
"Pagi ini lebih baik kalian turun dan melihat keadaan di belakang gunung," usul Dean.
"Lalu kau mau mengerjakan apa?" tanya Sunil sambil menyuap bubur gandum, sarapan mereka pagi itu.
"Rencanaku hari ini mau melepaskan batu mata air abadi di ruangan itu. Lalu menutup permanen pintu lorong ini seperti sebelumnya. Jadi jika masih ada yang ingin dikerjakan di gua itu, selesaikan sekarang."
"Baik. Kami akan melihat-lihat situasi dulu." jawab Dewi.
"Jika kalian sudah yakin, maka semua pintu gua menuju lorong akan ditutup permanen, jadi tak bisa bolak-balik kemari lagi." Alan mengingatkan para wanita.
"Kalau sudah mau pindah, maka lebih baik mandi dulu di kolam itu. Karena di sana gak ada sumber air untuk mandi." Nastiti mengingatkan.
"Jadi, kalau tidak bisa menemukan jalan lain, maka kita gak mandi dong seminggu?" tanya Dewi memastikan.
Nastiti mengangguk yakin.
"Ya. Jadi yakinkan diri dengan logika sebelum pergi. Jangan bawa emosi dalam membuat keputusan."
"Kalau begitu, lebih baik jangan tutup dulu pintu lorong itu Dean," cegah Dewi.
"Bisakah yang memeriksa keadaan di sana kalian bertiga saja? Kami menunggu di sini saja. Lagi pula, masih ada banyak daging yang baru masuk ke ruang penyimpanan. Khawatirnya nanti membusuk jika tidak dibekukan dengan baik sebelum dipindahkan ke kalung penyimpanan."
Widuri akhirnya buka suara.
Sunil menendang kaki Alan di bawah meja. Alan meringis menahan sakit. Dean melihat itu tapi tak terganggu sama sekali.
"Untuk menghindari kesalah fahaman lebih lanjut, rencana perjalanan akan tetap dilanjutkan sesuai jadwal. Silahkan persiapkan barang-barang bawaan pribadi. Yang lainnya bisa dimasukkan ke dalam kalung penyimpanan."
Dean berdiri dari bangku lalu menghilang di balik pintu. Sunil dan Alan segera menyelesaikan sarapan mereka dan menyusul Dean.
Widuri diam menunduk. Tak tampak rasa senang karena keinginannya melanjutkan perjalanan dipenuhi.
"Ayo segera kita bereskan semua ini." ajak Nastiti, berusaha mencairkan udara beku di ruang makan itu.
"Baiklah.." Dewi bangun dari duduknya dan membereskan semua peralatan makan.
Dean sudah ada di ruang transmisi. menekan dinding batu. Sebuah ruang kecil terbuka di hadapannya.
Tampak sebongkah batu biru tua dengan diameter kira-kira sepemelukan orang dewasa. Batu itu terus memancarkan air di bagian tengahnya. Sedikit air terkumpul di dalam cekungan di tengah batu. Sisanya meluber keluar dan mengalir ke saluran kecil menuju bak batu di ruang sebelah.
Dean mengamati posisi batu itu hingga bagian bawahnya. Dia akhirnya menemukan cara untuk melepaskan batu mata air abadi itu dari tempatnya.
Krakk.. krakk..
Batu itu akhirnya terlepas dari tempatnya diletakkan. Tapi Dean belum mengangkatnya. Dia keluar dari ruang kecil itu.
__ADS_1
Dean masuk ke ruang penyimpanan daging. Dirabanya dinding batu itu. Ruang ini memang jauh lebih dingin dari ruangan lain. Dean memutuskan untuk menggunakan batu yang dingin itu untuk membuat tempat penampungan air kecil yang mudah dipindah-pindah.
Dean mulai bekerja memotong dinding gua dengan ukuran yang diinginkannya. Lalu membawa batu besar itu ke ruang gua. Dia membentuk dan mengukir batu menjadi sebuah tempayan air. Hingga siang pekerjaan itu akhirnya selesai juga.
Bak itu kemudian dibawa ke ruang transmisi. Dean melepas batu mata air abadi dan menempatkannya di dalam tempayan. Air perlahan mengisi tempayan itu. Dean memasukkan benda itu ke dalam ruang penyimpanannya.
Sebelum meninggalkan ruang transmisi, Dean kembali menutup pintu ruang kecil tempatsemula batu mata air abadi berada. dia menyegel pintu itu hingga tak terlihat ada perbedaan dan celah di dinding.
Dean juga melepaskan panel batu tempat kordinat transmisi berada dan menyimpannya dalam kalung penyimpanan. Setelah melihat tak ada apapun lagi yang tersisa, Dean juga menutup pintu ruang itu dan menyegelnya.
Di ruang bak batu, Dean juga menyimpan semua botol obat kecil lalu menutup rapat ceruk itu. Memutus mekanismenya dengan bak air, kemudian disegel agar tak bisa dibuka lagi, kecuali dinding itu dipecahkan.
Dean membersihkan semua jejak keberadaan mereka di tempat itu. Menutup semua lubang dan celah. Hal itu harus dilakukannya, agar apapun yang tersisa di dunianya, tak ada yang bisa menelusuri untuk mencari kesempatan dan merampok harta karun tempat asalnya.
Dean keluar ruangan menyusul teman-temannya. Dia melayang mencari keberadaan mereka di tanah gersang itu. Dean menemukan mereka sedang mengamati dan menyusuri dinding transparan tapi tak bisa ditembus itu. Secara kontinyu mereka menandai garis batasnya dengan menyusun batu-batuan.
Dean turun dan menghampiri.
"Aku membawakan kalian air. Sebaiknya dimana ku letakkan benda ini?" tanya Dean sambil mengeluarkan tempayan air dari kalungnya.
"Di sana saja. Kami akan segera sampai sana." Tunjuk Nastiti mengarah ke depan.
"Baik. Nanti, untuk mengeluarkan airnya, cukup buka tutup lubang ini saja ya." Dean menunjukkan sebuah tonjolan batu di dinding tempayan.
"Thanks Dean," ujar Sunil.
Dean mengangguk lalu terbang lebih jauh sekitar 100 meter dari rekan-rekannya berdiri. Dilihatnya tempat itu sangat berdebu. Dean menarik sedikit air dari atas tempayan dan menyirami sedikit area. Air dengan cepat meresap masuk dalam tanah yang dahaga. Diulanginya langkah itu sekali lagi, untuk menghilangkan debu yang tersisa.
'Ini sudah cukup' pikirnya. Lalu diturunkannya tempayan yang melayang di udara itu ke atas tanah.
"Sepertinya aku harus membuat penutup tempayan ini agar airnya tidak kejatuhan partikel debu dan mengotori air minum," gumam Dean setelah menyadari lingkungan sekitarnya.
"Aku pergi dulu. Jangan membuat terlalu banyak membuat debu dekat tempat air. Aku lupa membuat tutupnya," teriak Dean saat melewati teman-temannya.
Dean melesat cepat tanpa menunggu reaksi teman-temannya.
"Apa yang diteriakkannya tadi?" tanya Alan bingung.
"Dia bilang, jangan membuat banyak debu," Widuri menjawab.
"Oh, baiklah."
Meski masih tak mengerti, Alan dan Sunil tetap mengangguk. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan menandai batas dinding transparan.
Mereka baru berada di dekat tempat air itu saat Dean kembali membawa sesuatu yang melayang di atas kepalanya. Dia turun dan meletakkan lempengan batu itu menutupi mulut tempayan.
__ADS_1
Dean menatap dengan puas. Sekarang tempat air itu sudah tertutup rapat. Lalu banyak lempeng batu tiba-tiba muncul dan melayang di udara. Dean menurunkan dan menyusunnya satu persatu di permukaan tanah. Lempeng batu itu menutupi sedikit area.
"Sunil, apa kau ada menyimpan sisa meja dan bangku kayu di pondok?" tanya Dean.
Dean mengeluarkan 3 bangku kayu yang sebelumnya ada di ruang makan. Melihat itu Sunil mengerti.
"Ya, ini dia."
Sunil juga mengeluarkan sisa pasangan ketiga bangku itu. Kini sudah ada tempat untuk mereka duduk di tanah gersang itu. Semuanya mulai beristirahat. Tapi Dewi lebih memilih membaringkan tubuhnya di batu ketimbang duduk di bangku kayu.
"Kenapa kau berbaring begitu? Apa pinggangmu sakit?" tanya Widuri.
"Bukan. Batu ini sangat dingin. Enak untuk dijadikan tempat istirahat di tempat panas dan gersang ini," jawab Dewi santai.
Akhirnya bangku-bangku itu diketepikan. Mereka lebih memilih mendinginkan tubuh dengan langsung duduk di atas lempengan batu gunung yang sejuk.
"Ini cangkir-cangkir batu. Jika kalian haus." Dean mengeluarkan cangkir-cangkir dari kalungnya.
Dewi dan Nastiti segera meraih semua cangkir itu untuk menampung air minum. Mereka merasa sangat lega. Air di tempayan itu dingin dan sejuk.
"Alan, aku perlu bantuanmu di sana," kata Dean.
"Oke, siap," sahut Alan lalu berdiri.
"Kita akan menginap di sini malan ini. Jadi kalian ambil apa-apa yang tersisa di sana. Karena aku akan segera menyegel pintunya." Dean mengingatkan.
"Baiklah. Kita bereskan yang disana lebih dulu. Sunil, Alan, kami butuh tempat penyimpanan kalian."
Nastiti segera berdiri. Dia minta dibawa terbang oleh Alan. Dewi mendekati Sunil dan mengedipkan matanya. Mereka berdua segera menyusul Alan dan Nastiti.
Melihat itu, Widuri menjadi canggung dan tak tau harus berbuat apa. Jika jalan sendiri, maka itu sangat tidak produktif. Tangga batu menuju gua itu sangat jauh.
"Kau mau tetap di sini atau bagaimana? Aku mau menyusul mereka."
Suara Dean memecah kebuntuan.
"Aku ikut," sahut Widuri cepat.
Dean segera meraih pinggang Widuri dan membawanya melesat menyusul keempat teman mereka yang sudah tak terlihat. Dengan kecepatan itu, tanpa sadar kedua tangannya memeluk leher Dean dengan erat dan memejamkan mata karena ngeri. Dean tersenyum samar.
***
🙏 Maaf terlambat update. Author kurang enak badan satu minggu ini.
Tolong tinggalkan like dan komennya yaa.. Makasiiii kk 💙💙💙💙
__ADS_1