PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 193. Pintu Menuju Dunia Lain


__ADS_3

"Ini makananmu. Mau ku suapi?" tanya Liam lembut. Dia masih merasa menyesal jadi penyebab jatuhnya Laras.


"Kau sudah makan?" tanya Laras.


"Aku bisa makan setelah ini." jawab Liam cepat.


"Kemarikan piring itu. Aku masih bisa makan sendiri." Tolsk Laras.


"Tapi..."


"Yang sakit punggungku, bukan tanganku," Laras memotong perkataan Liam.


"Baiklah. Kalau butuh yang lainnya, panggil saja." ujar Leon lembut.


"Hemm..." sahut Laras. Dia langsung menyuap makanannya ke mulut.


Leon keluar dan makan bersama yang lainnya. Semua gembira karena perut mereka telah terisi sekarang. Ubi kukus, ikan bakar dan tumis sayuran itu terasa sangat nikmat.


"Hari sudah sore. Kenapa pemilik rumah ini belum kembali ya?" Ujar Kenny.


"Entahlah. Tapi kita bisa beristirahat di sini malam ini. Semoga besok kita bisa bertemu dan meminta maaf." kata Liam mencoba menenangkan.


"Di mana kita akan beristirahat?" tanya seorang gadis.


"Bersihkan saja ruangan ini. Aku tadi melihat sapu di dekat pintu gudang." kata Mattew.


Para pria mengangkat peralatan makan ke dapur. Membersihkan dan menyusunnya dengan rapi seperti semula.


Saat kedua gadis itu membersihkan rumah yang berdebu, Mattew dan Kenny memandikan anak-anak itu bergantian. Liam melihat ada 3 mangkuk kecil bersumbu di dekat dapur.


'Harusnya ini wadah pelita. Tapi di mana pemilik rumah meletakkan minyaknya?'


Liam mencari-cari hingga masuk ke ruang makan. Tak ketemu. Lalu Liam memeriksa rak di gudang. Liam menemukan potongan lemak hewan di dalam wadah gerabah.


"Kelihatannya bukan pakai minyak untuk menyalakan pelita. Tapi memakai lemak yang harus dicairkan lebih dulu." Liam bicara sendiri.


Liam membawa tempat lemak dan pelita bersumbu ke arah dapur. Ditiupnya bara sisa memasak agar kembali menyala. Dipanaskannya lemak dalam kuali besar yang ada di atas tungku. Setelah cair, minyak yang ada di kuali itu dituang ke dalam mangkuk pelita. Liam segera menyalakan sumbunya.


"Syukurlah ini berfungsi." gumam Liam senang.


Pelita-pelita itu dibawanya masuk. Lalu semua pintu dan jendela ditutup. Rumah itu tidak terlalu gelap lagi. Sebab ada pelita di tiap ruang yang mereka tempati.


Kenny dan Mattew sedang menyusun kulit-kulit yang jatuh bersama Laras di gudang. Itu bisa dipakai sebagai alas tidur.


"Kita sudah letih. Sekarang istirahatlah." Kata Liam.


Semua orang setuju dengannya. Tubuh mereka memang sangat lelah. Dan karena perut sudah terisi, maka kantuk datang dengan cepat. Rumah itu sunyi dengan cepat.


*


*


"Hoaaammm.." Liam menguap dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku.


Meski rasa dingin lantai batu bisa diredam dengan alas 2 lapis kulit, tapi rasa keras batunya benar-benar membuat tubuh kaku.


Liam menoleh ke tempat tidur. Laras masih tidur pulas.


"Sepertinya sudah pagi. Kenapa belum terdengar suara apapun?" gumamnya heran.


Liam membuka jendela kamar agar cahaya di luar bisa masuk ke dalam.


Laras menutup wajahnya yang silau terkena cahaya terang dari jendela.


"Hoammm..." Laras menguap lebar.


"Apakah sudah pagi?" tanyanya.

__ADS_1


"Ya, sudah pagi." Sahut Liam sambil tersenyum.


"Tidurmu enak?" tanyanya penuh perhatian.


"Tentu saja. Tempat tidur ini sangat empuk. Seperti tidur di atas bulu angsa." Katanya puas.


"Baiklah. Aku akan membangunkan yang lainnya dulu." Liam berjalan keluar.


Para gadis dan anak-anak tidur di ruang tengah yang luas. Liam membuka jendela yang menghadap kebun sayur di halaman depan. 2 gadis remaja dan anak-anak itu tetap tidur dengan pulas. Mereka hanya berbalik badan dan kembali tidur saat sinar matahari menerpa wajah. Liam membiarkan.


Lalu Liam menuju ruang depan. Disitu Kenny dan Mattew tidur. Liam juga membuka jendela samping di ruangan itu. Dengan segera ruang itu terang benderang.


"Silau." Gumam Kenny sambil menghalangi matanya.


"Sudah siang. Ayo bangun." ujar Liam.


Liam membuka pintu depan lebar-lebar. Udara segar dan dingin menyeruak masuk. Tak ada yang berubah di halaman. Tampaknya pemilik rumah ini tak kembali malam tadi. Kemana dia? Berburu?


"Kenny, sebaiknya kau temani aku memeriksa keliling kota ini. Dan Mattew menemani para wanita serta anak-anak di sini. Bagaimana?" tanya Liam.


"Baiklah. Ayo."


Kenny berdiri dari lantai. Dia merapikan kulit binatang yang dihamparkannya menjadi alas tidur. Mattew melakukan hal yang sama.


"Laras, bagaimana punggungmu?" tanya Liam.


"Masih nyeri." jawab Laras jujur.


"Tapi ku pikir aku sudah bisa turun dari tempat tidur kok." katanya yakin.


"Oke. Tapi jika sangat sakit, istirahatlah. Jangan paksakan." Liam menasehati.


"Hemm.." sahut Laras.


"Oh iya. Aku dan Kenny mau memeriksa kota ini. Kalian tinggallah di sini dulu."


"Hati-hati memeriksa. Jangan buat keputusan ceroboh. Apapun yang kau lihat, jangan putuskan apa-apa dulu. Kita harus diskusikan bersama. Nanti kalau kau hilang begitu saja seperti Robert, maka aku jadi sendirian." Laras mengingatkan Liam.


"Sudah?" Suara Kenny dari pintu kamar.


"Oke. Kami jalan dulu." Liam berbalik dan menyusul Kenny keluar rumah.


"Arah mana nih?" tanya Kenny di perempatan jalan.


"Kemarin kita belok kiri. Artinya kita dari sana. Persimpangan ini kemungkinan berada di tengah kota. Kau bisa lihat bekas tanda ini. Entah penanda arah jalan atau cuma hiasan kota." Liam menunjuk tumpukan batu di tengah jalan.


"Karena kemarin kita masuk dari sana, berarti kita belum memeriksa jalan di seberang itu. Juga yang di kiri ini." Kenny menunjuk jalan berdebu di depan mereka.


"Ya. tapi di ujung depan sana hanya ada tembok putih. Sepertinya itu berakhir di tembok kota." Liam menilai keadaan di jalan seberang mereka.


"Kalau begitu kita menyusuri jalan yang kiri. Kemungkinan ada pintu gerbang lainnya di sana." Kata Kenny.


"Yah, ayo kita lihat." Liam berbelok mendahului. Kenny menyusulnya.


Bangunan yang porak-poranda itu membuat pemandangan kota jadi suram.


"Setelah ku amati, harusnya sebelum hancur begini, ini adalah kota yang makmur. Bangunannya tinggi. Kau bisa lihat sisa dinding batu setinggi itu di belakang sana." tunjuk Liam ke arah belakang reruntuhan.


"Bangunan batu tapi bisa hancur begini rupa. Mungkinkah gempa?" Tanya Kenny.


"Pasti gempa yang sangat dahsyat." sambung Liam.


"Yah, kemungkinan terdekat adalah gempa. Kalau karena kalah perang, maka pemenang akan menjarah isi kota dan mendudukinya." Kata Liam lagi.


"Kita sudah sampai di gerbang kota. Ini benar-benar ambruk." tunjuk Kenny pada tembok gerbang yang kini hanya setinggi pinggangnya.


"Hemm.." respon Liam singkat.

__ADS_1


Dia tertarik untuk melihat keadaan di luar tembok kota. Barisan pepohonan hijau tinggi di depan sana. Benar-benar berbeda dengan pemandangan kota yang berdebu dan kelabu. Tak ada satupun pohon tumbuh di dalam tembok kota. Kecuali di halaman rumah yang mereka tempati. Liam merasa ada yang janggal di sini. Bukankah seharusnya masih akan ada satu dua pohon berdiri di antara puing rumah penduduk? Atau setidaknya tanaman rambat dan lumut yang menutupi puing-puing. Tapi dalam kota itu betul-betul kelabu. Sementara di luar sini pohon bahkan bisa tumbuh setinggi itu.


"Ada apa di kota ini?" gumam Liam.


Liam melanjutkan langkah ke barisan pepohonan. Sampai di bawah salah satu pohon. Liam mendongak ke atas.


"Tinggi sekali," ujarnya saat melihat langit biru cerah menjadi latar puncak pohon yang hijau.


"Yah,, mungkin setua kota ini. Atau lebih tua lagi." Kenny juga ikut mendongakkan kepalanya ke langit.


"Jika kita ingin membangun rumah di sini, tantangan pertama adalah menebang pohon raksasa ini. Hahahaa.." Kenny tertawa.


"Kau benar." Liam setuju.


"Ayo kita periksa ke sana. Sepertinya ada jalan mengarah ke sana. Lihat! Rumput di bagian ini tidak tumbuh, seperti sering diinjak. Dan memanjang ke arah sana." Liam menunjuk jejak jalan tikus.


"Ayo kita periksa." Kenny tertarik.


Keduanya berjalan cepat mengikuti jejak itu. Dan berhenti di depan dua buah batu. Tak ada pohon di dekat kedua batu. Seperti sengaja dibuat berbeda. Kenny dan Liam saling lirik. Liam berjongkok mengamati bongkahan batu itu. Tiba-tiba dia terkejut dan menoleh ke arah gerbang pendek di belakang.


"Ini seperti patahan gerbang kota." tunjuk Liam ke arah kota.


"Bagaimana ini bisa ada di sini? Tak mungkin gempa membuat batu ini menggelinding sampai di sini." Liam terus saja bicara.


"Lebih tak mungkin lagi karena ada 2 batu yang sama besar diletakkan berjajar sejarak 1 meter di sini." Liam berpikir keras.


'Mungkinkah ini tanda?' batin Liam dengan mata berkilau.


Dengan penasaran Liam mengedarkan pandangan ke arah rerumputan. Ketemu! Diraihnya beberapa ranting tua yang jatuh dari pohon-pohon sekitar. Dia harus mengetesnya sebelum percaya. Liam melemparkan ranting ke arah depannya, di dekat batang pohon. Ranting itu menyentuh sesuatu dan jatuh ke tanah. Seketika terlihat cahaya transparan muncul dari bekas lemparannya. Terus naik ke atas langit. Liam berputar melihat rambatan cahaya itu hingga ke atas kota.


"Cahaya itu melingkupi kota!" Kata Kenny tak percaya.


"Itu artinya kita ada di dunia kecil. Dan itu hanya sebesar kota ini." Jelas Liam. Kenny bingung.


"Dan menurutku, batu ini adalah penanda celah antar dunia." tunjuk Liam.


"Tapi untuk apa penghuni rumah itu memasang penanda jika dia tak bisa kembali lagi? Dia sudah bersusah payah membawa patahan batu sebesar ini dari sana hingga ke sini." Liam merasa sangat bingung.


"Mungkin dia tak tau jika tak bisa kembali ke rumahnya setelah melewati itu." Cetus Kenny.


"Atau dia terlalu baik. Meninggalkan petunjuk bagi siapapun yang tersesat di hutan angker lalu terjebak masuk sini." Kata Kenny lagi.


"Adakah orang yang sebaik itu?" Liam terkekeh.


Sekarang Liam berjalan ke dekat 2 batu itu berada. Dia tak boleh melewatinya. Dilemparnya ranting kecil di tangannya ke arah ruang kosong antar batu. Terlihat cahaya transparan muncul. Tapi ranting itu lenyap.


"Yes, itu dia!" gumamnya dengan wajah gembira.


Dengan hati-hati Liam lebih mendekat. Mengarahkan ranting agak panjang ke dinding cahaya yang tadi melenyapkan ranting yang dilemparnya.


Ranting itu menembus dinding cahaya. Tapi Liam tak merasakan perbedaan getaran apapun di tangannya. Dicobanya menarik kembali ranting itu. Tak ada perubahan bentuk apapun.


Liam begitu penasaran dan ingin sekali melihat ke balik dinding cahaya transparan itu. Tapi dia ingat pesan Laras. Kakinya mundur selangkah dan berbalik. Dia berjalan meninggalkan tempat itu.


"Mari kita kumpulkan kayu bakar untuk masak. Setelah itu kembali ke rumah.


"Lalu itu bagaimana?" tanya Kenny tak puas. Dia sangat penasaran.


"Kita diskusikan dulu dengan yang lainnya. Jangan ambil tindakan sembrono. Atau kita tak kan pernah bisa bertemu dengan mereka lagi." Liam menjawab serius.


Kini Kenny mengerti kenapa Liam berbalik. Dia salut dengan kontrol diri Liam. Meski sangat penasaran, tapi bisa menahan diri untuk tidak mencoba terlalu jauh.


'Itu pasti karena pengalaman melintasi banyak dunia. Sekarang aku makin percaya cerita tentang dunia mereka' Kenny menatap punggung Liam dengan kagum.


"Kenapa bengong? Ayo cari kayu bakar. Setelah itu kita kembali. Oh ya. Nanti kita periksa apakah jebakanmu di gerbang sana memberikan hasil."


"Oke." Sahut Kenny.

__ADS_1


Dia senang sekarang. Senang dipimpin oleh orang yang lebih berpengalaman seperti Liam.


*****


__ADS_2