
Dewi dan Nastiti hanya melihat kegelapan di gua itu. Samar terdengar isakan halus.
Dewi menggamit lengan Nastiti.
"Ambil satu batu cahaya di lorong sebagai penerangan," perintah Dewi.
"Widuri, kau kah yang menangis itu? Ada apa? Kenapa menangis dalam gelap?"
Mendengar Dewi bicara, Widuri mengangkat kepalanya.
"Alan dan Sunil bagaimana?" Suara Widuri terdengar bindeng karena lama menangis.
"Mereka baik-baik saja, sedang istirahat." jawab Dewi.
"Huaaaa... tangis Widuri pecah.
"Hlooo.. Kenapa malah makin nangis? Sudah. Bisakah kau ke sini? Di sana gelap sekali," bujuk Dewi.
"Aku kembali." Nastiti muncul dengan dua kristal cahaya di tangannya. Gua itu mulai terlihat jelas.
Dewi dan Nastiti mencari tempat untuk beristirahat. Widuri berkumpul dengan keduanya. Tubuh-tubuh letih itu berbaring di lantai berbantal ransel masing-masing. Widuri lega bahwa Alan dan Sunil akhirnya baik-baik saja. Urusan lainnya, dipikirkan besok saja.
*****
Seminggu yang membosankan akhirnya berlalu. Angel melangkah cepat dari balkon lantai 2 menuju deretan kamar dan membuka salah satu pintunya.
"Aku barusan melihat pria bertopeng itu muncul di tempat teleportasi."
Angel mengabarkan pada ketiga teman wanitanya yang sedang berkumpul. Matanya berbinar cerah.
"Wah, bagus. Aku sudah mulai bosan di kastil ini." gerutu Niken.
"Benar. Kita setiap hari hanya bisa berkuda atau berjalan-jalan di taman saja. Boring." Laras berkomentar.
"Lalu kita mau apa setelah bertemu dengannya?"
Silvia membuang pandangannya keluar jendela kamar. Suaranya terdengar skeptis, tanda dia tak percaya begitu saja dengan keramahan yang sudah ditunjukkan tuan rumah.
Pertanyaan Silvia membuat tiga wanita itu tergagap sejenak. Mau apa?
"Aku mau pulang. Jadi yaa minta dia ijinkan kita pergi." jawab Laras.
"Kau polos sekali. Tak ada makan siang yang gratis. Apa lagi kita adalah orang asing yang baru ditemukannya di hutan."
Silvia menjeda kalimatnya..
"Mana mungkin mereka percaya begitu saja kalau kita terdampar atau tersesat? Meskipun kita mengatakan kejujuran, kau pikir mereka akan percaya?"
Meski kata-kata Silvia terdengar meremehkan, tapi itu juga ada benarnya. Tak mungkin tim mereka akan dilepas begitu saja tanpa memberi imbalan apapun. Sekarang pikiran keempatnya mulai menduga-duga, apa yang kira-kira diinginkan pria bertopeng itu.
Laras menyampaikan kabar itu pada Robert di kamar lain, untuk mempersiapkan diri.
__ADS_1
Sore hari dua pelayan mengetuk pintu kamar mereka untuk mengantarkan minuman dan penganan serta menyampaikan pesan.
"Tuan sudah kembali dan mengundang anda semua untuk makan malam."
Dua pelayan masuk membawa nampan minuman dan penganan serta pakaian ganti untuk acara makan malam itu.
"Silahkan bersiap."
Para pelayan itu undur diri dan menghilang di balik pintu tertutup.
Niken mengambil satu gaun yang diletakkan di atas tempat tidur. Mematutnya di depan cermin besar.
"Apakah tuan rumah sedang menyelenggarakan pesta? Kita sampai diberi pakaian a la mereka."
"Apakah aku cantik seperti ini? Seperti peri negeri dongeng."
Niken tertawa sambil menari berputar- putar memegang gaun itu di dadanya.
"Kau ingin berdansa?" Silvia mengerutkan keningnya.
"Baiklah. Kita ikuti saja dulu apa rencana tuan rumah. Bagaimanapun kita tak bisa lari. Jadi mari nikmati kue ini dulu. Perutku sudah lapar."
Niken mengembalikan gaun panjang itu ke atas tempat tidur lalu duduk di depan meja bulat. Silvia sudah menyesap minuman dari cangkir. Mereka menikmati sajian sore dengan santai sebelum membersihkan diri dan bersiap untuk acara makan malam.
*
Tim Robert sudah selesai bersiap dan hanya tinggal menunggu panggilan makan malam saja.
Robert, dokter Chandra, Indra, Liam, Gilang dan Leon terpukau melihat teman-teman wanita mereka tampak cantik dan anggun dalam balutan gaun yang disediakan tuan rumah. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan di lantai dasar.
Para pelayan menunjukkan kursi-kursi untuk mereka duduki. Ruang makan besar itu kini terlihat agak sempit dengan adanya meja tambahan melintang di salah satu ujung meja utama. Susunan meja itu membentuk huruf T.
Laras dan Angelina ditempatkan pada dua kursi tengah, diapit Silvia dan Niken. Posisi itu menghadap ke kursi utama yang akan ditempati tuan bertopeng.
Sementara keenam teman pria mereka di tempatkan berhadapan di meja utama dekat keempatnya duduk.
Tamu-tamu lain yang semuanya bertelinga lancip masuk ruangan, kemudian mengambil tempat duduknya masing-masing.
Tak lama terdengar pemberitahuan bahwa tuan rumah akan masuk ruang makan. Melihat tamu-tamu lain berdiri menyambut, maka Robert meminta teman-temannya ikut berdiri juga.
Seorang pria berambut perak panjang memasuki ruangan. Meski topeng itu hampir menyamarkan kebiruan matanya, tapi senyum yang ditebarnya justru makin menampakkan pesona dan ketampanannya.
Semua duduk kembali setelah tuan rumah duduk di kursi utama. Para pelayan mulai sibuk hilir mudik menyajikan makanan ke semua orang. Sapaan ringan mulai terdengar di sana-sini.
Bunyi dentingan cangkir seketika menghentikan dengung suara para elf yang sedang berbincang. Mereka mengarahkan perhatian pada tuan rumah dan menantikannya bicara.
"Baik, selamat malam. Hari ini saya mengundang anda semua makan malam. Selain untuk membicarakan hasil perjalanan, saya juga ingin memperkenalkan tamu-tamu saya.
Pria bertopeng mengarahkan tangannya ke arah meja di ujung, yang ditempati tim Robert. Dia lalu berdiri dari kursinya.
"Saya Glenn Ockhenliche, ketua muda ras Elf kerajaan Norendeem. Sekarang bisakah para tamu memperkenalkan diri?
__ADS_1
Pria bertopeng itu tersenyum ramah.
Anggota tim Robert otomatis mengarahkan pandang pada Robert, memintanya untuk bicara mewakili mereka semua. Robert mengangguk lalu berdiri menghadap ke arah Glenn.
"Saya Robert. Kami ras manusia yang berasal dari negara-negara berbeda. Bisa bersama karena berada dalam satu kendaraan yang mengalami kecelakaan. Kami sedang mencari jalan pulang, namun tersesat di hutan sihir dan anda yang telah menyelamatkan kami. Terima kasih."
Robert sedikit membungkuk ke arah Glenn lalu duduk kembali. Glenn membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.
Semua Elf yang hadir di situ serempak memberikan berbagai respon dengan bahasa yang tak dimengerti tim Robert. Ruangan itu kembali dipenuhi dengungan suara komentar.
Suara dentingan cangkir kembali mengheningkan ruang makan itu.
"Baik. Terima kasih sudah memperkenalkan diri. Karena kita sudah sangat lapar, lebih baik makan dulu."
Glenn mengangkat cangkir minumnya, semua elf ikut mengangkat cangkir mereka. Maka Robert dan timnya juga ikut mengangkat cangkir. Mereka meneguk minuman itu mengikuti yang lain. Lalu acara makan dimulai. Suara dentang piring dan sendok seperti musik pengiring dengungan bincang-bincang para elf.
Angel, Laras, Niken dan Silvi juga ikut ngobrol dengan suara rendah.
"Apa seperti ini acara makan malam kaum bangsawan?" bisik Niken pada Laras yang duduk di sampingnya.
"Tidak tau. Aku hanya rakyat jelata." Laras menjawab sekenanya.
"Ppffttt.."
Niken menutup mulutnya menahan tawa.
Robert memberi isyarat mata agar Niken tak sembarang tertawa. Jangan sampai tuan rumah salah faham dan tersinggung.
Niken mengangguk lalu merubah ekspresinya dan menikmati makanannya dengan tenang. Dia hanya memperhatikan sekelilingnya dengan rasa tertarik yang begitu besar.
"Ahh, andai saja kameraku tak kehabisan baterai, aku pasti bisa membuat foto kenang-kenangan tentang tempat ini," celetuk Niken tanpa sadar.
"Coba kau minta beberapa kertas dan pena. Maka kau bisa menggambar apa yang kau mau di situ." Dokter Chandra memberi ide.
Mata Niken berubah cerah.
"Ide brilliant dok. Terima kasih."
"Kekasihku memang luar biasa," puji Indra yang memandang penuh cinta.
"Oppa saranghae," balas Niken sambil menempelkan jari telunjuk dan jempol tanda cinta ke arah Indra.
Indra mendekap dadanya sambil terpejam dengan mimik yang tak terlukiskan. Membuat Liam yang duduk di sebelahnya menjitaknya dengan jengkel karena bersikap tak tau malu.
"Auuu," rintih Indra lirih sambil mengelus kepalanya, tapi wajahnya masih penuh dengan senyuman.
Semuanya tersenyum lebar dan tertawa tanpa suara melihat tingkahnya yang makin konyol sejak jatuh cinta.
Semua canda gembira di meja itu tak lepas dari pengamatan tuan rumah. Dia ikut tersenyum melihat tamu-tamunya tidak merasa setress meski berhari-hari hanya berada di kediamannya. Lalu tatapannya melembut melihat senyum manis seorang diantara mereka.
****
__ADS_1