PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 400. Pencarian Tiga Negara


__ADS_3

"Ke mana kita?" tanya Robert.


"Cari tempat istirahat," kata Dokter Chandra.


Di terminal itu, tempat istirahat adalah kios-kios yang menjual aneka minuman botol, snack dan gorengan. Tapi karena ketiganya tak punya uang, maka mencari tempat istirahat yang lain.


"Di post itu saja!" tunjuk Dokter Chandra. Ketiganya melangkah ke sana dan duduk di trotoarnya.


Dokter Chandra mengeluarkan kendi minumannya. Dia sudah sangat haus dan kelelahan. Robert dan Sunil juga mengikutinya.


Ketiga orang yang sedang minum air kendi jadi sangat menarik perhatian. Beberapa orang memotret mereka yang duduk di emperan. Kelompok kecil itu tak tau kalau mereka sedang diamati. Jadi santai sata membuka bungkusan daun lalu menikmati isinya.


Mereka terlihat seperti orang-orang dari masa lalu yang berpindah ke masa depan. Pakaiannya sederhana, tapi tidak kuno. Lalu menggunakan sandal sederhana dengan cukup banyak tali pengikat. Rambut panjang yang dibiarkan terurai, serta brewok dan kumis tak terurus. Dan untuk melengkapi semua keganjilan itu adalah kendi air serta bungkusan daun yang mereka bawa. Masih adakah manusia moderen membawa kendi air dan makanan dibungkus daun?


"Dok, apa masih mau menumpang bus ke Jakarta?" tanya Robert.


Dokter Chandra melihat langit senja yang memerah, mulai berganti malam. Dia menggeleng.


"Tidak. Dari sini sampai Jakarta itu, bus harus melewati jalan tol yang sangat panjang. Jika kita menumpang, berarti menambah beban supir," kata Dokter Chandra.


"Jadi bagaimana?" tanya Sunil.


"Kita istirahat saja dulu di sini. Setelah lebih gelap, kita lanjutkan berjalan kaki!" kata Dokter Chandra.


'Oke!" Dua temannya mengangguk setuju. Mereka pun duduk melunjurkan kaki yang cukup pegal setelah ditekuk selama perjalanan bus.


Seorang petugas terminal berjalan ke posnya. Dilihatnya tiga orang duduk bersandar ke tembok pos.


"Mau ke mana pak?" tanyanya.


"Mau ke Jakarta," jawab Dokter Chandra.


"Itu bus terakhir ke Jakarta!" tunjuk petugas itu ke arah bus berwarna putih. Bus itu mulai bergerak menuju pintu keluar.


"Tidak perlu. Kami tidak punya uang!" tolak Dokter Chandra, melihat petugas itu akan menghentikan bus.


Petugas itu kembali duduk di tempatnya. Dia terdiam dan melihat tiga orang yang seluruh tubuhnya sudah dipenuhi debu. Pertanda sudah melewati perjalanan yang jauh untuk sampai ke situ.


"Apa kalian kecopetan?" selidiknya.


"Tidak. Kami berpetualang berbulan-bulan dan kehabisan duit. Dan sekarang ingin pulang." Dokter Chandra terkekeh geli.


Petugas itu melihat ke arah tiga orang yang duduk dengan santai, tapi masih dengan sikap yang sopan.


"Dok, aku ingin mencuci muka. Di mana kita bisa dapat air gratis di sini?" tanya Robert pada Dokter Chandra.

__ADS_1


"Musholla. Kita bisa ke sana. Sebentar kita cari dulu." kata Dokter Chandra.


"Mesjid ada di sebelah sana. Kamar mandinya gratis," tunjuk petugas itu.


"Oh, terima kasih." Dokter Chandra berdiri. Kemudian melangkah ke arah yang ditunjukkan perugas itu.


Sebuah plastik bungkus yang terserak, menbuat kakinya terpeleset. Tubuhnya terhuyung ke belakang.


Tak pelak, Robert dan Sunil melesat secepat cahaya untuk menjaganya agar tak membentur aspal.


"Dokter!" teriak keduanya khawatir.


Semua yang melihat kejadian itu, terkesiap. Terlebih lagi petugas pos. Tadi jelas di depan matanya pria paruh baya itu sudah berada sepuluh meter di depan. Lalu dalam sekejap dua temannya bisa menyusul dan memegangi tubuhnya yang nyaris jatuh ke belakang.


Dokter Chandra menyadari bahwa gerak refleks Sunil dan Robert telah mencengangkan orang banyak. "Maafkan aku. Mata tuaku tidak lagi awas jika hari berganti malam. Terima kasih sudah membantuku," ujarnya.


Sunil dan Robert sedikit bingung dengan perkataan Dokter Chandra. "Mata tua apa dok?" tanya mereka berbarengan.


"Kita sedang diamati. Kalian nyaris terbang untuk membantuku!" jelas Dokter Chandra lewat transmisi suara.


Robert dan Sunil kini mengerti. Tapi mau bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Mer6harus lebih hati-hati lagi, agar tak sembarangan mengekspose kemampuan ajaib itu.


Sunil akhirnya tetap membimbing Dokter Chandra sampai ke mesjid. Mereka membersihkan diri di kamar mandi Mesjid itu. Mereka tertawa melihat penampilan kacau itu di cermin besar di dinding kamar mandi.


Sekarang penampilan mereka bersih dan segar. Baju sudah diganti dengan yang bersih. Rambut yang semula acak-acakan, kini dirapikan dan diikat dengan tali. Tapi tak ada cara untuk mencukur kumis dan brewok di wajah Sunil dan Robert. Jadi mereka biarkan saja


"Kita istirahat dulu. Tunggu lebih malam, baru kita jalan," kata Dokter Chandra.


Dibaringkannya tubuhnya di lantai keramik. Dia melihat kiri dan kanan, dan sekitarnya. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada satu titik. Dibalikkannya badan untuk melihat.


"Ada apa Dok?" tanya Robert.


"Jam. Jam dinding itu!" tunjuknya ke satu titik.


Robert dan Sunil ikut melihat.


"Sekarang baru jam delapan malam," kata Sunil.


"Aku tau. Aku bisa melihat itu jan delapan lewat lima!" sewot Dokter Chandra.


"Lalu?" Sunil bingung dia salah apa.


Jika ada jam, harusnya ada kalender!" coba cari di sekitar sini!" perintah Dokter Chandra.


"Siap, Dok!"

__ADS_1


Robert dan Sunil bangkit dari duduk.


Seorang pria di dekat Dokter Chandra bertanya, melihat keberisikan mereka bertiga.


"Kalian mencari apa?" tanyanya.


"Kalender. Kami ingin tahu tanggal dan hari apa ini!" jawab Dokter Chandra.


Buka pintu itu, ada kalender di situ. Tapi tak boleh dibawa pulang!" katanya mengingatkan.


"Hehehehe ... tidak. Kami hanya ingin melihat tanggalan." Dokter Chandra meyakinkan orang itu.


Sunil dan Robert membuka pintu yang hanya ditutup itu. Itu ruang utama mesjid, tempat sholat. Robert dan Sunil tercengang melihat kalender itu. Keduanya saling pandang. Wajah mereka memucat. Lalu langsung berebut keluar.


"Dokter!"


Robert tak bisa langsung mengatakan apa yang dilihatnya. Dia sedang mengatur nafasnya yang memburu. Sunil pun demikian. Dahi Dokter Chandra mengernyit melihat tingkah keduanya.


"Ada apa?" tanyanya lewat transmisi suara.


"Sekarang adalah hari ketiga setelah pesawat itu hilang! 18 November 2021!" kata Sunil mendahului Robert.


Dokter Chandra terdiam. Waktunya terlalu dekat. Alasan bertahan hidup berbulan-bulan jadi mentah dan tak mungkin bisa digunakan. Dokter Chandra mengusap kepalanya. "Runyam!" gumamnya.


"Bagaimana Dok?" Suara Robert menggema di kepalanya.


"Sabar!" balas Dokter Chandra lewat transmisi suara.


"Saudara, ada kejadian penting apa akhir-akhir ini? tanya Dokter Chandra pada orang yang sibuk bermain ponsel sambil berbaring.


"Yang terbaru, ya hilangnya pesawat International ke Singapura," sahutnya acuh.


"Oh ya? apakah sudah diadakan pencarian?" timbrung Sunil.


"Sudah tiga hari pencarian digelar tiga negara. Tapi belum ditemukan jejaknya!" jawab orang itu lagi.


"Mengerikan!" timpal Dokter Chandra, agar orang itu tak curiga.


"Apakah ada berita lain yang nenarik? tanyanya lagi.


"Tidak ada. Kalaupun ada yang menarik, semua akan tenggelam dengan kehebohan berita pesawat hilang itu!" katanya lagi.


"Anda benar." Dokter Chandra mengangguk.


Pelataran itu kembali sunyi. Sunil dan Robert ikut membaringkan tubuh, melepas penat.

__ADS_1


*******


__ADS_2