PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 170. Tentang Robert 1


__ADS_3

Saat mendaki tebing karang yang ada dalam celah, Robert tak menyadari jika dia telah melintasi batas dunia lain.


Dia terus memanjat hingga ke atas tebing. Namun dia terperanjat begitu tiba di atas. Sebatang anak panah langsung melesat ke arahnya. Intuisi yang kuat menyelamatkan nyawanya saat itu. Robert mengelak dan segera berbalik ingin kembali turun ke dinding tebing. Namun dinding yang barusan didakinya itu telah lenyap tak berbekas.


Terdengar sebuah teriakan nyaring yang tak dimengertinya.


Sebuah pedang tajam diarahkan ke lehernya. Saat itulah Robert sadar, bahwa dia telah melintasi batas dunia lainnya.


Dia melirik situasi sekitar dengan ekor matanya. Meski telah berulangkali melintasi batas dunia lain, tapi ekspresi terkejut itu tetap tak bisa hilang. Tak heran ada anak panah saat dia sampai di permukaan. Karena Robert muncul tepat di tengah-tengah arena latihan memanah.


Semua orang di situ terkejut. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seseorang dengan pakaian asing muncul dari kehampaan. Petugas berseragam langsung menghunus pedang untuk menahannya.


Robert dibekuk dan hanya bisa menurut. Bagaimana aku bisa ada di sini? Bagaimana dengan Laras dan Liam? Pikirannya kalut, tapi tak dapat berbuat apapun. Semua orang asing mengelilinginya. Wajah-wajah oriental itu sungguh mengejutkannya.


'Bangsa apa mereka? Cina? Korea? Jepang atau Mongol?' batinnya. Robert sulit membedakan bangsa-bangsa ini karena memiliki ciri khas mata yang mirip.


Seseorang bicara kasar sambil mendorongnya hingga berjongkok di tanah.


"Aku Robert. Aku berasal dari dunia lain. Aku melintasi ruang dan waktu. Aku tak sengaja mengganggu latihan kalian!" Robert mencoba menjelaskan.


Petugas yang mendorongnya tadi tertegun. Tapi sebuah suara membuatnya langsung menyeret Robert pergi dari sana. Dua orang pengawal yang memegang tombak mengikuti dari belakang.


Robert melewati beberapa bangunan unik dan indah, khas Asia. 'Negara apa ini? Tahun berapa?' Robert terus bertanya-tanya dalam hati.


Akhirnya Robert tiba di sebuah bangunan dengan dua orang penjaga berdiri di pintu masuknya. Petugas yang memegangi tangan Robert bicara sebentar. Lalu pintu kayu besar dan berat itu dibuka. Robert ditarik agar ikut masuk ke dalam.


Mereka melewati samping bangunan terdepan. Banyak petugas berseragam lalu lalang. Akhirnya Robert mengerti tempat apa itu, setelah melihat ruang-ruang dengan jeruji kayu di bagian belakang bangunan. Ini adalah ruang tahanan.


Robert dibawa ke salah satu ruang penjara yang kosong. Dia dijebloskan ke penjara begitu saja.


"Hei, bukan begini cara kerja hukum. Kalian harus dengar pembelaanku dulu sebelum menahanku." Protes Robert kesal. Tapi petugas itu tak peduli. Robert dibiarkan sendirian setelah pintu dikunci.


"Ah, sudahlah. Aku istirahat dulu saja." Robert melihat tumpukan jerami di sudut ruangan itu. Dia lalu duduk di sana


Ruang tahanan di sini hanya dibatasi teralis. Semua penghuninya bisa saling melihat satu sama lain. Namun tak seorangpun yang saling menegur. Semua diam dengan persoalan masing-masing.


Robert merasa lapar. Entah jam berapa sekarang. Tapi tampaknya tahanan belum diberi makan. Robert akhirnya memilih untuk membaringkan tubuhnya. Dia yakin kehadirannya yang tiba-tiba itu akan membuatnya diinterogasi nanti. Jadi tunggu saja.

__ADS_1


*


*


Robert terbangun saat mendengar pintu ruangannya dibuka. Tampaknya hari mulai gelap. Beberapa penerangan di dinding sudah dinyalakan. Seseorang masuk dan meletakkan 2 mangkuk dekat pintu. Orang itu keluar dan berjalan ke sel lain lalu melakukan hal yang sama. Pintu sel Robert telah dikunci kembali oleh penjaga.


Robert bangun. Dia ingin melihat apa yang diletakkan tadi.


'Bubur dan air' pikirnya.


Robert melihat ke arah tahanan di sel lainnya. Mereka mengambil mangkuk bubur dan menghabiskan isinya dengan cepat. Robertpun melakukan hal yang sama. Dia sudah sangat lapar. Mendapat semangkuk bubur dan air minum adalah hal baik.


Dengan segera kedua mangkuk di depannya sudah kosong juga. Lalu dia kembali ke tempatnya berbaring tadi. Rasa perih dan panas di perutnya sudah mulai reda. Robert memilih untuk duduk bersandar di tembok. Tak tau mau melakukan apa.


Malam di penjara ini tidaklah dilalui dengan tenang. Beberapa tahanan dibawa dan kembali silih berganti. Robert mengamati. Mereka pergi ditarik lalu kembali dengan dipapah. Suara rintihan terdengar dari beberapa sel.


'Apakah petugas di sini terlalu sibuk saat siang hingga pemeriksaan dilakukan malam hari?' pikir Robert.


Tapi sampai Robert ketiduran lagi, dia tak juga mendapat giliran diperiksa.


Lalu didengarnya suara kresek-kresek jerami dari sel sebelahnya. Robert memperhatikan pria itu berjalan tertatih, mondar-mandir di ruangannya sempit. Wajahnya kotor, dengan janggut dan kumis tak beraturan. Namun Robert bisa melihat bahwa dibalik kesemrawutan itu, paras pria itu bagus.


Pria itu melepas pakaiannya, menyobeknya dengan gerakan tegas. Seakan sudah membuat satu keputusan. Robert merasa curiga. Robert melangkah ke dekat jeruji yang membatasi tempat mereka.


"Hei, boleh aku tanya sesuatu?"


Suara Robert mengalihkan perhatiannya sejenak. Hanya sejenak. Orang itu kembali menyobek-nyobek bajunya yang kotor. Tapi Robert bisa lihat bahwa itu terbuat dari bahan yang bagus.


"Negara apakah ini? Cina, Korea atau Jepang?" tanya Robert Lagi.


Orang itu mengerutkan dahinya karena merasa terganggu. Dia melihat ke arah Robert dengan mimik tak senang.


"Apa kau tau tahun berapa ini?" tanya Robert lagi.


Orang itu memunggungi Robert karena merasa sangat terganggu. Robert juga sudah tak punya ide lain lagi untuk memecah konsentrasi orang itu.


Ketika Robert melihat kain baju yang disobek-sobek itu diikat menjadi tali, Robert langsung cemas.

__ADS_1


"Apa kau seputus asa itu sampai ingin bunuh diri? Apa rupanya kesalahanmu hingga dihukum seperti ini?" Robert menegurnya lagi.


Tapi pria itu bergeming. Dia masih sibuk menyambung-nyambung tali kain.


"Hei, aku bicara padamu. Jangan tidak sopan begitu. Jika ada yang mengajakmu bicara, kau harus melihatnya." Nada suara Robert mulai naik. Dia ingin menarik perhatian penjaga untuk datang dan memeriksa.


Pria itu berbalik dan melotot marah. Dia berjalan menghampiri Robert. Entah karena tekanan apa, Robert tak bisa bergerak untuk menjauh. Tangan pria itu terulur dan mencengkeram leher Robert.


'Tenaganya kuat banget. Aku yakin dengan sekali sentak, leherku bisa patah olehnya' batin Robert.


Dengan susah payah karena jalan nafasnya tertahan, Robert menangkup dua tangannya di dada untuk minta maaf (🙏). Dia hanya ingat itu cara orang Indonesia untuk menekankan maksud permintaan maaf. Hal itu dipelajarinya selama berlibur di Indonesia.


Orang itu merenggangkan cengkeramannya, lalu melepaskan Robert dengan mendorongnya menjauhi jeruji kayu pemisah. Pandangannya tajam mengancam.


Robert bersyukur tak mati tadi. Robert merasa janggal. Orang sekuat itu mana mungkin putus asa dan ingin bunuh diri.


"Apakah dia...?" Robert terkejut karena praduganya kali ini sepertinya benar.


"Hei, kau ingin melarikan diri? Boleh aku ikut? Ijinkan aku ikut."


Robert bersuara rendah, takut terdengar penjaga. Dengan isyarat, Robert berusaha menyampaikan bahwa dia juga ingin keluar dari tempat itu.


Orang itu masih geram, dia memperhatikan bahasa isyarat yang dibuat Robert. Entah dia paham atau tidak, tapi dia menggeleng.


"Kau menggeleng karena tak ingin aku ikut. Atau karena tak mengerti maksudku?" tanya Robert lagi.


Pria itu mendongak ke arah lorong penjara. Dia bergerak cepat kembali ke tumpukan jerami dan pura-pura tidur. Semua tali kain yang dibuatnya tadi sudah tak terlihat.


Robert juga pura-pura tidur bersandar di jeruji kayu. Penjaga itu ternyata hanya berkeliling untuk memeriksa. Setelah sampai di ujung penjara, dia berjalan kembali ke arah pintu depan. Tak lama terdengar suara percakapan para penjaga yang duduk di meja dekat pintu masuk. Lalu tempat itu kembali sunyi.


Robert yang tak mendengar bahkan satu tiupan anginpun, merasa heran. Matanya tiba-tiba memberat. Tapi masih sempat menoleh ke arah pria di sebelah.


"Bawa aku pergi." kata Robert lirih dengan tangan terulur.


Matanya yang mulai buram melihat dinding yang sebelumnya jadi sandaran runtuh. Pria itu melompat keluar dan menghilang. Lalu semua gelap.


*****

__ADS_1


__ADS_2