
Note:
Chapter ke 200 ini author dedikasikan untuk para pembaca setia yang sudah membersamai perjalanan menulis hingga sejauh ini.
Kenzi Himura, TehNci, Nikas's Mom, Imran Kalimanjaro, Ina Yulfiana, Lwa, Elisnawati Madua, NJ-nim, Mr.Alone, Irmawati, Nurul Zakiyah, Nani Kurniasih.
Yang belum disebutkan sebab keterbatasan ruang 🙏🙏
Thanks alot for your support for me.
Much 💙❤ for all of U.
*
*
Kota itu sangat ramai di pagi hari. Gerobak kafilah dagang yang masuk seminggu sekali menjadi daya tarik sendiri. Harga-harga yang dijual mereka memang lebih murah ketimbang barang di toko.
Beberapa pemilik tokopun ada yang membeli persediaan untuk tokonya yang buka setiap hari. Dengan membeli dari para kafilah dagang, pemilik toko tidak lagi harus bersusah payah membeli isi tokonya ke kota lain yang. Biaya transportasi bisa ditekan. Keamanan mereka juga lebih terjamin.
Seperti para pedagang lain, Leon juga sibuk menawarkan dagangannya dan melayani pembeli.
Seorang pemilik toko menghampiri gerobak Leon.
"Kau tidak muncul cukup lama. Persediaan garamku hampir habis," sapanya ramah.
"Ya tuan. Saya mengumpulkan lebih banyak stok sebelum datang. Mungkin ke depannya saya datang dua minggu sekali saja. Jadi tuan baiknya membeli cukup persediaan untuk waktu tersebut," rayu Leon.
"Kalau begitu, bisakah harganya jadi lebih rendah?" tanyanya mencoba menawar.
"Jangan begitu tuan. Harganya sama seperti biasa. Tapi untuk kali ini, saya berikan anda bonus produk baru!" ujar Leon sambil tersenyum ramah.
"Oh, produk apa itu? Aku harus lihat dulu. Bagaimana jika tidak laku?" Pemilik toko itu tak langsung menerima.
"Lihat dulu tuan. Saya membawa rumput laut. Ini sangat enak. Bisa dimasak bersama daging. Bisa juga dijadikan manisan atau minuman segar. Rumput laut ini sangat sehat tuan. Bisa mencegah sembelit dan menghaluskan kulit wanita."
Leon menjelaskan khasiat rumput laut sekenanya. Sepanjang yang dia ketahui saja.
"Benarkah? Jika istriku memakan ini, apa dia akan kembali muda?"
Suara dan ekspresi pemilik toko itu menarik perhatian para pembeli yang lewat. Mereka jadi berhenti dan ikut mendengarkan penjelasan Leon.
"Jangan begitu tuan. Usia bertambah itu adalah anugerah. Tiap wanita selalu akan terlihat cantik sesuai usianya. Dan jadi lebih cantik ketika suami mencintainya.," elak Leon halus.
"Lalu apa maksudmu tadi?" tanya pemilik toko.
"Maksud saya, jika istri tuan rajin makan rumput laut, baik di masak atau dijadikan manisan dan teman minuman, seiring waktu, kulitnya akan jadi lebih bagus."
Leon mendekati pemilik toko dan berbisik, "Kulitnya bisa lebih kencang seperti saat dia muda." Leon mengedipkan sebelah matanya.
"Benarkah?"
Wajah pemilik toko itu berseri-seri. Tapi dia tampak belum percaya.
"Tuan boleh coba khasiat tercepat jika belum percaya. Saya berikan bonus rumput laut gratis jika tuan membeli 5 krat garam saya. Bagaimana?" tantang Leon.
"Wooaaa...."
Terdengar gumaman orang-orang yang mengerubungi mereka.
Pemilik toko itu terlihat ragu.
__ADS_1
"Apa tadi khasiat tercepatnya?" tanyanya lagi.
"Mengatasi sembelit. Jika ada yang mengalami kesulitan buang air, makanlah ini dalam jumlah cukup dan teratur. Maka urusan ke belakang akan lebih lancar," jelas Leon yakin.
"Benarkah? Aku perlu itu!" seru seorang pria setengah baya.
"Berapa kau menjualnya?" tanyanya sambil mendekati Leon.
"Untuk 1 genggam, hanya 1 keping tembaga tuan. Sangat murah, jika dibandingkan dengan kesulitan saya menyelam di laut untuk mencarinya," jawab Leon sambil tersenyum.
"Yah, betul. Menyelam di laut sangat membahayakan."
Orang-orang mengangguk setuju dengan perkataan Leon.
"Baik. Berikan aku 3 genggam. Katakan bagaimana cara mengkonsumsinya," kata pembeli paruh baya.
"Istri tuan hanya perlu memasak ini segenggam sehari. Masak sebagai sayuran tumis, dengan bawang, cabai dan jahe. Beri garam dan sedikit air. Setelah itu biarkan hingga matang. Lakukan hingga masalah tuan selesai. Ingat, jangan kebanyakan. Nanti malah diare," pesan Leon.
"Jika memasak hanya segenggam sehari, sisanya bagaimana?" tanyanya khawatir.
"Rendam saja sisanya di dalam air bersih. Ganti airnya setiap hari jika belum habis," jawab Leon santai.
"Semudah itu. Baik, beri aku tiga genggam." Pria itu menyerahkan koinnya pada Leon.
Dengan cepat orang-orang mengantri membeli. Leon dan Jane melayani dengan ramah. Lalu rumput Laut dalam wadah itu habis dalam sekejap. Leon tetsenyum senang. Dia tau masalah orang-orang di sini yang cenderung sembelit karena sulit mendapatkan sayuran segar.
"Apakah rumput laut itu masih ada?" Terdengar sebuah suara.
Leon menoleh dan terkejut.
"Ah, tuan. Anda terlalu lama membuat keputusan. Rumput laut itu sudah habis." Leon menunjukkan wadah yang kosong.
Pria itu terlihat kecewa.
"Jika begitu, tak ada bonus untukku jika membeli 5 krat garam?" pemilik toko itu bertanya dengan licik.
Leon memahami trik berdagang seperti itu. Jadi dia menjawab dengan ramah.
Jika tuan membeli garam kami 5 krat dan ikan kering 3 krat, saya akan memberi bonus sesuatu yang tuan mungkin belum pernah coba," kata Leon memancing.
"Apa itu?" pemilik toko itu masih bersikap jual mahal.
Leon menarik tangan pria itu menuju wadah lain di belakang gerobak. Membuka tutupnya.
"Apa tuan pernah makan kerang seperti ini?" bisik Leon.
Pria itu memasukkan tangannya ke air dan menyentuh cangkang kerang yang keras.
"Apakah ini enak?" tanyanya heran.
"Sangat enak. Dijamin!" Leon memberi garansi.
Leon bicara dengan Jane. Lalu Jane menyerahkan bungkusan ke tangan Leon.
"Tuan, anda bisa mencicipi masakan istriku. Jika anda suka tekstrurnya, anda bisa terima tawaranku," tawar Leon.
Pria itu mengambil sekeping makanan kecil yang ada dalam wadah. Dia mencoba mengunyahnya pelan-pelan. Dengan segera matanya membulat.
"Teksturnya enak. Kau benar. Ini enak sekali. Kenapa tidak kau taruh di depan?" tanyanya heran.
Dengan wadah rumput laut, gerobakku sudah penuh tuan. Itu sebabnya diletakkan di sini dulu." jawab Leon diplomatis.
__ADS_1
"Baik aku terima tawaranmu."
Pemilik toko itu terlihat sangat senang.
"Bagaimana memasaknya? Apakah harus dimasak lama baru bisa empuk?" tanyanya.
"Tidak tuan. Yang keras itu akan terbuka jika dimasukkan dalam.air mendidih. Setelah kulitnya terbuka, keluarkan isinya. Isinya itulah yang dimasak dan anda coba tadi," jelas Leon.
"Aku mengerti."
Pemilik toko itu melakukan transaksinya dengan perasaan bahagia. Bagaimanapun, dia tidaklah rugi membeli stok garam dan ikan kering lebih banyak. Karena itu awet untuk waktu yang cukup lama.
Setelah itu Leon memindahkan wadah kerang ke atas gerobak. Mereka kembali menawarkan dagangannya pada para pembeli.
Dari kejauhan terlihat 2 orang mengawasi aktifitas Leon dan Jane.
"Kau yakin itu orang yang dicari tuan Mustafa?" tanya pria berbaju hitam.
"Namanya sama. Tapi type wajahnya berbeda dengan wanita yang dibawa tuan Mustafa," jawab pria berbaju coklat.
"Lagipula dia sudah beristri dan pedagang-pedagang di sini mengenalnya dengan baik. Rasanya tak mungkin dia." Pria berbaju coklat membalikkan badannya.
"Tapi bagaimanapun, kita harus melaporkan ini pada tuan Mustafa. Lalu mengawasi orang itu dengan ketat." Pria berbaju hitam mengikuti rekannya.
Mereka bertemu pria lain yang sedang duduk minum teh.
"Sekarang giliranmu mengawasi mereka. Nanti sore ku gantikan lagi." Pria berbaju hitam memberi perintah.
"Baik." Pria itu menghabiskan tehnya lalu berdiri.
*
*
Sebelum sore, dagangan Leon sudah menipis. Tapi masih ada tersisa sedikit kerang di wadah serta beberapa ikan asap. Tapi Leon tetap menutup gerobaknya.
"Itu belum habis," kata Jane.
"Biar. Sisakan itu untuk makan malam kita." Leon merapikan gerobaknya.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya pak tua di sebelah.
"Tidak. Kami menginap malam ini. Kami mau membeli beberapa keperluan rumah. Bisakah paman menjaga gerobakku sebentar?" tanya Leon.
"Tentu. Pergilah beli sesuatu untuk istrimu."
"Terima kasih paman. Kami belanja dulu," Leon tersenyum sopan.
Lalu dia membawa Jane menyusuri toko-toko. Membeli keperluan mereka untuk 2 minggu, juga membeli baju baru untuk Jane. Binar-binar di mata Jane menyiramkan kesejukan di hati Leon. Setelah itu mereka kembali ke tembok tempat kafilah dagang beristirahat.
Lentera-lentera telah dinyalakan. Toko-toko telah menutup pintunya. Gerbang kota juga sudah terkunci.
Leon, Jane bersama pak tua dan putranya menikmati makan malam bersama. Kerang-kerang yang tersisa hanya direbus di panci bersama kentang. Lalu mereka menikmatinya dengan saus yang dibuat oleh istri pak tua.
"Ini lezat sekali. Terima kasih," ujar pak tua senang.
"Ayah, lain kali belikan untuk ibu," cetus putranya.
"Hahahaa.. tentu saja. Ibumu harus mencobanya." Pak tua itu menganggukkan kepalanya setuju.
Malam berlalu damai. Semua pedagang tidur bergantian agar ada yang menjaga gerobak mereka. Seorang pria yang mengawasi kafilah itu juga mengambil waktu istirahat.
__ADS_1
'Pintu gerbang terkunci, memangnya mereka mau kemana,' pikirnya tenang.
******