
Cukup lama Dean dan Robert pergi. Saat kembali, semua temannya sudah tertidur di dalam selubung cahaya putih.
"Bagaimana?" tanya dokter Chandra yang menyadari kehadiran keduanya.
Dean dan Robert menggeleng.
"Tak ada Monas. Tak ada Gelora Bung Karno, Tak ada juga gedung MPR yang bentuknya sangat khas itu." ujar Dean.
"Saat kami melintasi pusat kota, bahkan jalanan utama kotanya sangat berbeda," tambah Robert.
"Fix, ini bumi yang berbeda," timpal Sunil.
"Bagaimanapun, hal itu patut kita syukuri. Karena itu berarti, keluarga kita di bumi yang lain, sedang baik-baik saja." Marianne nimbrung bicara.
"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Sunil.
"Pergi secepatnya!" kata dokter Chandra tegas. "Makhluk yang tinggal di bintang saja tidak mampu bertahan dengan serangan ini. Apalagi tubuh manusia yang lemah."
"Dokter Chandra benar. Sejak orang tadi itu tertular, sudah berapa orang yang dia jumpai sepanjang perjalanan dia ke sini? Sebentar lagi semua tempat akan tertular penyakit itu." Marianne bergidik ngeri.
Widuri, Niken dan Indra dibangunkan. Semua perlengkapan mereka disimpan kembali.
"Kita mau ke mana?" tanya Alan yang masih dalam selubung cahaya.
"Ke pulau tak berpenghuni!" jawab dokter Chandra.
"Baik."
Semua mengangguk patuh. Dan terbang bersama-sama. Mereka tak tau, bahwa kepergian mereka itu menimbulkan sedikit kegemparan. Meski sudah terbang tinggi agar tak tertangkap mata awam, tapi karena Alan masih diselubungi cahaya putih, Dia jadi terlihat.
"Lihat! Ada meteor jatuh!"
Orang-orang berkumpul melihat setitik cahaya putih terbang melintas di atas langit.
*
*
"Itu ada pulau," tunjuk Dean.
"Terlalu dekat ke daratan!" tolak dokter Chandra.
Mereka kembali terbang menjauh dari daratan Jakarta.
"Itu saja!"
Dokter Chandra terbang lebih rendah untuk melihat situasi pulau. Yang lain mengikuti. Dan ketika dokter Chandra akan mengeluarkan kemampuannya lagi, dia dicegah Sunil.
"Cukup, Penguasa. Biarkan kami membereskan semuanya."
Dokter Chandra mengangguk. Mereka turun dan bekerja hingga larut malam. Membersihkan setengah pulau agar layak untuk dijadikan tempat istirahat. Lewat tengah malam, semuanya dapat beristirahat dengan tenang dan memulihkan diri.
*
__ADS_1
*
Pagi yang cerah dengan hembusan angin dingin, membangunkan anggota tim yang tertidur pulas.
"Ugh ... nyaman sekali di sini," ujar Sunil sambil menggerakkan tangannya untuk peregangan. Dibukanya mata dengan malas, lalu terbelalak
"Penguasa!" serunya dengan terkejut.
Semua orang ikut terbangun mendengar suaranya yang keras. Tapi kemudian mereka ikut terkejut. Mata mereka tak berkedip melihat sekitarnya. Tak tau harus senang atau justru takut. Dengan wajah khawatir, mereka mendekati dokter Chandra yang masih berbaring.
"Apa Anda yang melakukan ini semua?" tanya Dean dengan nada sedih.
"Kita butuh persediaan makanan yang cukup dalam ketidakpastian ini," jawab dokter Chandra lirih.
"Tapi anda kembali mengorbankan diri demi kami ...."
Suara Sunil tercekat, menahan tangis.
"Biarkan aku beristirahat."
"Baik, Penguasa."
Semua terdiam. Bahkan Alan yang sedari malam tidur jauh dari yang lainnya, ikut terdiam. Dia bangkit, pergi menjauh sambil menghapus air matanya diam-diam.
Dengan mata berembun basah, Dean bangkit dan mulai memberi arahan.
"Penguasa sudah memutuskan seperti ini. Kita hanya harus menaati. Sementara kita berdiam di pulau ini dan menunggu semua tanaman bisa dipanen. Ayo, mulai bekerja. Biarkan penguasa beristirahat."
Semuanya membubarkan diri dan melihat perubahan yang ada dengan takjub. Pulau yang tadi malam hanya dibersihkan separuh, kini sudah berubah jadi pulau hijau yang subur. Berbagai jenis sayuran tumbuh teratur. Bahkan ada sepetak ladang gandum yang menghijau diantara kebun sayuran. Sementara seluruh pulau itu terlindung dari pandangan luar dengan rimbunan tanaman bakau yang mengelilinginya.
"Penguasa, ini, minumlah dulu sebelum istirahat." Dean membantu dokter Chandra untuk minum air abadi. Lalu membiarkannya melanjutkan tidur.
"Tanah di sini basah dan lembab. Tapi aku tak tau kapan turun hujan," bisik Niken.
"Pasti saat kita tidur," terka Widuri.
"Kenapa kita gak basah kehujanan?" Niken sangat penasaran.
"Bisa jadi, kita semua juga diselubungi dengan cahaya, seperti Alan." Kali ini Marianne ikutan menebak.
"Sudah, jangan banyak menebak. Kita singkirkan seluruh rumput yang ikut tumbuh tinggi bersama sayuran. Ayo kerja!" ujar Indra.
"Tapi kemampuan penguasa itu memang menakjubkan. Lihatlah. Bahkan ada kolam kecil di tengah pulau, yang aliran airnya mengarah ke seluruh kebun."
"Iya. Kita bahkan bisa melihat beberapa pohon kelapa setinggi satu meter tapi sudah berbuah lebat," timpal Niken sambil mencabuti rumput.
"Itu karena kalian tidak melihat dunia kecil tempat A, O dan Z berada. Tempat itu sangat indah. Banyak pohon buah yang buahnya sampai berjatuhan ke tanah. Kami punya banyak domba yang susunya diperah Dewi tiap pagi dan sore. Kami juga punya ladang gandum yang luas, seperti di kebun Yabie dan Kang. Dan hutan Mapel yg airnya manis." Widuri mengenang tempat dimana dia dan tim Dean mengalami banyak perubahan.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Alan. Dia membawa empat buah kelapa muda.
"Aku menceritakan tempat kita bertemu. Di gunung batu. Bukankah tempat itu juga sangat indah?" ujar Widuri.
"Ya, tempat yang sangat indah," jawab Alan tersenyum.
__ADS_1
"Kita sarapan dengan kelapa muda saja, dulu." Alan membagikan buah kelapa yang dibawanya.
"Oke. Terima kasih, Alan," ucap Indra.
"Aku mau berkeliling dulu. Mana tau ada ikan atau udang diantara akar bakau. Lumayan untuk menu tambahan." Alan berjalan menjauhi ujung kebun.
Siang hari mereka berkumpul untuk beristirahat. Widuri, Niken dan Marianne menyiapkan makanan sekedarnya. Beruntung Alan berhasil menemukan sedikit udang kecil yang ditumis bersama sayuran. Tim itu makan dengan lahap. Dokter Chandra yang sudah bangun juga ikut mengisi perut.
"Dean, jadi bagaimana sekarang?" tanya Indra.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Dean bingung.
"Jika bumi ini bukan bumi kita, lalu bagaimana kita akan kembali?" Indra bertanya lebih spesifik.
"Ya kita harus mencari pintu teleportasi atau worm hole lainnya," ujar Dean enteng.
"Di mana?" desak Indra.
"Ya tidak tau. Kita cari dulu dong." Widuri menimpali pembicaraan keduanya.
"Yang jelas, sekarang ini kita harus selesaikan dulu tugas di pulau ini. Baru jalan lagi. Penguasa pasti sudah mempertimbangkan semuanya." Alan ikut angkat bicara.
Yang lain akhirnya menganggukkan kepala.
"Kira-kira, apa yang terjadi di daratan sana, ya?" celetuk Niken.
"Jangan dibayangkan!" Marianne mengetuk dahi Niken.
"Aduh ...." Niken meringis.
"Jangan bicara yang seram-seram," omel Marianne lagi.
"Aku cuma berpikir, apa—
Indra membekap mulut Niken dan melotot padanya dengan kesal.
"Jaga mulutmu," bisiknya di telinga Niken. Niken terdiam. Meski masih belum faham, tapi Indra sudah memperingatkan. Itu artinya ada sesuatu yang salah dengan ucapannya tadi. Niken jadi berpikir keras, mengingat kata-katanya. Kemudian dilihatnya semua orang menatapnya dengan tatapan mematikan. Menyuruhnya tutup mulut! Kecuali ... kecuali dokter Chandra yang duduk terpekur di tempatnya. Bahkan makanan di piringnya belum habis dimakan.
"Oh tidak!" batinnya ngeri.
Niken menyadari omong kosongnya tadi telah menjadi beban pikiran Penguasa yang bahkan kini sudah melemah hanya agar mereka bisa bertahan hidup.
Niken menundukkan kepalanya ke lantai batu. "Maafkan aku ... maafkan aku ...." ucapnya berkali-kali. Suara Niken sudah hampir menangis.
Dean memberi kode pada Indra. Indra membawa Niken menjauh dari sana. Mereka bisa mendengar tangis Niken pecah dipelukan Indra. Semuanya kini terdiam. Tak tau harus apa. Melihat dokter Chandra yang tadi terdiam dan termenung, sudah pasti jiwa Penguasa yang sedang istirahat ikut terusik.
"Dia benar!"
Suara dokter Chandra mengagetkan mereka.
"Harusnya aku mengatasi itu, bukan malah melarikan diri. Tapi, bahkan akupun, tak memiliki kekuatan untuk menentang alam. Ini adalah takdir dunia ini. Masih ada kekuatan lain yang tak dapat kita lampaui."
"Ingatlah ini. Menerima takdir adalah cara termudah mengobati hati," ujar dokter Chandra.
__ADS_1
"Kami akan mengingat nasehat Anda," sahut Dean, Robert, Alan dan Sunil dengan hormat.
*******