
Di atas dahan pohon itu berdiri makhluk hitam besar dan bersayap. Kepalanya dimiringkan, menatap tiga orang asing di depannya. Dia bertanya lagi. "Bagaimana kalian bisa sampai ke sini!"
Uap panas yang menyembur keluar dari mulutnya yang besar memaksa Robert, Sunil dan Dokter Chandra memundurkan langkah menjauh.
"Kau seekor naga!" ujar Robert penuh perhatian.
"Kalian tidak takut ataupun terkejut melihatku. Apakah kalian sudah pernah bertemu dengan naga lain sebelumnya?" tanya naga itu dengan mata menyipit. Dia sangat ingin tahu.
"Ya. Temanku Kang, seekor naga yang baik. Menikah dengan teman kami yang lain, Nastiti," jawab Robert.
"Kang? Teman nagamu bernama Kang?" tanyanya dengan mata membesar.
Robert, Sunil dan Dokter Chandra mengangguk. "Tapi dia tak bisa bicara sepertimu. Atau api yang keluar dari mulutnya, akan membakar sekitarnya."
Robert tersenyum mengingat itu. Saat kejadian itu, dia merasa takut. Tapi saat diingatnya sekarang, kejadian itu justru terasa lucu.
"Kenapa kau tersenyum?" tatapannya tajam mengarah pada Robert.
Robert menggeleng. "Tidak ada. Hanya beberapa insiden kecil dengannya yang sekarang terasa lucu untukku."
"Kau dekat dengannya?" tanya naga hitam itu lagi.
"Bisa dikatakan begitu. Aku teman pertamanya, setelah ayahnya dan biksu penjaga kuil, meninggal dunia karena sakit tua. Kami tinggal di dunia kecil terisolasi, di kompleks makam kerajaan yang menjadi tanggung jawab ayahnya.
"Apa? Coba katakan seperti apa makam itu!"
Naga itu mendesak. Dia melompat turun ke tanah, dari dahan pohon raksasa. Sekarang tubuh raksasanya berdiri mengintimidasi tiga orang yang hanya setinggi lututnya itu.
"Kenapa kau sangat tertarik? Apa kau mengenal temanku?" tanya Robert.
"Nama keluargaku, Kang. Aku terpisah dengan mereka dalam semalam. Anak menantu dan dua cucu, tak bisa kutemukan lagi setelah kegoncangan hebat di bumi. Aku sudah mencarinya ke mana-mana dan semua sia-sia!" ujarnya.
"Tadi kau menyebut nama Kang, mungkinkah dia adalah anak keturunanku? Cucu, cicitku?" lirihnya sedih.
"Lalu kenapa kau tertarik dengan makam kerajaan?" tanya Dokter Chandra.
"Karena tugasku dulu di sana. Kemudian diteruskan oleh putraku, setelah raja yang kulayani mangkat!" jawabnya dengan mata menerawang, mengenang masa lalu.
"Berarti kau memang Kakek Kang, temanku. Apa kau ingat putra dari putramu?" Dia terkurung sendirian di dunia kecil selama ratusan tahun. Selama kurun waktu itu dia tidak bisa menikah. Dan baru menikah setelah bertemu dengan teman kami!" jawab Robert apa adanya.
"Apakah dia bersama dengan kalian? Tunjukkan padaku jalannya, aku ingin bertemu dengannya. Jika dia benar cucuku Kang, maka aku akan langsung mengenalinya!" ujarnya bersemangat.
"Kami telah meninggalkan tempat itu. Tidak tau apakah akan menemukan jalan kembali ke sana. Tapi kami memang berencana untuk menghubungkan dunia itu dengan dunia kami. Agar dapat saling mengunjungi keluarga yang tinggal di sana!" ujar Dokter Chandra.
"Bagaimana kalian akan ke sana?" tanya naga itu heran.
__ADS_1
"Dengan pintu teleportasi. Bukankah kau punya banyak pintu teleportasi? Dan kau juga mengoleksi satu pintu yang menuju dunia kami, di mana tak ada seekor naga pun, di situ. Pintu itu yang membawa kami ke sini!" jelas Dokter Chandra.
"Itu ... Aku tak sengaja mengumpulkan benda-benda yang beterbangan saat kegoncangan itu terjadi. Aku juga punya banyak benda lainnya! Pun, banyak jasad yang kukuburkan di kaki bukit sana!" tunjuknya ke satu arah.
"Orang-orang yang tewas dan melayang di angkasa, atau terhanyut di air dan berjatuhan di tempat ini," ujarnya sedih.
"Kau menemukan tempat ini?" tanya dokter Chandra.
"Aku terdampar di sini. Bersama para mayat dan segala sampah peradaban yang tak berguna di dunia kecil ini!" terangnya.
"Apa kau pernah melewati pintu-pintu teleportasi itu? tanya Robert.
"Kurasa, sudah semua pintu itu kudatangi untuk mencari keluargaku. Tapi aku masih tak menemukannya!" ujarnya sedih.
"Berarti kau pernah datang ke dunia kecilku!" desak Dokter Chandra.
"Mungkin saja. Tapi bagiku, dunia kecil manapun tidak berguna, jika tak ada keluargaku di sana!" ujarnya tak peduli.
"Aku teringat dengan cerita Kang tentang kakeknya. Dia bilang, kakeknya dulu bertarung dengan musuh negara, hingga terlempar jauh dari dunia asalnya. Apa kau mengalami hal itu?" selidik Robert.
"Ya! Aku lalu bertarung habis-habisan dengannya. Meski terluka parah karena pukulan saktinya, tapi aku berhasil mengurungnya dengan kurungan yang tak bisa ditembus siapapun!" ujarnya bangga.
"Hahahaha...." Robert tertawa mengejek.
"Siapa Bi? Bagaimana dia bisa bertarung dengan makhluk itu? Apakah kita sedang membicarakan topik yang sama?" tanyanya heran.
"Apakah luka pukulan yang mengenaimu adalah luka dengan warna hitam kebiruan yang perlahan memakan tubuhmu dari dalam?" tanya Robert tajam.
"Ya! Bagaimana kau tau?" tanyanya terkejut.
"Tidak hanya Bi yang menjadi korban. Tapi juga Laras!" ujar Robert marah. "Monstermu itu, kenapa tak kau bunuh saja, agar tidak menyakiti begitu banyak orang? Apa kau tau kalau kau justru mengurungnya di pulau yang banyak penduduk!" serang Robert murka.
"Apa? Aku sudah memastikan pulau itu tak berpenghuni!" bantahnya.
"Robert, tenanglah. Kang Tua ini tidak bersalah. Jika kita ingat cerita Ketua Kota, Bi dan Dia yang awalnya terdampar berdua di tempat itu. Lambat laun pulau dengan hutan lebat itu berkembang menjadi kota dan korban hilang makin banyak. Tak hanya manusia yang hilang. Bahkan hewan penghuni hutan, lenyap di kurungan yang dibuat oleh Kang Tua ini!" Dokter Chandra meruntut hal ikhwal keberadaan Kota Pelabuhan.
"Jadi, sekarang pulau itu berpenghuni? Aku harus kembali ke sana dan memindahkan kurungan itu ke sini. Biar ku jaga di sini saja!" ujar Kang Tua dengan rasa bersalah.
"Kau bisa ke sana?"
Melihat tiga orang bertanya serempak dan penuh antusias, Naga itu terheran-heran.
"Kurasa bisa. Aku hanya harus mengingat pintu teleportasi yang tepat saja!" jawabnya sambil memejamkan mata sejenak.
"Bagus! Mari kita ke sana!" ujar Robert cepat.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? Dan kau juga tak perlu ikut. Aku bisa mengatasi makhluk itu sendirian!" katanya dengan percaya diri.
"Dia sudah mati. Musuhmu sudah dibunuh oleh Bi. Kau kalah kuat dengan Bi yang hanya seorang wanita hamil!" sergah Robert kasar.
"Bukankah katamu tadi, Bi tewas?" mata naga itu berkedip-kedip bingung.
"Ya, akhirnya dia tewas di sana karena tak ada obat untuk menyelamatkannya! Menyedihkan, dan menghancurkan hati keluarganya!" Dokter Chandra menunduk sefih.
"Tapi, jika kau bisa ke sana, maka kau juga akan bertemu Kang, naga hijau yang menjadi teman kami!" ujar Sunil.
"Benarkah?" mata naga itu berbinar. Mari kita ke sana. Aku ingin bertemu cucuku!" ujarnya cepat.
"Tidak sekarang. Kami masih punya tugas penting lain!" tolak Dokter Chandra.
"Dok!" Robert dan Sunil berseru heran.
"Apa tugas penting kalian? Biar aku bantu!" Kang Tua menawarkan kebaikan sebagai balasan informasi yang didapatnya.
"Kami sebelumnya harus pergi ke koordinat lain, untuk mengambil pintu teleportasi yang diletakkan oleh seorang penjaga pintu teleportasi. Di tengah jalan, jalurnya bersimpangan dan membuat kami sampai di sini. Sekarang kami harus kembali ke jalur semula dan melakukan misi lebih dulu!" Dokter Chandra menjelaskan dengan detail.
"Kita bisa pergi bersama. melalui jalan semula. Mari kubantu!" ujarnya memaksa.
Robert, Sunil dan Dokter Chandra saling berdiskusi lewat transmisi suara.
"Bagaimana Dok?' tanya Sunil.
"Jika kita mau bolak-balik ke sini, maka pintu teleportasi tadi, harus kita taruh kembali di sini!" Robert menjelaskan konsekwensinya.
"Hemm ... kau benar. Tapi tak ada ruginya kita berhubungan baik dengan Kang Tua. Selama ini, meski dia memiliki pintu ke dunia kita, dia toh tak pernah mengganggu."
Dokter Chandra menimbang-nimbang. Kemudian dia mengangguk juga.
"Baiklah! Kami terima niat baikmu!" sahut Dokter Chandra.
Naga tua itu menggeram senang. Mereka berempat masuk kembali ke gua. Setelah mencari-cari tempat yang menurutnya aman, Dokter Chandra meletakkan pintu teleportasi yang tadi disimpannya.
"Kenapa tak kau gantung lagi di tempat semula? Ruangan ini sempit dan pengap!" protes Kang.
"Apa kau tak khawatir ada orang-orang jahat datang ke sini dan mengambil alih guamu ini, lalu mengacaukan seluruh dunia yang bisa dimasuki lewat pintu-pintu koleksimu?" tanya Sunil.
"Sunil benar. Seharusnya, jika tak berguna, pintu-pintu lain kau simpan saja!" saran Robert.
"Kurasa kau benar. Dulu pintu-pintu itu adalah sarana aku pergi ke dunia lain dan bertemu manusia. Tapi sekarang aku tak membutuhkannya lagi. Lebih baik kita simpan, agar tak membahayakan dunia kalian dan dunia Kang, cucuku!"
*******
__ADS_1