PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 158. Niken


__ADS_3

"Dean, apa rencanamu hari ini?" Tanya Alan setelah mereka sampai di pantai.


Dean memandang ke laut lepas, menimbang-nimbang sesuatu.


"Aku ingin memeriksa ke laut sana. Dokter Chandra bilang bahwa badai itu terjadi di tengah laut. Jika ada pulau-pulau lain di sekitar sini, maka mereka mungkin juga terdampar di salah satu pulau itu." Analisa Dean masuk akal.


"Oke, mari kita lihat, apakah ada pulau lain di dekat sini." Alan setuju.


"Ayo, mumpung masih pagi," Dean sudah mulai terbang...


"Paman Dean, tunggu!"


Dean dan Alan menoleh. Ternyata Yoshi langsung menyusul mereka ke pantai itu.


"Ada apa? Kami mau memeriksa apakah ada pulau lain yang mungkin jadi tempat terdampar teman-teman kami yang lain." Jelas Dean.


"Laut itu berbahaya. Banyak yang hilang di sana. Itu sebabnya tak ada perahu nelayan maupun kapal barang yang melintasi perairan ini." Cegah Yoshi.


Dean dan Alan saling pandang. Mungkinkah itu sama dengan kisah dokter Chandra tentang cahaya di tengah laut? Dan dokter Chandra serta Niken kemungkinan muncul di situ. Tapi dokter Chandra mengatakan tak ada yang pernah kembali setelah melewati cahaya di laut itu. Lalu kemana perginya orang-orang sini yang hilang di situ?


"Apa kau pernah memeriksanya?" tanya Dean ingin tau.


Yoshi menggeleng. "Ayah melarangku terbang ke arah laut itu." Jawab Yoshi.


"Ayahmu melarang itu kan karena khawatir kamu hilang saja." Celetuk Alan.


"Lalu jika kalian hilang, apa para bibi dan paman di pondok di hutan terlarang tidak akan khawatir?" Yoshi bertanya balik.


Dean dan Alan tertegun. Yoshi ada benarnya. Ingin mencari teman yang hilang, tapi malah ikutan hilang, tentu bukan pilihan bijak. Ada banyak orang butuh bantuan di pondok. Ada Sunil, ada juga Niken. Belum lagi lokasi pondok di tengah hutan terlarang yang berbahaya jika mereka berdua tak sda.


"Baiklah. Kita batalkan memeriksa lautan itu." Ujar Dean mengalah.


"Semoga ada yang membantu mereka. Kita tak bisa mengambil resiko besar dengan mengabaikan keselamatan anggota tim yang ada."


"Tapi Dean.." Ucapan Alan dipotong Dean.


"Kali ini Yoshi benar. Jadi jangan bantah dan melakukan pencarian sendirian." Dean memperingatkan.


"Kalau begitu, bagaiman jika kita lanjut menyusuri pantai ini lagi?" Yoshi memberi ide.


"Baiklah. Mari kita lanjutkan." Alan mengikuti.


"Apakah arah ke sini sudah paman periksa?" Tanya Yoshi.


"Alan yang memeriksa area itu kemarin." Dean memandang Alan.


"Aku memeriksa hingga pantai dimana perahu-perahu nelayan ditambatkan. Tak berani lebih jauh lagi, khawatir bikin gempar jika ada yang melihatku terbang." jawab Alan.


"Oke, kalau begitu, biar kulanjutkan memeriksa area itu. Mereka sudah mengenalku." Kata Yoshi.


"Oke. Sore berkumpul di pondok." Teriak Dean sebelum Yoshi terbang terlalu jauh. Yoshi membalas dengan melambaikan tangannya.


"Sekarang kita kemana?" Tanya Alan.


"Kita lanjut memeriksa pantai sisi ini lagi." Sahut Dean.


"Ayo." Alan melesat lebih dulu. Seperti kemarin, mereka terbang rendah dan memeriksa garis pantai dengan seksama.


*


Tengah hari.

__ADS_1


Mereka telah sangat jauh memeriksa, tapi tak ada satupun tanda keberadaan orang terdampar. Mereka berhenti untuk beristirahat.


"Alan, setelah ini, aku berencana kembali ke pondok dan melakukan rencanaku kemarin malam." Kata Dean.


"Apa rencanamu?" tanya Alan acuh.


"Kau tau anggota tim kita sudah bertambah. Kita butuh kamar baru. Aku akan membuatnya hari ini." ujar Dean.


"Ah, kau memang selalu memperhatikan detail. Terserah kau saja. Kalau butuh bantuan, tinggal bilang, oke." Balas Alan.


"Kalau begitu, sebaiknya kita kembali saja. Agar malam ini sudah ada kamar baru." Dean bangkit, disusul Alan. Mereka segera kembali ke pondok.


*****


"Ada apa?" Tanya dokter Chandra setelah sampai di pondok.


"Niken terbangun dan melihat Cloudy di sisi tempat tidur." Jawab Nastiti kalem.


"Sekarang dimana dia?" tanya Widuri.


"Ditemani oleh Marianne." Michael menunjuk ke arah kamar.


Widuri dan dokter Chandra berjalan ke arah kamar. Mereka melihat Niken makan ditemani Marianne.


"Niken, apa yang kau rasakan sekarang? Apa ada yang terasa sakit?" tanya dokter Chandra dari depan pintu.


"Dokterrr...!"


Niken menghambur ke arah dokter Chandra dan memeluknya erat. Niken kembali menangis.


"Akhirnya aku menemukanmu. Indra, Leon, Robert dan yang lainnya bagaimana?" Matanya mengharapkan kabar baik.


"Tapi kita berlayar di laut. Pulau ini pastilah bukan satu-satunya pulau yang berbatasan dengan lautan kemarin itu." Dokter Chandra mempersiapkan mental Niken.


"Maksud dokter?" Niken ingin kata-kata yang jelas.


"Jika mereka terdampar di pulau ini, cepat atau lambat, pasti akan kita temukan. Tapi jika mereka terdampar di pulau lain yang jauh, kecil kemungkinan bertemu lagi."


"Tidak.. Indra.." mata Niken kembali menggenang lagi.


"Kau harus kuatkan hatimu dan terus berdoa. Semoga teman-teman kita yang lain tetap selamat dimanapun berada." Saran dokter Chandra bijak.


"Sekarang habiskan dulu makananmu. Kau sudah aman di sini." Marianne membujuk.


"Aku akan menemani Sunil." Dokter Chandra keluar kamar.


*


Widuri, kita kehabisan stok gandum dan beras." Bisik Nastiti.


"Besok kita bisa ke pasar membeli persediaan." Jawab Widuri.


"Oke." Nastiti mengangguk.


"Apa besok kita akan menjual sesuatu di pasar?" Tanya Nastiti.


"Kita lihat buah blueberry yuk. Mungkin sudah banyak yang matang." Ajak Widuri.


"Ayo.." Nastiti tersenyum senang. Dia segera menyambar keranjang anyaman di dapur.


"Marianne, Aku dan Widuri mau memetik buah blueberry di hutan." Nastiti mengabari Marianne.

__ADS_1


"Ya," Marianne mengangguk.


Michael dan Widuri sudah bersiap. Michael menyelipkan pedang di pinggangnya. Sementara Widuri menyandang busur dan anak panah di punggungnya.


"Ah,, aku lupa busurku." Nastiti kembali ke kamar dan meraih busur panah dari cantelan kayu di dinding.


"Dokter, kami berangkat dulu. Jika Dean atau Alan bertanya, katakan saja kami memetik blueberry. Mereka tau tempatnya." Saran Widuri.


"Apakah kalian akan lama? Bagaimana dengan Sunil?" Tanya dokter Chandra.


"Michael, ayo kita bantu bawa Sunil ke kamar. Setelah itu baru kita pergi. Widuri menyelesaikan masalah itu dengan cepat.


Berempat mereka menggotong Sunil menuju kamar untuk kembali istirahat.


"Baik. Dok, titip jaga teman-teman yang lain ya." Widuri membuka pintu pagar. Ketiganya berjalan melewati lalu menutupnya kembali.


*****


4 jam jam kemudian Alan dan Dean kembali.


"Kalian sudah kembali." Seru dokter Chandra. Wajah gembiranya sedikit berubah saat menyadari tak ada orang lain bersama keduanya.


"Kalian tak menemukan siapapun?" Tanyanya kecewa.


Dean dan Alan menggeleng. Mereka menjangkau cangkir untuk mengambil air minum dari tempayan.


"Dimana yang lainnya?" Tanya Alan yang heran melihat tempat itu sangat sunyi.


"Widuri, Nastiti dan Michael mencari buah blueberry. Katanya kalian tau tempatnya." Dokter Chandra menjelaskan.


"Biar Aku yang memeriksa ke sana." Kata Alan cepat. Dean mengangguk.


Dean melangkah ke kanar Sunil. Dokter Chandra mrengikuti.


"Bagaimana perkembangannya dok? tanya Dean.


"Masih sama saja." Dokter Chandra mengatakan bahwa hari ini mereka membawa Sunil berjemur di bawah matahari.


"Sepertinya kita butuh tandu atau kursi beroda untuk Sunil. Agar dokter tidak kesulitan jika ingin memindah-mindahkannya." Dean berpikir sejenak, lalu tersenyum.


"Kau harus segera sembuh Sunil. O, kau dengar aku? Apa kau ingin tidur selamanya? Cepat bangun. Pekerjaan kita masih sangat banyak.


Dean melihat ke arah Niken dari pintu kamar.


"Apa kau baik-baik saja sekarang?" Sapa Dean hangat.


"Dean! Itu benar-benar kau? Syukurlah jika beneran kamu. Aku udah khawatir terjebak di hutan sihir lagi.


"Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Istirahatlah kembali.


Dean menuju tumpukan gelondongan dan sisa batang kayu. Dipilih-pilihnya yang dianggapnya cocok. Dengan kemampuannya, dikeluarkannya log kayu terbesar. Batang kayu itu melayang pelan di atas kepala Dean, mengikutinya ke dekat pelataran.


Dipilihnya posisi sedikit jauh dari kedua kamar. Diturunkannya log kayu dengan hati-hati. Dengan beberapa penyangga, kedudukan log kayu itu menjadi stabil.


Dokter Chandra memandang tak berkedip ke arah Dean. 'Seberapa kuat dia?' pikir dokter Chandra.


Diperhatikannya Dean memotong dan mengukir pintu jendela di batang kayu itu. Sekarang dokter Chandra tau, siapa jenius yang sudah membuat pondok unik ini. Ya, itu Dean. Digelengkannya kepala. Jika tidak melihat sendiri, bagaimana bisa percaya?.


Pondok itu sunyi. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dean membuat kamar dengan tekun. Dia ingin membuat kamar untuk dirinya dan Widuri. Bayangan indah muncul di benaknya. Membuatnya tersenyum ceria dan sesekali bersiul.


*****

__ADS_1


__ADS_2