
Selesai sarapan, matahari sudah naik. Kabut yang sebelumnya menyelimuti pulau, mulai terangkat. Pohon-pohon menghijau mulai terlihat.
Semua sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka saling berpelukan dengan keharuan mendalam.
"Apakah hujan semalam, membawa bibit tanaman? Kalaupun iya, mustahil bisa tumbuh dalam semalam!" ujar Sulaiman heran.
"Ini keajaiban namanya. Berkah dari Tuhan," jawab Robert bijak.
Sulaiman mengangguk.
"Kau benar. Setelah panas yang membakar, Tuhan mengirimkan hujan dan menumbuhkan tanaman bersamanya. Itulah pertanda kehadiran Nya di dunia ini."
Semua telah berkumpul. Bersiap untuk berangkat.
"Jagalah pulau ini dengan baik," pesan dokter Chandra.
Leon mengangguk patuh.
"Ya, akan kuingat pesan itu."
"Kalian pergi naik apa? Kemarin ku lihat hanya ada satu perahu kecil di pantai," kata Sulaiman.
"Kami tak butuh perahu," jawab Alan sambil tersenyum.
"Ah ... kalian mau berenang?" tanyanya tak percaya.
"Hahahaha ...."
Semua tertawa mendengarnya.
Satu persatu anggota tim hilang dari teras. Sulaiman terkejut melihat tiga wanita dan seorang pria serta macam itu, hilang dari hadapannya. Mulutnya ternganga.
"Kami pergi. Selamat tinggal!"
Dokter Chandra melesat naik, diikuti yang lainnya. Leon dan Jane turun ke halaman untuk melambaikan tangan.
Sulaiman masih ternganga. Begitu terkejutnya hingga tak bisa bicara. Tangannya hanya menunjuk ke langit, dimana tim kecil itu terbang semakin jauh hingga terlihat seperti noktah hitam di langit biru yang jernih.
Leon dan Jane masuk ke rumah dan melihat Sulaiman yang masih terlihat linglung. Leon menepuk pundak pria itu.
"Sudah. Mereka sudah pergi. Mari kita ke kebun dan menanam bibit sayuran," ajak Leon.
"Ah .... Mereka bisa terbang?" tanya Sulaiman tak percaya. Leon mengangguk.
"Apa kau juga bisa terbang?" tanya Sulaiman ingin tau. Leon menggeleng. Sulaiman sedikit kecewa karenanya.
"Jangan ceritakan hal itu pada siapapun, oke!" tegas Leon.
"Tentu saja. Mereka begitu baik. Sudah membantuku. Aku takkan membuka rahasia mereka."
Sulaiman memberi tanda mengunci mulut pada Leon.
"Bagus! Kau sudah mendapat berkat dari dokter Chandra. Jangan membuatnya marah. Dia bisa mengambil apapun yang pernah diberikannya." Leon mengingatkan.
"Tentu. Aku akan mengingatnya." Sulaiman mengangguk mantap.
__ADS_1
*
*
Tim Dean melintasi pulau pertama, kedua dan ketiga, yang telah mereka periksa sebelumnya.
"Apakah itu pulau?" tunjuk Sunil ke satu titik hitam di cakrawala.
"Mari kita ke sana," ujar dokter Chandra.
Yang lain mengangguk. Mereka melesat cepat ke titik hitam kecil di ujung sana. Tak butuh waktu lama hingga mereka mencapainya. Itu pulau yang lebih kecil dari pada yang ditinggali Leon. Keseluruhan pulau gosong terpanggang. Tapi tak terlihat jejak bangungan di sana.
"Seperti pulau tak berpenghuni, ujar Dean.
"Kita lanjutkan ke sana!" tunjuk dokter Chandra.
Kelima orang itu terbang lagi ke pulau lain yang tak jauh dari situ. Ada dua pulau lagi yang seperti tadi. Kecil dan tak berpenghuni.
Dean melesat tinggi ke atas, untuk mencari pulau lainnya.
"Di sana ada yang lebih besar!" seru Dean.
"Ayo!"
Kelima orang itu terbang lagi ke arah yang ditunjuk Dean. Tak sampai 15 menit mereka terbang, kemudian berhenti.
"Bukankah ini pulau yang sangat besar?" ujar Sunil.
"Entah kita sampai di pulau Kalimantan, Bangka, Belitung atau kepulauan Riau," ujar Alan.
"Nama pulaunya tidaklah penting. Yang penting kita periksa dulu, apakah masih ada yang bisa kita selamatkan di sana!" tukas Robert.
"Oke!"
Mereka mendekat dengan hati-hati. Terlihat bangkai-bangkai kapal di sepanjang pantai dan laut yang berdekatan dengan pulau.
"Apa kau ada melihat pergerakan?" tanya Sunil.
"Belum," jawab Robert.
Mereka makin mendekat. Bau bangkai tercium sangat kuat dihembuskan angin.
"Bau bangkai. Berarti belum ada yang memeriksa pulau ini. Ayo, cepat!" ujar Dean.
Lima orang itu terbang mendekat, tapi masih dalam ketinggian yang aman dari pandangan awam. Pulau itu sangat sunyi. Ini sudah hari ke-3 kejadian itu. Kesempatan menemukan yang selamat, makin kecil. Di bawah sana tak ada satu makhlukpun yang bergerak. Hanya ada reruntuhan menghitam seluas mata memandang.
"Ayo turun!" ajak dokter Chandra.
Kelimanya turun perlahan sambil menutup hidung. Udara di sini sudah sangat tercemar.
"Aku tak tahan."
Alan terbang menjauh dan muntah di tengah lautan.
"Aku akan mengangkat semua bangkai ikan di pantai. Bisakah kau membakar hingga habis di udara?" tanya Dean pada Robert.
__ADS_1
"Oke!" jawab Robert.
Keduanya bekerjasama membereskan pantai yang berbau teramat busuk.
"Alan, bantu aku!" teriak Sunil memanggil.
Alan tetap mendekat, meskipun enggan. Keduanya membersihkan pantai seperti cara Dean dan Robert.
Sementara itu, dokter Chandra menyisir daratan dari arah pantai hingga ke bukit. Satu demi satu jenazah yang ditemukan, diangkatnya. Makin jauh dia memeriksa makin banyak jenazah yang melayang mengikuti. Hingga dia menemukan area terbuka yang mirip bekas lapangan bola.
Dokter Chandra berhenti di atas lapangan itu. dengan menggerakkan jarinya, tanah keras itu terbelah. Dilakukannya beberapa kali, hingga terlihat lubang besar menganga di sana. Satu demi satu jenazah yang melayang tadi, dimasukkan ke dalamnya. Disusun berjejer hingga tiga baris. Hatinya sedih melihat banyaknya orang yang tewas.
Jiwa Penguasa pedih membayang rakyat bangsanya yang juga tewas tersebar entah ke mana saat terjadi bencana besar di bintang. Saat itu dia tak dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan mereka.
Ratusan tahun dia menyesali pilihannya untuk menghindar lewat teleportasi. Harusnya dia melindungi semua orang. Jikapun harus mati, dia bisa mati dengan bangga karena melindungi rakyat. Sekarang, dia hanya bisa melakukan ini untuk menebus kesalahannya yang lalu. Membantu bangsa manusia yang telah menolongnya dari jebakan Pengkhianat.
Dokter Chandra kembali menyusuri semua tempat. Dalam waktu singkat, kembali terkumpul banyak jenazah. Dan semua itu dibaringkan di lubang bekas lapangan bola itu.
Hingga siang hari, telah digali tiga lubang besar untuk menguburkan semua jenazah. Tapi mereka bahkan belum mencapai setengah pulau itu.
Kelimanya beristirahat di pantai yang sudah bersih dari bangkai. Namun bau busuk masih dibawa angin dari tempat lain. Dean mengeluarkan air abadi untuk mereka minum dan menambah energi. Tak ada yang memiliki selera makan sekarang.
"Kita harus bersihkan seluruh pulau, baru bisa beristirahat dengan tenang," kata dokter Chandra. Dia terlihat kelelahan.
"Penguasa beristirahatlah dulu. Biar
kami yang menyelesaikan hingga sore," ujar Robert.
Dokter Chandra mengangguk. Penguasa itu menyadari bahwa jiwanya sendiri sudah ribuan tahun. Dan fisik dokter Chandra juga sudah termasuk ukuran orang tua. Sudah tak mungkin dipaksa untuk bekerja keras sesukanya.
Setelah beristirahat selama satu jam, Dean, Robert, Sunil dan Alan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Dokter Chandra masih duduk diam di situ. Meski cahaya matahari terik, tapi dia tak terganggu sedikitpun. Cukup lama dia berdiam diri, hingga tubuhnya diselubungi cahaya putih berkilauan. Memancar ke seluruh pulau tersebut.
"Penguasa!" ujar Sunil terkejut ketika merasakan cahaya itu melewati tubuhnya.
Dia dan Akan melesat cepat menuju tempat mereka meninggalkan dokter Chandra. Keduanya tiba hampir berbarengan dengan Dean dan Robert yang terlihat panik. Mereka melihat cahaya kemilau itu memancar dari tubuh dokter Chandra.
"Penguasa! Jangan korbankan diri anda!" seru Robert cemas.
Dean, Alan dan Sunil terkejut.
"Apa maksudmu!" tanya Alan kasar.
Dokter Chandra jatuh dari duduknya bersamaan dengan lenyapnya cahaya kemilau itu.
"Penguasa!"
Dean menyerbu, mendekati dokter Chandra. Disodorkannya secangkir air dan memaksakan agar dapat masuk ke dalam mulut. Air memang terminum. Tapi dokter Chandra masih pingsan. Mereka membaringkannya di pinggir pantai. Alan melindunginya dari terik matahari, dengan selubung cahaya merahnya.
Dean, dan Sunil mendesak Robert untuk mengatakan apa yang dia tau tentang ledakan cahaya tadi. Mereka sangat gusar, karena Robert tak bisa memberi penjelasan yang memuaskan.
"Aku tidak tau bagaimana mengatakannya. Tapi aku pernah membaca, bahwa Penguasa memiliki kemampuan memperbaiki dunia yang rusak."
"Bukankah kau bekerja di dunia kecil pertanian yang indah? Pernahkah kau mencerna, bagaimana dunia kecil yang jauh dari daratan bintang utama, bisa sesubur dan seindah itu? Komplit dengan aliran air untuk menghidupi semua tanaman secara berkesinambungan."
"Maksudmu, dunia kecil itu diperbaiki agar bisa ditinggali? seperti Pulau Buwan yang tumbuh subur dalam semalam?" tanya Dean tak percaya.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi lihat keadaan pulau ini. Apakah ada perubahan atau tidak." Robert tak bisa menjelaskannya lagi.
******