PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 401. Rindu Rumah


__ADS_3

"Dok, dengan adanya peristiwa hilangnya pesawat itu, berarti kita berada di tahun yang benar!" kata Sunil lewat transmisi suara.


"Ya!" sahut Dokter Chandra.


"Lalu bagaimana selanjutnya?" Robert nimbrung.


"Ini yang memusingkan. Bagaimana kita bisa bilang bahwa kita sudah survive berbulan-bulan, kalau di sini baru terjadi tiga hari yang lalu!" keluh Dokter Chandra.


"Bagaimana kalau kita melihat-lihat saja di sini. Lalu kembali dulu ke dunia kecil?" tanya Sunil.


"Tidak! itu merepotkan. Kita sudah berusaha keras untuk sampai di sini. Masa kembali dengan tangan hampa!" bantah Robert.


"Betul! Tak mungkin lagi nanti kita turun di bukit dan menumpang naik bus Kang Asep lagi kalau mau ke Jakarta lagi!' suara Dokter Chandra terdengar agak kesal dengan ide Sunil yang tak masuk akal.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" Pertanyaan Sunil persis yang ditanyakan Robert tadi.


"Selanjutnya tidur dulu. Biar besok kepala ini bisa dipakai buat mikir lagi," sahut Dokter Chandra.


Robert dan Sunil tidak bertanya lagi. Sepertinya Dokter Chandra sedang jengkel karena harus memikirkan ulang rencana mereka.


*


*


"Bangun!" Dokter Chandra membangunkan Robert dan Sunil yang tertidur pulas.


"Ya?" Robert mengerjapkan matanya yang masih lengket dan malas dibuka.


"Sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan!" ujar Dokter Chandra.


Robert melihat jam di dinding. Jarum jam tepat di angka dua belas. Ini tengah malam. Mungkin Dokter Chandra akan mengajak mereka untuk jalan dari Serang ke Jakarta.


Setelah Sunil akhirnya bangun, barulah kelompok itu berjalan keluar dari pelataran mesjid. Gemuruh suara geluduk, menghiasi suasana malam. Angin yang basah mulai bertiup. Jika begini, di suatu tempat, pastilah hujan sudah jatuh.


Saat melewati pos terminal, seseorang menegur. "Mau ke mana, Bah?" tanyanya.


Dokter Chandra menoleh ke arah suara. Ternyata ada petugas terminal yang duduk bersandar di kursinya. Tapi itu bukan petugas yang mereka lihat sore sebelumnya.


"Mau ke Jakarta!" jawab Dokter Chandra.


"Bus baru masuk dekat subuh, Bah. Tunggu saja dulu!" sarannya.


"Tidak. Kami mau jalan kaki saja!" jawab Dokter Chandra. Petugas itu terbengong mendengarnya.


Dokter Chandra dan Robert serta Sunil berlalu dari sana. Keluar terminal, kota itu lengang. Jarang sekali ada kendaraan lewat jam segitu.


"Ayo!"


Dokter Chandra mengikuti arah rambu-rambu, untuk mencapai jalan tol ke arah Jakarta. Mereka berjalan setengah terbang. Dan setelah berada di dekat sebuah taman yang sunyi, ketiganya berhenti.


"Kita bisa terbang dari sini!" kata Dokter Chandra.

__ADS_1


"Oke!" sahut Robert dan Sunil.


Seketika, tiga cahaya melesat cepat ke langit. Di atas, Dokter Chandra mengamati jalan mana yang menuju Jakarta.


"Ke sana!" tunjuknya. Mereka terbang bagai kilat, menembus gelapnya malam.


Setengah jam kemudian. Hujan mulai turun. Dokter Chandra tidak menghentikan terbangnya. Dia justru menambah laju terbangnya. Sunil dan Robert setia mendampingi.


Tiga orang terbang. sambil bermain air hujan di angkasa. "Dok, kita bisa flu jika terus hujan-hujanan!" Robert mengingatkan.


"Tak jauh lagi!" kata Dokter Chandra. Sunil dan Robert akhirnya tak bertanya lagi. Mereka hanya perlu mengikuti kebijakan yang dibuat Penguasa.


Tidak jauh lagi menurut Dokter Chandra ternyata bisa sekitar setengah jam. Akhirnya dia berhenti. Daerah itu tinggal gerimis saha lagi. Tapi tubuh mereka sudah basah kuyup. Apalagi ketika diterpa angin saat terbang. Rasa dinginnya menggigilkan tulang. Beruntung jiwa Bangsa Cahaya mereka memiliki bakat api. Sehingga tubuh dengan cepat hangat kembali. Tapi bagaimana dengan Dokter Chandra?


"Dok, pakaian anda basah kuyup!" kata Robert mengingatkan.


Maka Dokter Chandra menggerakkan kedua tangannya. Maka seluruh pakaiannya langsung mengembang ringan. Kering tanpa ada jejak air.


Robert mendesah. "Aku saja yang terlalu khawatir," batinnya.


"Di mana kita sekarang?" tanya Sunil.


"Kurasa, ini sudah kota Tangerang. Perbatasan Jakarta. Bagamana ... masih bisa lanjut?" tanya Dokter Chandra.


"Lanjut terbang?" tanya Robert.


"Ya. Tempat ini masih sangat jauh dari Jakarta. Tapi terlalu ramai di bawah kalau kita mau jalan setengah terbang," jelas Dokter Chandra.


"Ayo!"


Dokter Chandra melesat cepat. Robert dan Sunil mengikuti dari belakang. Kota yang terang benderang itu mulai tertinggal di belakang.


Hingga setengah jam kemudian, Dokter Chandra akhirnya berhenti. Di bawah sana ada satu area gelap. Dia mengamatinya dengan seksama.


"Sepertinya kita sudah memasuki kota Jakarta. Lebih baik kita turun di situ saja. mumpung masih tengah malam, orang-orang masih lelap tertidur," kata Dokter Chandra.


"Baik!" Sunil menyahuti.


Ketiganya turun perlahan, sambil mengamati sekitar. Jangan sampai ada yang melihat kedatangan mereka.


"Ini hutan kota!" kata Dokter Chandra. Dibawanya Robert dan Sunil untuk turun di dekat danau kecil yang berada dalam hutan kota itu.


Tempat itu benar-benar sunyi. Tak ada seorangpun di situ saat tengah malam.


"Kita istirahat sebentar di sini," kata Dokter Chandra. Robert dan Sunil mengangguk setuju.


Ketiganya duduk bersandar pada pohon-pohon yang ada di situ, melepas lelah. Tanah dan rumput basah setelah guyuran hujan, tak menghalangi ketiganya.


"Ternyata masih ada hutan di Jakarta," komentar Sunil.


"Hutan kota. Sedikit area hijau yang masih dijaga untuk menjadi paru-paru kota," jelas Dokter Chandra.

__ADS_1


Tiga orang itu melepas penat sambil menikmati suasana khas alam. Suara jangkrik bersahutan, terutama selepas hujan. Udara lumayan dingin. Tapi mereka jelas tak boleh menyalakan api unggun. Jadi tiap orang secara berkala menghangatkan diri sendiri dengan bantuan jiwa Bangsa Cahaya.


"Setelah ini kita ke mana?" tanya Robert.


"Kita lihat rumahku dulu. Tapi tidak boleh langsung mendatanginya. Pasti sedang banyak keluarga berkumpul di sana!" ujar Dokter Chandra.


"Anda benar." Sunil sepakat dengan itu.


"Jadi, untuk apa kita ke sana?" sela Robert.


"Untuk melihat keluargaku!" jawab Dokter Chandra.


Robert tak berkomentar lagi. Bagaimanapun mereka sudah terlanjur datang ke dunia ini. Jadi mari lihat dulu, apa yg bisa dilakukan.


Hanya sekitar satu jam saja mereka beristirahat. Dokter Chandra sudah mengajak untuk pergi dari sana.


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, sebelum waktu subuh tiba," katanya.


'Kita jalan atau terbang?" tanya Sunil.


"Terbang saja, lebih cepat. Tak jauh dari rumahku, ada taman. Jadi kita bisa turun di situ," jelas Dokter Chandra.


"Oke!"


Tiga cahaya melesat naik ke atas puncak pepohonan. Dokter Chandra melihat sekitar, untuk mencari arah.


"Ke sana!" tunjuknya.


Dua cahaya melesat terbang beriringan, mengikuti Dokter Chandra. Dan memang tidak butuh waktu lama, Dokter Chandra sudah berhenti di atas sebuah kompleks perumahan. Kemudian mereka turun di sebuah taman, sekitar lima ratus meter dari situ.


Dokter Chandra berjalan cepat menyusuri jogging track yang sepertinya sangat dihapalnya. Mereka berjalan cepat setengah terbang. Tepat sebelum terdengar azan subuh, ketiganya sudah keluar dari taman. Ada ruko-ruko di sepanjang sisi jalan. Lalu area parkir di seberangnya yang berhampiran dengan masjid.


"Sebentar lagi tempat ini ramai dengan para pedagang sarapan pagi. Lebih ramai lagi jika akhir pekan, karena banyak yang beraktifitas di taman," jelas Dokter Chandra.


Ketiganya mengambil duduk di bangku taman yang ada, dan mengamati sekitar. Beberapa mobil mulai lalu lalang.


Dokter Chandra benar. Dua mobil segera diparkir di area parkir. Kemudian mobil lain menyusul. Pemiliknya pergi ke masjid dan meninggalkan mobil di situ. Tak lama, mereka keluar dan mulai menggelar dagangan. Kemudian menyusul beberapa gerobak angkringan ikut membuka dagangan di situ. Hari mulai terang.


"Harum makanan mereka, membuat perutku ikut lapar," celetuk Sunil.


"Bubur ayam di gerobak angkringan itu favoritku. Rasanya sangat lezat!" gumam Dokter Chandra.


Sunil dan Robert menghela nafas. Dokter Chandra sedang rindu rumah. Tapi tak ada yang bisa mereka jual, agar punya uang untuk membelikan bubur itu untuknya.


Akhirnya Robert dan Sunil mengeluarkan bekal makanan dan minuman yang mereka bawa. Jika perut kenyang, kita takkan kepingin lagi dengan makanan di sana.


Ketiganya ikut sarapan di dekat pintu masuk taman. Tak banyak yang mengunjungi taman pagi itu. Hanya ada empat orang bersepeda saja yang masuk ke saja.


Langit makin terang.


*******

__ADS_1


__ADS_2