
Malam itu gua terasa makin ramai, terutama dengan suara mengembik para domba di pojokan. Dewi dan Nastiti membawa pulang dedaunan sisa membersihkan rumput di kebun sayur. Ditambah Sunil yang juga mencari daun-daun di hutan depan gua. Domba-domba dan 2 ekor kelinci itu tidak akan kelaparan malam ini.
Selepas makan malam, Dean meminta botol air asin yang sebelumnya dipegang Widuri.
"Isinya sudah kosong," kata Widuri saat menyerahkannya.
Dean mengangguk. Dia menuju kolam, mengisi botol dengan air lalu mengguncang beberapa kali dan membuang lagi isinya untuk membersihkan sisa air asin.
"Tadi katamu masih punya sisa tepung kan?" tanya Dean.
"Ya, tinggal sedikit dan masih kasar." Widuri mengambil sisa tepung gandum kasar yang ada di wadah dan menyerahkan pada Dean.
Dean meraba dan tau tepung itu sangat kasar. Dimintanya batu untuk menumbuk kemudian menghaluskannya sedikit lagi di atas wadah itu.
"Sekarang ku tunjukkan cara membuat pengembang roti. Perhatikan," kata Dean.
Dean mengambil tepung dan meletakkan di telapak tangannya. Tepung itu tampak munjung di tengah tapak tangannya. Dean menunjukkannya pada Widuri. 'Itu sekitar 2-3 sendok' tebak Widuri dalam hati.
"Wadah kita kecil, jadi segini sudah cukup untuk langkah pertama."
Dean memasukkan semua tepung itu ke dalam botol. Lalu memasukkan kayu kecil panjang yang biasa digunakan untuk mengaduk masakan.
"Tambahkan air sedikit-sedikit sambil aduk. Lihat caraku."
Dean menciduk air kolam dengan tangan dan meneteskannya ke botol. Lalu mengaduk tepung dengan air. Dean melihat ke dalam botol, untuk mengamati. Ditambahnya lagi sedikit air dan kembali mengaduk hingga rata.
"Perhatikan kekentalannya." Dean menyerahkan botol itu pada Widuri.
Widuri melihat dalam ke dalam botol, mengangguk, lalu menyodorkan lagi botol itu pada Dean.
"Kenapa diserahkan lagi padaku? Bukankah kau yang membuat roti tiap hari? Aduk campuran itu sampai rata." perintah Dean mulai tak sabaran.
Ke empat temannya mulai menoleh dan memperhatikan apa yang mereka lakukan. Widuri menuruti Dean mengaduk pelan. Dia tak ingin ribut lagi malam ini.
"Sudah rata," kata Widuri.
"Ya sudah, keluarkan pengaduknya dan tutup botol. Mulai besok, selama 7 hari ke depan, di jam seperti ini, kau harus menambahkan tepung dan air lagi lalu aduk hingga mencapai kekentalan yang sama. Di hari ketujuh, pengembang roti itu sudah bisa digunakan." Jelas Dean panjang lebar.
Widuri mengangguk lalu menutup botol. Menyimpannya di dekat tasnya. Widuri tak mudah percaya, bagaimana mungkin ragi roti bisa dibuat semudah itu? Bukankah itu buatan pabrik? Dia biasa membeli di toko jika ibunya ingin membuat bakpao.
"Aku jadi kepingin bakpao," gumam Widuri tanpa sadar, namun terdengar oleh Dean yang masih duduk di sebelahnya.
Dean tersenyum tipis lalu beranjak untuk mencari tempat istirahat. Di luar terdengar suara petir yang menggelegar beberapa kali sebelum hujan turun.
"Waduh, aku lupa membuat atap penutup di atas tungku. Malah turun hujan," gerutu Dean kesal dengan kelalaiannya sendiri.
Dean memperhatikan mulut gua dan ruang sekitarnya. Udara dingin yang basah berhembus masuk. Hujan memang tidak terlalu deras tapi petirnya menggelegar yang kadang menggetarkan dinding gua.
__ADS_1
Malam lumayan larut dan hujan sudah reda ketika terdengar suara melengking nyaring yang menyeramkan. Dean yang baru terlelap kembali membuka mata dan duduk. Disenggolnya Sunil yang tidur tak jauh dengan kakinya.
"Bangun," bisik Dean.
"Hmmm?? Apa?" Sunil masih belum sepenuhnya bangun.
Lalu kembali terdengar suara lengkingan yang lebih keras. Kali ini ditingkah suara lain dan getaran di tanah. Sunil langsung duduk tegak mendengar itu.
"Apa itu? Suaranya menyeramkan sekali," Sunil mengawasi mulut gua dengan tajam.
"Kau dengar suara tanah bergetar?" Dean menempelkan telinganya ke lantai gua.
"Ya. Dan suara-suara lain campur aduk," jawab Sunil.
"Terdengar seperti bunyi suara kaki pasukan yang sedang berlari," Dean belum mengangkat kepalanya dari tanah.
"Pasukan? Alan, bangun!" Sunil bangkit dan membangunkan Alan.
Akhirnya para wanita juga ikut bangun karena domba-domba itu mengembik bersahutan.
"Ada apa ini?" tanya mereka bingung.
"Bujuk dombamu agar tidak bersuara," perintah Dean serius pada Widuri.
Widuri tak mengerti, tapi segera mendekati domba dan mengusap-usap untuk menenangkan.
"Makhluk apa itu?" Dewi dan Nastiti ketakutan.
Suara gemuruh di permukaan tanah makin kuat seakan ada banyak binatang besar yang berlarian kalang kabut di hutan. Gua juga tiba-tiba ikut bergetar, beberapa batu kecil jatuh dari atap gua.
"Apa ada yang berlari di bagian atas gua?" Alan cemas, gua itu bisa runtuh kapanpun bila binatang-binatang besar berlarian di atasnya.
Dean mengamati struktur gua yang begitu lapang tanpa penopang tengah. 'Gawat kalau gua ini sampai runtuh' batinnya.
"Siapkan ransel masing-masing. Kalau makin gawat, kita terpaksa keluar gua." Dean memberi instruksi.
Belum sempat teman-temannya merespon, terdengar suara gaduh dari kedalaman gua kelelawar. Mereka serentak menoleh ke arah kegelapan pekat di sana. Suara-suara mencicit nyaring makin jelas dan ramai terdengar menuju ke arah mereka. Dean segera tersadar.
"Tiaraaap!" teriak Dean keras lalu menjatuh diri dan melindungi kepalanya.
Kelima temannya lambat merespon karena kaget hingga Dewi tersambar oleh kelelawar-kelelawar yang beterbangan tak tentu arah di ruang gua.
"Aaaahhh," teriak Dewi kesakitan saat tersambar cakar-cakar tajam pada wajahnya.
Nastiti dengan cepat menariknya hingga jatuh agar tidak tersambar lagi.
"Aduuhh.. huhuhu.." Dewi tanpa sadar menangis karena rasa sakit dan takut yang dirasakannya.
__ADS_1
"Ssttt.. sudah, gak apa-apa. Nanti kita obati lukamu," bujuk Nastiti.
Namun kekacauan malam itu masih belum berakhir. Gua itu kembali bergetar hebat meskipun tidak lagi terdengar derap langkah di bagian atas gua. Kali ini bagian dinding di dekat Widuri yang berkumpul bersama kawanan domba yang bergetar. Batu-batu kecil berjatuhan dari atas.
"Widuri. Menyingkir dari sana!" teriak Alan panik.
Alan mencoba menjangkau untuk menarik Widuri agar segera menjauh, tapi Widuri dengan keras kepala malah sibuk menjauhkan domba-domba lebih dulu. Lantai gua bergoyang seperti terjadi gempa.
"Keluar. Keluar!" teriak Dean panik.
Dean dengan cepat meraih tasnya dan sebuah kristal cahaya juga kristal api. Lalu menarik Dewi serta Nastiti. Sunil sudah mendekati mulut gua.
"Alan, gotong saja dia keluar kalau bandel!" teriak Dean yang sedang membantu Dewi berjalan keluar gua.
Sekali lagi lantai gua itu bergoyang. Cukup keras hingga membuat mereka langsung jatuh terduduk.
"Krakk.. krakkk.. Boommm!"
"Widuriiii!" teriakan Dean yang ketakutan kalah dengan suara hiruk pikuk kelelawar serta bunyi bebatuan yang jatuh berhamburan.
"Uhuk.. uhukk.."
Debu yang memenuhi ruang gua itu mengganggu pernafasan. Tak terdengar suara lain selain suara batuk mereka yang sedang mencoba mencari oksigen untuk bernafas. Tapi setiap kali menarik nafas, yang tertelan justru debu yang justru makin menyesakkan nafas.
"Apa kalian baik-baik saja?" Dean kembali berteriak.
Dean tak dapat melihat apapun. Semua tampak kabur karena debu tebal yang beterbangan. Meski Dean menggunakan kristal cahaya yang di tangannya sebagai penerang, itu tetap tak berguna.
"Bisa kalian jawab aku? Uhukk." Suara Dean kembali terdengar.
"Sunil, kau tadi sudah dekat mulut gua. Apa kau baik-baik saja?" tanya Dean lagi.
"Uhukk.. uhukk.. ya..," terdengar suara Sunil.
"Ayo gunakan suara Sunil sebagai pedoman jalan menuju mulut gua. Kita harus segera keluar!" perintah Dean.
"Sunil, kau harus terus memberi tanda." perintah Dean.
"Ya. Aku, uhukk.. di sini.." kata Sunil.
"Alan, kau bagaimana?" Dean masih terus memeriksa.
"Yaa.. uhukk," suara Alan terdengar lemah.
"Tutup mulut dan hidung kalian dengan kain baju agar tak menghirup debu," ujar Dean mulai terdengar lirih.
"Widuri.." suara Dean terputus di keheningan..
__ADS_1
***