PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 378. Masalah Suku Cahaya


__ADS_3

Para pengawal segera menolong pemimpin mereka yang kalah kuat dengan Indra.


"Kau! Orang asing, menerobos masuk ke desa dan membuat onar! Apa maumu!" hardik salah seorang penjaga itu.


"Harusnya kalian bersikap hormat dan bersahabat dengan leluhur Bangsa Cahaya! Bukan malah bersikap kurang ajar!" Indra membentak balik.


"Bangsa Cahaya apa! Negri itu sudah hancur berkeping-keping. Tak ada yang tersisa!" debat yang lain tak mau kalah.


"Jika kakek nenekmu yang berasal dari Bangsa Cahaya bisa diselamatkan oleh Jenderal Pedang Pembunuh, apa kau tak berpikir bahwa di tempat lain juga ada yang selamat?" Indra bertanya dengan heran.


"Dia ada benarnya! Jika kita bisa sampai dan menetap di sini, harusnya ada juga yang menetap di tempat lain!" jelas penjaga lain pada teman-temannya.


"Buktikan pada kami, bahwa kau adalah Bangsa Cahaya!" ujar orang lainnya tak mudah percaya.


Tubuh Indra kini diselubungi cahaya merah seperti api. Matanya menyala merah terang, dan tangan serta jari-jarinya mengeluarkan mata api dan petir-petir kecil.


"Woaaaa....!"


Seruan terkejut dan takut mulai mendengung. Melihat tangan Indra dapat mengeluarkan api, mereka mulai menyadari sebab musabab wajah pemimpin tadi mengalami luka bakar dan melepuh.


Indra terbang mengelilingi mereka. "Kemampuan dasar Bangsa Cahaya adalah terbang! Semua keturunan Bangsa Cahaya bisa terbang. Lalu bakat yang didapat sejak lahir."


"Setiap orang memiliki bakat uniknya masing-masing. "Aku, punya bakat api dan petir. Aku bisa mengendalikan api, dan petir! Memanggang kalian jadi abu, semudah menjentikkan jari!" Indra menekankan kata-katanya.


Benar saja. Sekarang orang-orang desa mulai merasa takut. Tapi tetnyata ada yang tidak merasakan takut. Dia terlihat senang melihat pertunjukan Indra.


"Paman! Ajari aku menyalakan api!" teriaknya nyaring.


Semua mata menoleh padanya. Indra dapat melihat, seorang anak berumur enam atau tujuh tahun, terbang sambil berpegangan pada tangan seorang pria muda yang juga terbang di sampingnya.


"Salam, Saudara Leluhur!" sapa pria muda itu.


Orang-orang desa terkejut mendengar salam seperti itu. "Tuan Muda!"


Pria yang disapa Tuan Muda itu, mengangkat tangannya, menghentikan bantahan yang akan dilontarkan.


"Aku baru keluar dari kamar ayah. Leluhur Jenderal Pedang Pembunuh telah kembali. Ratusan tahun dia tak menyerah mencari kita. Lalu apa alasannya kita menyangkal kehadirannya? Lihatlah saudara kita ini..Bukankah tak jauh beda denganku? Apa yang membuat kalian ragu dan memusuhi orang sendiri?"

__ADS_1


Para penduduk desa itu tertunduk. Tadi mereka minta bukti. Bukti sudah ditunjukkan, kenapa masih menyangkal?


"Beri salam yang sepantasnya pada saudara kita dan leluhur di dalam sana!" perintah Tuan Muda itu.


"Salam, Leluhur. Salam Saudara, selamat datang kembali," ujar mereka sopan.


Indra manggut-manggut dan tersenyum lebar. "Jangan sungkan. Tadi hanya kesalah pahaman biasa!" ujarnya santai.


"Paman, ajari aku membuat api!" ujar anak kecil itu lagi.


"Ah, ini putraku. Menurut ayah, dia memiliki bakat api. Tapi dia belum bisa mengeluarkan api di tangannya," jelas pria itu.


"Coba katakan dulu siapa namamu! Lalu tunjukkan padaku cahaya matamu!" Indra berjongkok di hadapan anak itu.


Anak kecil itu sangat senang bertemu Indra yang meniliki bakat sama dengannya. Ayahnya memiliki cahaya ungu kebiruan, sementara ibunya memiliki cahaya putih kelabu.


"Namaku Flame!" ujarnya senang. Dan dengan percaya diri, dia memunjukkan sinar matanya yang kuning kemerahan.


"Orange. Cahaya matamu bukan merah, tapi orange. Aku kenal seorang Jenderal hebat yang memiliki mata yang sama denganmu. Tentu saja kau akan bisa membuat api nanti. Kau bisa sehebat dirinya!" Ujar Indra serius.


"Apakah Jenderal itu sudah mati?" tanya anak itu tak kalah serius.


"Orang hebat, harusnya tidak mati!" ujarnya polos.


"Hahahaha...." Indra tertawa terpingkal-pingkal. "Siapa yang mengatakan hal seperti itu?" tanya Indra tersenyum geli.


"Aku! Aku ingin menjadi yang terhebat agar bisa menjaga penduduk desa selamanya!" ujarnya penuh keyakinan.


Indra menghela napas. "Mari kita duduk dan berbincang dulu. Kau mau mendengarkanku?" tanyanya. Anak itu mengangguk.


Ketiganya turun ke bawah dan duduk di tanah. Penduduk desa lain ikut duduk melingkari Indra. Mereka ingin mendengar cerita yang dibawa saudara satu bangsa yang entah tinggal di mana ini. Artinya, ada Bangsa Cahaya lain yang hidup di suatu tempat, di dunia ini.


"Bangsa Cahaya adalah bangsa yang hebat dan maju. Negri kita berada di salah satu bintang, selama jutaan tahun. Kota itu gemerlap. Karena tubuh kita sendiri dapat mengeluarkan cahaya semu ke sekitar kita. Lihat!" Indra menunjukkan cahaya kemerahan yang berpendar dari tubuhnya.


"Sekarang, bayangkanlah satu tempat, dimana ada begitu banyak cahaya warna-warni berpendaran di sekitar kita. Bukankah itu tempat yang indah?" ujarnya penuh senyum, dan sedang membayangkan.


Anak kecil dan ayahnya mengikuti cara Indra. Mereka berdua mengeluarkan cahaya berpendar juga dari tubuhnya. Tempat berkumpul itu jadi terang benderang sekarang.

__ADS_1


"Waahhh ... aku sudah bisa membayangkannya! Jika ada banyak warna yang berpendar, pasti lebih cantik. Kita tak butuh obor lagi!" celetuk salah seorang warga desa. Yang lain mengangguk setuju.


Indra mendengarkan orang-orang itu saling bicara. "Sssttt!" bisik lain, menyuruh diam.


Indra mengangguk dan melanjutkan cerita. "Tapi, semua keindahan dan kehebatan itu, musnah dalam sekejap, saat terjadi kekacauan di angkasa. Meteor dan bintang-bintang saking tabrak dan menghancurkan semua peradaban yang ada, termasuk bangsa kita."


"Banyak yang tewas saat itu. Dari rakyat biasa, hingga para jenderal hebat dan pejabat. Bangsa kita terpencar-pencar. Dalam ribuan tahun itu, beberapa yang selamat, melanjutkan hidup dengan menikahi bangsa lain. Seperti kalian di sini juga."


"Di mana mereka tinggal?" tanya warga desa.


"Di suatu tempat yang sangat jauh. Kelompok kami bertemu dengan mereka dalam perjalanan," jawab Indra.


"Bisakah kita ke sana? Di sini kami hidup dalam ketakutan!" ujar seseorang!


Indra mengangkat kepalanya. "Bisa kalian katakan, apa yang terjadi?" tanya Indra penasaran. Dia juga dapat melihat ketakutan itu pada diri tabib yang memohon dibukakan pintu untuk masuk.


"Aku sudah mengetahuinya!" terdengar suara di belakang Indra. Semua pandangan beralih pada wanita itu.


"Ivy!" Sapa Indra. Dia bangkit berdiri ke dekatnya. "Apa urusanmu di dalam sudah selesai? Kita bisa segera pulang?" tanyanya.


"Pulang apanya!" Sentak Ivy sambil mengetuk kepala Indra dengan anak panah di tangan.


"Aduh ... kau kasar sekali!" protes Indra.


"Bukankah tadi kau ingin tahu kenapa mereka hidup dalam ketakutan? Lalu kau ingin pulang, tanpa membantu mereka?" tanya Ivy gemas.


"Apa rencanamu?" tanya Indra.


"Mendatangi mereka!" jawab Ivy cepat.


"Apa? Siapa yang mau kau datangi? Aku bahkan belum tau persoalannya. Jangan gegabah!" Kata Indra heran.


"Jadi kau belum tau?" Ivy menoleh pada Indra dengan pandangan yang sedikit terasa tak menyenangkan di mata Indra.


"Aku baru bertanya. Mereka belum lagi bicara, tapi kau sudah memotong jalur komunikasinya. Jadi, bagaimana aku bisa tahu. Kau juga tidak menceritakan apapun padaku!" sanggah Indra.


Ivy menaikkan sebelah alisnya. "Baiklah ... biar ku katakan!" ujarnya.

__ADS_1


"Jangan memandangku dengan tatapan begitu. Aku jadi merasa dilecehkan!" tegur Indra kesal.


**********


__ADS_2