PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 72. Damai


__ADS_3

Langit mulai bersemu kuning orange kemerahan saat Robert kembali. Laras langsung menegurnya.


"Kenapa pakaianmu basah semua? Nanti kena flu," omel Laras dengan wajah galak.


"Ah.. ya, aku akan segera berganti pakaian."


Robert dengan cepat masuk ke pondok pria untuk berganti pakaian. Di sana ada dokter Chandra yang duduk di sebelah Indra.


"Bagaimana keadaan Indra dok?" tanya Robert sambil mengambil tas berisi pakaiannya.


"Obat yang kau siapkan sungguh bagus. Dia tak lagi terus mengerang seperti bayi. Jadi bisa cukup istirahat." Dokter Chandra berdiri.


"Lalu kenapa kau basah-basahan? Apa kau juga tau obatnya jika kena flu?" canda dokter Chandra dengan senyum lebar.


"Hahaha.. kita hanya perlu membuat teh jahe jika flu," sahut Robert tertawa.


"Atau mandi air hangat agar tubuh lebih nyaman. Seperti yang ku lakukan tadi." Robert tersenyum misterius.


"Maksudmu, kau habis mandi air hangat? Dengan memakai baju?" dokter Chandra bertanya heran.


Robert menyelesaikan memakai celananya lebih dulu baru menyahut.. "Eheum," senyumnya jenaka sambil mengangguk.


"Jangan berteka-teki denganku. Aku malas berfikir berat saat ini. Ayo ceritakan saja," dokter Chandra mendelik ke arahnya.


Robert tertawa senang karena bisa menggoda pria tua itu.


"Aku mau jemur pakaianku dulu," teriak Robert sambil tertawa dan keluar dari pondok.


Dokter Chandra mengangguk-angguk dengan senyum tenang lalu berjalan keluar. Hatinya ringan, karena Robert terlihat santai dan tidak lagi terbebani oleh sikap Silvia siang tadi.


Di halaman sudah berkumpul para pria. Menunggu saatnya makan malam dihidangkan, mereka mulai ngobrol sambil memetik bulir-bulir oat yang dibawa pulang oleh Robert dan Liam. Liam menunjukkan cara memetik bulir dan mengupas kulitnya sesuai yang ditunjukkan Robert saat pertama mereka menemukan tanaman itu.


Langit senja yang memerah tembaga menghangatkan suasana akrab dan santai para anggota tim yang sedang bekerjasama.


Dokter Chandra bergabung dan membantu. Bulir-bulir oat dikumpulkan di keranjang willow yang rapat. Mereka masih harus menjemurnya besok agar oat lebih awet. Robert kembali setelah selesai menjemur pakaian.


"Nah, sekarang ceritakanlah, jangan terus membuatku penasaran," todong dokter Chandra sambil menoleh ke arah Robert.


"Apa tak perlu menunggu semuanya berkumpul saja? Aku malas bercerita berulang kali," elak Robert.


"Yaahh baiklah. Kalau begitu ajari dulu cara membuat beeswax. Lihatlah banyak sekali sarang lebah yang tak terpakai lagi." Leon menunjukkan semangkuk sarang lebah yang sudah tak bermadu lagi.


"Itu mudah saja. Hanya perlu dimasukkan dalam kantong kain, lalu rebus bersama air hingga seluruh lilinnya larut. Dinginkan hingga beku, buang sisa airnya dari padatan lilin. Jika lilin yang di dapat belum cukup bersih, ulangi mencairkan sekali lagi, saring dengan saringan yang rapat agar semua kotoran tidak terikut lagi. Setelah itu biarkan membeku," urai Robert panjang lebar.


"Kau, lancar sekali menjelaskannya. Kayak biasa bikin aja," kata Liam.

__ADS_1


"Mantan istriku suka membuat lilin aroma therapy dari beeswax untuk dijual. Kadang aku membantunya dalam beberapa proses." Robert beralasan.


"Pantas saja dia hapal luar kepala. Hahaha," Gilang tertawa.


"Berarti membuat lilin juga bisa dong." Leon menambahi.


"Itu lebih mudah lagi dari proses pertama tadi. Cuma perlu mencairkan lilin yang sudah bersih itu lalu cetak, beri essensial oil dan sumbu. Biarkan dingin membeku sebelum digunakan," jawab Robert.


"Cetak dimana? tanya Gilang.


"Ya cetakan apa saja. Kulit kerang, batok kelapa, lubang kayu atau buat mangkuk gerabah kecil khusus untuk lilin. Atau celupkan sumbunya berulang kali ke cairan lilin panas, sampai tebalnya memadai," kata Robert lagi.


"Kau benar sekali. Kita manfaatkan yang masih bisa kita manfaatkan. Misalnya ini!" Dokter Chandra menunjukkan satu tiram mutiara pada Robert.


"Wow, ini sungguhan tiram mutiara?" tanya Robert kagum. Dokter Chandra mengangguk sombong.


"Kita kaya! Hahahaa.." Liam tertawa gembira.


Dokter Chandra menyodorkan tiram pada Liam.. "Bukalah."


Liam mencoba membuka dengan tangannya, tapi itu keras sekali. Robert menyerahkan pisaunya untuk digunakan.


Dengan cepat Liam menusukkan pisau dan membuka cangkang tiram. Mereka menemukan mutiara putih gading berukuran besar di situ. Juga beberapa yang berukuran sedang dan kecil.


"Nah, dagingnya dimakan, mutiaranya disimpan, lalu cangkangnya jadi cetakan lilin. Tak ada yang terbuang percuma lagi," dokter Chandra mengangguk-angguk.


Leon dan Liam termangu. Mereka masih fokus dengan mutiara itu, kenapa tiba-tiba beralih topik ke lilin lagi? Robert yang melihat itu jadi tersenyum sendiri.


"Ambil dimana mutiara ini dok?" Leon masih penasaran.


"Pantai. Jalan lebih jauh ke kanan, nanti ada ceruk kecil tempat air laut terperangkap. Ada banyak tiram besar dan kecil di situ. Tadi aku dan Indra sudah mengambil beberapa yang ukuran besar. Semua itu untuk para wanita, kalau mau, besok pagi kita ambil lagi sambil mengambil kerang dan kepiting di pantai," kata dokter Chandra menenangkan Leon, Liam dan Gilang yang belum kebagian mutiara.


"Oke! Hahaha.."


"Besok kita berburu mutiara laut."


"Kita akan segera kaya. Pulang bisa langsung cari istri," kata-kata Leon, Liam dan Gilang membuat tertawa semuanya.


"Baiklah, biar lebih semangat lagi tertawanya, maka harus makan dulu," kata Laras sambil meletakkan beberapa wadah makanan di meja.


Cahaya merah di langit sudah lama hilang. Tak ada bulan malam ini. Tapi kerlipan bintang menghiasi langit di atas sana.


Sementara di bawah sini, perapian dan beberapa obor dari daun kelapa kering ikut menyemarakkan makan malam yang hangat itu. Terutama karena perselisihan antara Silvi dan Robert telah diselesaikan dengan baik. Damai kembali tercipta.


'Dia benar-benar pria yang besar hati. Cerdas tapi selalu rendah hati' pikir Laras kagum.

__ADS_1


Lalu Robert menceritakan tentang kolam air hangat serta lorong mapel yang ditemukannya sore tadi.


"Jadi tadi kau berendam air hangat? Wahh enak banget, aku juga mau dong," seru Laras.


"Oke.. oke.. Nanti kita ke sana berendam air hangat dan melihat keindahan tempatnya," janji Robert.


"Ya. Tapi kita besok pagi ke pantai dulu kan?" Liam memastikan.


"Iya. Memungut kepiting yang telat pulang memang harus pagi-pagi. Xixixii," Angel ikut nimbrung.


"Silvi, Angel kita besok menyaring lilin lebah dulu, agar sore sudah bisa membuat lilin untuk penerangan di dalam pondok," kata Laras.


"Oke," sahut Silvi dan Angel.


"Tugasku apa?" tanya Niken.


"Tugasmu mengurus Indra, rebus obat, dan menyiapkan makannya," jawab Laras tegas.


"Obatnya untuk malam ini sudah kau siapkan?" tanya Laras lagi.


"Dia masih tidur saat tadi ingin ku beri makan. Setelah ini aku ke sana lagi," jawab Niken. Laras mengangguk puas.


Selesai makan malam, ternyata Leon dan Silvi memutuskan untuk merebus sarang lebah saat itu juga agar bisa dikoreksi Robert jika ada kesalahan.


Robert kembali membuat busur untuk para wanita di waktu senggangnya. Dia membawa beberapa batang willow dengan jenis lain dari seberang sungai. Batangnya lebih kuat, lurus dan lentur. Sangat cocok untuk dibuat jadi panah meski berdiameter kecil. Ketebalan dan kelenturan busur bisa diakali dengan menambahkan batang willow lebih banyak. 3 ikat willow yang setiap ikatan berisi 3 batang, disatukan dengan jarak sejengkal dari tiap ujung ikatan.


Robert bekerja dengan serius hingga tak menyadari dokter Chandra yang sejak tadi mengamatinya mengikat dan memilin tali hingga pekerjaannya tuntas dengan mencoba menembakkan anak panah yang melesat cepat.


"Luar biasa. Meski berkali-kali melihatmu membuat busur dan panah,aku selalu merasa itu tampak mudah. Tapi belum tentu aku bisa membuatnya, meskipun telah memperhatikan sejak lama."


Dokter Chandra mendekati Robert dan mencoba mengangkat panah lalu menarik tali busur yang meregang.


"Coba saja dok," tawar Robert sambil menyerahkan anak panah.


"Baik, biar ku coba," dokter Chandra tersenyum senang.


Dipasangnya anak panah lalu menarik busur dengan kuat dan melepaskannya.


Tuiing... slap.


"Yaahh, kok cuma sejauh itu?" gerutu dokter Chandra kecewa.


Malam itu dihabiskan Robert menemani dokter Chandra berlatih memanah hingga nyala obor padam. Mereka pun bersiap menjemput mimpi.


***

__ADS_1


__ADS_2