PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 360. Berkat Sang Penguasa 2


__ADS_3

Sore itu, satu panci bubur daging dan sayuran telah siap. Dean sedang mengisi lima mangkuk bubur, ketika seseorang masuk ke halaman.


"Aslan!" teriaknya memanggil.


"Ya, bibi!" Aslan menyahut dari ambang pintu dan berlari menghampiri wanita paruh baya di depan pagar.


"Siapa mereka?" tanya wanita itu. Dia belum pernah melihat orang lain datang ke kediaman Aslan.


"Ah ... kakak nenek dan kerabatnya datang," jawab Aslan spontan.


"Apa?"


Wanita paruh baya itu jelas terkejut. Mangkuk sayur yang dipegangnya nyaris jatuh.


Aslan baru merasa menyesal, telah lancang bicara. Biarpun itulah kejujurannya, namun tentu tak mudah bagi yang lain menerima kenyataan itu.


"Pegang ini!"


Wanita itu menyerahkan mangkuk sayur ke tangan Aslan. Dia kemudian berjongkok dan berlutut.


"Selamat datang, Tuan Guru. Terimalah hormat kami!" teriaknya sambil berlutut.


Aslan terpaku melihatnya. Dia tak pernah bertemu nenek angkatnya. Tetapi melihat penghormatan seperti ini, pasti dulu neneknya sangat hebat. Namun, dari semua kehebatan nenek, hanya ilmu memanah itulah yang diturunkan ibunya. Dan dia mendapat pujian sebagai pemanah terbaik di kelompok mereka.


"Ada apa ini?" tanya Dean yang sedang membawa mangkuk bubur.


Aslan mendekat, menceritakan yang terjadi, sebelum bibi tetangganya itu memberi hormat berulang kali.


"Biar ku katakan pada dokter Chandra," ujar Dean yang segera menghilang ke dalam rumah.


Tak lama dokter Chandra keluar, diiringi Dean dan Robert di belakang. Mata dokter Chandra menyipit. Diangkatnya jari, menahan dari jauh tangan wanita itu, agar berhenti bersujud.


Kali ini, tak hanya wanita itu yang terkejut, Aslan juga sangat terkejut. "Apakah mereka manusia?" pikirnya dengan gemetar. Mangkuk sayur ditangannya bergetar hebat.


Dean menarik mangkuk itu dari jauh. Membawanya melayang dan masuk ke dalam rumah, agar tak tumpah. Aslan kini ikut jongkok dan menunduk. Dia merasa amat sangat takut.


"Kau siapa?" tanya dokter Chandra pada wanita itu.


"Aku cucu dari murid Guru. Tapi sejak aku kecil, Nenek dan Kakek selalu menceritakan kehebatan Guru," jawabnya dengan mimik bahagia.


Berbeda dengan Aslan yang ketakutan, wanita itu justru bahagia bisa melihat kehebatan saudara dari guru kakek-neneknya. Yang berarti guru kakeknya juga tak kalah hebat dari orang yang berdiri di depannya itu. Itu sesuai dengan cerita yang dituturkan kepadanya.


"Yang menjadi guru adalah adikku. Aku tak pantas mendapat penghormatan ini. Bangunlah!" perintah dokter Chandra.

__ADS_1


"Tidak! Tidak berani!" Wanita itu bersikukuh untuk terus berlutut.


"Aku tak tau bagaimana pengaturan adikku. Tapi aku berbeda dengannya. Aku tak suka melihat orang berlutut di depanku!" kata dokter Chandra tegas.


Mendengar itu, Dean dan Robert bergerak cepat dan membuat dua orang itu segera berdiri. Tapi tubuh Aslan benar-benar bergetar ketakutan. Dia tak dapat berdiri tegak. Robert membawanya duduk di sebongkah batu di halaman.


"Ap-pa ka-kalian ma-nu-sia?" tanyanya tergagap.


"Hahahaha ... tentu saja. Kami juga punya keluarga, bisa lapar, bisa tidur, bisa terluka, bisa sedih ... sama sepertimu!" Robert menenangkannya.


"I-ibu tidak pernah bercerita ten-tang kehebatan nenek, selain sebagai pe- pemanah yang tak terkalahkan.


"Mungkin karena ibumu paling suka memanah. Jadi, hal lain tidak dianggapnya hebat. Atau, karena sudah terbiasa, jadi dianggap tidak istimewa lagi," jelas Robert.


Aslan manggut-manggut. Dia mulai mengerti sudut pandang ibunya. Dia tak bisa menyalahkannya. Aslan menghembuskan nafas panjang, menenangkan keterkejutannya.


"Kukira, kau sudah tenang sekarang." Robert tersenyum dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Aslan, bubur di panci masih banyak. Bagikanlah pada tetanggamu yang lain," perintah Dean. "Setelah itu, cepat kembali. Ibumu butuh disuapi, bukan?" tambah Dean lagi.


"Ya, segera kulakukan!" Aslan bergerak cepat. Dia harus menyuapi ibunya dengan bubur hangat.


"Bibi, bantu aku membagikan bubur yang dibuat mereka, pada yang lainnya."


"Ah, tentu saja. Kita harus membagikan berkat ini untuk yang lainnya," ujarnya cepat.


Dua mangkuk yang sudah terisi, segera dibawanya pergi dengan sukacita. "Aku harus mengabarkan hal ini pada yang lainnya. Pasti gempar!" gumamnya senang.


Dan ... itulah yang terjadi.


Ketika Aslan keluar pagar, dia melihat semua anggota keluarga di pulau itu berjalan menuju rumahnya. Mereka bersuara dengan sangat keras, tapi bukan sedang marah.


"Di mana dia?" tanya seorang pria dengan wajah berseri.


"Siapa?" tanya Aslan bodoh.


"Kakekmu!" ujar pria lain tak sabar.


"Kakek? Oh, maksudmu Kakak Nenekku?" tanya Aslan kembali.


"Bukankah itu artinya dia Kakekmu! Dasar anak bodoh. Minggir. Kami mau bertemu!"


Aslan terdorong ke samping saat orang-orang berebut masuk halaman. Tapi tak semua bisa masuk. Jadi anak-anak dibiarkan di luar pagar.

__ADS_1


Aslan masuk kembali ke halaman, dan meletakkan mangkuk bubur di tangannya, di dapur. Dia segera lari menuju rumah. Namun, keributan itu telah sampai di telinga tamu-tamunya. Robert keluar dan melihat kerumunan orang memenuhi halaman yang sebelumnya lengang.


"Guru! Apakah Anda saudara Guru kami?" tanya salah seorang diantaranya.


"Bukan. Tapi, jika ingin bertemu, tertiblah sedikit," ujar Robert. Tempat itu hening dengan cepat. Robert masuk lagi ke dalam rumah.


Tak lama, dokter Chandra yang belum sempat makan, keluar lagi. Kali ini dia tersenyum. Tubuhnya sedikit diterangi sinar putih semu. Itu karena Penguasa merasa haru. Bahwa adiknya ternyata begitu dicintai oleh pengikutnya.


Sontak saja, hal tersebut membuat semua orang di halaman berjongkok di tanah. Mereka telah diingatkan oleh bibi yang pertama, agar jangan sampai bersujud. Itu akan membuat Saudara guru mereka marah.


"Guru, beri kami berkatmu!" teriak salah seorang dari kerumunan.


"Berikan kami berkatmu!" pinta yang lainnya.


Sebelum makin berisik, dokter Chandra mengangkat tangannya. Semua orang jadi diam, menunggu titah.


"Aku tidak tau, berkat seperti apa yang biasa diberikan adikku. Tetapi, jika dia begitu dicintai di sini, maka aku harus berterima kasih," ujar dokter Chandra.


Sambungnya lagi, "Apakah ada anak-anak di tempat ini? Biar mereka yang mendapat berkatku," titah Penguasa.


Kerumunan itu memberi ruang bagi anak-anak supaya maju ke depan. Anak-anak polos, dan berpenampilan sederhana. Ada enam belas anak yang kemudian berbaris dua, dibedakan laki-laki dan perempuan.


Dokter Chandra mengarahkan kedua tangannya pada dua kumpulan anak-anak itu. Seketika dua selubung cahaya melingkupi kelompok anak-anak.


Suara-suara berdengung di barisan orang tua, langsung terhenti, saat Robert terbang di atas mereka dan mengikatkan untuk tidak mengganggu konsesntrasi Penguasa. Mereka langsung diam dengan mata membesar.


"Luar biasa. Kerabat Guru bahkan bisa terbang!" gumam salah seorang di barisan belakang.


Tak lama, cahaya di depan, meredup. Anak-anak itu masih sedikit bingung.


"Aku memberkati mereka dengan kesehatan dan kecerdasan. Kelak, mereka akan memajukan negara ini hingga terkenal ke seluruh dunia, dan jadi negara kaya!" ujar dokter Chandra.


"Terima kasih, Guru. Terima kasih!" Para orang tua di belakang, kembali berjongkok mengungkapkan rasa bahagia mereka.


Bubarkan mereka, aku lelah," ujar dokter Chandra lewat transmisi suara.


Robert dan Dean bergerak cepat. "Kalian bisa bubar sekarang. Guru harus beristirahat setelah mengeluarkan tenaga untuk memberkati begitu banyak anak."


"Ya, kami mengerti. Terima kasih. Kami pulang sekarang," ujar orang-orang tua itu.


Aslan menyusul menyerahkan mangkuk bubur yang tadi hendak dibagikannya.


********

__ADS_1


__ADS_2