
Tim Dean berdiri di depan pintu teleportasi. Satu-persatu anggota tim lain lenyap dari pandangan. Yang tersisa hanya Dean, Sunil, Alan, Robert, Michael dan Dokter Chandra yang ngotot ingin merasakan situasi di worm hole.
Keempat penjaga itu terkejut bukan main. Bagaimana caranya orang-orang asing itu bisa muncul dan lenyap begitu saja? Mereka benar-benar tak habis pikir.
"Selamat tinggal," ujar Dean.
Dia lalu melesat masuk ke dalam pintu bercahaya itu. Yang lain melambaikan tangan lalu dengan bersemangat, mengikuti Dean. Mereka semua menghilang di dalam pintu cahaya.
Para penjaga itu terpaku. Bagaimana ada orang-orang yang begitu bersemangat mengejar kematian?
"Sayang sekali. Mereka orang-orang baik. Tapi memilih jalan yang salah." Seorang dari penjaga itu menggelengkan kepalanya.
"Sudah. Kita lanjutkan berjaga saja," ujar yang lain.
"Apa kita perlu melaporkan hal ini?' tanya yang lain.
"Melaporkan apa? Memangnya ada yang percaya ucapanmu? Bertemu manusia bumi yang matanya bercahaya warna-warni. Yang bisa terbang? Yang bisa membengkokkan senjata?" Lalu orang-orang di basecamp itu akan merampas hadiah ini!" tunjuk penjaga itu ke dadanya yang berhias pin indah.
"Belum lagi, kita akan dihukum dengan kelalaian karena membiarkan mereka pergi!" timpal yang lainnya lagi.
"Tapi bagaimana menjelaskan senjata yang bengkok ini?" ujar pria itu bingung.
Mereka terdiam sebentar. Ini perkara pelik. Bagaimanapun semua peralatan yang digunakan harus dilaporkan ke basecamp.
"Katakan saja, saat hujan turun kemarin, kau berlari masuk. Senjata itu jatuh di luar sana. Saat pagi, sudah seperti ini," penjaga lain memberikan alasan yang bisa digunakannya.
Penjaga itu termenung.
*
******
Dean dan teman-temannya kembali berada di dalam lorong panjang. Tapi kali ini lorong itu tidaklah gelap sama sekali. Tubuh mereka melayang di dalam lorong penuh cahaya berkilau seperti cahaya bintang. Dan lorong ini tidak menyedot mereka dengan ekstrem seperti pengalaman sebelumnya.
Dean bahkan mengeluarkan sedikit tenaga untuk terbang. Tampaknya kekuatan lorong ini tidak sekuat lorong sebelumnya.
"Sebaiknya kita berhati-hati," ujar Dean.
"Kenapa? Bukankah dengan begini, kita tak perlu menderita tekanan yang terlalu besar?" tanya Alan.
__ADS_1
"Ku rasa Dean benar. Mengingat perjalan teleportasi di dunia Elf, pintu masuk dan keluar harus memiliki kekuatan yang cukup agar yang menggunakan bisa sampai tujuan dengan selamat. Tapi tekanan di sini terlalu lemah!" kata Robert.
"Apakah kau mau bilang bahwa worm hole ini mungkin mengalami gangguan?" Michael memastikan.
"Aku takutnya begitu. Cobalah berhenti sebentar. Jangan gunakan kekuatan kita," ujar Dean.
Enam orang itu berhenti menggunakan tenaga untuk terbang. Dan benar saja! Tubuh mereka hanya seperti diayun-ayun di lorong panjang itu.
"Kau benar. Worm hole ini kehilangan daya tariknya. Mungkin terjadi kebocoran, hingga daya tarik di tempat tujuannya tidak lagi terasa kuat. Masih terasa ada, tapi samar-samar." Sunil mengakui situasi itu.
"Entah kebocoran di jalur ini, atau kerusakan di area pintu keluar," sela Dean.
"Ayo kita terbang!"
Yang lain mengangguk, mengikuti komando Dean.
"Lalu bagaimana orang-orang Bumi Dua bisa melalui lorong ini? Kami saja harus terbang untuk melaluinya," batin Sunil.
Satu jam kemudian.
"Dean, aku melihat ada bagian yang tidak bercahaya di sana!' seru Sunil.
Lima temannya ikut melihat yang dimaksud Sunil. Lalu mereka terbang cepat ke arah depan.
"Lihat! Dinding lorong ini hancur sebagian. Apapun penyebabnya, ini mengakibatkan kekuatan lorong jadi berkurang," ujar Sunil.
Mereka melayang diantara lorong yang terputus itu. Hanya ada ketakjuban. Itu angkasa luar. Sedikit cahaya menerangi perbagai benda angkasa yang melayang di langit bebas tanpa batas.
"Itu bongkahan batu angkasa. Apakah itu yang disebut meteor?" tanya Michael.
"Banyak sekali," ujar Dokter Chandra.
"Apakah manusia Bumi Dua yang melewati lorong ini berakhir di sini?" tanya Michael lagi.
"Sangat disayangkan jika begitu. Mereka mati begitu saja demi ambisi pimpinannya," sahut Robert.
"Lalu bagaimana dengan kita? Jika tak menemukan sambungan lorong ini, kitapun akan bernasip sama!"
Alan jengkel melihat teman-temannya justru membahas orang lain. Sementara keadaan mereka juga tidak lebih baik.
__ADS_1
"Hemm, Alan benar," ujar Dean.
"Sekarang kita fokuskan perhatian untuk menemukan sambungan lorong ini. Atau kita juga akan menjadi sampah yang melayang di angkasa!"
Yang lain mengangguk. Mereka berpencar di sekitar lorong worm hole yang terputus itu. Kemampuan manusia cahaya yang hidup di bintang, membuat keenamnya bisa beradaptasi dengan lingkungan.
"Dean, aku menemukan cahaya redup di sana," lapor Sunil lewat transmisi suara.
Semua berkumpul di dekat Sunil. Mengamati cahaya redup yang dia maksudkan.
"Tidakkah itu terlalu jauh?" tanya Alan.
Tapi tak lagi ada cahaya membulat seperti lorong tadi di dekat sini," bantah Sunil.
"Tapi itu terlalu jauh. Apa mungkin lorong worm hole itu rusak dan terputus sejauh itu?" Alan masih membantah.
"Bisa saja. Jika ada yang meledak di lorong dan menghancurkannya. Atau worm hole ini sendiri ikut rusak saat terjadi bencana besar?" Dokter Chandra membagikan pemikirannya.
"Jadi bagaimana? Kita mau ke sana atau tidak? Yang pasti, kita tak mungkin kembali!" Robert mendesak keputusan bersama.
Akhirnya semua mengangguk setuju. Mereka melesat cepat ke arah cahaya redup yang terlihat di kejauhan.
A few moments later
Setelah terbang lama yang melelahkan. Menghindari tabrakan dengan bebagai batuan angkasa yang bergerak bebas.
"Lihat! Bukankah itu lorong worm hole?" Michael terlihat sangat senang.
"Kau benar, Sunil. Matamu hebat sekali!" puji Dokter Chandra.
"Baik, mari kita ke sana." Akhirnya Dean bisa tersenyum lega. Mereka menemukan pintu keluarnya.
"Yeayy ...."
Michael melesat cepat dan bersemangat. Alan menyusulnya. Yang lain menggeleng melihat kedua temannya yang kegirangan.
Tapi kegembiraan itu hanya sekejap! Seketika terdengar teriakan ngeri.
"Michaeeellll!"
__ADS_1
"Awaaaass!"
******