PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 326. Mencari Celah Dimensi Lain


__ADS_3

Pagi yang teramat dingin. Hujan mengguyur sejak matahari terbit. Dean dan timnya duduk menghangatkan diri di depan perapian. Sarapan belum selesai. Jadi mereka hanya berbincang dan bergurau.


Dokter Chandra memeriksa Indra. Tangannya yang bercahaya putih berkilau, bergerak dari kepala hingga kaki Indra. Bekerja seperti sebuah alat pemindai.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Niken.


"Indra baik-baik saja. Mungkin Z yang belum bisa bangun. Dia masih butuh waktu untuk penyesuaian dan memulihkan diri," jawab dokter Chandra.


"Oke. Terima kasih, Dok." balas Niken.


Dokter Chandra meninggalkan Niken untuk mengurus Indra pagi itu. Dia telaten menyuapi suaminya dengan bubur halus dan encer penuh gizi agar Indra tak sampai kelaparan.


"Jadi bagaimana rencana selanjutnya?" tanya dokter Chandra.


"Rasanya hanya ada dua pilihan—"


"Oh ... apa itu?" sela Sunil.


"Pertama, kita mencari lagi celah dunia menuju dunia dan waktu yang sama dengan saat kita jatuh, atau beberapa waktu setelahnya." Dean menjeda kalimatnya.


"Tapi dengan cara itu, kita kan gak bisa memastikan bahwa akan tepat sampai di waktu yang diinginkan!" bantah Widuri.


Dean mengangguk. "Cara kedua, kita tunggu saja hingga akhir thn 2021, lalu melapor pada pemerintah bahwa kita kembali."


Mereka terbengong. Ide kedua Dean terasa tak masuk akal.


"Dari pada buang waktu seperti itu. Lebih baik kita hidup begini saja. Tak usah lagi memikirkan pulang. Bisa jadi, mereka sudah ikhlas kita pergi!" celetuk Niken.


Semua mengalihkan pandangan ke arah Niken.


"Sepertinya masuk akal. Tetapi, di dunia kita sekarang ini, di mana pun kita ingin menetap, maka kita harus tertib administrasi. Kita harus mendaftarkan diri. Maka mereka akan menelusuri asal-usul kita semua. Pada akhirnya tetap akan rumit, kan?" bantah Marianne.


"Oh, Ya Tuhan. Kurasa tinggal di Padang bunga atau negri Elf atau negri kurcaci biru itu adalah yang terbaik untuk kita," keluh Niken putus asa.


"Sunil, Dean, apakah ... apakah kalian menyesal, selalu mengikuti keinginanku untuk pulang?" tanya Widuri lirih.


"Pulang adalah pilihan kita. Yang ingin menetap juga tak dipaksa 'kan?" bantah Sunil.


Widuri menggeleng. "Niken benar. Kota pelabuhan adalah tempat yang baik untuk tinggal. Atau bersama Laras dan Liam di kota Mati. Atau bersama Nastiti dan Kang ...."


"Atau tetap tinggal di bumi yang lain bersama Leon. Maka Alan tidak perlu mati!" imbuh Marianne sedih.


Widuri menunduk makin sedih. Dean memeluknya. "Tak ada yang menyalahkanmu," bujuknya lembut.


"Tidak!" Widuri menggeleng. "Aku tau, kau sangat ingin tinggal di gunung batu, waktu itu. Dan kita sering bertengkar karena itu," sesalnya.


"Tapi gunung batu yang indah sudah musnah karena serangan kabut hitam. Apa kau lupa?" Dean mengingatkan.


"Tapi kau juga ingin tinggal dekat dengan Yabie dan Yoshi. Namun, aku—"


"Sudah! Yang sudah kita putuskan tak boleh disesali. Jikapun hasilnya tak sesuai harapan, maka kita tinggal memperbaikinya. Menyesali dan terus berandai-andai seperti itu, hanya akan menggerogoti kebahagiaan kita!" tegas dokter Chandra.

__ADS_1


Ruangan kembali hening.


"Jadi, kesimpulannya bagaimana?" desak Robert.


"Berarti hanya ada satu cara," sahut Sunil.


"Mencari celah dimensi lagi?" tanya Robert memastikan.


Sunil mengangguk.


"Bagaimana dengan kalian? Jika mau tinggal di sini, juga tak ada yang akan melarang," ujar dokter Chandra.


"Jadi, kita tak bisa memberitahu mereka apapun?" tanya Robert.


"Jangan! Campur tangan kita bisa merusak keseimbangan yang ada. Resikonya adalah nyawa teman-teman kita di sana!" Dean mengingatkan.


"Tapi, sejujurnya aku sudah lelah. Andai bisa tinggal di bumi ini, kurasa aku sendiri tak masalah. Maksudku, aku dan Indra!" papar Niken sambil menunduk.


"Seperti yang ku katakan tadi, di dunia ini semua harus tercatat. Bagaimana kau mengatasinya? Apalagi di Amerika Serikat. Tanpa asal-usul yang jelas, kalian akan dianggap sebagai imigran gelap!" Marianne kembali menegaskan hal itu.


"Tak bisakah tinggal di tempat terpencil saja?" keluh Niken.


"Pertimbangkanlah dengan matang, sebelum memutuskan," nasehat dokter Chandra.


"Ugh ...."


Terdengar keluhan Indra. Niken segera menghampiri.


"Akhirnya kau sudah sadar juga." Dipeluknya Indra dengan gembira.


"Ini kabin Robert." Niken membantu Indra untuk duduk.


"Tempat yang keren," puji Indra spontan.


"Ayo, makan dulu. Kau pasti lapar kan?" ajak Marianne.


"Yah, baiklah." Indra turun dari tempat tidur dan duduk bersama yang lainnya.


Mereka melanjutkan diskusi yang terputus.


"Buatku, terserah keinginan Niken saja. Jika dia ingin tinggal di Bumi ini, aku mungkin akan membawanya mencari pulau terpencil untuk kami tinggali," kata Indra.


"Kau yakin, mau tinggal di pulau terpencil berdua saja? Itu tak kan terlalu mudah dijalani hloo. Banyak hal yang harus kalian buat sendiri. Seperti para survival di alam liar," papar Robert.


"Kau dengar itu? Apa kau siap dengan kesulitannya? Dan belum tentu bisa melukis lagi," bujuk Indra.


Niken menunduk. "Lalu ke mana mau kita cari celah dimensi atau portal ke tahun yang tepat? Sekalipun ketemu, apa ada yang bisa menjamin?" tuntut Niken.


Indra memeluk Niken. "Jangan mendorong orang lain untuk mengorbankan diri demi kita!" Indra membisikkan peringatan ke telinga Niken. Matanya berkilat merah.


Niken sampai tertegun dibuatnya. Apakah Z yang sudah memperingatkannya? Niken belum terbiasa dengan Indra yang kini memiliki dua jiwa. "Apakah seperti ini juga dengan Widuri? Berdamai dengan Dean yang kadang tidak jadi dirinya sendiri?" pikir Niken.

__ADS_1


"Baiklah ... aku ikuti katamu saja," jawab Niken lirih.


"Oke. Kami ikut keputusan kalian. Kapan kita pergi?" tanya Indra.


"Apa keputusan kita sudah final?" Terdengar suara dokter Chandra.


"Ya, aku ikut."


"Aku juga ikut."


"Aku juga,"


"Baiklah ... aku tak mungkin tinggal sendiri. Aku ikut." Marianne tersenyum lebar.


"Jadi, baiknya malam hari kita berangkat. Agar tak mudah terlihat oleh pandangan orang," saran dokter Chandra.


"Jadi sekarang kita istirahat dan bersiap saja," tambahnya lagi.


"Biar kuambil setoples madu untuk persediaan kita." Robert turun ke halaman.


"Aku ingin mencicipi sarang madu. Bolehkah?" tanya Marianne.


"Tentu saja. Ayo!" ajak Robert.


Keduanya pergi ke halaman samping untuk persiapan mengambil madu. Robert dan Marianne mengenakan baju dan tudung khusus serta sarung tangan, untuk menghindari gigitan serangga itu.


Dokter Chandra duduk di sepotong log kayu yang dijadikan bangku tambahan, di teras. Dia duduk terpekur, hening. Perlahan tubuhnya diselubungi cahaya putih kemilau. Seperti ada tetes air yang memantulkan cahaya matahari yang mengelilingi tubuhnya.


Tak seorangpun berani mengganggu. Tempat ini, bukanlah tempat rusak yang perlu perbaikan. Jadi, Dean, Sunil dan Indra tak merasa khawatir sedikitpun.


Tim itu menghabiskan hari dengan persiapan untuk pergi. Marianne menggiling biji gandum untuk mengganti gandum yang mereka pakai. Tapi biskuit yang mereka makan sebelumnya, tak bisa dibuat, sebab tak cukup bahan.


Dean menambahkan kembali kayu bakar di tempatnya. Mereka harap, tak ada yang berubah dan bisa menimbulkan kecurigaan jika Robert datang ke sini, nanti.


Hari berganti sore. Makan malam disajikan lebih awal. Jadi perjalanan bisa dimulai lebih cepat juga.


"Apakah kita akan terbang lebih tinggi?" tanya Indra.


"Kurasa, itu tidak bisa. Ada pengawas yang mengawasi wilayah udara tiap negara. Jika kita terbang setinggi pesawat terbang, maka kita akan terdeteksi," jelas Robert.


"Jika lebih tinggi lagi?" Niken nimbrung.


"Kita akan tertangkap oleh mata teleskop NASA!" sergah Dean.


"Ruwweetttttt!" keluh Niken.


Widuri dan Marianne tersenyum lebar.


"Kita cuma perlu sembunyi di kalung penyimpanan mereka. Itu tidak ruwet sama sekali," canda Marianne.


"Andai saja, ada mesin waktu di sini. Seperti di film-film." Indra tertawa sendiri.

__ADS_1


Yang lain jadi ikut tertawa.


******


__ADS_2