
Menunggu hari pernikahan Liam dan Laras, orang tua Widuri dan Dean tidak segera pulang. Mereka ingin melihat seperti apa Kota Mati yang semula merupakan tempat kurungan makhluk buas.
"Mari kita duduk di gazebo di atas sana, ajak Dokter Chandra. Bersama istrinya dan Marianne, mereka membawa kedua orang tuang Widuri dan Dean.
"Tempat yang sangat indah!" puji Ibunya Dean.
"Hanya perlu membalikkan badan, Kita bisa langsung berganti suasana laut atau suasana pertanian!" tambah ayah Dean dalam bahasa Inggris.
"Kincir air di dekat padang rumput, menambah sempurna pemandangannya," tambah ibu Dean.
"Tanaman padi di sana itu, akan panen tak lama lagi," tambah mamanya Widuri.
"Mau lihat kebun buah-buahan kami?" Dokter chandra menawarkan.
"Apakah luas?" tanya istrinya balik.
"Kau lihat sendiri!" balas Dokter Chandra.
Dokter Chandra dan Marianne membawa tamu-tamu mereka untuk menikmati keindahan dunia kecil itu. Tamu-tamu itu dikurung cahaya putih berkilau, kemudian dibawa terbang oleh Dokter Chandra.
Meteka menikmati tempat indah itu seakan berdiri di atas gelembung kaca. Hingga pemandangan di bawah, juga terlihat. Dokter Chandra dan Marianne sangat pintar menyenangkan tamu mereka yang berasal dari kota besar. Mereka akan terpukau pada keindahan alam yanh terjaga dengan baik.
Hari kedua, dinikmati para tamu dengan bersantai di kolam air terjun. Dean, Sunil dan Indra sedang sibuk menyelesaikan proyek pembangkit listrik tenaga air mereka.
Robert kembali dari Jakarta sambil membawa orang tua Laras. Setelah meninggalkan pesanan Dean, dia langsung mengantar kedua tamu le Kota mati.
Sore hari, mereka pergi ke laut mencari seafood untuk makan malam. Semuanya gembira.
Widuri dan Niken menikmati waktu santai mereka di rumah. Buat keduanya, jauh lebih asik bermain bersama Eric, ketimbang berpanas-panas di pantai.
Suasana makan malam terasa hangat. Dean dapat melihat wajah keempat orang tua itu sangat bahagia selama berada di sana. Tapi tentu saja tak boleh berlama-lama menghilang. Mereka harus segera kembali ke dunia nyata.
Esok dini hari.
Semua penghuni dunia kecil sudah siap untuk pergi ke pesta pernikahan Laras dan Liam. Bahkan Aslan kembali dari dunianya.
Dokter Chandra memimpin rombongan itu menuju Kota Mati. Kemudian Kakek Kang dan Ketua Suku Cahaya, putra, putri, menantu serta cucunya yang pintar, ikut bergabung ketika mereka singgah di tempat mereka.
*
*
Rombongan dari dunia kecil telah sampai semuanya. Nastiti serta Kang juga telah bergabung. Semua sabar menanti dan duduk-duduk di gedung serba guna.
Setelah begitu banyak persiapan, akhirnya hari pernikahan Laras dan Liam tiba. Kedua orang tuanya sudah datang sejak sehari sebelumnya.
Persiapan sudah dicicil jauh-jauh hari. Gaun pernikahan Laras dibeli di Jakarta. Sementara hiasan bunga liar, didapat dari sekitar. Marianne membuatkan cake istimewa untuk perayaan.
__ADS_1
Liam sangat gugup pagi itu. Dean dan Robert menenangkannya. "Tenanglah ... Laras tidak akan menggigitmu!" ledek Robert.
Candaan itu tak berhasil. Liam tetap tegang, seperti sedang menunggu putusan mati.
Dokter Chandra terkekeh. "Kau lihat Dean, Indra, Yabie, Nastiti ataupun Yoshi. Pernikahan membuat mereka tenang. Jadi kau sama sekali tidak perlu khawatir."
Dokter Chandra melihat matahari di langit yang mulai naik. Acara masih belum dimulai. Mereka masih menunggu kehadiran Ketua Kota dan Yabie.
Penghuni Kota Mati, Kang dan Nastiti, juga kakeknya duduk santai sambil berbincang dengan Ra, putra Ketua Suku Cahaya.
Aslan berkeliling ditemani Cloudy. Memeriksa meja-meja makanan yang menjadi tanggung jawabnya saat ini.
"Ketua Kota sudah datang!" lapor seorang anak yang berlari masuk halaman.
Liam, Dokter Chandra, Robert dan Dean segera berdiri di tengah ruang serbaguna yang telah dihiasi bunga-bunga yang cantik.
Yabie membawa ayahnya ke sana. Sekarang, tinggal menunggu Laras datang.
"Maafkan, kami sedikit terlambat," ujar ketua Kota Pelabuhan.
"Tidak ... pengantinnya juga belum muncul," ujar Dokter Chandra. Saat ini dia menjadi bagian dari keluarga pengantin pria.
"Pengantin wanita tiba!" seru anak lain. Semua tamu berdiri dari duduknya, untuk menyembut Laras. Murid-muridnya memainkan alat musik mereka masing-masing.
Suasana berubah menjadi syahdu. Keheningan yang khidmat. Laras dan Liam lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan Ketua Kota, sebelum membuat janji suci pernikahan.
"Salut buat Liam. Perjuangannya tak kenal lelah. Sudah teruji sebagai pria setia yang bersedia bertahan, bahkan disaat terburuk!" bisik Nastiti haru.
"Ya ... Laras sangat beruntung, dicintai sebesar itu!" Niken menyusut air matanya.
Mereka tak lupa keteguhan Liam untuk tetap berada di samping Laras, meski saat itu terasa tak ada harapan hidup. Bahkan godaan untuk pergi mencari jalan pulang pun, Liam bergeming. Entah apakah saat itu dia sudah menyadari bahwa Laras adalah seluruh hidupnya, atau benar sekedar balas budi. Yapi yang pasti, sekarang mereka berjodoh.
"Dengan ini, kalian saya nyatakan sebagai suami istri!" kata Ketua Kota.
Ruangan itu mulai riuh, saat Liam mencium pengantinnya, dibawah taburan kelopak bunga yang dilemparkan murid-murid Laras.
Niken, sibuk memotret moment itu. Kali ini, dia akan menjaga kamera itu dengan nyawanya, agar semua moment indah tidak lenyap begitu saja, seperti hilangnya foto-foto pernikahan spektakuler Angel dan Glenn.
"Semoga selalu bahagia dan segera menambah penghuni baru kota ini!" seru Indra.
"Hahahaha ...."
Hari itu dipenuhi kebahagiaan dan harapan. Keadaan akan lebih baik lagi di masa mendatang. Mereka harus terus memupuk harapan itu di hati.
*
******
__ADS_1
Dean dan Robert berhasil membangun turbin pembangkit listrik sederhana di dekat air terjun. Itu kemajuan pesat. Selain mendapatkan listrik dari panel surya, mereka juga punya cukup pasokan dari listrik tenaga air.
Sekarang dunia kecil itu sudah terlihat lebih hidup di malam hari. Semua jalan setapak yang menghubungkan rumah ke rumah telah diberi penerangan lampu matahari.
Hal yang sama, juga diterapkan di Kota Mati. Kota itu jadi lebih hidup dengan lampu-lampu surya kecil di sepanjang jalannya. Begitupun di tempat Nastiti. Rumah dan kandang-kandang ternak di belakang, sekarang dipenuhi cahaya saat malam.
Janji Dean pada Tabib Tua terpenuhi. Tempat pengobatan itu terang benderang saat malam tiba, dengan lampu panel surya.
Sementara Ketua Kota Pelabuhan, akhirnya menjual beberapa keju simpanan yang sering dibelinya dari toko keju milik Kang di kota. Astrid membantu menemukan pembeli untuk keju-keju lezat itu. Dan hasilnya dibelikan lampu-lampu jalan panel surya.
Sekarang kota itu penuh cahaya lampu dan menyenangkan mata warganya. Warga Kota Pelabuhan menyebut lampu itu sebagai lampu ajaib. Tidak butuh sumbu, tidak butuh api, serta tak butuh bahan bakar.
Ketua Kota Pelabuhan harus mengakui bahwa kehadiran Dean dan teman-temannya adalah keberuntungan bagi kota kecil itu.
Sebulan setelah pesta pernikahan Laras dan Liam. Dokter Chandra kembali dari Jakarta dengan sebuah berita.
"Pencarian korban pesawat itu akhirnya dihentikan. Semua penumpang dan awak pesawat dinyatakan tewas!"
Para penghuni dunia kecil itu bergeming. Sunil kemudian angkat bahu. "Itu bagus. Seharusnya mereka memutuskannya lebih cepat lagi, agar keluarga korban lain tidak terus berpengharapan," komentarnya.
"Betul. Tak seorangpun yang selamat dari kecelakaan itu, selain yang bergabung dalam dua tim kita!" tambah Robert.
"Itupun masih banyak yang gugur selama perjalanan itu," timpal Indra lirih.
"Hanya kita yang mampu survive dalam perjalanan kembali. Tapi tetap saja, bumi kita yang menjunjung tinggi peradaban moderen, tidak dapat lagi menerima kita yang telah melalui banyak keajaiban!" sesal Dean.
"Yang jelas, kita tetap para penyintas itu. Dan demi kedamaian hidup, kita memilih untuk membangun peradaban kita sendiri. Berpikir logis bukan berarti menolak segala keajaiban yang ada di dunia!" tutup Widuri lugas.
Semua menoleh padanya. "Sejak kapan kau jadi bijak begini?" goda Niken.
"Sejak aku menjadi ibu," balas Widuri tak mau kalah. Semua tersenyum penuh arti.
Dokter Chandra lega. Para penghuni dunia kecil itu memiliki jiwa yang besar dan punya harapan tinggi. Mereka tak terusik lagi dengan hiruk pikuk keramaian kota metropolitan.
"Masa depan dunia kecil ini akan makin cerah dengan Eric sebagai pemimpin baru!" harapnya dalam hati.
End.
*********
Surat cinta Authorπ
Hallooo readers tercinta πβ€π
Saya berterima kasih sekali untuk kebersamaan yang manis selama berbulan-bulan ini. Kakak semua adalah penyemangat bagi saya utk terus lanjut menulis dan menyelesaikan novel ini. Menulis adalah komitmen. Berani memulai, maka harus bertanggung jawab utk menyelesaikan, seberat apapun itu.
Tolong komen yaa.. tulis pesan, kesan, harapan dan ide-ide baru, utk novel berikutnya.
__ADS_1
Jangan lupa tap β€ agar mendapatkan pemberitahuan, jika ada novel baru. Kasih gift, like n komen yaa.. and jangan skip iklan. ^-^ π Terima kasih banyak π