PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 33. Segitiga Bermuda?


__ADS_3

Robert, Indra dan dokter Chandra meninggalkan Dean setelah menceritakan tentang Alex. Dean hanya menyarankan untuk memperkuat tempat mereka menahan Alex untuk menghindari hal buruk terjadi.


Dean termangu memikirkan tentang Alex. Apa mungkin dia berubah jd serigala setelah kena gigitan?


"Aneh sekali, bagaimana mungkin bisa manusia berubah jadi serigala karena gigitan?" Dean bicara pada dirinya sendiri.


"Apanya yang aneh? Bukankah kita bisa sampai terdampar di sini juga sudah sangat aneh? Eugene yang berlayar di teluk di Perancis juga bisa sampai sini. Kurang aneh apa lagi coba?" celetuk Widuri.


Dean mengalihkan pandangannya dari perapian ke arah Widuri sambil mengangguk pelan.


"Kau benar. Tempat ini memang aneh. Apa kau pernah mendengar tentang segitiga Bermuda?" tanya Dean.


"Tempat yang dianggap aneh yang bisa menyeret kapal laut yang berlayar disitu ataupun menjatuhkan pesawat yang terbang melintasinya?" Widuri menebak.


"Ternyata kau juga pernah mendengarkan hal seperti itu." Dean tersenyum.


"Yaa tapi itu kan hanya seperti gossip saja. Issue yang belum pernah bisa dibuktikan." Widuri menambahi.


"Hal-hal supranatural memang sulit dibuktikan dengan akal sehat." Dean membenarkan.


"Yang kita dan Eugene alami juga tak bisa dijelaskan dengan nalar, tapi bukan berarti tidak ada kan? Kita sedang mengalaminya sekarang."


Dean membaringkan dirinya dan menjadikan lengannya sebagai bantal. Dia menatap ke langit lewat lubang gua yang berada tepat di atasnya.


"Yaah.. kau benar. Sampai tadi aku masih berusaha menerima dengan akal sehat semua yang terjadi. Tapi jika benar yang dikatakan Robert tentang Alex, maka benar bahwa tempat ini bukanlah tempat yang biasa dihuni manusia. Mungkinkah kita berada di dunia siluman?" Widuri segera menutup mulutnya yang terpekik kecil karena membayangkan hal-hal seperti itu.


Dean mengagumi imajinasi liar Widuri. Sambil mengulum senyumnya dia berpikir, 'mungkinkah kisah-kisah di komik atau novel itu benar adanya? Apakah film-film yang diproduksi tentang manusia serigala atau vampire itu adalah hal yang nyata ada di dunia ini?' Dean berpikir keras.


"Apa yang akan kita lakukan jika kita ternyata ada di dunia seperti itu Dean?" Widuri mulai cemas.


Tanpa mengalihkan pandangan dari langit, Dean menyahut:


"Yang paling penting kita lakukan adalah bertahan hidup. Di manapun kita berada, yang paling penting adalah bertahan hidup. Tinggal sesuaikan dengan situasi dan kondisi saja." Dean menjawab enteng.

__ADS_1


"Aku gak ngerti maksudmu. Gimana cara kita bertahan hidup di dunia siluman ini?" tanya Widuri.


"Sebisanya kemampuan kita saja. Jika para serigala itu menyerang ya dihadapi. Jika mereka tak mengganggu, kita lanjutkan mencari jalan keluar dari hutan ini."


"Hmmm.." Widuri menggumam mendengar penjelasan Dean.


"Tapi Dean, jika benar ini dunia siluman, apa kau pikir akan ada manusia yang hidup di dunia ini?" Widuri akhirnya mengatakan hal yang dari tadi mengganggu pikirannya.


Dean terhenyak. Benar juga! Jika tempat ini adalah dunia para binatang dan siluman, akankah ada manusia yang hidup? 'Hah.. kenapa jadi ruwet begini?' pikir Dean.


"Dean, apa jawabanmu?" desak Widuri yang tak kunjung mendengar jawaban dari pertanyaannya.


"Aku tak tau. Bukankah kita sama-sama terjebak di sini? Aku juga tak punya pengalaman liburan ataupun berkunjung ke dunia siluman." Dean menjawab malas, dipejamkannya matanya yang lelah karena membaca tulisan yang mulai buram di buku catatan Eugene.


Widuri merasa tak puas. Tapi dia juga tak bisa memaksa Dean memberi jawaban jika dia juga tak tau apa-apa. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya pikiran mereka yang menjelajah liar mengikuti imajinasi masing-masing.


*


Sore hari Robert dan Gilang mengantarkan perbekalan dan tali untuk digunakan sebagai alat bantu naik dan turun di ruang gua dengan pintu bercahaya itu. Mereka lalu menutup mulut lubang dengan kayu-kayu sebelum kembali ke shelter.


"Widuri, ayo kita ke gua itu. Kau bawa kristal cahaya untuk menerangi jalan." Dean ingin segera memeriksa ruangan gua di bawah itu.


Widuri mengangguk lalu mengikuti langkah Dean. Mereka membawa kristal cahaya di tangan masing-masing. Berjalan beriringan menyusuri lorong gua dengan cahaya temaram cukup lama hingga akhirnya Dean merasakan lantai gua itu mulai menurun.


"Perhatikan langkahmu, jalanan disini mulai menurun." Dean mengingatkan Widuri yang berada di belakangnya.


Dean merendahkan tangannya yang memegang kristal agar jalan mereka bisa terlihat lebih jelas. Widuri juga mengikuti. Tak lama Dean mulai melihat cahaya di ujung sana. Cahaya putih terang yang merupakan mulut gua seperti yang ditulis Eugene. Tak lama mereka tiba di batas pintu masuk yang tak bisa dilalui lagi karena jalannya yang menurun dan curam.


"Kita sampai," kata Dean. Dia berhenti dan mengamati ke arah dalam ruangan dengan mengarahkan kristal cahaya ungu ke dalam.


Cahaya putih dari pintu di seberang sana memberi bias cahaya redup ke dalam gua di bawah. Dean mendengar suara titik-titik air jatuh beraturan tapi tidak terdengar deras seperti air terjun. Dean merasa udara ruangan gua itu lebih hangat saat kepalanya cukup lama melongok masuk ke dalam ruang gua untuk memeriksa.


"Boleh ku lihat?"Widuri tak sabar. Lorong gua itu tidak terlalu besar. Jika Dean tak menggeser sedikit, maka mereka akan saling berhimpitan di pintu itu.

__ADS_1


"Hati-hati jangan terlalu maju, nanti jatuh." Dean menggeser tubuhnya membiarkan Widuri memuaskan rasa ingin tahunya.


Dean melihat sekitar dan menemukan seperti bekas tiang kayu di sebuah celah. Hanya tersisa rangka luar batang kayu yang seketika hancur saat Dean memegangnya. 'Mungkin disini Eugene meletakkan kayu untuk menahan tali' batin Dean.


Dean membuat beberapa simpul di sepanjang tali sebagai tumpuan pegangan tangannya. Lalu dibuatnya simpul lain dan diikatkan pada batang kayu yang dibawanya tadi. Kayu itu ditusukkan cukup dalam pada celah-celah batu. Dean mencoba menggoyang- goyangkan kayu itu serta menarik tali untuk menguji kekuatannya. Dirasa sudah cukup kuat, Dean menoleh pada Widuri yang sejak tadi tak bicara.


"Ada apa?" tanya Dean sambil melemparkan ujung tali yang sudah diikat dengan batu ke bawah. Terdengar bunyi batu itu berhenti dari jatuhnya dalam hitungan ke enam setelah dilempar Dean. 'Tidak terlalu jauh' pikirnya.


"Tidak kah kau heran dengan cahaya putih itu?" Widuri menunjuk pintu gua di seberang.


"Kenapa?" Dean balik tanya.


"Menurutku itu bukan bias cahaya matahari. Sekarang harusnya sudah gelap di luar. Bagaimana pintu gua itu masih mengeluarkan cahaya putih terang?" Widuri mengutarakan pemikirannya.


Dean terdiam dan ikut memperhatikan mulut gua itu. Dia menukar kristal ungu yang lebih kecil di tangan Widuri dengan miliknya lalu memasukkan dalam tas di belakang punggungnya.


"Baiklah, aku akan memeriksanya. Kau tunggu di sini, jangan kemana-mana." Dean mulai membalikkan tubuh, memegang erat tali dan mulai menuruni tebing itu. Dean menginjak undak-undakan batu secara hati-hati hanya dengan mengandalkan bias cahaya putih temaram.


Tap!


Dean merasa sudah sampai di lantai gua. Dikeluarkannya kristal ungu dari tas dan mengamati sekitarnya. Dilihatnya ke atas, Widuri masih menjulurkan kepala diterangi cahaya ungu di tangannya.


"Aku sudah sampai. Jarak dari sini ke atas sekitar 2 sampai 3 meter. Jadi jika kau ingin terus menjulurkan kepala seperti itu, pastikan pegangan tanganmu kuat agar tak jatuh."


"Yaa.. ya.. aku tau." Widuri bersungut-sungut mendengar perkataan Dean. Dia menarik kepalanya, memilih untuk duduk sambil memperhatikan Dean yang mulai berjalan menjauhi tebing tempatnya turun tadi.


"Aku mendengar suara air Dean," suara Widuri menggema. Dean yang juga sedang berjalan ke arah suara air itu diam saja.


"Ya, aku menemukannya. Bukan air terjun, hanya rembesan serta tetesan air dari stalaktit," Dean mengarahkan kristal ke arah air menetes agar Widuri juga bisa melihatnya.


"Ada sedikit uap yang keluar dari kolam air ini." Dean berjongkok di tepi kolam, lalu mencelupkan jarinya ke air. Air itu terasa hangat.


"Air kolam ini hangat. Waahh aku jadi ingin mandi air hangat." Dean terdengar gembira. Wajah Widuri berseri-seri mendengarnya. Yaa sejak tiba disini mereka tak pernah mandi ataupun cuci muka. Widuri tersenyum masam membayangkan tebalnya daki di tubuhnya.

__ADS_1


"Aku juga mau mandi air hangat Dean. Hahaa.. kita akhirnya bisa mandi." Widuri sangat gembira.


***


__ADS_2