
Dean mengajak Michael, Sunil dan Alan berkumpul. Mereka berdiskusi di depan pondok. Dean mengatakan keinginannya untuk membalas kezaliman Duke. Alan dan Sunil setuju. Mereka tampak bersemangat. Michael kembali ditanyai tentang seluk beluk kediaman Duke, dimana para budak dikurung, dan sebagainya.
Michael menceritakan hal-hal yang diketahuinya. Dia tak tau banyak tentang detail kediaman, karena Michael dan Marianne adalah budak yang dipekerjakan di kebun anggur. Tempat kurungan mereka tidak sama dengan budak yang mengurus rumah dan lainnya.
Sunil, Alan dan Dean mengamati dengan serius denah yang digambar Michael di tanah. Alan manggut-manggut sambil memegang dagunya.
"Jadi, di pintu masuk kebun ada 2 penjaga, dekat tempat kurungan juga ada 2 penjaga yang bergantian. Menurutku, pasti ada sangat banyak penjaga yang dimilikinya hingga bisa berbuat sewenang-wenang," kata Alan.
"Ya, ada banyak." Michael mengangguk.
"Aku pernah lihat penjaga bersenjatanya berlatih di halaman samping saat mengangkut panen buah anggur ke tempat penyimpanan," tambah Michael lagi.
"Berlatih? Apa dia sedang melatih serdadu? Pantas saja bersikap congkak." Sunil mendengus sebal.
"Memangnya kenapa kalau dia punya serdadu? Bahkan 100 serdadupun, ku rasa bukan lawanmu." Wajah Dean tampak garang.
"Tenang saja. Jika hanya 100 orang, aku saja juga bisa menghadapinya." Alan menepuk dadanya dan tersenyum jahil.
"Baik, jadi nanti malam kita ke sana dan buat kembang api. Kalian siap?" tanya Dean.
"Siap."
Alan dan Sunil menjawab cepat.
"Lalu, aku bagaimana?" tanya Michael.
"Kau dapat giliran jaga pertama, malam ini. Kau jaga para wanita saat kami tak ada. Kami akan pura-pura tidur lebih dulu agar tidak dicurigai oleh Nastiti dan Widuri." Dean berbisik di telinga Michael.
Michael tersenyum. Dia mengangguk senang. "Baik."
Keempat pria itu merasa puas dengan hasil pembicaraan siang itu. Mereka lalu melakukan aktifitas lain. Alan mengajari Michael cara menggunakan busur dan panah.
Dean melanjutkan pekerjaannya membuat toilet dan kamar mandi. Tinggal sedikit finishing lagi, maka para wanita tak lagi harus turun ke laut jika ingin mandi atau buang air.
Sunil membantu membakar saluran air serta septiktank yang dibuat Dean, agar tanahnya mengeras dan tidak mudah runtuh.
Dean sudah membuat dudukan toilet dari tanah liat bercampur abu bekas pembakaran di tungku. Sebuah bak air dari kayu yang dilapisi dengan getah pinus agar tak bocor, juga sudah tersedia.
"Aku sudah selesai di sini," teriak Sunil.
Lubang septiktank itu tampak mengepulkan asap karena terbakar oleh api biru dari mata Sunil.
"Yang ini belum," tunjuk Dean pada bagian lain yang ada di situ.
"Itu apa?" tanya Sunil.
__ADS_1
"Penutup septiktank." jawab Dean.
"Oke."
Sunil segera membakar tanah liat yang sudah dibentuk Dean menjadi beberapa lempengan.
Sementara Dean mengangkat balok kayu yang sudah dibuatnya menjadi kamar mandi. Balok itu diletakkan hati-hati agar lubang saluran airnya tepat.
Michael yang sedang belajar memanah jadi terperangah. Mulutnya terbuka dan matanya terbelalak lebar. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu mudah mengangkat log kayu yang ukurannya bahkan lebih lebar dari bus dengan begitu mudahnya?
"Kalau belajar itu harus serius!" Alan menjitak Michael.
"Aduhh.. Kau lihat itu.. Dean sedang mengangkat balok kayu itu," tunjuk Michael.
"Memangnya kenapa? Aku juga bisa melakukannya. Kau pikir siapa yang membantu Dean mengangkat balok-balok kayu untuk dijadikan kamar itu?"
Alan dengan usilnya, mengangkat Michael. Membuat temannya menjerit ketakutan.
"Aaaaaaa.. turunkan aku," teriak Michael panik.
"Kau lihat kan. Aku juga bisa melakukannya," kata Alan bangga.
"Ya.. ya.. kau bisa," jawab Michael mengiba.
"Keusilanmu muncul lagi ya? Turunkan dia." terdengar suara Nastiti di belakang Alan.
"Kau tak apa-apa?" tanya Widuri pada Michael.
"Tidak apa-apa. Hanya terkejut saja," Michael menjawab canggung.
Sementara mereka ribut, Dean dan Sunil sudah selesai dengan kamar mandi itu.
"Woww, keren sekali. Sekarang kita punya kamar mandi lagi." Nastiti kegirangan.
"Airnya dari mana Dean?" tanya Michael.
"Ah, ya. Tunggu sebentar." Dean melayang lalu terbang menuju tebing.
Tak lama kemudian dia kembali. Tangannya diangkat ke arah atas. Michael melihat ke atas tangan Dean. Dia sangat terkejut, karena sekumpulan besar air melayang-layang di atas kepala Dean.
Dengan gerakan lembut, Dean mengarahkan jarinya ke arah kamar mandi. Air turun dengan perlahan ke bagian atas kamar mandi.
"Coba buka tutup keran di atas bak air," perintah Dean.
Widuri masuk ke kamar mandi dan mencabut penutup keran air. Air mengalir masuk ke dalam bak air.
__ADS_1
"Apakah kau membuat penampungan air di atas itu?" tanya Michael ingin tau.
"Ya. Sementara kita belum menemukan sumber air lain, maka kita pakai air laut dulu saja untuk mandi." Jawab Dean.
"Bak air sudah penuh. Kerannya sudah ditutup lagi," lapor Widuri.
Dean mengangguk, lalu kembali melesat menuju tebing. Tempat penampungan itu harus selalu terisi penuh.
*
Petang hari, kondisi Marianne mulai membaik. Dia sudah bisa berjalan dengan dipapah Nastiti atau Widuri. Hati Marianne bahagia melihat anggota tim itu yang terlihat sangat kompak.
Menunggu para wanita menyiapkan makan malam, Dean kembali mengerjakan sesuatu. Dia memotong dan menyambungkan potongan-potongan kayu.
"Marianne, ini tongkat sederhana yang mungkin bisa sedikit membantumu."
Dean menyerahkan sebuah tongkat lebar berkaki empat pada Marianne.
"Terima kasih Dean. Ini sangat bagus. Kau sangat berbakat." puji Marianne.
Dengan bertumpu pada tongkat, Marianne belajar berjalan. Masih sedikit sulit, karena tubuhnya belum pulih benar. Tapi Marianne tak berharap selamanya harus menggunakan tongkat. Dia harus sehat kembali agar tak menyusahkan anggota tim lainnya.
"Ayo berkumpul. Makan malam sudah siap." Nastiti membawa sepiring besar roti.
"Dean, kau harus membuat meja," Widuri mengingatkan.
"Baik. Ingatkan aku besok," balas Dean.
Dibawah lukisan langit yang cantik, mereka menikmati makan malam dengan suasana ceria. Canda dan tawa berderai menghangatkan malam yang mulai turun.
Para wanita membersihkan tubuh lebih dulu sebelum tidur. Marianne merasa tubuhnya jadi lebih segar dan berenergi setelah makan malam yang nikmat dan mandi.
Mereka bertiga beristirahat di kamar. Masih asik berbincang-bincang sebelum kantuk menyerang.
Dean, Alan dan Sunil, satu persatu pergi beristirahat ke kamar. Di luar hanya ada Michael. Sejujurnya dia merasa takut berjaga sendiri di luar, di dalam hutan lebat itu. Bagaimanapun, dia hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan unik seperti Alan, Sunil dan Dean.
"Pondok ini harus diberi pagar agar aman," gumam Michael.
Setelah kamar para wanita sepi, Dean, Alan dan Sunil keluar satu persatu. Bahu Michael ditepuk oleh Dean.
"Kami berangkat sekarang," bisik Dean.
Michael mengangguk. " Hati-hati."
Dean, Alan dan Sunil melayang naik perlahan-lahan. Setelah melewati batas atas pepohonan, mereka langsung melesat menuju kota pelabuhan. It's time to revenge.
__ADS_1
*****