi dan memeluknya sembarangan. Dia bukan Ethan. Bukan Ethan," bisik Silvia dengan mata terpejam.

__ADS_1


*****


__ADS_2