PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 104. Menguras Laut


__ADS_3

Diantar Glenn, dokter Chandra dan Silvia kembali ke kediaman pribadi Glenn. Sudah 3 minggu mereka pergi. Teman-teman mereka yang lain sudah akrab dengan para pelayan di situ. Mereka juga kerap pergi menikmati suasana kota dan bersenang-senang.


Setelah makan malam bersama Glenn, Robert meminta mereka berkumpul untuk berdiskusi.


Dokter Chandra lalu menceritakan kisah ayah Glenn dan menunjukkan kotak hadiah yang diterimanya.


Mereka semua terbengong dan tak tau harus bagaimana lagi.


"Jadi, apakah pecahan cermin portal ini masih bisa digunakan untuk pergi ke dunia kita?" tanya Liam antusias.


"Aku tidak yakin. Jika ini bisa digunakan begitu saja, harusnya raja Orc tidak perlu memerangi semua klan. Dia bisa saja langsung pergi ke dunia manusia kan?" Indra menjawab dengan ragu.


"Menurutku, saat tuan Felix mengatakan siapa-siapa yang menyimpan pecahan cermin portal ini, artinya dia berpendapat bahwa semua kepingan harus dikumpulkan baru ada kemungkinan bisa berfungsi lagi."


Niken menambahi.


"Itu pula sebabnya raja Orc memerangi semua klan di sini. Untuk merebut dan mengumpulkan semua kepingan!" Leon menyimpulkan.


"Hemmm.. Lalu kita harus bagaimana? Kita tak mengenal satupun tetua klan. Tak kan mudah untuk bertemu, apa lagi untuk meyakinkan semua tetua klan agar bersedia meminjamkannya."


Laras berfikir dalam. Matanya terpejam. Sedikit kerutan tergurat di keningnya. Kehidupan mereka yang keras, membuatnya terlihat semakin dewasa dan matang. Robert mengenyahkan getaran yang sekejap timbul di hatinya.


"Bicarakan dulu hal ini dengan Glenn. Mungkin dia punya solusi," kata Liam.


"Yahh, kau benar. Mereka pasti lebih mengerti.


*****


Sunil dibangunkan menjelang pagi. Dean kembali melanjutkan tidur di kamar.


Saat semua terbangun secara alami, mereka menemukan area sekitar pondok sudah dibersihkan Sunil. Beberapa tanaman yang menurutnya bisa dimakan, dibiarkannya tetap tumbuh.


"Kau sudah bekerja keras Sunil." Puji Widuri.


"Bangun jam berapa kau?" tanya Alan.


"Dean membangunkanku sebelum matahari terbit," jawab Sunil.


"Lalu kau olah raga dengan membersihkan semak belukar di sekitar kita. Hebat." Nastiti mengacungkan 2 jempol tangannya ke arah Sunil.


"Kalau begitu kami siapkan sarapan segera. Kau pasti sudah lapar."


Widuri dan Nastiti menuju dapur dan menyiapkan sarapan. Ada cukup banyak sayur segar untuk menemani daging-daging domba yang mereka simpan.


"Apa Dean masih tidur?" tanya Alan pada Sunil.


"Biarkan saja dulu. Bangunkan saja saat sarapan siap." sahut Sunil.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Alan.


"Aku ingin makan ikan bakar. Bagaimana kalau kita menyelam untuk menangkap ikan?" Sunil memberi ide.


"Kau cerdas sekali. Ayo!" Alan langsung melayang.

__ADS_1


"Kalian mau kemana? Sebentar lagi sarapan siap." Tegur Widuri yang melihat keduanya terbang menuju tebing.


"Bagaimana jika kita bakar ikan untuk menu makan malam?" Alan menaik-turunkan sebelah alisnya dengan jenaka.


"Mauuuu..." seru kedua gadis itu bersemangat.


"Hati-hatilah. Jangan sampai mengganggu monster laut," seloroh Nastiti tertawa.


"Okeee," suara Alan menghilang di balik batang kayu raksasa.


Sunil terbang dengan pelan dan mengamati situasi sekitar dengan cahaya biru matanya. Jangan sampai ada pihak yang terkejut melihat manusia terbang. Itu akan menggemparkan.


"Kenapa kau berhenti di sini?" tanya Alan heran.


"Mengamati situasi. Jangan sampai ada orang yang melihat kita," jawab Sunil.


"Bukankah bagus jika ada manusia lain? Kita bisa minta tolong untuk mengabarkan keberadaan kita ke Indonesia." Alan tak mengerti.


"Memang bagus kalau kita bertemu manusia. Tapi tidak bagus jika mereka melihat kita terbang," jawab Sunil akhirnya.


"Ahh, aku mengerti. Baiklah.. kita hati-hati."


Alan mengangguk setuju. Dengan cahaya matanya yang merah, dia mengamati area sekitar mereka. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia lain.


"Sepertinya aman," kata Alan sesaat kemudian.


"Ayo." Ajak Sunil.


Keduanya melesat turun menuju permukaan air. Dengan mengedarkan kekuatan cahaya matanya, mereka dapat menemukan gerombolan ikan yang dicari.


Hup.. hup.. hup..


Satu persatu ikan-ikan yang cukup besar, lenyap dari pandangan, masuk ke dalam kalung penyimpanan.


Keduanya kembali saling mengangguk dan bergerak keluar dari air. Tetap dengan gerakan setenang sebelumnya. Tak ada riak air yang timbul saat tubuh mereka keluar dari permukaan air. Seakan-akan mereka tak pernah menyentuh air itu.


"Ku rasa cukup untuk hari ini," kata Sunil tersenyum lebar.


"Ayo kembali. Kita juga bisa membakar sebagian untuk cemilan siang nanti." Alan sangat puas dengan tangkapan pagi itu.


"Kalian tak jadi menangkap ikan?" tanya Nastiti heran melihat Alan dan Sunil sudah kembali secepat itu.


Widuri juga menatap dengan heran. Mereka saja belum selesai memasak sarapan pagi.


"Lebih baik buat pancing dulu kalau mau ikan untuk makan malam," saran Widuri yang kembali asik dengan pekerjaannya.


Alan mengeluarkan 2 wadah tempayan gerabah besar yang sebelumnya berisi beberapa persediaan makanan mereka. Dipindahkannya semua di satu tempat hingga penuh.


"Apa yang kau lakukan? Ini jadi kepenuhan," cegah Widuri kesal.


"Tenang dulu. Nanti dicarikan solusinya. Tapi aku butuh tempayan ini." Alan mengangkat tempayan besar itu terbang bersamanya menuju tebing.


"Apa dia mau menangkap ikan dengan itu?" tanya Nastiti heran.

__ADS_1


"Mana ku tau. Sunil, kalian harus secepatnya mengembalikan wadah itu!" Widuri berkata dengan galak.


"Iya.. iya.. nanti ku minta Dean membuatkan wadah baru setelah dia bangun."


Sunil merasa tak ada manfaatnya bertengkar dengan para penguasa dapur soal makanan. Jadi lebih baik menurut saja dan cari aman.


Widuri dan Nastiti tak mempermasalahkan hal itu lagi. Dean pasti akan menemukan cara untuk membuat wadah baru. Jadi mereka bisa tenang.


Alan kembali dengan tempayan di belakangnya. Wadah itu diletakkan tak jauh dari dapur.


"Kau mengisinya dengan air? Untuk apa?" tanya Nastiti.


"Untuk menjaga semua ikan tetap hidup hingga sore atau besok pagi."


Alan dan Sunil mengeluarkan semua ikan yang mereka tawan di kalung penyimpanan. Byuuurrrr.. Wadah itu segera penuh sesak dengan ikan, bahkan sebagian lagi berlompatan di permukaan tanah.


"Wadah ini terlalu kecil. Mereka bisa cepat mati kalau begini," sungut Sunil tak puas.


"Apa kalian menguras laut?" tanya Widuri terkejut.


"Hahahaa.. Bukan wadahnya kekecilan, tapi ikannya yang kebanyakan."


Nastiti tertawa geli melihat Alan sibuk menangkap ikan-ikan yang berhamburan di tanah.


"Kalian ini!"


Widuri tak bisa berkata-kata. Kadang Alan dan Sunil tak menyadari kekuatan super mereka sendiri.


"Kembalikan sebagian ikan ini ke laut. Cepat, sebelum pada mati." Omel Widuri dengan gemas.


"Iya.. iya.."


Alan mengangkat tangannya dan membuat semua ikan yang menggepar di tanah dan sebagian lain dari dalam tempayan melayang-layang di udara. Dia berjalan ke tepi tebing, lalu menjatuhkan semua ikan itu kembali ke laut.


Widuri hanya menggelengkan kepalanya kesal melihat cara Alan mengembalikan ikan ke laut.


'Astaga. Tidakkah ikan-ikan itu malah mati saat menerpa permukaan air dengan kecepatan seperti itu?' pikirnya heran.


"Kau lempar begitu saja dari tebing?" Nastiti tak dapat menahan rasa terkejutnya.


"Memangnya kenapa?" tanya Alan.


"Mereka akan jatuh dengan keras di air. Mereka bisa langsung mati. Astaga! Widuri menyuruhmu mengembalikan sebagian agar mereka tak mati di daratan, tapi kau justru membuat mereka mati saat menyentuh air," omel Nastiti.


Alan segera melesat terbang untuk membuktikan kata-kata Nastiti. Benar saja. Ada cukup banyak ikan yang mengapung di permukaan air. Disimpannya semua ikan itu dengan rasa bersalah. Lalu kembali melesat ke tempat teman-temannya.


"Kau benar. Mereka jadi mengapung di permukaan air," Alan menundukkan kepala.


"Ya sudahlah. Ambil semua ikan yang mengapung itu lalu bersihkan di laut. Setelah bersih, nanti kita awetkan jadi ikan asap." Widuri tersenyum masam pada Alan.


"Baiklah. Terima kasih Widuri," kata Alan.


"Baiklah. Bangunkan Dean, kita sarapan dulu sebelum mengerjakan hal lain." Nastiti menyusun piring-piring makanan di lantai batu.

__ADS_1


Suasana pagi kembali tenang. Mereka bercengkrama dengan riang. Sesekali tawa kecil terdengar meningkahi kicauan burung-burung liar di dahan-dahan pohon. Tempat yang indah dan penuh kedamaian.


*****


__ADS_2