PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 268. Dunia Asing


__ADS_3

Alan lebih dulu sampai pada titik hitam yang disebut Dean. Dia berhenti dan melayang di atasnya. Itu hanya sekumpulan batu besar di tengah tanah tandus ini.


Dean berhenti dan ikut mengamati keadaan di bawah sana. Perlahan Dean mencoba turun.


"Tunggu! Jangan!" teriak Sunil melalui pesan transmisi. Dia sedang melesat, menyusul dari kejauhan.


Dean berhenti. Menoleh ke arah Sunil.


"Awas Dean!" teriak Alan.


Semua menjerit ngeri. Lalu terdiam dan menutup mulut dengan tangan.


Dean membalikkan badan saat merasakan gesekan udara di dekat kepalanya. Matanya membesar. Sesosok makhluk aneh yang lumayan besar dan berlengan panjang, jatuh berdebum di tanah gersang. Menerbangkan debu-debu dan pasir ke udara.


Dean kembali melayang lebih tinggi. Teriakan Sunil tadi mengalihkan perhatian dan kewaspadaannya sejenak.


Perlahan debu-debu kembali menipis. Mereka bisa lihat makhluk sial itu setengah mati, dengan tubuh berasap dan sesekali bergetar karena efek listrik yang tertinggal.


"Terima kasih, Alan."


Dean mengucapkannya setulus hati. Sunil melayang disamping Dean.


"Akhirnya kalian melihatnya," ujar Sunil.


"Apa kau juga melihatnya mau menyerangku?" tanya Dean takjub.


"Bukan! Yang sejenis dengan itu sekarang sedang berkelahi memperebutkan kepala kuda, di sana!" tunjuk Sunil ke arah tempat yang mereka tinggalkan tadi.


"Jadi menurutmu, dia juga ada di sini?" tanya Alan heran.


Sunil mengangguk. Dean segera memahami jalan pikiran Sunil.


"Sunil benar. Di tempat gersang ini, hanya kumpulan batu ini yang bisa melindungi mereka dari udara panas. Jadi, seharusnya di sini adalah markas besar mereka!"

__ADS_1


Dean melayang lebih tinggi. Alan dan Sunil mengikuti. Mereka harus berada diluar area jangkauan lengan-lengan panjang seperti lengan gurita itu.


"Lalu kemana kita pergi? Udara terasa makin panas, Dean," tanya Marianne.


Dean menoleh ke sekitarnya. Tak ada lagi noktah hitam sejauh matanya memandang. Jikapun ada, tempat itu harusnya sudah dikuasai penghuni dunia ini. Dean melihat ke arah cahaya buram kekuningan yang mulai merambat naik.


'Tempat apa ini?' batin Dean bingung.


Dia harus segera mencari tempat berlindung bagi anggota tim. Atau mereka akan matang terpanggang. Jika cahaya kuning itu adalah matahari, maka dia sepertinya lebih cepat melintasi tempat ini ketimbang matahari yang dikenalnya.


"Kita harus membuat tempat berlindung, Dean!" seru Alan.


Dean mengangguk. "Apa kau bisa melindungi kami dengan kubah cahayamu?" tanya Dean.


Alan mengerutkan keningnya sedikit. "Akan ku coba."


Mereka mencari tempat yang lebih jauh dari tebing itu. Alan dan Dean menurunkan semua orang.


Alan menutupi mereka semua dengan kubah cahaya merahnya. Lalu Dean mengeluarkan kepingan-kepingan batu pelataran yang sebelumnya dipotong dari gunung batu yang dingin. Dean mengeluarkan tempayan air dan makanan. Mereka akan beristirahat sejenak. Menunggu suhu tinggi berlalu.


Setelah minum, Dean juga mulai membantu Alan membuat perlindungan itu lebih sejuk. Dean mengangkat semua lempengan batu gunung itu melayang di udara. Disatukan sedikit di atas kepala mereka, dibawah kubah yang dibuat Alan. Batu-batu itu seperti perisai yang menahan arah jatuhnya cahaya panas.


Sunil duduk berjaga di belakang keduanya. Bersiap memberikan bantuan jika keduanya melemah seiring waktu.


Anggota tim lain tak mampu berkata-kata. Mereka bisa melihat usaha keras Dean dan Alan untuk menjaga nyawa mereka semua. Mereka tak berani mengucapkan keluhan apapun lagi. Kesulitan mereka, tak sebanding dengan apa yang dilakukan Dean, Alan dan Sunil.


Marianne menyeka air diam-diam yang bergulir di pipinya. Makanan bertumpuk di depan semua anggota tim. Tapi tak ada seorangpun yang ingin menyentuhnya. Tidak! Dean, Alan dan Sunil bahkan tak memikirkan makan saat ini. Bagaimana mereka bisa menelan makanan?


Widuri menunduk, memeluk Cloudy lebih erat. Hatinya membuncah haru. Dia ingin menangis, tapi Widuri tak ingin melemahkan Dean, jika menyadari hatinya sedang sedih.


"Aku harus kuat, demi Dean" gumam Widuri halus. Beberapa kali dia menghela nafas panjang.


Beberapa saat kemudian, Widuri menjadi lebih tegar. Dia tak ingin larut dalam sedih dan menambah kekhawatiran Dean. Dia justru harus membantu Dean menjaga tim.

__ADS_1


"Ayo kita makan," ajak Widuri pada yang lainnya.


Mereka saling pandang. Dan Widuri mengerti arti pandangan bingung teman-temannya.


"Kita harus punya cukup tenaga untuk saling menjaga. Berdasarkan pengalamanku saat di gunung batu, Alan akan melemah setelah melakukan hal ini. Mungkin Dean juga begitu."


"Itu adalah saat-saat krusial. Kitalah yang harus gantian menjaga mereka hingga kekuatan mereka pulih." Widuri menjelaskan apa yang pernah dialaminya saat di gunung batu.


Semua akhirnya mengerti. Mereka makan dalam diam. Memulihkan kondisi tubuh dibawah kubah perlindungan yang dibuat Alan dan Dean.


Cahaya buram kekuningan di atas sana, bergulir lebih lambat dalam penantian tim ini. Seakan mereka menghitung detik demi detik yang berlalu.


Meski udara di dalam kubah tidak begitu panas, tapi Dean tetap berkeringat. Widuri sesekali menyeka keringatnya.


Namun Michael memilih cara lebih praktis untuk menghidrasi Alan yang peluhnya mengucur seperti banjir. Dia yang langsung menahankan terpaan panas di luar. Jadi Michael menyiramkan air abadi ke kepala dan tubuh Alan secara berkala, untuk menyegarkannya.


"Lihat tanah di luar itu!" kata Niken dengan suara rendah.


Semua anggota tim itu memperhatikan permukaan tanah kering itu terbakar. Begitu panasnya hingga seperti muncul lidah api yang putih transparan di permukaan tanah. Sedikit asap tipis naik ke udara. Menambah panas suhu di luar.


"Berapa derajat ya... suhu di luar sana?" tanya Michael.


"Mungkin lebih dari 100°C" kata Dokter Chandra.


??? 😮


"Tempat apa ini?" Leon tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ku rasa, lebih tepatnya, planet apa ini?" Ralat Indra


Planet???


Mereka kembali terhenyak. Benarkah? Jadi tadi itu mereka benar-benar melewati Wormhole? Teleportasi antar galaksi?

__ADS_1


Gila!


******


__ADS_2