PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 250. Kafilah Dagang 2


__ADS_3

Kelima orang itu menyusuri jalanan kota yang ramai. Banyak macam ragam dagangan yang diperjual belikan di pasar kota ini. Sepertinya kota ini jauh lebih besar dari Kota Pelabuhan. Mereka juga ada menjual berbagai jenis daging.


"Lihat Dean. Ada rumah makan olahan daging di sana." Widuri menunjuk ke sebuah bangunan bertingkat yang ramai pengunjung.


"Bagaimana kau tau di sana ada olahan daging?" tanya Alan.


"Lihat bagunan di samping itu. Bukankah itu dapur? Lihat, ada banyak daging digantung di dekat tukang masak itu," tunjuk Widuri.


"Apa kau ingin makan daging?" tanya Niken heran. Bukankah mereka juga tak kekurangan stok daging?


"Bukan. Menurutku, jika di sini ada daging, maka kemungkinan daerah ini adalah pulau yang berbeda dengan pulau di kota Pelabuhan.


"Yaahhh... memang berbeda," sahut Dean.


"Kau tau?" tanya Widuri.


"Alan, kau ingat saat kapal melewati badai? Itu seperti akhir dari area laut tawar.


"Yah, aku ingat badai itu. tapi tak mengetahui jika seperti yang kau maksud," balas Alan.


"Yahh, menurutku seperti itu. Aku juga tak bisa membuktikannya," ujar Dean.


"Jadi, apa poinnya jika ini memang pulau yang berbeda?" tanya Niken bingung.


"Jika feeling Dean benar, artinya kapal telah membawa kita menuju dunia lain. Jadi kemungkinan berita tentang dinding cahaya di kota Rawa adalah benar merupakan batas dunia lain lagi," papar Widuri.


"Hemmm... aku faham maksudmu. Jadi ada kemungkinan besar kita bisa memasuki dunia lain dari kota Rawa."


Dean manggut-manggut.


"Yeayy.. semoga perjalanan kapal nanti tak ada kendala apapun. Jadi kita bisa bertualang dan mencari jalan pulang di kota Rawa." Ujar Indra optimis.


Saat mereka sedang menikmati suasana kota, tiba-tiba terdengar teriakan kencang, meminta pengguna jalan untuk menepi.


Dean memeluk Widuri erat dan menjauh dari jalan. Di sana, ada rombongan kereta kuda dan beberapa kuda lain sedang melintas cepat.


"Rombongan yang berpakain unik!" celetuk Niken.


"Seperti orang-orang di Arab, meskipun tidak persis sama!" Widuri menimpali.


"Apa lokasi kota ini dekat dengan daerah Arabia?"


Pertanyaan Indra tak ada yang bisa menjawabnya.


"Mungkin pedagang dari sana. Menumpang kapal, atau semacamnya?" Dean berkata dengan ragu.

__ADS_1


"Apa kau pikir kita mungkin bisa mengikuti mereka?" Alan mengatakan ide di kepalanya.


"Untuk apa? Kita tidak mendapat informasi apapun tentang dunia mereka. Jika ada berita aneh, pasti cepat tersebar." Bantah Dean.


"Maksudmu?" tanya Alan bingung.


"Maksudku, selama ini Ketua Kota tidak pernah sekalipun menyinggung tentang orang-orang berpakaian asing itu. Jadi, harusnya mereka tidak dianggap aneh di sini. Mungkin sudah sering berdagang di sini." Dean menjelaskan dengan lebih rinci.


"Berarti, selama ini tidak ada berita ajaib dari daerah asal mereka. Jadi, untuk apa kita ke sana?" Indra menimpali ucapan Dean.


"Ya... ya... aku mengerti." Alan manggut-manggut.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


*


******


Leon dan Jane mendorong gerobak mereka menuju kota pagi subuh itu. Jane sangat bersemangat. Tadi Leon berjanji akan membeli kuda jika rezeki mereka bagus hari ini. Jane sangat senang. Perjalanan mereka akan lebih cepat, jika punya seekor kuda.


Di gerbang kota, seperti biasa, nama mereka dicatat petugas.


"Leon, aku mendengar kabar dari seorang pembeli. Entah kau mau dengar atau tidak," ujar pak tua yang biasa berjualan di sebelah Leon.


"Kabar apa?" tanya Leon sambil melayani pembeli.


"Bukankah katamu sangat berbahaya bagi kafilah dagang untuk berjalan jauh yang mengharuskan mereka bermalam di gurun?" tanya Leon heran.


"Kali ini kafilah itu akan dikawal 50 orang pengawal bayaran! Apa kau tertarik untuk ikut?" tanya pak tua tersenyum.


Leon menoleh ke arah Jane yang sedang membungkus barang yang dibeli pelanggan.


Leon jelas tertarik untuk pergi. Tapi bagaimana dengan Jane? Apakah harus dibawa atau ditinggal? Leon merasa dilema.


"Jika kau mau membawa barang-barang, maka gerobakmu ini harus ditarik kuda. Atau kau mengikuti gerobak orang lain dengan membayar." Pak tua menjelaskan.


"Kapan mereka akan berangkat?" tanya Leon ingin tau.


"Besok pagi," jawab pak tua.


Leon menganggukkan kepalanya dan mulai berpikir keras. Mereka-reka rencana yang mungkin dilakukan.


Beberapa waktu kemudian, saat pembeli sepi.


"Jane, tadi pak tua menyampaikan berita,"

__ADS_1


Leon lalu mengatakan berita yang didapatnya. Dan bahwa dia sebenarnya ingin melihat kota itu.


""Aku ikut," kata Jane. Dia menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Ini mungkin akan berbahaya. Aku bisa membelikan kuda agar kau bisa membawa gerobak sendiri untuk berdagang. Bagaimanapun, kau lebih aman tinggal di pantai ketimbang ikut kafilah dagang ke tempat jauh."


Leon menyampaikan pemikirannya. Tapi Jane menggeleng dengan kuat.


"Aku ikut," katanya sekali lagi.


Leon menghembuskan nafas. Jane sudah memutuskan. Bukankah jadi lebih mudah?


"Baiklah. Nanti kuda beli kuda untuk menarik gerobak ini. Lalu kita bergabung dengan mereka."


Akhirnya Leon dapat membuat rencana dengan segera. Dia membuka penutup dagangannya. Tinggal beberapa ikan kering, udang, garam dan bubuk agar-agar yang memang dia muat lebih banyak kali ini.


Leon merapikan gerobaknya. Menutup rapat wadah garam dan bubuk agar-agar. Dua item itu akan dijualnya di kota baru nanti. Selebihnya adalah bekal untuk makan mereka malam ini dan di perjalanan.


"Kau sudah tutup?" tanya pak tua.


"Ya. Sudah tak ada barang yang bisa dijual lagi," jelas Leon.


"Aku akan bergabung dengan kafilah dagang itu. Jadi sisa sedikit untuk bekal makan di perjalanan," kata Leon.


"Benarkah? Jadi kau ingin ikut? Ahh, andai saja anakku ikut bersamaku hari ini. Akan kuminta dia pergi bersamamu melihat tempat baru."


Pak tua itu menyesali ketiadaan anaknya hari itu.


Leon tersenyum melihatnya.


"Kami mau melihat kuda dulu. Titip gerobakku paman," ujar Leon.


"Ya... ya... pergilah!" pak tua itu mengangguk mengerti.


Leon membawa Jane untuk melihat kuda. Mereka memang telah berencana untuk membeli kuda atau bagal hari ini. Mereka sudah menabung selama beberapa waktu. Ditambah berita tentang kafilah dagang, maka membeli kuda jadi satu keharusan.


Leon dan Jane asik memilih kuda yang sesuai dengan uang mereka. Dan Jane sepertinya sudah jatuh cinta pada kuda cantik abu-abu berbintik putih seperti taburan bintang.


Leon menanyakan harganya pada penjual. Mereka memeriksanya bersama. Leon puas dengan kuda itu. Dia membayar kuda itu komplit dengan tali untuk dipasang pada gerobak dan juga setumpuk jerami untuk bekalnya di perjalanan.


Penjual itu setuju untuk membantu memasangkan kuda di gerobak Leon. Mereka kembali ke dekat dinding kota, dimana gerobak Leon berada.


"Kau hebat. Sekarang istrimu tak perlu bekerja keras mendorong gerobak lagi." Puji pak tua.


Leon tersenyum. Dia bahagia melihat wajah Jane yang berseri-seri dan tak henti mengelus-elus kuda berbintik-bintik itu.

__ADS_1


'Apakah seperti ini rasanya membahagiakan istri?' pikir Leon termangu.


******


__ADS_2