
Hari ketiga tahanan tak bisa keluar. Mereka sudah jengkel selalu diberi bubur dan dikurung. Situasi sedikit panas saat ini.
Kelompok Dean seperti biasa kembali berada dekat dengan sel untuk menjaga Penguasa Cahaya serta menjauhi keributan. Mereka tidak lagi bermain seperti sebelumnya. Tapi hanya berdiri melihat situasi sambil mengobrol.
"Jadi bagaimana pertimbangan Yang Mulia?" tanya Alan pada Dean lewat transmisi suara.
Tolong jangan tunjukkan reaksi saat ku katakan hal ini," Dean memperingatkan.
Alan dan Michael saling pandang. "Apakah itu hal berbahaya? Tak terduga? Atau sesuatu yang menjijikkan?" tanya Michael.
Dean menggeleng. Ini diluar perkiraan kita."
Alan dan Michael mendengarkan dengan serius.
"Yang Mulia bilang, Hanya kekuatan jiwa beliau yang tak bisa ditundukkan oleh Hu Da si pengkhianat itu. Dan takdirnya adalah tidak akan mati jika bukan karena usia tua."
Dean menguraikan pembicaraan mereka malam sebelumnya.
"Bukankah itu bagus?" kata Alan.
"Yah, harusnya bagus jika masih lama. Tapi Penguasa mengatakan bahwa waktunya hampir tiba. Tubuh fisiknya sudah melemah ...." ujar Dean.
"Maksudmu?" Michael tak sabar mendengar penjelasan Dean yang sepotong-sepotong.
"Penguasa bilang Hu Da dapat menekan kekuatan jiwa bangsa Cahaya. Kecuali dirinya."
Alan ingin memotong pembicaraan, tapi Dean mengangkat tangan memintanya diam.
"Biar ku selesaikan dulu," ujar Dean.
"Penguasa bilang, Beliau akan memberikan pecahan jiwanya untuk kita. Jadi kita bisa punya kekuatan untuk menghadapi tekanan Hu Da dan pergi dari sini."
"Apa?" Alan terkejut.
__ADS_1
"Bukankah hal itu hanya semakin melemahkan dirinya?" tanya Michael heran.
Dean menunduk, menghela nafasnya.
"Apa kalian tau usia Penguasa saat ini sudah hampir 5000 tahun? Dia sudah hampir mencapai batasnya."
"Sebelumnya Hu Da sengaja mengurung dan membiarkan Beliau tua hingga mati di penjara. Agar dapat mengambil alih kekuatan jiwa Penguasa untuk dirinya."
"Awalnya Penguasa sudah putus harapan bagaimana mengantisipasi hal itu. Sampai kemudian kita muncul. Melihat kita bisa menerima jiwa-jiwa bangsa Cahaya, maka Penguasa juga akan memberikan pecahan jiwanya untuk kita semua. Agar Hu Da tak bisa mengambil manfaat dari tubuhnya."
"Apakah satu tubuh bisa menerima dua jenis jiwa berbeda secara bersamaan?" selidik Michael.
"Penguasa memiliki kemampuan memecah jiwanya seperti Z," jawab Dean.
"Kenapa tidak dipindahkan saja jiwanya utuh ke salah satu dari kita? Masih ada Indra, Leon dan Dokter Chandra kan?" Alan ikutan nimbrung.
Dean mengangguk. "Bisa juga sih seperti itu. Tapi nanti orang itu pasti akan dikurung lagi oleh Hu Da! Itu sebabnya Penguasa ingin memecah jiwanya untuk kita semua, agar Hu Da tak bisa mendapatkan keinginannya. Selain itu, kita punya kemampuan asli untuk mempertahankan diri dan melawan balik serangan yang mungkin mereka lakukan."
"Aku mengerti. Dengan mendapat pecahan jiwa Penguasa, kita mendapatkan perlindungan dari tekanan Hu Da. Jadi bisa bertarung melawannya!" Alan membuat kesimpulan.
"Awalnya seperti itu. Tapi aku katakan pada beliau, bahwa kebijaksanaan beliau sebagai Penguasa juga harus dilestarikan. Jadi, beliau akan membagi 6 jiwanya. Untuk kita berlima, dan menurunkan sisanya beserta semua ilmu dan kebijaksanaannya pada salah satu dari yang belum mendapat jiwa bangsa Cahaya," jelas Dean.
"Hemmm ... ku pikir, yang cocok menerimanya adalah Dokter Chandra. Bagaimana menurut kalian?" tanya Alan.
Michael dan Dean mengangguk setuju.
"Dokter Chandra memang cocok menerimanya," sahut Dean.
"Baiklah, kita sepakati soal ini. Kapan akan dilakukan? Tinggal beberapa jam lagi sel akan dikunci kembali," Alan mengingatkan.
"Aku sudah menerimanya tadi malam. Jadi baiknya kalian pindahkan dulu Sunil dan Robert ke penyimpananku, agar bisa segera mendapatkan pecahan jiwa Penguasa," kata Dean.
"Kau benar-benar mengejutkan. Kau sudah menerimanya, tapi masih ingin mendiskusikan lagi dengan kami? Tak bisa dipercaya!" ujar Alan kesal.
__ADS_1
"Pindahkan Sunil dan Robert dulu, nanti kau bisa lanjutkan kekesalanmu," balas Dean tersenyum.
"Kau!"
Alan menarik baju Dean. Dan berbisik ke telinganya. Sudah ku pindahkan. Tapi nanti kita perhitungkan ini."
"Sudah, jangan bertengkar!" lerai Michael.
"Huh! Aku tunggu!" sambut Dean dengan mata mendelik.
Dean berjalan masuk ke selnya, meninggalkan Alan yang masih emosi. Dia harus secepatnya membantu pecahan jiwa Penguasa mencapai Robert dan Sunil yang kini berada di ruang penyimpanannya.
"Hei, kalian di sana! Jangan memulai perkelahian. Atau pintu sel akan ditutup sebelum waktunya!" Penghuni sel lain mengingatkan.
Alan berdiri menyamping. Dia masih cemberut tapi tidak lagi ribut di depan pintu sel Dean.
"Lebih baik kalian memainkan permainan konyol seperti kemarin, dari pada bertengkar."
Kata-kata itu disambut gelak tawa penghuni lainnya.
"Ah, mereka pasti juga merasa bosan seperti kita. Tiga hari dikurung terus. Pasti jadi emosi."
Beragam komentar terdengar di lorong sel. Lebih banyak orang berada dekat dengan selnya ketimbang di ruang makan. Mereka menghindari perkelahian dari kelompok-kelompok yang memang selalu membuat keributan.
"Ayo, kita buat permainan tebak-tebakan saja," bujuk Michael pada Alan.
Alan ditarik duduk di lantai depan pintu sel Dean. Tak lama mereka mulai membuat tebak-tebakan. Lambat laun wajah tegang Alan kembali melunak. Dia mulai ceria dan terkekeh senang setiap kali menang.
Dean keluar setelah proses pemindahan pada Sunil dan Robert selesai. Dia ikut nimbrung bermain.
Melihat ketiga orang itu kembali bermain dengan akur, penghuni lain hanya bisa menggelengkan kepala.
"Benar-benar teman yang baik. Cepat sekali akurnya," komentar mereka.
__ADS_1
******