PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 217. Terbang Sebebas Burung


__ADS_3

Robert menemani Kang sarapan. Robert menceritakan bahwa di dunia asalnya sudah tak ada lagi naga, peri, orc, elf atau manusia bersayap seperti Vivian. Semua itu hanya ada dalam cerita dan kisah filem.


Kang mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali dia meletakkan jari untuk menjawab peryanyaan atau melihat kenangan Robert tentang dunianya. Kang terpukau melihat perbedaan peradaban yang begitu besar.


"Karena keterbatasan fisik kami, makanya orang-orang cerdas menciptakan alat agar kami bisa berpindah cepat atau mengudara dengan burung besi yang besar."


"Pasti menyenangkan bisa terbang sebebas burung sepertimu. Melihat tempat indah ini dari ketinggian."


Robert menerawang, membayangkannya.


Kang melihatnya sambil tersenyum. Dia lalu menyelesaikan makannya. Setelah membereskan meja, ditariknya tangan Robert keluar rumah.


"Ada apa? Mau kemana? Jangan terus-terusan menarik tanganku. Ini bisa copot," protes Robert.


Kang kebiasaan sekali menarik tangannya lalu melompat ke sana kemari dari pohon ke pohon. Itu lebih menyeramkan dari naik rollercoster.


Kang berhenti di halaman depan rumah. Dia lalu merubah wujudnya jadi seekor naga.


"Waahhh.. di bawah sinar matahari, kau terlihat lebih gagah. Sama sekali tidak menyeramkan. Ku rasa kau naga tertampan di dunia," puji Robert.


Robert berjalan mengelilingi Kang dengan mata membesar. Senyuman kagum tak lepas dari bibirnya.


Kang menyentuh kening Robert.


"Ah yaa... betul. Aku memang belum pernah melihat naga lainnya. Tapi kalau dibandingkan dengan filem-filem di dunia kami, Kau jelas terlihat tampan..Dan... ada aura agung yang keluar dari tubuhmu. Itu membuatku merasa segan tanpa sebab."


Naga itu memiringkan kepalanya. Beberapa hal yang dicelotehkan pria masa depan ini, tidak dimengertinya. Kang meletakkan kaki depannya di dahi Robert.


"Aku mau...!" teriak Robert gembira.


Kang menarik tangan Robert. Mengarahkan ke punggungnya. Kali ini Robert tidak protes ditarik begitu. Karena Kang mengajaknya terbang mengelilingi dunia kecil itu.


"Hahahaa.... Dari punggungmu ini saja aku sudah bisa melihat hampir seluruh kebun sayur kita." Robert terus berceloteh gembira.


"Aaahhhhhh!"


"Hahahaaa...."


Robert bahagia sekali dibawa terbang. Tangannya memeluk leher Kang dengan erat agar tak tergelincir jatuh.


Mereka mengelilingi ladang gandum yang lumayan luas. Sedikit hamparan rumput dan hutan mapel. Lalu jajaran kandang ternak disamping sebuah kali kecil.


Kang mengitari area itu sekali lagi. Lalu melanjutkan membawa Robert melihat hamparan pepohonan lebat. Akhirnya Robert dapat melihat kompleks makam dan kuil dari ketinggian. Tempat itu ditata dengan indah. Bunga-bunga cherry yang selalu bermekaran, jadi point plus tempat itu.


"Kang, ku kira akan bagus jika kita bisa menanam satu pohon cherry seperti itu di depan rumah. Pasti indah." Robert mengutarakan pemikirannya.


Mereka mengelilingi selubung kompleks pemakaman. Robert senang sekali. Ini pengalaman yang tak kan terlupakan.


"Kang, apa kau lihat itu? Di sana!" tunjuk Robert ke arah bawah.


Kang turun perlahan.

__ADS_1


"Itu domba!" seru Robert heran.


Kang menurunkan Robert. Domba itu terpaku beku melihat Kang. Robert mendekati domba dan makin heran melihat ada tali menjerat lehernya.


"Apa kau terjerat sayang?"


Robert mengeluarkan pisaunya dan memotong tali itu. Begitu tali itu putus, tiba- tiba tali itu menghilang ke balik pepohonan.


"Apa itu?" pikir Robert heran.


Kang sudah mendekati tempat dimana tali tadi menghilang. Dia mengamati arah itu dengan cermat dan waspada.


"Ada apa Kang?" Robert mendekat. Tapi Kang menahannya agar tak berjalan lebih jauh lagi.


'Apakah Kang melihat sesuatu lagi di luar sana?' pikir Robert.


'Ahhh. Bodohnya aku. Mungkinkah orang yang kemarin menulis kata HALLO, yang mengirim domba itu masuk?' Berbagai spekulasi berkelebat di benak Robert.


'Mungkinkah makhluk itu juga sedang mencari jalan keluar dari tempatnya? Dan domba gemuk itu adalah korban penelitiannya? Betapa borosnya!' batin Robert.


"Tapi tulisan HALLO itu menggangguku. Kesan pertama yang terlintas adalah manusia moderen. Atau mungkin saja teman-temanku yang lain. Sejak terpisah dari Liam dan Laras, aku tak tau lagi bagaimana keadaan mereka." gumam Robert.


Kang menyentuh kening Robert, menanyakan apa yang dipikirkannya.


"Aku teringat dengan teman-teman seperjalanan ku. Entah dimana dan bagaimana mereka sekarang." Robert memandangi domba itu.


"Mungkin yang memeriksa tempat ini kemarin adalah teman-temanku Kang?" ujar Robert ragu.


Kang menyentuh dahi Robert.


Kang terdiam sejenak. Dilihatnya lagi arah tali itu menghilang. Kang menyentuh kening Robert. 'Mereka sudah pergi'.


"Ya sudahlah. Tapi lain kali, jika mereka memeriksa lagi, bisakah kau membiarkanku menyapa mereka? Memberi tanda?" tanya Robert.


Kang tak langsung menjawab. Tapi akhirnya dia mengangguk.


"Terima kasih Kang. Kau sangat pengertian!" Robert memeluk kaki naga itu dengan gembira.


"Mbeeekkkkk."


Perhatian keduanya kemudian beralih pada domba yang terlihat senang merumput di bawah pepohonan.


"Lihatlah. Dia terlihat gembira sekali. Mungkin di tempatnya dia selalu dikurung." Robert mengulas senyum lebar di wajahnya.


Kang menyentuh kening Robert.


"Yah, kau benar. Kalau begitu biarkan dia hidup bebas di sini. Toh tak ada binatang buas yang akan memangsanya." Robert setuju.


Kang menarik tangan Robert lagi dan menaikkannya ke punggung. Mereka kembali mengudara dan menyisir hutan. Hingga mencapai tebing dekat lembah.


Kang membawa Robert melihat sambil berputar-putar di atas lembah. Di bawah sana, ladang soba yang luas masih memamerkan bunga putih cantiknya.

__ADS_1


"Kang, kapan kita akan memanen sisa soba? Mungkin bisa dibagikan untuk Vivian dan teman-temannya." Robert mengingatkan. Kang mengangguk.


"Aaaaaaaaaahhh!"


Terdengar sebuah jeritan. Lalu suara hempasan. Kang dan Robert mencari asal suara.


"Di sana Kang!" tunjuk Robert ke arah semak ilalang di lembah.


Kang meluncur ke arah itu. Memperhatikan dengan seksama. Pelan-pelan diturunkannya Robert ke tanah.


Robert berlari menyibak rumpun ilalang yang bahkan lebih tinggi darinya.


"Adduuhhh..."


Suara keluh kesakitan itu jadi petunjuk utama.


"Siapa di situ? Apa kau terluka?" teriak Robert.


"Sssshhhh... Aaaaarrrgghhhh!" terdengar jeritan melengking.


Robert berlari dengan susah payah. Ingin tau apa yang terjadi. Tapi dia lalu tertegun. Tubuh besar Kang melayang di atas rumpun ilalang yang rebah.


"Kau mengangetkannya ya?" Robert tersenyum ke arah Kang.


"Ini manusia bersayap? Mau apa mereka ke sini?" gumam Robert.


Dibalikkannya tubuh yang tergeletak pingsan itu.


"Kang, ini Vivian!" Robert menunjukkan wajah Vivian.


Kang terdiam.


"Jangan malah diam. Ayo kita bantu dia dulu. Lihat sayapnya terluka. Dia tak kan bisa terbang pulang."


Kang mengangguk.


Robert memangku Vivian. Lalu Kang mengangkat keduanya ke punggungnya. Mereka terbang menuju rumah.


Kang turun di halaman depan yang luas. Menurunkan Robert dengan hati-hati. Robert lalu berlari ke dalam rumah. Dibawanya tubuh Vivian ke kamar Kang. Dibaringkan di lantai kayu yang biasa digunakan Kang untuk tidur. Itu adalah lantai split level yang posisinya lebih tinggi dari lantai batu.


Robert keluar kamar. Dilihatnya Kang sudah kembali ke wujud manusianya.


"Dia terluka cukup parah. Butuh waktu mengobatinya hingga sembuh. Jadi ku bawa dia ke kamarmu." Robert menjelaskan tanpa diminta.


"Dan kau, gantilah pakaian compang-camping itu. Ahhh,, kita harus menenun kain lagi untuk membuatkan lebih banyak baju baru untukmu." Robert menggerutu sambil berjalan.


Saat dia kembali dengan wadah air dan kain bersih, Kang sudah terlihat rapi.


"Ini. Tugasmu membersihkan luka dan mengobatinya." Robert menyerahkan wadah air ke tangan Kang.


"Aku akan siapkan makanan!" Robert menghilang ke dapur sebelum Kang menahan langkahnya.

__ADS_1


"Biarkan makhluk ribuan tahun itu mengurusnya. Beri waktu untuk cinta bersemi diantara mereka."


******


__ADS_2